• Tidak ada hasil yang ditemukan

IFAS Kosong

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. Kekuatan Tawar Menawar Pembel

4.4. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman

4.4.4 Identifikasi Ancaman

Ancaman merupakan faktor yang merugikan perusahaan, sehingga akan mengganggu keberlangsungan suatu kegiatan. Oleh karena itu, perusahaan harus mengatasi dengan mengurangi dampak tersebut. Beberapa ancaman yang dihadapi oleh BSM KCP Lebak adalah sebagai berikut:

1. Minimnya SDM yang kompeten dalam bidang perbankan syariah

Pertumbuhan industri perbankan syariah secara global terkendala dengan adanya kelangkaan tenaga profesional. Kurangnya tenaga profesional di industri perbankan syariah tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan

perbankan syariah secara global tetapi sampai pada lingkup kualitas layanan yang diberikan kepada nasabah. Sulitnya mencari SDM yang sudah berpengalaman menjadikan ancaman bagi BSM KCP Lebak karena sangat menentukan perkembangan perbankan syariah di masa mendatang. Kualitas SDM merupakan aset perusahaan dan sangat berpengaruh pada keberhasilan perusahaan. Untuk melahirkan SDM yang kompeten secara komprehensif dan memadai, serta memiliki integritas yang tinggi, maka manajemen perusahaan harus siap memberikan pendidikan dan pelatihan terhadap SDM yang dimiliki perusahaan. Betapapun canggih dan lengkap peralatan, tetap unsur perbankan sangat penting dikuasai sumber daya insani (sumber daya manusia) yang mumpuni.

2. Semakin lengkap dan inovatif fitur produk bank pesaing yang dilengkapi dengan teknologi canggih

Semakin banyaknya perbankan syariah yang bermunculan dengan mengeluarkan inovasi-inovasi terhadap fitur produk yang dilengkapi dengan teknologi canggih membuat semakin ketatnya persaingan di dunia perbankan. Dalam dunia perbankan, perkembangan teknologi informasi membuat banyak perusahaan mengubah strategi bisnis dengan menempatkan teknologi sebagai unsur utama dalam proses inovasi produk dan jasa seperti adanya transaksi berupa transfer uang via mobile maupun via teller, adanya ATM (Auto Teller Machine) pengambilan uang secara cash selama 24 jam, penggunaan database di bank-bank, sinkronisasi data-data pada kantor cabang dengan kantor pusat. Perkembangan teknologi informasi membuat banyak perusahaan mengubah strategi bisnis dengan menempatkan teknologi sebagai unsur utama dalam proses inovasi produk dan jasa. Seperti halnya pelayanan electronic transaction (e-banking) melalui ATM, phone banking dan Internet Banking misalnya, merupakan bentuk-bentuk baru dari pelayanan bank yang mengubah pelayanan transaksi manual menjadi pelayanan transaksi yang berdasarkan teknologi. Salah satu bank yang paling mutakhir dengan teknologinya adalah BCA, dimana dengan aset teknologi mutakhir yang dimilikinya, BCA mampu menjadi leader dalam hal pelayanan e-banking,

jumlah ATM terbesar yang dimilikinya serta fasilitas internet banking (Prabowo, 2011).

3. Semakin banyak Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang tumbuh di Indonesia

Jumlah bank syariah berkembang cukup pesat dan sudah mulai masuk ke pelosok. Hal ini merupakan suatu ancaman bagi perbankan syariah yang sudah berdiri lebih awal. Berdasarkan data statistik di website official Bank Indonesia, jumlah Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), maupun Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam kurun waktu kurang dari 6 tahun dari tahun 2006 sampai Januari 2012, total bank dan kantor perbankan syariah di Indonesia ada 2.202 dan diperkirakan akan bertambah dengan pesat sesuai dengan bertambahnya pengetahuan masyarakat Indonesia (Amanda, 2012).

4. Semakin gencarnya promosi kompetitor bank syariah

Hal lain yang harus diperhatikan yaitu kegiatan promosi pesaing yang merupakan suatu ancaman yang harus terus diperhatikan untuk bisa bersaing untuk mendapatkan banyak nasabah. Salah satu kegiatan promosi yang dilakukan pesaing adalah terus melakukan publisitas dengan mensponsori kegiatan atau event besar untuk terus mempromosikan produk-produknya ke masyarakat. Selain itu, jejaring sosial menjadi media baru bagi bank syariah untuk mempromosikan produk perbankannya. Sejumlah bank syariah pun membidik penambahan nasabah dari pengguna jejaring sosial.

Seperti BNI Syariah yang memanfaatkan facebook dan twitter untuk sosialisasi berbagai aspek bisnis dan produk. Penggunaan jejaring media dilatarbelakangi banyaknya pertanyaan nasabah yang tidak bisa dijawab secara langsung. Penggunaan jejaring sosial untuk bisnis BNI Syariah sudah dimulai sejak setahun yang lalu. Hasilnya, banyak peminat terhadap produk BNI Syariah yang berasal dari pengguna jejaring sosial. Sosialisasi dengan jejaring sosial ini pun dinilai lebih efisien dalam biaya. Efektivitas jejaring sosial tersebut terlihat dari banyaknya peminat pada akun BNI Syariah. Pengikut akun twitter BNI Syariah naik menjadi 2.857 orang pada Januari 2012 dari 700 pengikut pada April 2011. Sementara, akun facebook BNI

Syariah sudah bertautan dengan 3.000 akun. Akan tetapi, BNI Syariah masih membatasi penggunaan jejaring sosial tersebut untuk pengembangan bisnis. BNI Syariah tidak menjual produk melalui jejaring sosial karena ada dampak negatif dari jejaring sosial tersebut. BNI Syariah juga melakukan promosi dengan melakukan sosialisasi langsung ke konsumen dengan sistem door to door. Kegiatan ini dinilai lebih memberikan hasil yang nyata untuk menambah pemegang kartu Hasanah Card dengan mengundang satu komunitas dan presentasi untuk Hasanah Card.

Jejaring sosial juga dimanfaatkan Bank Syariah Bukopin (BSB). Selain untuk mempromosikan produk, BSB menggunakan jejaring sosial untuk memetakan kepercayaan customer. Perusahaan memakai jejaring sosial sejak masih jadi unit usaha syariah. Untuk meningkatkan nasabah melalui jejaring sosial, BSB bahkan bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi. BSB dapat melihat perkembangan minat masyarakat dari jejaring sosial tersebut karena masyarakat ingin informasi yang cepat.

Bank Muamalat Indonesia (BMI) juga memanfaatkan jejaring sosial untuk mempromosikan produk. Selain jejaring sosial dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai keluhan masyarakat, juga bermanfaat untuk mencegah larinya nasabah. BMI ke depannya akan mengorganisasi jejaring sosial secara terstruktur dengan baik. Bank Muamalat akan membidik pengguna jejaring sosial yang sebagian besar generasi muda karena generasi ini bisa menjadi potential consumer yang luar biasa di masa depan yang diatur media relation Bank Muamalat (Rizqullah, Busiri, dan Buchori, 2012). 4.5.Perumusan Strategi Pemasaran Produk Tabungan BSM PT Bank

Syariah Mandiri, KCP Lebak-Banten 4.5.1 Tahap Input

Dokumen terkait