C. Pembahasan
2. Identifikasi Bahaya (Hazard) dan Peluang (Exposure)
Risiko kesehatan lingkungan dapat terjadi jika ada bahaya dan peluang. Bahaya yang dimaksud meliputi sumber air, tempat sampah rumah tangga, fasilitas jamban keluarga dan saluran pembuangan air limbah (SPAL). Sedangkan yang menjadi penilaian pada peluang meliputi perilaku tidak sehat seperti tidak CTPS, perilaku BABS, pengolahan sampah dan pengolahan air minum.
a. Sumber Air Bersih Dan Pengolahan Air Minum.
Jenis-jenis aspek yang diteliti meliputi sumber utama air bersih, sumber utama air minum, pengolahan air minum dan penyimpanan air minum. Faktor penting lainnya adalah terkait jarak
sumber air bersih dengan pencemar yang tentunya dapat mengakibatkan masalah kesehatan lingkungan.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat sumber utama air bersih yang digunakan rumah tangga dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari yaitu air ledeng/PDAM sebesar 62,88%, sumur gali sebanyak 34,23%, mata air sebanyak 2,70% dan sumur bor sebanyak 0,18%. Masyarakat Pulau Karampuang kebanyakan sudah mengerti pentingnya air bersih untuk kesehatan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya rumah tangga yang menggunakan PDAM sebagai sumber air minum yaitu sebanyak 97,84% dibandingkan sumber air lainnya yaitu sumur gali bersemen sebanyak 1,80% dan isi ulang/refill/galon sebanyak 0,36%, walaupun air PDAM diperoleh hanya satu kali dalam tiga hari.
Selain sumber air, hal yang tidak kalah pentingnya adalah cara pengolahan air minum. Air minum yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan kejadian diare khususnya pada balita (Amaliah.S, 2010). Masyarakat Pulau Karampuang sudah mengelola air minumnya dengan baik, hal ini terbukti dari hasil yang didapat sebanyak 91,35%
rumah tangga sudah merebus airnya sebelum diminum, 5,23%
menggunakan air isi ulang dan lainnya (meminum langsung) sebanyak 3,42%.
Untuk penyimpanan air minum, kebanyakan rumah tangga di Pulau Karampuang menyimpan air minumnya di dalam teko/ketel/ceret
yaitu sebanyak 83,78% di dalam panci tertutup 9,01% dan di dalam galon sebanyak 6,31%.
Air merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia membutuhkan air untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, karena persediaan air bersih yang terbatas dapat memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat (Azhar, 2015).
Untuk jarak sumber air bersih dengan pencemar, penggunaan air sungai oleh rumah tangga dianggap jarak dengan pencemar adalah kurang dari 10 m, sedangkan untuk penggunaan air oleh rumah tangga adalah PDAM maka dianggap jarak sumber air dengan pencemar yaitu lebih dari 10 m.
Secara keseluruhan pemenuhan air bersih/air minum di Pulau Karampuang sudah cukup bagus, kecuali Dusun Sepang, karena letak geografis Dusun Sepang yaitu sebagian penduduknya bermukim di daerah pegunungan sehingga penduduknya susah mendapatkan air bersih.
b. Pengolahan Sampah.
Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan sampah yang dilakukan di Pulau Karampuang masih buruk, hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh sebanyak 26,49% rumah tangga mengelola sampahnya dengan cara dibakar dan 2,16% mengelola sampahnya
dengan cara dibuang dan dikubur, sedangkan yang lainnya tidak melakukan pengolahan sampah. Kebanyakan dari mereka membuang sampahnya langsung ke laut yaitu sebanyak 46,85%, dibuang dilahan kosong sebanyak 21,44%, dibiarkan saja sebanyak 1,62% dan lainnya (membuang di sela-sela batu) sebanyak 1,44%.
Sampah yang berasal dari buangan kegiatan produksi dan konsumsi manusia baik dalam bentuk padat, cair maupun gas merupakan sumber pencemaran lingkungan hidup dan merupakan sumber penyakit jika tidak dikelola dengan baik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Elida Simanjorang (2014), dengan judul Dampak Manajemen Pengolahan Sampah Terhadap Masyarakat dan Lingkungan di TPAS Namo Bintang Deliserang, hasil penelitian mengungkapkan bahwa sampah yang menumpuk dapat berdampak negatif pada kesehatan yaitu mengakibatkan penyakit kudis, gatal-gatal serta bau tak sedap.
Dilihat dari letak geografis, sebagian besar dusun terletak di pesisir pantai. Hal ini merupakan salah satu penunjang perilaku masyarakat yang membuang sampah ke laut, selain itu dengan adanya pembangkit listrik tenaga surya yang di bangun di Pulau Karampuang maka masyarakat dilarang untuk membakar sampahnya. Tidak adanya sarana pengangkutan sampah di Pulau Karampuang juga merupakan salah satu penyebab masyarakat membuang sampah sembarangan.
c. Fasilitas Jamban.
Fasilitas jamban keluarga yang dilihat disini adalah kepemilikan jamban, kebiasaan buang air besar dan jarak tangki septik ke sumber air. Jenis jamban yang digunakan yaitu leher angsa jongkok.
Hasil yang diperoleh, jumlah rumah tangga yang memiliki jamban keluarga sebesar 60% dan yang tidak memiliki sebesar 40%.
Rumah tangga yang tidak memiliki jamban kebanyakan dari mereka BAB di laut yaitu sebanyak 26,67%, numpang sebanyak 6,67%, lainnya (di hutan bambu) sebanyak 5,05% dan di kebun sebanyak 1,62%. Jarak tangki septik ke sumber air sudah memenuhi syarat yaitu lebih dari 10 m sebanyak 99,70% dan yang tidak sebesar 0,30%.
Ditinjau dari sudut kesehatan, kotoran manusia merupakan masalah yang sangat penting, karena jika pembuangannya tidak baik maka dapat mencemari lingkungan dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan manusia. Berdasarkan penelitian Dya Chandra (2013), mengatakan bahwa dari hasil uji chi-square terhadap hubungan kepemilikan jamban dengan kejadian diare di Desa Karangagung Kecamatan Palang Kabupaten Uban menghasilkan signifikan dengan P=0,004 sedangkan yang digunakan adalah 5% atau 0.05, jadi 0,05 >
0,004 berarti Ho ditolak, hal ini berarti bahwa ada hubungan antara terjadinya penyakit diare dengan kepemilikan jamban.
d. Saluran Pembuangan Air Limbah.
Saluran pembuangan air limbah yang dilihat disini adalah kepemilikan SPAL dan tempat penampungan air limbah. Dari hasil penelitian di Pulau Karampuang didapatkan jumlah rumah yang memiliki SPAL sebanyak 78,56% dan yang tidak memiliki 21,44%.
Sedangkan untuk tempat penampungan air limbah kebanyakan membuang air limbahnya langsung ke tanah yaitu sebanyak 66,85%, penampungan terbuka di pekarangan sebanyak 14,23%, langsung ke got/sungai/laut sebanyak 10,27% dan penampungan terbuka di pekarangan sebanyak 8,65%.
Air limbah domestik merupakan sisa air yang berasal dari rumah tangga, yang pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekskreta (tinja dan air seni) maupun air bekas cucian dapur dan kamar mandi yang mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang membahayakan kesehatan manusia dan dapat mengganggu lingkungan hidup. Limbah yang tidak diolah dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada masyarakat.
Air yang tergenang di sekitar rumah bisa menimbulkan risiko yang memungkinkan terjadinya penyebaran penyakit. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitra Dini (2013) dengan judul Hubungan Faktor Lingkungan Dengan Kejadian Diare Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kambang Kecamatan Lengayang Kabupaten
Pesisir Selatan Tahun 2013, yang mengatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara SPAL rumah tangga dengan kejadian diare pada balita.
e. Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun.
Kebiasaan CTPS di Pulau Karampuang sudah cukup baik, hal ini dapat dilihat dari hasil data yang didapat dilapangan yaitu sebanyak 83,42% rumah tangga sudah melakukan CTPS., sebanyak 15,32%
mengatakan sesekali melakukan CTPS dan sebanyak 1,26% tidak melakukan CTPS.
Kebersihan tangan sangat perlu diperhatikan karena tangan merupakan media yang dapat menularkan berbagai kuman penyebab penyakit, oleh sebab itu kebiasaan CTPS harus dilakukan. Manfaat utama cuci tangan pakai sabun adalah melindungi diri dari berbagai penyakit menular. Penyakit-penyakit tersebut antara lain diare, ISPA, kecacingan, infeksi kulit, infeksi mata dan penyakit-penyakit lain yang ditularkan lewat tangan yang tidak bersih.
Hingga saat ini, masih banyak sekali anak-anak Indonesia yang meninggal karena diare, juga anak-anak yang kurang gizi karena cacingan. Selain itu, masih ada pula anak dan orang dewasa yang tertular dan meninggal karena terinveksi virus flu burung. Padahal, dengan melakukan perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebenarnya sudah dapat mengurangi risiko tertular penyakit-penyakit tersebut. Data WHO menunjukkan, perilaku CTPS mampu mengurangi
angka kejadian Diare sebanyak 45%. Telah dibuktikan juga bahwa CTPS dapat mencegah penyebaran penyakit kecacingan, serta mampu menurunkan kasus infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan flu burung hingga 50% (Menkes, 2012).
Kebiasaan cuci tangan pakai sabun di Pulau Karampuang sudah cukup baik dikarenakan suplay air yang ada di sana sudah cukup bagus, kecuali Dusun Sepang, hal ini disebabkan karena letak geografis Dusun Sepang berada pada derah dataran tinggi sehingga air sulit di dapat dan air dari PDAM sulit mengalir ke atas.
f. Kejadian Penyakit.
Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui kejadian penyakit berbasis lingkungan di Pulau Karampuang dalam 6 bulan terakhir. Kondisi sanitasi yang tidak memadai sangat mempengaruhi timbulnya kejadian penyakit berbasis lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit berbasis lingkungan tertinggi pada 10 dusun di Pulau Karampuang Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju dalam kurun waktu 6 bulan terakhir adalah diare dengan jumlah penderita sebanyak 14,05%, penyakit ISPA sebanyak 10,27% dan sebanyak 75,68% tidak ditemukan adanya penyakit berbasis lingkungan.