• Tidak ada hasil yang ditemukan

2) Analisis Risiko pada Usaha Diversifikasi

6.1. Identifikasi Risiko Produksi Perusahaan Natalia Nursery

Setiap usaha pasti memiliki risiko. Begitu juga untuk usaha di bidang pertanian. Perusahaan Natalia Nursery yang mengusahakan komoditi tanaman hias pasti memiliki risiko dalam usahanya. Langkah pertama yang dilakukan untuk untuk mengetahui risiko yang terjadi pada suatu usaha ialah dengan identifikasi risiko.hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai penyebab atau sumber risiko yang dapat menyebabkan kerugian pada usaha yang dilakukan. Berdasarkan informasi yang didapat, diketahui terdapat fluktuasi produksi yang terjadi pada pengusahaan bunga krisan di perusahaan Natalia Nursery. Dengan demikian perusahaan dikatakan mengalami risiko produksi.

Risiko produksi merupakan risiko yang dampaknya dapat mempengaruhi tingkat produksi komoditi secara langsung. Adapun sumber risiko produksi yang dialami perusahaan Natalia Nursery antara lain hama, penyakit, cuaca dan iklim yang tidak stabil, serta risiko tenaga kerja yang memiliki kinerja kurang optimal.

a. Cuaca dan iklim

Kondisi cuaca dan iklim yang sulit diprediksi menjadi faktor utama yang menyebabkan risiko produksi pada tanaman krisan. Hal ini berkaitan erat dengan meningkatnya hama dan penyakit. Jika cuaca kering dan jarang hujan maka akan terjadi peningkatan hama. Namun jika kondisi cuaca sering hujan maka akan memacu tingkat pertumbuhan penyakit. Selain itu pada kondisi kemarau tanaman menjadi rentan akan kekeringan sedangkan jika terjadi musim penghujan maka bunga potong krisan kurang mendapatkan pasokan sinar matahari yang dapat menghambat pertumbuhan bunga.

Perusahaan Natalia Nursery telah dapat menyiasati masalah kekeringan yang terjadi pada musim kemarau yaitu dengan membuat sprinkle yang dapat menjaga tanaman agar tetap pada kelembaban yang dibutuhkan. Sedangkan untuk mengatasi kurangnya pasokan matahari pada musim penghujan, maka perusahaan akan menambah intensitas penggunaan lampu. Namun hal ini akan menambah biaya produksi bagi perusahaan.

55 b. Hama

Hama merupakan organisme pengganggu yang dapat menghambat pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Hama yang sering muncul pada tanaman krisan biasanya adalah penggorok daun (Liriomyza sp.), ulat tanah (Agrotis ipsilon), Thrips (Thrips tabacci), tungau merah (Tetranycus sp.), ulat grayak (Spodoptera litura F.), dan Whitefly.

i) Penggorok daun (Liriomyza sp.)

Serangan hama Liriomyza sp. berupa kotoran larva yang hidup di daun yang menyebabkan bekas korokan berliku pada daun yang sering dikenal dengan nama leaf miner. Selain itu Liriomyza sp. juga melalui tusukan ovipositor serangga betina yang menyebabkan gejala bintik – bintik putih. Hama ini menyerang mulai dari daun yang muda sampai daun tua dengan cara mengisap cairan tanaman yang keluar dari bekas tusukan.

Gambar 18.Kerusakan pada daun (leaf miner) akibat larva Lyriomiza sp.

Sumber : Natalia Nursery (2013)

ii) Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

Larva serangga ini aktif pada malam hari dan menyerang tanaman dengan cara menggigit atau memotong ujung batang tanaman muda sehingga mengakibatkan tunas apikal atau batang tanaman terkulai layu.

Daya serang ulat ini relatif besar sehingga dapat menyebabkan kerugian yang signifikan.

56 Gambar 19. Larva Agrotis yang terdapat di dalam tanah, biasanya

menyerang pada malam hari.

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

Gambar 19. menunjukkan larva ulat tanah (Agrotis ipsilon) yang terdapat pada lahan tanam bunga krisan. Larva ini tidak menyukai cahaya matahari sehingga hidup di dalam tanah sedalam 5 – 10 cm atau di dalam gumpalan tanah. Larva Agrotis ini dapat dilihat secara kasat mata sehingga pengendalian dapat dilakukan secara mekanis yaitu dengan mencari dan mengumpulkan ulat tanah pada senja hari yang kemudian diberi pestisida.

iii) Thrips (Thrips tabacci)

Hama ini menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman (daun muda/pucuk) dan tuas – tunas muda sehingga sel – sel tanaman menjadi rusak dan mati. Gejala serangan paling banyak dijumpai pada permukaan bawah daun atau bunga. Kerusakan tanaman ditandai dengan adanya bercak – bercak putih atau kekuning-kuningan seperti perunggu terutama pada permukaan bawah daun. Terlihat pada gambar (i) dan (ii), daun dan buga krisan yang terkena serangan hama Thrips mengalami bercak - bercak kekuningan akibat tusukan dari hama ini.

57 Gambar 20. Gejala serangan Thrips pada daun (i), bunga yang

terserang hama Thrips (ii), larva hama Thrips (iii)

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

iv) Tungau merah (Tetranycus sp.)

Tungau sangat cepat berkembang biak dan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan secara mendadak. Bagian tanaman yang diserang antara lain tangkai daun dan bunga. Gejala serangan tampak pada daun yang berbintik- bintik kemudian bergabung dan jaringan daun seluruhnya menjadi kuning akhirnya kemerah-merahan.

Gambar 21.Hama Tungau Merah yang sedang menyerang permukaan daun.

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

v) Ulat grayak (Spodoptera litura F.)

Larva Spodoptera yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas/transparan yang menyisakan

58 tulang-tulang daun saja. Gejala serangan pada daun rusak tidak beraturan, bahkan terkadang hama ini juga memakan tunas dan bunga. Pada serangan berat menyebabkan daun tanaman habis. Intensitas serangan tinggi biasanya terjadi pada musim kemarau.

Gambar 22. Hama ulat grayak pada bunga krisan yang menyebabkan bunga menjadi rusak.

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

(vi) Whitefly

Hama ini berwarna putih dan biasa menyerang secara berkelompok dengan cara hinggap di permukaan daun bagian bawah atau di batang tanaman krisan. Hama ini mengisap cairan tanaman dan meninggalkan bekas kekuningan yang biasanya terdapat ada permukaan daun bagian bawah.

Jumlah whitefly yang sangat banyak dapat mengakibatkan kerusakan tanaman yang fatal.

59 Gambar 23.Hama whitefly pada permukaan bawah daun

Sumber : Natalia Nursery (2013)

Pengendalian hama yang dilakukan Natalia Nursery adalah dengan cara manual dan kimiawi. Cara manual yaitu dengan mencari hama dan menyortir tanaman yang terkena hama, sedangkan cara kimiawi yaitu dengan penyemprotan pestisida dan insektisida. Natalia Nursery juga selalu menjaga hubungan baik dengan pihak Institut Pertanian Bogor di bidang hama dan penyakit untuk membantu menemukan solusi bagi hama atau penyakit krisan.

c. Penyakit

Tanaman krisan mudah terserang penyakit bila kelembaban terlalu tinggi atau bila tanaman dalam kondisi stres. Lingkungan yang lembab terjadi pada musim penghujan. Penyakit yang biasa menyerang tanaman krisan antara lain karat atau rust, tepung oidium, fusarium, dan virus.

i) Karat Puccinia (white rust)

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan P. horiana Henn (karat putih). Gejala serangan karat putih adalah terdapat bintil-bintil putih pada bagian bawah daun yang berisi teliospora cendawan atau terjadi lekukan-lekukan mendalam berwarna pucat pada permukaan daun bagian atas.

Pada serangan lebih lanjut penyakit ini dapat menghambat perkembangan bunga.

60 Gambar 24.Karat Puccinia (white rust) pada permukaan daun

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

ii) Penyakit tepung (Oidium chrysanthemi Rab.)

Gejala serangan penyakit ini yaitu terdapat lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering.

Gambar 25.Oidium pada permukaan daun krisan

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

iii) Layu (Fusarium oxysporum)

Gejala serangan Fusarium sp. adalah tanaman layu, daun menguning dan mengering mulai dari daun bagian bawah merambat hingga ke daun atas dan akhirnya mengakibatkan kematian tanaman. Penyakit ini dapat

61 bertahan secara alami di dalam media tumbuh dan pada akar-akar tanaman yang sakit dalam jangka waktu relatif lama.

Gambar 26.Daun krisan yang terlihat layu akibat serangan Fusarium

Sumber : Natalia Nursery (2013)

iv) Virus

Virus yang telah terdeteksi menyerang tanaman krisan dan terbukti meyebabkan kerugian secara signifikan adalah Cucumber Mosaic Virus (CMV) dan Chrysanthemum Virus-B (CVB). Kedua tipe virus ini mengakibatkan penghambatan pertumbuhan tanaman secara signifikan dan bahkan menyebabkan malformasi bagian-bagian tanaman seperti daun dan petal bunga. Tanaman terinfeksi yang rentan terhadap virus menunjukkan gejala daun mengecil dan bulat, penghambatan atau stagnasi pertumbuhan yang jelas serta memudarnya warna pada daun dan petal bunga, disertai dengan pertumbuhan bunga yang tidak sempurna.

Beberapa krisan di perusahaan Natalia Nursery mengalami gejala yang sama, namun menurut pihak perusahaan hal ini buka disebabkan oleh virus, melainkan hama ulat grayak yang menyerang pada saat awal pemunculan kuntum bunga. Selain itu faktor lain yang menyebabkan malformasi bentuk bunga adalah karena distribusi cahaya matahari yang tidak merata terhadap bunga krisan, sehingga bagian yang terkena sinar matahari lebih banyak tidak dapat tumbuh dengan baik.

62 Gambar 27. (i) Malformasi bentuk bunga dan (ii) warna hijau daun yang tidak

merata akibat serangan virus

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

Gambar 28. (i) Malformasi bentuk bunga akibat serangan ulat grayak pada saat pemunculan kuntum bunga, dan (ii) malformasi bentuk bunga akibat cahaya matahari yang diperoleh bunga tidak merata

Sumber : Natalia Nursery (2013)

Selain dua virus tersebut, terdapat juga salah satu viroid yang sering menginfeksi tanaman krisan yaitu Chrysanthemum Stunt Viroid (CSVd).

Patogen ini jarang menimbulkan gejala yang jelas pada daun. Namun tanaman yang terserang umumnya menjadi kerdil dan cepat berbunga.

Gejala yang sama juga terjadi pada perusahaan Natalia Nursery, namun menurut pihak perusahaan hal ini bukan merupakan serangan viroid, melainkan akibat dari tanaman induk (mother plant) yang sudah tua.

Sehingga mengakibatkan bibit yang dihasilkan mengalami pertumbuhan yang lambat (kerdil), mengalami inisiasi atau pembungaan yang terlalu cepat, dan terkadang terjadi perubahan bentuk daun.

(i)

(ii)

63 Gambar 29.Penghambatan pertumbuhan tanaman krisan akibat infeksi

Viroid

Sumber: PUSLITBANGHORTI (2006)

Gambar 30. Akibat dari tanaman induk yang sudah tua, (i) penghambatan pertumbuhan tanaman krisan dan kuntum bunga yang mulai muncul, (ii) malformasi bentuk daun

Sumber : Natalia Nursery (2013)

Upaya pengendalian penyakit yang telah dilakukan Natalia Nursery adalah dengan cara manual yaitu mencari dan menyortir tanaman yang terserang penyakit agar tidak menular pada tanaman yang lain, dan cara kimiawi yaitu dengan penyemprotan obat-obatan yang dapat membasmi penyakit yang terdapat pada tanaman krisan.

(i)

(ii)

64 d. Tenaga kerja

Tenaga kerja dapat menjadi sumber risiko produksi karena tenaga kerjalah yang bertanggung jawab langsung pada pengerjaan produksi. Tenaga kerja perusahaan Natalia Nursery terdiri dari karyawan tetap dan pekerja lepas. Para pekerja lepas ini sering menunjukkan kinerja yang tidak optimal dikarenakan tingkat absensi yang sering tidak terkendali. Hal ini tentu saja mempengaruhi tingkat produksi karena jika terdapat tenaga kerja yang tidak hadir akan menyebabkan tertundanya kegiatan produksi. Namun demikian, Natalia Nursery tidak mengalami kendala terhadap keterampilan para pekerja baik pekerja tetap ataupun pekerja lepas.

Upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk mengatasi risiko ini adalah dengan pemotongan upah terhadap setiap absensi yang dilakukan tenaga kerja. Selain itu perusahaan juga telah membagi-bagi kelompok tenaga kerja berdasarkan blok lahan tanam tertentu dengan setiap blok dikepalai oleh penanggung jawab blok (PJB). PJB inilah yang bertanggung jawab penuh atas pekerjaan semua pekerja yang berada di bawah komando masing-masing PJB tersebut terhadap blok masing-masing. Jika terdapat tenaga kerja yang absen, maka pekerjaan akan ditangani oleh PJB. Ini juga merupakan salah satu upaya yang dilakukan perusahaan untuk menjaga kontinuitas produksi.

Faktor-faktor yang merupakan sumber risiko ini mempengaruhi tingkat produksi tanaman krisan di perusahaan Natalia Nursery sehingga menunjukkan kondisi yang berfluktuasi. Produksi yang berfluktuasi ini ditunjukkan dengan terjadinya produksi normal, tertinggi, dan terendah. Yang dimaksud dengan produksi tertinggi yaitu range produksi di atas produksi normal yang pernah dialami perusahaan Natalia Nursery selama pengusahaan tanaman krisan.

Sedangkan yang dimaksud produksi terendah yaitu range produksi di bawah produksi normal yang dialami perusahaan selama pengusahaan tanaman krisan.

Sementara itu yang dimaksud produksi normal adalah produksi rata-rata yang sering dialami oleh perusahaan.

65 Tabel 8. Rata-rata Produksi Krisan Potong dan Peluang yang Dihadapi Perusahaan

Natalia Nursery Kecamatan Tenjolaya Tahun 2005-2011

Tipe Krisan Kondisi Peluang Produksi (ikat)

Spray Tertinggi 0,29 110.442

Normal 0,57 90.138

Terendah 0,14 80.877

Standard Tertinggi 0,14 19.147

Normal 0,57 11.065

Terendah 0,29 8.225

Tabel 8. menunjukkan kondisi produksi masing-masing tipe krisan pada kondisi tertinggi, normal, terendah. Peluang tertinggi, terendah, dan normal diukur dari proporsi frekuensi perusahaan pernah mencapai produksi tertinggi, terendah, atau normal selama periode waktu pengusahaan krisan yang diteliti yaitu selama tujuh tahun. Produksi antara kedua tipe krisan memiliki range yang berbeda-beda.

Range produksi untuk krisan tipe spray yaitu antara 80.000 ikat sampai 111.000 ikat per tahun, sedangkan range produksi untuk krisan tipe standard yaitu antara 8.000 ikat sampai 20.000 ikat per tahun.

Peluang produksi tertinggi tipe krisan spray sebesar 0,29 yang berarti perusahaan pernah mengalami produksi tertinggi sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2007 sebanyak 106.439 ikat dan pada tahun 2008 yaitu sebanyak 110.442 ikat. Sedangkan peluang produksi tertinggi pada krisan tipe standar yaitu sebesar 0,14 yang berarti perusahaan pernah mengalami produksi tertinggi untuk krisan tipe standar di Tenjolaya hanya satu kali yaitu pada tahun 2011 dengan produksi

66 Peluang produksi terendah pada krisan tipe spray sebesar 0,14 yang berarti telah terjadi satu kali produksi terendah antara kurun waktu produksi dari tahun 2005 sampai 2011 pada krisan spray, yaitu pada tahun 2011 dengan jumlah produksi sebanyak 80.877 ikat. Sedangkan peluang produksi terendah pada krisan tipe standar sebesar 0.29. hal ini berarti telah terjadi produksi terendah pada tipe krisan standar di Tenjolaya sebanyak dua kali dalam kurun waktu produksi antara tahun 2005 sampai 2011, yaitu pada tahun 2009 dengan jumlah produksi 9.258 ikat dan pada tahun 2010 dengan produksi sebanyak 8.225 ikat. Kondisi produksi terendah ini dapat menunjukkan bahwa terjadi risiko produksi pada pengusahaan budidaya bunga krisan potong di perusahaan Natalia Nursery yang disebabkan oleh sumber-sumber risiko seperti hama, penyakit, cuaca dan iklim, serta kinerja tanaga kerja perusahaan yang telah diuraikan sebelumnya.

6.2. Analisis Risiko Produksi Bunga Potong Krisan pada Kegiatan

Dokumen terkait