BAB II KONDISI PADA WILAYAH SUNGAI
2.4. Identifikasi Kondisi Lingkungan dan Permasalahan
1. Perlindungan dan pelestarian sumber air
a) Semakin berkurangnya luasan kawasan lindung untuk fungsi resapan air
dan daerah tangkapan air baik air permukaan maupun air tanah,
b) Adanya kegiatan pertambangan yang mengakibatkan erosi dan sedimentasi,
c) Adanya perbedaan rasio yang besar antara debit maksimum dan debit
minimum di sungai-sungai pada WS Jelai - Kendawangan,
d) Lahan WS Jelai - Kendawangan tergolong katagori kritis dengan tingkat erosi
berat di DAS Jelai, DAS Kendawangan, DAS Simbar, DAS Kotawaringin Barat
dan DAS Kumai.
2. Pengawetan air
a) Potensi air masih banyak yang belum termanfaatkan.
3. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air
a) Terjadinya penurunan kualitas air akibat pencemaran,
b) Limbah cair dan padat domestik yang dibuang langsung ke badan air.
2.4.2. Pendayagunaan Sumber Daya Air
1. Penatagunaan sumber daya air
a) Belum adanya zona pemanfaatan dan peruntukan sumber daya air yang
memperlihatikan kepentingan berbagai jenis pemanfaatan,
b) Sempadan sumber air belum sepenuhnya digunakan sebagai batasan dalam
pemanfaatan ruang sumber air,
c) Belum adanya SOP (Standard Operational Procedure) alokasi air maupun hak
guna air,
d) Biaya OP (Operasi dan Pemeliharaan) yang disediakan belum mencukupi
dibandingkan dengan luasan yang dikelola.
2. Penyediaan sumber daya air
a) Inventarisasi sumber air belum dikelola dengan baik,
b) Diperlukan tambahan penyediaan air baku untuk keperluan antara lain
irigasi, air minum, air industri, air (rencana) kebutuhan bandara
internasional di Kumai.
3. Penggunaan sumber daya air
a) Minimnya biaya OP Bangunan Air dan jaringan irigasi yang ada,
b) Tingginya laju alih budidaya lahan sawah irigasi dan irigasi daerah rawa
menjadi peruntukan lain.
4. Pengembangan sumber daya air
a) Banyaknya potensi air di daerah rawa yang belum dimanfaatkan.
5. Pengusahaan sumber daya air
a) Penerima manfaat belum menanggung sepenuhnya jasa penyediaan air,
b) Terdapat potensi untuk pengusahaan sumber daya air pada ruas tertentu,
c) Pemanfaatan sumber mata air belum optimal.
2.4.3. Pengendalian Daya Rusak Air
1. Pencegahan daya rusak air
a) Banjir terjadi di anak-anak sungai karena tersumbatnya alur sungai pada
sungai utamanya pada saat pasang,
46
b) Banjir Sungai Lamandau, Sungai Arut dan Sungai Kumai setiap tahun
terjadi,
c) Terjadinya pendangkalan sungai akibat sedimentasi akibat erosi di bagian
hulu,
d) Terjadi erosi dan abrasi di pantai sepanjang 200 m dari Kabupaten Ketapang
Provinsi Kalimantan Barat sampai dengan Kabupaten Kota Waringin Barat
Provinsi Kalimantan Tengah,
e) Terjadinya intrusi air laut pada sungai-sungai di WS Jelai – Kendawangan.
2. Penanggulangan daya rusak air
a) Belum dipahaminya manajemen banjir dan bencana alam,
b) Agar segera disiapkan panduan penanggulanan darurat akibat bencana.
3. Pemulihan daya rusak air
a) Kekurangsiapan dalam pemulihan kondisi lingkungan hidup setelah terjadi
bencana banjir.
2.4.4. Sistem Informasi Sumber Daya Air
1. Informasi Sumber Daya Air
a) Data klimatologi, curah hujan, muka air sungai di tiap DAS sangat terbatas
dari segi kerapatan jumlah stasiun,
b) Belum terpadunya informasi data antar instansi,
c) Belum adanya data aset sumber daya air terkait dengan kepentingan
pengelola sumber daya air.
2. Pengelolaan Sistem Informasi
a) Belum adanya organisasi yang tertata dengan baik untuk mengelola data dan
informasi terkait sumber daya air
b) Kemampuan personil pengelola data dan informasi belum sesuai dengan
standar yang ada.
c) Belum ada sistem pengelolaan sistem dan informasi yang baik
2.4.5. Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha
1. Masyarakat banyak yang belum memahami mengenai pentingnya menjaga
kelestarian sumber daya air,
2. Belum dilibatkannya dunia usaha yang memanfaatkan air sebagai komoditi
usaha untuk menjaga kelestarian sumber daya air,
3. Belum adanya mekanisme pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya
air.
Identifikasi permasalahan yang ada maka dirangkum untuk setiap DAS di WS Jelai -
Kendawangan seperti tabel 2.32 sampai dengan Tabel 2.42 di bawah ini.
Tabel 2. 32 Perumusan Permasalahan DAS Kotawaringin
DAS KOTAWARINGIN
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Pasokan air minum untuk pelanggan PDAM baru mencapai
sekitar 50 %, memerlukan tambahan WTP baru dengan
intake yang agak ke hulu untuk menghindari air asin.
Pasokan air untuk kebutuhan irigasi hanya dilayani oleh
Bendung Bengaris (Kec. Arut Selatan) dan bendung Natai
kerbau (Kec. Pangkalan Banteng) dengan kemampuan
pasokan 5.030 Ha, memerlukan bendung yang baru untuk
rencana memenuhi kapasitas 8.803 Ha.
Kebutuhan listrik saat ini dilayani dengan pasokan dari
tenaga diesel, memerlukan pembangunan PLTA atau
PLTMH pada lokasi di sungai Bengaris 4 MW.
47
DAS KOTAWARINGIN
Alih fungsi lahan ke perkebunan kelapa sawit.
Kebutuhan air untuk pembangunan bandara international
di Kumai Kabupaten Kobar dan pelabuhan laut.
Kebutuhan air untuk rencana perluasan areal irigasi, rawa
dan tambak.
Aspek Pengendalian Daya
Rusak Air Abrasi pantai sepanjang + 21 km dari pantai sekitar Teluk
Bogam, Kubu dan Kumai, memerlukan penanganan baik
struktur maupun Non struktur.
Intrusi air asin masuk ke hulu Sungai Arut sampai sekitar
30 km dari Pangkalan Bun.
Banjir pada lokasi disekitar Sungai Lamandau, Sungai
Arut, setiap tahun menggenangi daerah Kabupaten Kobar
seluas ± 8.000 ha di 15 lokasi rawan banjir.
Erosi lahan pada lokasi sekitar Sungai Lamandau, Sungai
Arut, dengan kisaran 34,37 ton/ha tergolong berat.
Kawasan rawan bencana banjir, kebakaran hutan dan
erosi di Kabupaten Kotawaringin.
Kenaikan air laut
Abrasi pantai dan Rusaknya perairan laut
Aspek Konservasi
Sumber Daya Air Kualitas air di hilir sungai Kotawaringin menunjukkan
nilai-nilai pencemar melebihi ambang batas (diantaranya
BOD an COD), bakteri coli.
Proses tambang yang mencemari lingkungan.
Erosi lahan dan sedimentasi sebagai konsekuensi
kerusakan hutan di hulu sungai Lamandau
Abrasi pada hutan mangrove memerlukan penanganan
penanaman kembali hutan mangrove di sekitar pantai
Kubu sampai teluk Bogam.
Lahan kritis semakin meluas di taman nasional tanjung
putti.
Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
Tabel 2. 33 Perumusan Permasalahan DAS Kendawangan
DAS KENDAWANGAN
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Pasokan air minum untuk pelanggan PDAM baru mencapai
sekitar 30 %, memerlukan tambahan WTP baru dengan
intake yang agak ke hulu untuk menghindari air asin.
Pasokan air untuk kebutuhan irigasi saat ini baru bisa
melayani sekitar 5.000 Ha, memerlukan bendung yang
baru untuk rencana memenuhi kapasitas 17.300 Ha.
Alih fungsi lahan sawah ke lahan perkebunan.
Kebutuhan air untuk rencana perluasan areal irigasi, rawa
dan tambak.
Pengambilan material pasir di muara sungai untuk
memenuhi kebutuhan di wilayah lain.
Aspek Pengendalian Daya
Rusak Air Abrasi pantai sepanjang ±20 km di pesisir pantai DAS
Kendawangan, memerlukan penanganan baik struktur
maupun Non-struktur.
48
DAS KENDAWANGAN
menusuk sekitar 50 km.
Banjir terjadi di Lokasi Desa Banjar Sari karena meluapnya
sungai tapah.
Erosi lahan pada lokasi sekitar sungai Kendawangan
dengan kisaran 37,63 ton/ha tergolong berat.
Kondisi kekeringan kerap terjadi di puncak musim kemarau
di Kab. Ketapang, hal ini disebabkan oleh kebiasaan
masyarakat membakar lahan untuk kegiatan pertanian.
Aspek Konservasi
Sumber Daya Air Kualitas air di hilir sungai Kotawaringin menunjukkan
nilai-nilai pencemar melebihi ambang batas (diantaranya BOD an
COD), bakteri coli
Proses tambang yang mencemari lingkungan.
Erosi lahan dan sedimentasi sebagai konsekuensi
kerusakan hutan di hulu sungai Kendawangan.
Tutupan vegetasi semakin rusak di pantai tanjung gangse,
pantai pulau kucing, Pantai Pulau Jambat, Pantai Pulau
Sahabat, Pantai Selat Bilik (teluk Pacak, Tanjung Duku)
Lahan kritis semakin meluas di kawasan hutan cagar alam
muara kendawangan, tata batas perlu dipelihara secara
partisipatif, Pencurian liar, Penanaman lahan kritis
Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Vegetasi bakau dari arah laut semakin rusak/kritis
Hutan panyau semakin rusak
Belum menerapkan kaidah konservasi tanah dan air
(terasering dll) untuk penggunaan lahan pertanian lahan
kering
Belum menanam cover crop dan pergiliran tanaman untuk
penggunaan lahan karet
Belum menanam cover crop dan pergiliran tanaman untuk
penggunaan lahan kelapa dalam, kokoa
Belum menanam cover crop dan pergiliran tanaman untuk
penggunaan lahan kelapa sawit
Belum menerapkan kaidah konservasi tanah dan air
(terasering dll) untuk penggunaan lahan lada.
Tabel 2. 34 Perumusan Permasalahan DAS Jelai
DAS JELAI
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Pasokan air minum untuk pelanggan PDAM baru mencapai
sekitar 30 %, memerlukan tambahan WTP baru dengan
intake yang agak ke hulu untuk menghindari air asin.
Pasokan air untuk kebutuhan irigasi saat ini baru bisa
melayani sekitar 3.212 Ha, memerlukan bendung yang
baru untuk rencana memenuhi kapasitas 29.750 Ha.
Alih fungsi lahan sawah ke lahan perkebunan
Kebutuhan air untuk rencana perluasan areal irigasi, rawa
dan tambak.
Krisis air bersih.
Aspek Pengendalian Daya Intrusi air asin masuk ke Sungai Jelai sampai menusuk
sekitar 30 km dari muara.
49
DAS JELAI
Rusak Air Banjir di sekitar bantaran Sungai Jelai.
Penyebab banjir di DAS Jelai karena :
penyempitan aliran karena sedimentasi akibat
perubahan tata guna lahan menjadi perkebunan
Akibat kelandaian sungai yang kecil pada daerah hilir,
apalagi pada saat dipengaruhi oleh pasang surut air
laut
Palung sungai antara muka air dengan muka tanah
tidak dalam, kurang dari 1 m.
Erosi lahan pada lokasi sekitar sungai jelai berkisar 47,98
ton/ha tergolong berat.
Rusaknya perairan laut di kawasan pesisir laut Sukamara,
dari kawasan daratan (limbah dan polusi) dan kawasan
perairan (pemanenan ilegal dan destruktif).
Lahan kritis karena adanya indikasi meningkatnya
kejadian erosi, sedimentasi, banjir dan kekeringan.
Aspek Konservasi Sumber
Daya Air Kualitas air di hilir Sungai Jelai menunjukkan nilai-nilai
pencemar melebihi ambang batas (diantaranya BOD an
COD), bakteri coli
Proses tambang yang mencemari lingkungan.
Erosi lahan dan sedimentasi sebagai konsekuensi
kerusakan hutan di hulu Sungai Jelai.
Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
Tabel 2. 35 Perumusan Permasalahan DAS Kumai
DAS KUMAI
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Pasokan air minum untuk pelanggan PDAM baru mencapai
sekitar 30 %, memerlukan tambahan WTP baru dengan
intake yang agak ke hulu untuk menghindari air asin.
Pasokan air untuk kebutuhan irigasi saat ini baru bisa
melayani sekitar 1.275 Ha, memerlukan bendung yang
baru untuk rencana memenuhi kapasitas 1.500 Ha.
Kebutuhan air untuk rencana perluasan areal irigasi, rawa
dan tambak.
Kebutuhan air untuk wilayah konservasi Tanjung Puting.
Aspek Pengendalian
Daya Rusak Air Intrusi air asin masuk ke hulu sungai Kumai sampai sekitar
30 km dari muara sungai.
Erosi lahan pada lokasi sekitar sungai Kumai berkisar
28.87 tergolong sedang.
Aspek Konservasi
Sumber Daya Air Kualitas air di hilir Sungai Kumai menunjukkan nilai-nilai
pencemar melebihi ambang batas (diantaranya BOD dan
COD), bakteri coli
Erosi lahan dan sedimentasi sebagai konsekuensi kerusakan
hutan di hulu sungai Kumai.
Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat
50
Tabel 2. 36 Perumusan Permasalahan DAS Air Hitam Besar
DAS AIR HITAM BESAR
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Belum adanya PDAM untuk memenuhi kebutuhan air
minum.
Pasokan air untuk kebutuhan irigasi saat ini baru bisa
melayani sekitar 1.500 Ha, memerlukan bendung baru
untuk rencana memenuhi kapasitas 3.500 Ha.
Alih fungsi lahan sawah ke lahan perkebunan
Kebutuhan air untuk rencana perluasan areal irigasi, rawa
dan tambak.
Aspek Pengendalian
Daya Rusak Air Intrusi air asin masuk ke hulu sungai Air Hitam Besar
sampai sekitar 20 km dari muara.
Erosi lahan pada lokasi sekitar sungai Air Hitam Besar
berkisar 26,38 tergolong sedang.
Aspek Konservasi
Sumber Daya Air Kualitas air di hilir sungai Air Hitam Besar menunjukkan
nilai-nilai pencemar melebihi ambang batas (diantaranya
BOD an COD), bakteri coli
Proses tambang yang mencemari lingkungan.
Erosi lahan dan sedimentasi sebagai konsekuensi kerusakan
hutan di hulu sungai Air Hitam Besar.
Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
Tabel 2. 37 Perumusan Permasalahan DAS Air Hitam Kecil
DAS AIR HITAM KECIL
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Belum adanya PDAM untuk memenuhi kebutuhan air
minum.
Belum adanya sarana dan prasarana untuk irigasi, rawa dan
tambak.
Alih fungsi lahan sawah ke lahan perkebunan
Kebutuhan air untuk rencana areal irigasi, rawa dan
tambak.
Aspek Pengendalian
Daya Rusak Air Intrusi air asin masuk ke hulu sungai Air Hitam Kecil
sampai sekitar 20 km dari muara.
Erosi lahan pada lokasi sekitar sungai Air Hitam Kecil
berkisar 26,52 tergolong sedang.
Kondisi kekeringan kerap terjadi di puncak musim kemarau
di Kab. Ketapang, hal ini disebabkan oleh kebiasaan
masyarakat membakar lahan untuk kegiatan pertanian.
Aspek Konservasi
Sumber Daya Air Kualitas air di hilir Sungai Air Hitam Kecil menunjukkan
nilai-nilai pencemar melebihi ambang batas (diantaranya
BOD an COD), bakteri coli
Proses tambang yang mencemari lingkungan.
Erosi lahan dan sedimentasi sebagai konsekuensi kerusakan
hutan di hulu sungai Air Hitam Kecil.
Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat
51
Tabel 2. 38 Perumusan Permasalahan DAS Simbar
DAS SIMBAR
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Belum adanya PDAM untuk keperluan air minum.
Belum adanya sarana dan prasarana untuk irigasi, rawa dan
tambak.
Alih fungsi lahan sawah ke lahan perkebunan
Kebutuhan air untuk rencana areal irigasi, rawa dan tambak.
Aspek Pengendalian
Daya Rusak Air Erosi lahan pada lokasi sekitar sungai Simbar berkisar 21,26
ton/ha tergolong sedang.
Kondisi kekeringan kerap terjadi di puncak musim kemarau
di Kabupaten Ketapang, hal ini disebabkan oleh kebiasaan
masyarakat membakar lahan untuk kegiatan pertanian.
Aspek Konservasi
Sumber Daya Air Kualitas air di hilir Sungai Simbar menunjukkan nilai-nilai
pencemar melebihi ambang batas (diantaranya BOD an
COD), bakteri coli
Erosi lahan dan sedimentasi sebagai konsekuensi kerusakan
hutan di hulu sungai Simbar.
Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
Tabel 2. 39 Perumusan Permasalahan DAS Cabang
DAS CABANG
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Belum adanya PDAM untuk keperluan air minum
Belum adanya sarana dan prasarana untuk irigasi, rawa
dan tambak.
Kebutuhan air untuk wilayah konservasi Tanjung Puting.
Aspek Pengendalian Daya
Rusak Air Erosi lahan pada lokasi sekitar Sungai Cabang berkisar
13,44 tergolong rendah.
Aspek Konservasi Sumber
Daya Air Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
Tabel 2. 40 Perumusan Permasalahan DAS Bulu Kecil
DAS BULU KECIL
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Belum adanya PDAM untuk keperluan air minim
Belum adanya sarana dan prasarana untuk irigasi, rawa dan
tambak.
Kebutuhan air untuk wilayah konservasi Tanjung Puting.
Aspek Pengendalian Daya
Rusak Air Erosi lahan pada lokasi sekitar Sungai Bulu Kecil berkisar
14,80 tergolong rendah.
Aspek Konservasi Sumber
Daya Air Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
52
DAS BULU KECIL
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
Tabel 2. 41 Perumusan Permasalahan DAS Bawal
DAS BAWAL
Aspek Pendayagunaan
Sumber Daya Air Belum adanya PDAM untuk keperluan air minim
Belum adanya sarana dan prasarana untuk irigasi, rawa
dan tambak.
Aspek Pengendalian Daya
Rusak Air Erosi lahan pada lokasi sekitar Sungai di DAS Bawal 14,44
tergolong rendah.
Aspek Konservasi Sumber
Daya Air Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
Tabel 2. 42 Perumusan Permasalahan DAS Gelam
DAS GELAM
Aspek Pendayagunaan Air Belum adanya PDAM untuk keperluan air minim
Belum adanya sarana dan prasarana untuk irigasi,
rawa dan tambak.
Aspek Daya Rusak Air Erosi lahan pada lokasi sekitar Sungai di DAS
Gelam12,24 tergolong rendah.
Aspek Konservasi Hutan Produksi Terbatas (HPT) lahan kritisnya
semakin meningkat.
Hutan Lindung (HL) lahan kritisnya semakin
meningkat.
Hutan Produksi Tetap (HP) lahan kritisnya semakin
meningkat
Sumber :Analisa Data Lapangan, 2010
2.5. Identifikasi Potensi yang Bisa Dikembangkan
Dalam dokumen
POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI JELAI - KENDAWANGAN
(Halaman 50-57)