• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Masalah yang Menonjol

PENGUASAAN ANGGOTA PARLEMEN TERHADAP LIMA TEMA PROGRAM MAMPU

8.1. Identifikasi Masalah yang Menonjol

Masalah perempuan dan kemiskinan dalam kajian ini dipahami sebagai masalah yang terkait dengan lima bidang tema Program MAMPU yaitu :

1. Meningkatkan akses perempuan terhadap program perlindungan sosial pemerintah. 2. Meningkatkan akses perempuan pada pekerjaan serta menghapuskan diskriminasi di

tempat kerja.

3. Memperbaiki kondisi untuk migrasi tenaga kerja perempuan ke luar negeri.

4. Memperkuat kepemimpinan perempuan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi.

5. Memperkuat kepemimpinan perempuan dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan.

Perlindungan sosial cenderung lebih berasosiasi dengan bantuan sosial, bantuan langsung tunai langsung dan program jaminan kesehatan dan dukungan pendidikan, yang kesemuanya ditargetkan pada keluarga miskin. Namun jika mengacu pada Soeharto (2006) bahwa dalam arti luas perlindungan sosial didefinisikan sebagai segala inisiatif baik yang dilakukan oleh pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat yang bertujuan untuk menyediakan transfer pendapatan atau konsumsi orang miskin, melindungi kelompok rentan terhadap resiko (livelihood), meningkatkan status dan hak-hak sosial kelompok-kelompok yang terpinggirkan di dalam suatu masyarakat.

Sejauh ini, APPb dan APLb belum banyak mengetahui informasi Peraturan Daerah yang secara spesifik terkait dengan masalah atau kepentingan perempuan dan masyarakat miskin. Walaupun demikian, jika dikaitkan dengan “masalah perempuan” dan “kemiskinan” atau kesejahteraan masyarakat di tingkat kabupaten/kota, ternyata bahwa pikiran-pikiran APPb dan APLb secara “tidak langsung” telah menyentuh fungsi legislasi sejak mereka berstatus sebagai calon legislatif (caleg).

Laporan Baseline Survey – Juni 2015 | 134

APPb Kabupaten Bone, Andi Syamsidar misalnya, ketika dia mendengar di wilayah konstutiennya banyak terjadi kasus kekerasan dalam rumahtangga (KDRT), terpikir olehnya untuk mengusulkan suatu aturan atau undang-undang yang intinya memuat antara lain: (1) perlunya pendataan kasus-kasus KDRT di Kabupaten Bone; dan (2) perlunya ada sanksi bagi pelaku KDRT yang menyebabkan salah satu dari anggota keluarga menjadi korban, sebagaimana diungkapkan:

“ …..di Dapil saya, banyak kasus KDRT tapi pada umumnya mereka bungkam karena mereka malu menceritakan rahasia keluarga yang sangat pribadi. Nanti mereka terbuka ketika mereka “di korek-korek” itupun masih sangat malu untuk menceritakannya….kasus KDRT di Kabupaten Bone hampir terjadi pada semua dapil Periode 2014-2019, penyebabnya “cenderung” terkait dengan kemiskinan keluarga….“

Masalah perempuan lainnya yang ditemukan oleh APP dan APL di Kabupaten Bone pada pelaksanaan sosialisasi (kampanye) adalah KDRT (suami terhadap isteri), perceraian, kesehatan reproduksi dan banyaknya TKI (TKW) illegal, sebagaimana yang terlihat pada Tabel 8.1.

Tabel 8.1. Masalah yang Menonjol di Kabupaten/Kota Lokasi Survey

Lokasi Survey

Masalah dan Isu yang Menonjol Perlindungan Sosial (Kesejahteraan Masyarakat) Diksriminasi Perempuan Di Tempat Kerja TKW Kesehatan Reproduksi KDRT

Bone Kemiskinan, perceraian Ideologi, (tapi Sudah mulai menurun) TKW-Ilegal& tidak terlatih Pendarahan setelah melahirkan Kekerasan Suami terhadap Isteri (terkait dengan kemiskinan) Maros  Indentifikasi masyarakat miskin belum dilakukan secara maksimal  Pengelolaan Tambang secara ilegal  Banjir pada wilayah

persawahan berakibat gagal panen

 Akses pelaku usaha RT yang terbatas terhadap modal dan pendampingan usaha  Cuti kerja terhadap TK Perempuan belum disesuaikan dengan kebutuhan -  Pemahaman terhadap perlindungan kesehatan ibu, anak dan bayi masih terbatas - Tana Toraja  Pemerkosaan anak  Narkoba  Kesejahteraa n TKW di Batam  AIDs

Laporan Baseline Survey – Juni 2015 | 135 Lokasi

Survey

Masalah dan Isu yang Menonjol Perlindungan Sosial (Kesejahteraan Masyarakat) Diksriminasi Perempuan Di Tempat Kerja TKW Kesehatan Reproduksi KDRT

Belu  Belum memberi

kesempatan yang setara kepada perempuan untuk bekerja non domestik  Kesempatan

kerja yang belum setara  Perdagangan orang ke luar wilayah untuk dipekerjakan  Perekrutan dan penyaluran TK belum dilakukan secara melembaga atau masih illegal -  Kekerasan dalam RT oleh kepala RT kepada istri

Kendari  HIV AIDS - -  Kesehatan

reproduksi - Lombok Timur Kemiskinan, Pernikahan dini Ya (Perspektif Islam) Tidak semua TKW terlatih Kematian ibu nifas KDRT karena merasa membeli wanita Ambon  HIV AIDS

 Pelecehanseksualterha dapanak

- - -  KDRT

Mataram  Perempuan janda miskin  Akses masyarakat miskin pelayanan kesehatan  Perempuan buruh di pasar tradisional Gaji Pembantu rumah - - -

Sumber: Data primer, diolah

Kasus KDRT di Kabupaten Bone pada umumnya terkait dengan kondisi kemiskinan, sedangkan kasus perceraian pada umumnya disebabkan oleh pernikahan dini. Kesehatan reproduksi misalnya, kadang-kadang terjadi pendarahan jika melahirkan dan lambat memperoleh penanganan karena selain faktor budaya (masih ada pemahaman harus melahirkan di rumah ibu kandung dengan menggunakan dukun bersalin) juga disebabkan oleh tempat tinggal yang sulit dijangkau karena infrastruktur (jalanan) yang tidak memadai. Sedangkan kasus TKW illegal cenderung terkait dengan adanya aturan-aturan yang cenderung dihindari oleh calon TKW, karena aturan-aturan tersebut dipandang sangat terkait dengan biaya yang cukup tinggi.

Terkait dengan perceraian yang disebabkan oleh pernikahan dini, APP dan APL Kabupaten Bone sama-sama terinspirasi untuk menegakkan aturan atau undang-undang pernikahan. Adapun masalah kesehatan reproduksi yang terkait dengan sulitnya wilayah

Laporan Baseline Survey – Juni 2015 | 136

untuk diakses, telah pula terpikirkan oleh APPb dan APLb untuk memperjuangkan pembangunan infrastruktur jalanan di wilayah tersebut.

Menyangkut masalah TKI (TKW) illegal, ketika anggota parlemen baru menemukan kasus ini, terpikir olehnya untuk memperjuangkan peraturan daerah atau undang-undang yang mengatur pelaksanaan TKI (termasuk didalamnya memberi pelatihan/pembekalan) agar TKI yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan pada umumnya dan Kabupaten Bone khususnya, benar-benar mempersiapkan diri sebelum ke luar dan dapat terlindungi di wilayah kerjanya masing-masing.

Sementara itu, masalah dan isu menonjol yang saat ini dihadapi di Kabupaten Maros yang terkait dengan upaya untuk meningkatkan akses perempuan terhadap program perlindungan sosial pemerintah (tema MAMPU pertama) dan meningkatkan akses perempuan pada pelayanan serta menghapuskan diskriminasi di tempat kerja (tema MAMPU kedua), antara lain;

 Masih belum teridentifikasinya masyarakat miskin termasuk kepala RT perempuan secara maksimal sehingga banyak program yang ditujukan untuk masyarakat miskin termasuk kepala RT perempuan miskin (program raskin, bantuan modal dll) dirasakan belum tepat sasaran. Menurut beberapa anggota parlemen di Kabupaten Maros, di wilayah konstituen mereka seringkali masyarakat mengeluh bahwa banyak bantuan yang berasal dari pemerintah untuk membantu masyarakat tidak dapat mereka peroleh karena mereka tidak terdaftar sebagai orang miskin.

 Masih banyak ibu-ibu pelaku usaha skala rumah tangga yang seringkali mengeluhkan keterbatasan modal yang mereka miliki untuk dapat mereka gunakan dalam pengembangan usaha. Kalaupun modal tersebut tersedia, hambatan lain yang dihadapi oleh pelaku usaha tersebut adalah keterbatasan mereka untuk mengakses modal oleh karena banyaknya syarat yang ditetapkan dan tidak mampu mereka penuhi. Disamping akses pelaku usaha RT yang terbatas terhadap modal, masalah lain yang mereka hadapi adalah belum adanya atau belum tersedianya pendampingan usaha yang dapat membantu mereka dalam pengembangan usaha.

 Cuti kerja terhadap TK Perempuan belum disesuaikan dengan kebutuhan. Menurut Akbar Endra (APLi-Maros), saat ini masih sering mereka menerima aspirasi dari masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai buruh perempuan yang menyatakan

Laporan Baseline Survey – Juni 2015 | 137

bahwa masih ada diskriminasi yang mereka rasakan sebagai TK perempuan. Di tempat kerja mereka, sebagai contoh; seringkali mereka merasa diperlakukan tidak adil ketika mereka membutuhkan cuti kerja pada saat mereka sedang mengalami “datang bulan” dan membutuhkan waktu untuk istirahat bahkan upah mereka akan dipotong oleh perusahaan jika mereka tidak bekerja.

 Pemahaman sebagian masyarakat khususnya ibu-ibu terhadap perlindungan kesehatan ibu, anak dan bayi masih sangat terbatas. Menurut anggota parlemen di Kabupaten Maros, walaupun Perda KIBBLA telah diimplentasikan, namun masih banyak ibu-ibu yang membutuhkan pelayanan kesehatan reproduksi belum memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

Masalah TKI (TKW) dialami pula di Kabupaten Lombok Timur. Melalui perannya sebagai anggota parlemen, Baiq Nurhasanah yang merupakan mantan TKW binaan lembaga Tifa yang sekaligus sebagai salah satu anggota komisi II DPRD Lombok Timur; ingin membantu memberdayakan mantan TKI dan TKW di Kabupaten Lombok Timur melalui program pemerintah yang ada. Ia ingin agar TKW bisa hidup mandiri tanpa harus kembali lagi menjadi TKI ke luar negeri.

8.2. Penguasaan Anggota Parlemen terhadap Lima Tema Program MAMPU