• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.4. Karakteristik Usaha

5.3.2. Identifikasi dan Evaluasi Faktor Eksternal (EFE)

Berdasarkan hasil analisis faktor eksternal, maka diperoleh beberapa faktor peluang dan ancaman. Adapun faktor-faktor peluang yang dimiliki yaitu :

1. Peluang pangsa pasar tinggi.

Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga, gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap, tauco, produk cookies, dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso, 1993). Gula merah banyak diminati di Jerman dan Jepang, industri perhotelan, supermarket, pabrik kecap ekspor, hingga pabrik anggur. (Warastri, 2006). Peluang ekspor gula merah ke Negara Jepang, Malaysia, Amerika Serikat, Belgia, Kanada dan Australia masih terbuka lebar.Saat ini tercatat sekitar 244 ton gula merah per tahun di ekspor ke negara Jepang. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan gaya hidup untuk mengkonsumsi makanan sehat (Balittas.litbang.pertanian.go.id, 2017).

2. Produk subsitusi gula pasir dan gula aren.

Gula merah kelapa sawit berpotensi menjadi komoditas substitusi gula pasir dan gula aren dalam negeri dan untuk menekan ketergantungan terhadap impor gula.

Kebutuhan gula nasional sebesar 6,6 juta ton, sedangkan produksi gula berbasis tebu pada 2018 sebesar 2,17 juta ton, kuota impor sebesar 2,8 juta ton (Kemenperin, 2018).

3. Ketersediaan jaringan pemasaran.

Banyaknya pedagang pengumpul atau agen yang ada maupun yang datang ke masing-masing pengrajin setiap desa sehingga pengrajin mudah dalam menjual produk.

4. Potensi daerah yang mendukung

Berdasarkan data dari BPS tahun 2018 luas areal perkebunan kelapa sawit sesuai jumlah produksi tahun 2017 di Kabupaten Serdang Bedagai mencapai 12.776 Ha, luas areal yang akan dilaksanakannya program replanting adalah 37 Ha (Tabel 9 dan Tabel 2). Potensi yang dimiliki oleh daerah ini menjadi peluang bagi industri rumah tangga gula merah dari nira kelapa sawit dalam memproduksi gula merah guna memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya di Kabupaten Serdang Bedagai.

5. Sudah ada standardisasi produk gula merah.

Standar Nasional Indonesia Gula Palma yaitu SNI-01-3743-1995. Standard mutu guna meningkatkan daya saing produk. Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya, yaitu bentuk, warna, kekeringan, dan kekerasannya.

Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak, tidak keras sehingga mudah dipatahkan, dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso, 1993).

6. Harga gula mampu bersaing

Harga gula merah kelapa sawit yang cenderung lebih murah dari aren menjadi peluang untuk pengembangan daerah pemasarannya. Saat ini harga rata-rata gula merah di pasar konsumen Rp 20.000/kg, sedangkan gula aren Rp 25.000/kg dan gula semut Rp 75.000/kg (disbun.sumutprov.go.id, 17 april 2020).

Adapun faktor-faktor ancaman yang dimiliki yaitu : 1. Kondisi iklim yang berubah-ubah.

Kondisi iklim yang tidak menentu seperti musim hujan menjadi salah satu ancaman bagi industri rumah tangga gula merah dari nira kelapa sawit yang mana apabila terjadi hujan yang deras produsen kesulitan dalam melakukan pengambilan nira ke lahan kelapa sawit sehingga hal tersebut akan mengakibatkan tertundanya waktu untuk melakukan pengolahan nira menjadi gula.

2. Produk belum terlalu dikenal oleh masyarakat

Masyarakat pada umumnya hanya mengetahui bahwa gula merah terbuat dari air tebu atau nira aren, masih sangat sedikit masyarakat yang mengetahui bahwa gula merah juga bisa diolah dari nira kelapa sawit, bahkan di kawasan Serdang Bedagai sendiri masih banyak masyarakat yang belum mengenal gula merah dari nira kelapa sawit, sehingga kerap sekali masyarakat meragukan akan cita rasa atau kualitas dari gula merah dari nira kelapa sawit. Hal tersebut menjadi salah satu ancaman bagi industri rumah tangga ini.

3. Bahan Baku Habis

Nira yang menjadi bahan baku untuk pembuatan gula merah kelapa sawit ini diperoleh dari batang kelapa sawit yang berusia 15-25 tahun dan sudah tidak produktif lagi, dan penderesan hanya bisa dilakukan maksimum dua bulan. Hal ini menjadi ancaman bagi industri rumah tangga ini jika bahan baku di daerah sekitar habis, harus mencari ke daerah lain yang lebih jauh untuk menjaga keberlangsungan usaha (sustainable).

4. Petani pengrajin mengganti usaha

Pendapatan usaha gula merah kelapa sawit tidak terlalu besar jika skala produksinya kecil. Ada ancaman petani pengrajin mengganti usahanya ke bidang lain jika ada kendala modal dan sebagainya.

5. Dukungan Pemerintah/instansi terkait minim

Belum ada pembinaan, pelatihan maupun pendampingan usaha secara intensif dari pemerintah dan instansi terkait, baik pembinaan teknologi pengolahan maupun sistem pemasaran hasil.

Tabel 12. Indikator bobot eksternal (peluang dan ancaman)

No Indikator Total Bobot

Faktor Peluang

1 Peluang Pasar Tinggi 24 0,12

2 Produk Substitusi Gula Pasir & Aren 20 0,10

3 Ketersediaan Jaringan Pemasaran 16 0,08

4 Potensi Daerah Mendukung 20 0,10

5 Dukungan Pemerintah/Instansi terkait Minim 18 0,09

Total 200 1,00

Sumber : Data Primer, diolah (2020)

Bobot pada faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman yang diperoleh berdasarkan pada kuesioner yang telah diisi oleh responden dituangkan pada Tabel 12. Data yang terdapat pada tabel 12 merupakan hasil dari pembagian skor setiap indikator peluang dan ancaman dengan total keseluruhan sehingga menghasilkan nilai bobot. Penjumlahan keseluruhan nilai bobot menghasilkan nilai 1 sehingga faktor peluang dan ancaman menjadi faktor penting.

Tabel 13. Analisis Matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation)

No Faktor Eksternal Bobot Rating Skor

Peluang

1 Peluang Pangsa Pasar Tinggi 0,12 4 0,48

2 Produk Substitusi Gula Pasir & Aren 0,10 3 0,30

3 Ketersediaan Jaringan Pemasaran 0,08 3 0,24

4 Potensi Daerah Mendukung 0,10 4 0,40

Sumber : Data Primer, diolah (2020)

Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 13 dapat dilihat bahwa total nilai skor faktor eksternal dari peluang dan ancaman pada industri rumah tangga gula merah dari nira kelapa sawit adalah sebesar 2.64. Subtotal skor dari peluang sebesar 1.93 dan ini lebih tinggi dari pada subtotal skor ancaman yang hanya sebesar 0.71. Hal ini menunjukkan bahwa industri rumah tangga ini dapat memanfaatkan peluang yang ada untuk menghadapi ancaman. Peluang terbesar yang dapat dimanfaatkan yaitu adanya peluang pangsa pasar yang tinggi untuk produk gula merah sawit ini dengan nilai skor 0.48 dan yang menjadi peluang terkecil yaitu sudah adanya standarisasi mutu gula palma dari pemerintah dengan skor 0.21. Sementara ancaman paling besar yang dihadapi industri rumah tangga yaitu produk belum dikenal masyarakat dengan skor 0.22 dan yang menjadi ancaman paling kecil adalah petani pengrajin mengganti usahanya dengan skor 0.07.

Tahap selanjutnya adalah tahap pencocokan merupakan langkah kedua dalam perumusan suatu strategi yang berfungsi untuk dapat menentukan pengambilan keputusan suatu alternatif strategi. Setelah matriks IE dilalui kemudian dianalisis kembali menggunakan matriks SWOT (strength, weakness, opportunity, threat).

Dokumen terkait