BAB IV : PELAKSANAAN PENELITIAN, ANALISIS DATA, HASIL
C. Hasil Penelitian
3. Identifikasi Penyebab Masalah
a. Untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan yang dilakukan siswa,
peneliti melakukan wawancara dengan semua siswa yang
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal aturan sinus
kosinus dan rumus luas segitiga dan menganalisis hasil tes
diagnostik. Karena terbatasnya waktu maka jika ada siswa yang
jenis kesalahannya dalam satu nomor sama dengan siswa lainnya
peneliti hanya mengambil salah satu siswa sebagai sampel.
Berikut analisis dari 11 siswa yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan soal dalam menyelesaikan soal aturan sinus kosinus
dan rumus luas segitiga.
1. Siswa 1
Dari sepuluh soal yang diberikan, siswa hanya mengerjakan tujuh
soal. Dan hanya satu soal yang telah siswa kerjakan secara
sempurna. Siswa 1 ini melakukan kesalahan data dalam
mengerjakan soal aturan sinus kosinus yang terdapat pada soal
nomor 1, dimana siswa melakukan kesalahan dalam memasukkan
variabel ke dalam rumus. Pada soal diketahui segitiga DEF, dan
siswa menuliskan variabel ABC ke dalam rumus sinus.
P : (sambil memperlihatkan soal dan lembar jawaban siswa).
S1: “ini salah mbak!”
(sambil menunjuk ke lembar jawabannya)
“ ini seharusnya d per sin D sama dengan e per sin E sama dengan
f per sin F.”
P : “okeey, jadi kemaren kamu salah menulis atau.. ?”
S1 : (sambil senyum-senyum)
“iya, yang dicatatan juga seperti ini kog mbak”
Keterangan : P = Peneliti S1 = Siswa 1
Dari hasil wawancara diatas, terlihat bahwa siswa hanya sekedar
menghafal rumus yang terdapat pada catatan siswa tanpa dipahami
terlebih dahulu . Sehingga ketika diberikan soal dengan variabel
berbeda siswa secara tidak sadar menuliskan rumus persis dengan
yang ada di dalam catatan.
Siswa 1 juga sering melakukan kesalahan dengan tidak mengecek
kembali hasil pekerjaannya. Memasukkan data ke dalam rumus
serta perhitungan sudah benar, namun apa yang ditanyakan dalam
soal, siswa tidak menjawabnya.
P : “ untuk yang nomor 5. Sampai sini langkahnya sudah benar, tapi sampai sini belum.”
“ yang ditanyakan adalah p, sedangkan jawabanmu masih p kuadrat,
jadi berapa hasilnya?”
S1 : (tanpa ragu-ragu siswa langsung menjawab) “tiga belas”.
P : “ hayoo.. tiga belas kan p kuadrat, jadi kalau p sama dengan?”
S1 : (Siswa mulai bingung) “o.. kalau p ya enam setengah”
P : “hayo.. kalau p kuadrat sama dengan tiga belas, jadi p sama dengan? “
S1 : (siswa berfikir lama)
“ p kuadrat sama dengan 13...” P : “iyaa, jadi kalau p sama dengan? “
S1 : (siswa masih bingung dan tampak berpikir keras)
“ya ini gag salah kan mbak?”
(sambil menunjuk ke lembar jawabannya) P : “akar tiga be..las.”
S1 : “oiyaa mbak.. iyaa..”
(sambil tersenyum-senyum)
Keterangan : P = Peneliti S1 = Siswa 1
Dari hasil wawancara diatas terlihat bahwa siswa belum menguasai
materi tentang bilangan berbentuk pangkat dan akar yaitu mencari
nilai akar dari sebuah bilangan kuadrat. Sehingga siswa
kebingungan ketika mencari nilai p jika yang diketahui nilai p².
Karena sebelumnya siswa belum belajar untuk mempersiapkan tes
diagnostik, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan tes ini.
2. Siswa 2
Siswa 2 sering melakukan kesalahan dalam mengintepretasikan
bahasa, yaitu dengan menuliskan simbol dari suatu konsep dengan
simbol lain yang artinya berbeda. Pada materi aturan sinus kosinus
dan luas segitiga terdapat 2 simbol yang terdapat pada rumus, yaitu
simbol huruf besar dan simbol huruf kecil. Huruf besar untuk
panjang sisi didepan sudut tertentu. Meskipun salah dalam
menuliskan simbol, namun siswa melakukan perhitungan dengan
benar.
P : “saya mau tanya tentang soal tes kemarin.” (menunjukkan soal dan lembar jawaban siswa)
“ coba liat soal nomor 1 kemudian kamu lihat jawabanmu ini.”
“ menurut kamu ada yang salah dengan jawabanmu?”
S2 : “ ada ”
(menjawab dengan penuh ragu) P : “ yang mana? ”
S2 : “ yang...”
(berpikir lama dan tampak bingung) P : “ coba lihat ini.”
(sambil menunjukan gambar segitiga yang diketahui dari soal)
“inikan D, simbol D digunakan untuk lambang titik sudut, sedangkan simbol d digunakan untuk lambang panjang sisi dihadapan titik D.”
S2 : “ oiya mbak”
“ jadi huruf besar untuk tititk sudut, kalau huruf kecil untuk panjang
sisi.” P : “ iyaa. Siiph”
Keterangan : P = Peneliti S2 = Siswa2
Kesalahan siswa dalam menggunakan simbol secara tidak tepat
disebabkan karena siswa kurang begitu paham dengan konsep yang
terdapat pada rumus. Padahal guru sering kali menjelaskan
perbedaan simbol-simbol yang terdapat pada rumus ketika
pembelajaran. Kurang minatnya siswa 2 ini terhadap matematika
menyebabkan siswa tampak kurang bersemangat saat
pembelajaran.
Kesalahan kedua yang sering dilakukan Siswa 2 adalah kesalahan
teknis, yaitu melakukan kesalahan dalam perhitungan akhir.
P : “coba sekarang kamu lihat nomor 6.”
(sambil menunjukkan soal dan jawaban siswa nomor 6)
“ Rumusnya sudah benar, kemudian kamu masukkan angkanya
juga sudah benar, tapi ini kog 4 3 , kenapa ini masih dalam bentuk akar?”
S2 : “e... 2 2“
P : “(2 3)², dua dikuadratkan dan akar tiga dikuadratkan.”
“ dua kuadrat sama dengan? “
S2 : (siswa tampak bingung)
“sampai sini udah bingung.”
P : “hmm.. ya dicoba yuuk, saya bantu.”
“inikan kuadrat dari dua akar tiga, berarti 2 dikuadratkan
kemudian kamu kalikan dengan akar tiga dikuadratkan.”
“dua dikuadratkan sama dengan?”
S2 : “ empat”
P : “kalau akar tiga dikuadratkan sama dengan?”
S2 : “tiga”
P : “sehingga menjadi 4 kalikan 3”
S2 : “enam belas” P : “eh.. dua be...las”
S2 : “o iya mbak” (siswa tersenyum)
P : “yuups.”
Keterangan : P = Peneliti S2 = Siswa2
Dari hasil wawancara di atas tampak siswa kurang
menguasai/memahami konsep materi prasyarat, yaitu bilangan
berbentuk pangkat dan akar yang pernah dipelajari pada semester
sebelumnya sehingga menyebabkan siswa melakukan kesalahan
dalam mengerjakan soal tes nomor 6.
3. Siswa 4
Dari sepuluh soal yang diberikan siswa mengerjakan 3 soal dengan
benar. Pada soal nomor 1 dan 2 siswa tidak memahami maksud
dari soal. Yang ditanyakan dalam soal adalah rumus aturan sinus
namun yang siswa tulis adalah rumus luas segitiga.
P : “ yang ditanyakan tentang aturan sinus mengapa kamu menjawab rumus luas segitiga?”
S4 : (siswa tersenyum kemudian tertawa ringan) “iyaa.. salah mbak.”
P : “hadooh.. mungkin kamu kurang teliti membaca soalnya?”
S4 : “Iyaa.”
P : “terus yang benar bagaimana?”
S4 : “ini berarti 𝑆𝑖𝑛𝑑𝐷= 𝑒 𝑆𝑖𝑛𝐸= 𝑓 𝑆𝑖𝑛𝐹“ P : “okeey.. benar” Keterangan : P = Peneliti S4 = Siswa 4
Ketidakketelitian siswa 3 ini dalam membaca soal menyebabkan
siswa salah dalam menjawab soal. Padahal di dalam soal terlihat
jelas bahwa siswa diminta untuk menuliskan aturan sinus yang
berlaku pada segitiga DEF. Meskipun pada rumus luas segitiga
memuat sinus, namun bukan rumus luas segitiga yang dimaksud.
Kesalahan lain yang dilakukan oleh siswa 3 ini adalah kesalahan
teknis. Siswa melakukan kesalahan dalam perhitungan, seperti
kesalahan dalam mengalikan bilangan dan mengkuadratkan bentuk
akar.
P : “okeey.. benar”
“lagi yang nomor 10.”
(sambil menunjuk soal dan jawaban siswa nomor 10)
S4 : “ iya mbak”
P : “rumusnya kamu sudah benar, tapi perhitungan akhirnya kamu salah.
Coba kamu perhatikan jawabanmu.”
(sambil menunjukan kesalahan perhitungannya)
S4: “iya.. “
P : “ setengah dikalikan seratus?”
P : “ lima puluh dikalikansetengah?”
S4 : “ dua puluh lima”
P : “ dua puluh lima dikalikan akar tiga?”
S4 : “ dua puluh lima akar tiga.”
“ oiyaa... “
P : “ jadi luas segi enam adalah enam dikalikan..?”
S4 : “ dua puluh lima akar tiga.” P : “ sama dengan?”
S4 : “ seratus lima puluh akar tiga (150 3)” P : “ naah.. seperti itu
S4 : “ iya mbak.. “ (sambil tersenyum)
Keterangan : P = Peneliti S4 = Siswa 4
Dari hasil wawancara siswa terlihat lancar dalam menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke jawaban yang benar. Jadi
ketika siswa mengerjakan soal tersebut siswa kurang teliti dalam
menghitung.
4. Siswa 6
Dari 10 soal yang diberikan, siswa dapat mengerjakan 7 soal
dengan benar, dan sisanya siswa mengerjakan salah. Kesalahan
yang dilakukan siswa 6 ini salah satunya adalah kesalahan teknis,
yaitu kesalahan perhitungan dalam mengalikan bilangan dan
mengkuadratkan bilangan yang memuat bentuk akar.
P : “ coba kamu perhatikan soal dan jawaban tes kemarin nomor 6.”
S6 : (siswa memperhatikan dengan seksama)
P : “dua akar tiga dikuadratkan berapa hasilnya? Masak empat akar tiga?”
S6 : “delapan akar tiga...”
(siswa menjawab dengan ragu)
P : “dua akar tiga dikuadratkan,berarti dua kudrat sama dengan?”
S6 : “empat”
P : “empat dikalikan dengan akar tiga dikuadratkan?”
S6 : (siswa terdiam dan bingung)
P : “kalau akar tiga dikuadratkan atau akar tiga kali akar tiga sama dengan?”
S6 : “tiga”
P : “jadi empat dikalikan tiga?”
S6 : “dua belas”
P : “yaa, benar. Dua belas.”
S6 : “jadi empat kalitiga mbak?” P : “iyaak...“
Keterangan : P = Peneliti S6 = Siswa 6
Dari hasil wawancara diatas terlihat siswa kurang menguasai materi
bilangan berbentuk pangkat dan akar yang telah dipelajari pada
semester sebelumnya, sehingga siswa kebingungan ketika
melakukan operasi hitung.
Pada nomor 10 siswa sudah benar dalam mencari besar sudut tiap
segitiga serta memasukkan angka ke dalam rumus. Namun ketika
Kesalahan lain yang dilakukan siswa 6 ini adalah siswa tidak
memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Terlihat di lembar
jawabannya pada soal nomor 9, bahwa siswa tidak meneruskan
perhitungannya. Karena kurang menguasai materi bilangan pangkat
rasional yang telah diajarkan pada semester sebelumnya sehingga
siswa tidak melanjutkan perhitungan untuk menemukan hasil akhir
dari penyelesaian soal nomor 9.
5. Siswa 7
Dari 10 soal yang diberikan, siswa 7 hanya mengerjakan 5 soal. 2
soal diantaranya siswa mengerjakan dengan benar. Salah satu
kesalahan yang dilakukan siswa 7 ini adalah kesalahan teknis.
Siswa mengalami kesalahan perhitungan dalam merasionalkan
P : “ coba kamu baca soal nomor tiga dan perhatikan jawabanmu kemaren.”
(sambil menyodorkan soal dan lembar jawaban siswa)
S7 : (siswa membaca soal dan memperhatikan jawabnnya)
P : “ rumusnyansudah tepat, memasukkan angkanya juga sudah benar,
tapi ini coba kamu perhatikan : 432 x 33.”
“pembilangnya kamu kalikan sudah benar, penyebutnya berapa nie?”
S7 : (siswa terlihat bingung dan hanya terdiam)
P : “ maksud dari jawabanmu ini kan kamu mau merasionalkan bentuk
432, kemudian 432 kamu kalikan dengan 33. Mengalikan bentuk pecahan kan tinggal pembilang kamu kalikan dengan pembilang dan penyebut kamu kalikan dengan penyebut. “
“ untuk pembilangnya kamu sudah benar, 4 2 dikalikan dengan 3 sama dengan 4 6.
Terus penyebutnya mana?”
S7 : “itu lupa mbak kemaren, saking bingungnya.”
(sambil siswa tersenyum)
P : “ 3 x 3sama dengan berapa sih?”
S7 : “ akar tiga mbak. “ P : “ 3 x 3looh!?”
S7 : (siswa masih bingung) P : “ 3 x 3 kan sama dengan 32
atau 9, sama dengan?”
S7 : “bingung mbak”
P : “akar sembilan sama dengan ti..ga.”
S7: “iya mbak, bingung saya mbak.”
Keterangan : P = Peneliti S7 = Siswa 7
Dari hasil wawancara diatas, tampak bahwa siswa kebingungan
dalam mengalikan bentuk akar yang disebabkan kurang menguasai
konsep materi prasyarat, yaitu materi bilangan pangkat rasional
Dari hasil wawancara diketahui pula bahwa siswa tidak bisa selesai
mengerjakan semua soal karena siswa tersebut mengalami
kesulitan sendiri saat mengerjakan serta kurangnya waktu yang
diberikan, padahal waktu yang disediakan cukup banyak namun
siswa 7 ini tetap merasa kurang.
6. Siswa 10
Dari 10 soal yang diberikan, terdapat 4 soal yang tidak dikerjakan
oleh siswa 10 ini, sehingga yang dikerjakan hanya 6 soal, 3 soal
dikerjakan dengan benar dan sisanya siswa kerjakan namun salah.
salah satu kesalahan yang dilakukan oleh siswa 10 ini adalah
kesalahan mengintepretasikan bahasa, yang tampak pada penulisan
simbol yang kurang tepat pada rumus. Simbol yang digunakan
siswa 10 ini memiliki arti yang berbeda dengan simbol yang
sebenarnya pada rumus aturan sinus.
P : “okeey, yang nomor satu ini coba kamu perhatikan.”
S10 : “iya mbak.. “
(siswa memperhatikan jawabannya)
P : “bisa membedakan penggunaan huruf besar dan huruf kecil pada
aturan sinus nomor satu ini?”
S10 : (siswa terdiam, berpikir agak lama)
“huruf besar untuk... misalnya sin A, sin B, kalau huruf kecil itu untuk sisi.”
P : “yaak.. jawaban kamu kemaren itu sudah benar?”
S10 : (siswa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala)
Keterangan : P = Peneliti S10 = Siswa 10
Meskipun siswa 10 ini dapat menuliskan rumus aturan sinus dan
kosinus, namun siswa 10 ini tidak mengerjakan soal perhitungan
yang berkaitan dengan aturan sinus dan kosinus, yang nampak pada
jawaban siswa yang kosong pada soal nomor 2, 3, 6. Memang
selama tes diagnostik berlangsung, siswa 10 ini lebih banyak diam
daripada sibuk menghitung mencoba menjawab soal yang
dianggapnya sulit. Jadi siswa ini cenderung membiarkan soal yang
dianggapnya sulit dan tidak berusaha mencoba mengerjakan soal
tersebut.
Kesalahan teknis juga dilakukan siswa 10 ketika mengerjakan soal
nomor 5. Ketidak ketelitian siswa dalam menghitung sehinga
menyebabkan kesalahan perhitungan dalam mengalikan bilangan
bulat.
7. Siswa 13
Dari soal yang diberikan hanya ada 1 soal yang dikerjakan benar
oleh siswa ini dan 2 soal tidak dikerjakan sama sekali. Salah satu
kesalahan yang dilakukan siswa 13 ini adalah kesalahan data, siswa
yang terjadi pada nomor 2. Sedangkan yang terjadi pada nomor 5,
siswa salah menggambarkan data-data yang diketahui pada soal,
sehingga menyebabkan siswa salah menggunakan rumus dalam
menyelesaikan apa yang ditanyakan pada soal.
P : “ coba kamu perhatikan soal dan jawaban tes kemaren nomor dua”
S13 : “iyaa mbak..”
P : “nomor dua kan mencari besar sudut A. Rumusnya sudah benar tapi kamu salah memasukkan angkanya ke dalam rumus.”
S13: (siswa memperhatikan jawabannya) P : “ coba, kamu tunjukkan a.”
S13 : “iyaa..”
(sambil menunjuk jawaban yang dicari) P : “ berapa nilai dari a?
S13 : “lima.”
P : “coba kamu perhatikan lagi, a kecil itu simbol dari panjang sisi di hadapan sudut A.”
“berapa nilainya?”
S13 : “lima akar dua”
P : “jawabanmu berapa kemarin?”
S13 : “lima”
P : “jadi kemarin kamusalah memasukkan nilainya ke dalam rumus ya...”
S13 : “iya”
Keterangan : P = Peneliti S13 = Siswa 13
Ketidak-ketelitian dalam membaca soallah yang menyebabkan
siswa 13 ini melakukan kesalahan data. Mungkin karena terlalu
terburu-buru membaca soal kemudian salah memasukkan data ke
salah, maka hasil perhitungan akhir yang diperoleh pun tak sesuai
dengan jawaban sebenarnya.
Kesalahan lain yang dilakukan siswa ini adalah kesalahan
mengintepretasi bahasa, yang mana siswa salah menggunakan
simbol di dalam rumus yang kemudian siswa mengalami kesalahan
teknis.
Kesalahan teknis tampak pada kesalahan perhitungan, ketika siswa
harus melakukan perkalian silang dan siswa kebingungan harus
membagi bilangan bulat dengan bilangan berbentuk akar. Hal
tersebut disebabkan siswa kurang menguasai materi bilangan
berbentuk pangkat dan akar yang pernah dipelajari pada semester
sebelumnya.
8. Siswa 14
Siswa 14 ini hanya mengerjakan 8 soal dari 10 soal yang diberikan.
Satu soal diantaranya siswa kerjakan dengan benar. Salah satu
melakukan kesalahan perhitungan. Siswa tidak memperhatikan
operasi bilangan dalam perhitungan, yang mana siswa lebih dahulu
menghitung dengan operasi pengurangan kemudian perkalian.
Padahal diantara operasi pengurangan dan perkalian, harus
didahulukan perkalian, seperti yang pernah dipelajari ketika SD.
P : “coba perhatikan lagi yang nomor lima. Hasil akhirnya kog seperti itu?”
(sambil menunjukkan jawaban nomor enam)
S14 : “aku bingung kemarin mbak.”
P : “ini kamu kalikan dulu, dua puluh empat kalikan setengah sama
dengan?”
S14 : “dua belas”
P : “kemudian, dua puluh lima dikurangi dua belas sama dengan ?”
S14 : “tiga belas”
P : “jadi nilai P sama dengan? “
S14 : “akar tiga belas” P : “Yaak.. betul.. “
Keterangan : P = Peneliti S14 = Siswa 14
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa siswa
kebingungan saat mengerjakan soal nomor 5. Penguasaan konsep
dasar yang kurang menyebabkan siswa 14 ini kebingungan ketika
menghadapi soal tersebut.
Kesalahan lain terdapat pada soal nomor 3. Siswa melakukan
kesalahan menggunakan simbol serta melakukan kesalahan
dari bentuk perbandingan. Setelah melakukan perkalian maka
langkah selanjutnya adalah membagi hasil perkalian tadi dengan
suatu bilangan sehingga menemukan apa yang ditanyakan pada
soal, namun siswa tidak menggunakan operasi pembagian tetapi
menggunakan operasi pengurangan.
P : “coba kamu perhatikan jawabanmu nomor satu.”
S14 : “oh iya mbak, saya lupa kemarin..”
“ini seharusnya a kecil dan yang ini b kecil.” (sambil menunjukkan jawaban yang salah)
P : “iyaaa.. terus selanjutnya ada yang salah lagi di nomor tiga?”
S14 : “kayaknya gag ada lagi mbak.. “
P : “coba perhatikan baris kelima dari jawabanmu itu.”
S14 : “oh.. iya mbak.. itu kemarin saya bingung ngitungnya.. “ P : “ empat kalikan setengah akar dua sama dengan?”
S14 : “dua akar dua” P : “ jika 2 2 = 12 3x B “
“maka nilai B sama dengan?”
S14 : (siswa tampak bingung dan hanya terdiam)
P : “supaya menemukan nilai B, maka kedua ruas harus dibagi dengan..?”
S14 : “setengah akar tiga”
P : “yaa.. benar. Maka ruas kiri menjadi? “
S14 : “2 2
1 2 3 “ P : “sama dengan?”
S14 : “empat per akar enam”
P : “looh.. dari mana kog ketemu nya empat akar enam?”
“2 dibagi setengah sama dengan?”
S14 : “ empat”
P : “akar dua dibagi akar tiga sama dengan? “
S14 : “ndak bisa mbak.. “
P : “coba kamu rasionalkan bentuk 2
3 , masih ingat merasionalkan bentuk pecahan yang memuat akar?
P : “ begini, untuk merasionalkan bentuk 2
3 , kamu harus mengalikan pecahan tersebut dengan 3 3. “
“ 2 3 𝑥 3
3sama dengan?”
S14 : “sepertiga akar enam”
P : “sepertiga akar enam ini kamu kalikan dengan empat tadi menjadi?”
S14 : “empat per tiga akar enam” P : “yaak.. betul.. begitu ya caranya..”
S14 : “iya mbak.”
Keterangan : P = Peneliti S14 = Siswa 14
Karena kurang menguasai materi bilangan berbentuk pangkat dan
akar yang telah dipelajari pada semester sebelumnya menyebabkan
siswa kesalahan dalam perhitungan. Siswa 14 ini tergolong
pendiam di dalam kelas, sehingga jika dia tidak jelas akan materi
yang sedang diajarkan maka dia cenderung untuk diam. Ketika
pembelajaran biasa pun siswa ini sempat tidak masuk karena
berhalangan sehingga sempat ketinggalan materi.
9. Siswa 15
Siswa 15 ini mengerjakan 5 soal dengan benar. Salah satu
kesalahan siswa yang dilakukan saat mengerjakan soal-soal aturan
sinus kosinus dan luas segitiga adalah kesalahan data. Siswa
memasukkan variabel ke dalam rumus, yang mana variabel
P : “aku mau mau tanya tentang jawaban mu dari soal tes kemaren.” (sambil menyodorkan soal dan lembar jawaban siswa)
“aku mau tanya yang nomor satu. “
S15: “ itu susah mbak.”
P : “itu gampang, coba kamu perhatikan dulu.”
S15 : “Oo.. yang mana? Yang ini?”
(sambil menunjuk jawabnnya nomor satu)
“ gampang, bisa.” P : “apa yang diketahui?”
S15: “DEF mbak”
P : “ jawabanmu kemaren apa? Koq bisa ABC? Dari mana?” (sambil menunjuk ke lembar jawaban siswa nomor satu)
S15 : “lha seingetku di buku gitu e mbak. “ P : “yang diketahui kan DEF, jadi ya pake DEF!”
S15: “oiyaa mbak. “
Keterangan : P = Peneliti S15= Siswa 15
Dari hasil wawancara diatas, tampak bahwa siswa hanya sekedar
menghafal rumus yang ada pada buku catatan, tanpa memahami
lebih jauh maksud dari rumus tersebut. Sehingga ketika variabelnya
berbeda, siswa ini menggunakan variabel yang sama dengan yang
ada di buku catatan.
Kesalahan lain yang dilakukan siswa 15 ini adalah kesalahan
perhitungan yang terdapat pada soal nomor 6. Siswa melakukan
kesalahan dalam menyelesaikan persamaan, sehingga di akhir
jawabanpun juga salah. hal tersebut disebabkan karena siswa
10.Siswa 17
Dari 10 soal yang diberikan, hanya ada 1 soal yang siswa kerjakan
dengan benar dan 3 soal yang tidak dikerjakan oleh siswa 17. Salah
satu kesalahan siswa 17 adalah kesalahan mengintepretasikan
bahasa, yang tampak pada kesalahan menggunakan simbol di
dalam rumus.
P : “bisa kamu membedakan penggunaan huruf besar dan kecil pada penulisan rumus aturan sinus dan kosinus?”
S17 : “kalo gag salah siih huruf besar buat sudut, kalau huruf kecil buat
panjang sisi.” P : “yaak.. betul “
“trus coba kamu baca soal dan jawaban kamu nomor empat. “
“ada yang salah ndak?”
S17 : “oiyaa mbak... saya lupa nulisnya pake huruf besar semua.”
“ini seharusnya p kecil, q kecil dan r kecil.” (sambil menunjukkan jawaban yang salah) P : “besok yang teliti yaa menulis rumusnya!”
S17 : “hhehehee.. iya mbak.. “ (siswa tersenyum)
Keterangan : P = Peneliti S17 = Siswa 17
Meskipun perbedaan simbol hanya pada huruf besar dan huruf
kecil, namun arti dari setiap simbol tersebut sangatlah berbeda,
sehingga harus benar-benar dipahami apa yang tertulis dalam
rumus. Kesalahan lain terdapat pada soal nomor 3,yang mana
siswa melakukan kesalahan perhitungan dalam menyelesaikan
kesalahan dalam memasukkan data ke dalam rumus sehingga
menyebabkan kesalahan pada perhitungan selanjutnya.
Ketidak ketelitianlah yang menyebabkan siswa 17 ini sering
melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal aturan sinus kosinus
dan luas segitiga. Siswa ini selalu tampak kurang bersemangat
selama pelajaran matematika, selalu izin keluar ke kamar mandi,
bahkan siswa sering tiduran di atas meja saat pembelajaran
berlangsung.
11.Siswa 18
Dari 10 soal yang diberikan, siswa 18 dapat mengerjakan 8 soal
dengan benar. Kesalahan yang terjadi dalam mengerjakan soal-soal
aturan sinus kosinus dan luas segitiga hanya pada kesalahan data
yang terletak pada soal nomor 2 dan kesalahan perhitungan pada
P : “ coba kamu baca soal nomor dua dan perhatikan jawabanmu kemarin.”
(sambil menyodorkan soal dan lembar jawaban siswa)
S18 : (siswa membaca soal dan memperhatikan jawabnnya) P : “rumus sudah tepat, coba nilai a berapa?”
S18 : “ lima kan mbak?”
P : “coba kamu tunjukkan a kecil itu yang mana?”
S18 : “disini mbak”
(sambil menunjuk ke lembar jawabannya)
“oiyaaa... salah... haduuh”
P : “iyaa salah... kurang teliti yaak?? yang benar berapa?”
S18 : “yang benar lima akar dua mbak.” (siswa tersenyum)
Keterangan : P = Peneliti S18 = Siswa 18
Dari hasil wawancara diatas terlihat siswa kurang teliti dalam
membaca dan memahami maksud soal. Siswa juga melakukan
kesalahan dalam menyelesaikan persamaan. Begitu pula yang
terjadi pada soal nomor 9, yang mana siswa mengalami kesalahan
pada menyederhanakan bentuk akar.
Berdasarkan wawancara dengan 11 siswa, diketahui penyebab
siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal tentang aturan
1. Tidak teliti dalam membaca soal, sehingga menyebabkan
siswa melakukan kesalahan dalam memasukkan data ke
dalam rumus serta menyebabkan siswa kurang memahami
maksud soal.
2. Tidak teliti dalam melakukan perhitungan, seperti melakukan
operasi hitung.
3. Tidak memahami materi dengan baik, siswa hanya menghafal
rumus yang ada di dalam catatan tanpa memahami maksud
yang terdapat pada rumus tersebut.
4. Kurang menguasai materi prasyarat yang berkaitan dengan
perhitungan pada aturan sinus kosinus dan luas segitiga
(seperti : persamaan, operasi hitung bilangan bulat dan
bilangan berbentuk pangkat dan akar, dll)
5. Kurangnya persiapan siswa dalam menghadapi tes ( siswa
tidak belajar terlebih dahulu )
6. Minat dan motivasi yang kurang dalam belajar matematika
sehingga ketika pembelajaran siswa kurang bersemangat dan
kurang berkonsentrasi.
b. Wawancara dengan guru bidang studi
Dari hasil wawancara dengaan guru dapat disimpulkan
bahwa kendala terbesar siswa dalam mempelajari materi aturan
sinus kosinus dan luas segitiga adalah siswa tidak hafal dengan
soal dan ketika tes siswa diperbolehkan untuk membuka tabel.
Selain itu guru menilai bahwa siswa selalu kebingungan ketika
dihadapkan dengan soal tentang aturan sinus dan kosinus, yang
mana siswa bingung harus menggunakan rumus yang mana, aturan
sinus atau kosinus. Hal tersebut disebabkan siswa kurang paham
betul tentang konsep yang terdapat pada aturan sinus dan kosinus,
padahal jika benar-benar dipahami maka akan dapat memukan
karakteristik di setiap rumus pada aturan sinus kosinus.
Kesulitan yang dihadapi guru dalam mengajar adalah