• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

E. Identifikasi Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

a. Variabel pengaruh

1) Gel ekstrak daun pepaya konsentrasi 75% 2) Kontrol positif : Kenalog 10%

3) Kontrol negatif : Aquades b. Variabel terpengaruh

Variabel terpengaruh dalam penelitian ini adalah ukuran diameter luka pada proses penyembuhan luka gingiva pada tikus ( Sprague dawley) jantan.

c. Variabel terkendali

1) Jenis kelamin tikus, yaitu tikus (Sprague Dawley) jantan 2) Umur tikus sekitar 2-3 bulan

3) Berat badan tikus 250 gram hingga 300 gram

4) Makanan tikus mengunakan pellet AD-2 – 11 dan air mineral 5) Air minum : air mineral

6) Alat mengoleskan bahan hidrogen peroksida 7) Pengukuran pembuatan gel ekstrak

d. Variabel tidak terkendali 1) Infeksi bakteri

2) Penurunan berat badan tikus jantan 3) Komplikasi pasca perlukaan gingiva 2. Definisi operasional

a. Hidrogen peroksida adalah zat kimia yang terkandung dalam bahan

bleaching yang memiliki konsenterasi tertinggi yang biasa dipakai di tempat praktek dokter gigi adalah konsenterasi 35% yang dapat memberikan proses pemutihan gigi yang baik dibanding bahan pemutih gigi yang lainnya namun disamping kelebihannya itu hidrogen peroksida 35% jika tidak diaplikasikan dengan baik dapat menimbulkan efek samping jika terkena gingiva. Pada penelitian ini akan dilakukan tindakan perlukaan pada daerah gingiva tikus dilakukan dengan cara mengoleskan bahan bleaching kandungan hidrogen peroksida 35% menggunakan micro brush sesuai dengan konsentrasi yang terkandung dalam bahan bleaching, lalu daerah yang diolesi akan timbul luka melepuh akibat zat kimia.

b. Ekstrak daun papaya adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstrak senyawa aktif dari simplisia nabati daun pepaya menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstrak dengan metode maserasi dengan cara merendam di dalam etanol 70% selama 24 jam dan disaring hingga didapatkan ekstrak kental 100%. Larutan yang

diperoleh dipanaskan diatas pemanas hingga menguap dan menyisakan ekstrak kental (pekat).

c. Daun papaya mempunyai kandungan saponin, tanin, dan flavonoid yang berfungsi dalam membantu proses penyembuhan luka.

d. Gel ekstrak daun pepaya adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar dengan kandungan ekstrak yang diperoleh dengan melalui proses penyaringan daun pepaya menggunakan pelarut etanol 70%.

e. Pengamatan proses penyembuhan luka gingiva diperoleh dengan melakukan pengukuran diameter luka pada gingiva yang sebelumnya sudah diberikan pengobatan dengan menggunakan gel ekstrak daun papaya (Carica papaya L.) 75%

f. Sel PMN (neutrofil) jarang ditemukan dalam jaringan ikat normal, dan akan berjumlah banyak pada saat proses inflamasi. Akan dilakukan pengamatan secara mikroskopis melalui pengamatan preparat menggunkanan pewarnaan HE

F. Instrumen Penelitian 1. Bahan

a. Daun papaya (Carica papaya L.) 3 kg sebagai bahan dasar ekstrak b. Kenalog in ora base 10% sebagai obat pembanding kelompok ke-1 c. Etanol 70%, untuk pelarut ekstrak

e. Natrium CMC (CMC-Na) 3gram (5%) sebagai bahan tambahan dalam pembuatan gel

f. Aquades 100ml (10%) steril sebagai pembanding ke-2 g. Pellet AD-2 -11, bahan pakan tikus

h. Alkohol 70%

i. Stik pH universal untuk mengukur Ph pada ekstrak

j. Xylol untuk larutan yang digunakan saat pembuatan preparat

k. Kapas sebagai alat bantu dalam proses induksi luka serta saat proses perlakuan berjalan

l. Hidrogen peroksida 35% sebagai bahan uang digunakan untuk menginduksikan luka

m. Chloroform dari toko bahan kimia Bratachem 2. Alat – alat

a. Penyaring, untuk menyaring ekstrak daun pepaya

b. Pemanas, untuk memanaskan larutan ekstrak daun pepaya

c. Autoklave, untuk sterilisasi alat-alat pembuatan ekstrak daun pepaya d. Timbangan, untuk menimbang bahan saat pembuatan ekstrak daun

papaya dan saat pembuatan gel ekstrak daun pepaya

e. Gelas ukur dan gelas beker, sebagai alat ukur larutan saat proses ektraksi daun pepaya

f. Water bath, pemanas bahan ekstrak daun pepaya

h. Sendok stainless stell, sebagai pengaduk saat proses pembuatan gel ekstrak daun pepaya

i. Mortil, tempat pencampuran bahan saat pembuatan gel ekstrak daun pepaya

j. Botol gel, untuk menyimpan gel ekstrak daun pepaya k. Kaca alroji, untuk uji daya serap gel ekstrak daun pepaya l. Sentrifugator, untuk uji konsentrasi larutan ekstrak daun pepaya m. Kandang tikus diberi kode nomor

n. Jangka sorong untuk alat pengukuran diameter luka pada gingival tikus o. Micro brush, untuk pengolesan dalam setiap perlakuan

G. Cara Kerja

1. Tahap persiapan a. Ekstraksi bahan uji

Pembuatan ekstrak daun papaya (Carica papaya L.) 75% dilakukan di LPPT UNIT II UGM. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan metode maserasi dengan bahan pelarut etanol 70%. 3 kilogram daun pepaya dicuci terlebih dahulu hingga bersih, kemudian di keringkan dengan menggunakan oven. Langkah selanjutnya, daun papaya dipotong kecil, kemudian diblender dan disaring lalu diambil serbuknya sebesar 300 gram. Rendam di dalam etanol 70% selama 24 jam dan dilakukan penyaringan hingga didapatkan ekstrak kental 100%. Kemudian larutan yang diperoleh dipanaskan diatas pemanas hingga menguap dan menyisakan ekstrak kental (pekat).

b. Pembuatan bentuk sedia an gel

Pembuatan gel ekstrak daun pepaya terdiri dari bahan basis gel dan yang berperan sebagai basisnya adalah bahan-bahan seperti

natrium CMC (CMC-Na) 5 gram (5%) dan aquades 70 ml (0%) steril. Adapun proses pembuatan gel adalah sebagai berikut :

1) Siapkan bahan dasar pembuat gel yaitu serbuk CMC-Na.

2) Timbang CMC-Na seberat 5 gram, masukkan ke dalam gelas ukur. 3) Larutkan bahan dasar dengan aquades sebanyak 100 gram sedikit

demi sedikit dan di aduk sampai rata.

4) Selanjutnya tambahkan ekstrak daun papaya sesuai dengan konsentrasi yaitu 75%

5) Masukkan ekstrak ke dalam gelas beker dan satukan dengan serbuk CMC-Na, aduk sampai rata sehingga membentuk masa gel.

6) Setelah bahan menjadi padat maka akan menghasilkan 100 gram gel ekstrak daun papaya dengan konsentrasi 75% setelah itu bahan tersebut di masukkan ke botol gel dan disimpan di dalam lemari es bersuhu 4-6ºC.

Gambar 4. Pembuatan Gel

Daun papaya (Carica papaya L.) 3 kg dicuci bersih dengan air

Serbuk (Carica Papaya L.) direndam dengan etanol 70% sambil di aduk selama

30 menit lalu diamkan selama 24 jam Daun papaya (Carica Papaya L.) dikeringkan pada suhu 60-70o C

Daun digiling dengan menggunakan blender hingga berupa serbuk

filltrat Ampas

Pembuatan gel ekstrak Daun papaya (Carica Papaya L.) 75%

Ekstrak kental Daun papaya (Carica Papaya L.) dengan konsentrasi 100% Diuapkan dengan vacuum rotary evaporator

c. Cara pengaplikasian gel

1) Siapkan gel ekstrak daun papaya (Carica papaya L.) 75%.

2) Ambil gel dengan menggunakan micro brush sekitar 0,01mm dan oleskan pada luka gingiva tikus satu kali sehari selama 7 hari. 3) Perlakuan tersebut terus dilakukaan dimulai pada hari ke-1 setelah

24 jam gingiva berkontak dengan hidrogen peroksida 35% sampai luka pada gingiva tikus (Sprague dawley) jantan sembuh sesuai dengan indikator atau parameter sembuhnya luka.

d. Persiapan hewan uji

Sebelum dilakukan perlakuan, hewan uji diadaptasikan (diaklimatisasi) selama 3 hari. Hewan uji yang berjumlah 33 ekor dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok I (diaplikasikan kenalog) sebanyak 11 ekor, kelompok II ( perlakuan gel ekstrak daun papaya) konsentrasi 75% sebanyak 11 ekor, kelompok kontrol III (diaplikasikan aquades) sebanyak 11 ekor. Masing-masing kelompok dikandang yang berbeda dan diletakkan pada kondisi lingkungan yang sama serta diberi kode nomer.

2. Jalannya penelitian

a. Induksi luka pada tikus (Sprague dawley) jantan

Tikus yang sudah diadaptasikan dengan lingkungan laboratorium selama satu minggu diolesi hidrogen peroksida 35% menggunakan micro brush dan ditunggu hinga 24 jam. Luka yang akan nampak adalah luka melepuh berwarna keputihan yang diakibatkan dari iritasi

zat kimia yang tergolong sebagai luka bakar (Sjamsuhidayat dan Jong, 2012).

Tiga puluh tiga ekor tikus dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol positif diaplikasikan kenalog 10% (kelompok I), Kelompok perlakuan gel ekstrak daun papaya 75% (II), kelompok positif aplikasi aquades (kelompok III).

Hari ke nol (0), 33 ekor tikus putih (Sprague Dwaley) jantan di beri perlukaan dengan mengoleskan hidrogen peroksida 35%, kemudian diberi perlakuan pada hari ke-1 yaitu setalah 24 jam pasca perlakuan hidrogen peroksida 35% . Pada masing-masing kelompok pada hari ke-1, ke-3, ke-5 dan ke- 7 setelah dibuat perlukaan ambil 1 ekor tikus secara random dari tiap kelompok perlakuan lalu diukur diameter luka menggunakan jangka sorong serta diambil foto luka nya dengan jarak foto yang disesuaika pada setiap kali foto, setelah itu tikus-tikus yang telah diukur dan di foto akan dikorbankan untuk diambil rahangnya (dekapitulasi rahang).

b. Pemberian Perlakuan gel ekstrak

Tikus yang sudah dikelompokkan dan diukur diameternya diberikan perlakuan sesuai kelompoknya. Kelompok I adalah kelompok hewan uji kontrol positif dengan diberikan kenalog. Kelompok II adalah kelompok hewan uji dengan kontrol positif yang diberikan aquades. Kelompok III adalah kelompok hewan uji diberi sediaan gel ekstrak daun papaya (Carica papaya L.). Pemberian setiap

perlakuan dilakukan setiap hari dengan volume 0,1 ml sampai luka pada tikus sembuh.

c. Evaluasi luka

Evaluasi luka dilakukan pada hari ke-1 sebelum diberi perlakuan menggunakan gel ekstrak daun papaya 75%, kenalog , dan aquades untuk melihat luka yang sedang mengalami inflamasi setelah 24 jam terkena hidrogen peroksida 35%, lalu diamati lagi pada hari ke- 1, ke-3 , ke-5 dan ke-7 pasca diberi perlakuan. Jalannya evaluasi melalui pengamatan lama waktu penyembuhan luka dengan indikator pengecilan diameter luka (Rahman dkk.,2013). Selain itu juga dilakukan pengambilan foto dengan jarak kamera dan luka yang disamakan setiap kali diamati.

d. Pembuatan preparat

Organ rahang yang telah didekapitulasi kemudian dimasukkan ke formalin 10% untuk disimpan dan selanjutnya dibuat preparat. Metode pembuatan preparat histopatologi berdasarkan Dirjen Kesehatan Hewan (1999) adalah sebagai berikut :

1) Spesimen diambil segera setelah hewan mati, jika terlambat akan terjadi autolisis sehingga akan mengacaukan interpretasi.

2) Dilakukan pemotongan jaringan untuk spesimen agar berisi jaringan yang mengalami perubahan dari jaringan normal, penelitian ini menggunakan pemotongan melintang.

3) Tebal spesimen tidak boleh lebih dari 5mm untuk mempermudah penetrasi cairan fiksasi.

4) Spesimen difiksasi segera dengan formalin 10%.

5) Perbandingan volume spesimen dengan larutan formalin adalah 1:10, agar didapat hasil fiksasi yang sempurna.

6) Setiap kontainer spesimen diberi label yang berisi informasi tentang identitas hewan, tanggal pengambilan spesimen, macam spesimen dan bahan pengawet yang dipakai.

7) Kontainer tersebut harus tertutup rapat dan tidak boleh bocor. 8) Dihindarkan agar tidak membekukan jaringan yang akan dipilih

dengan pemeriksaan histopatologi.

Untuk melihat sel PMN maka digunakan perwarnaan dengan HE. Jaringan yang akan diberi pewarnaan diparafinisasi dengan menggunakan larutan Xylol dan alkohol yang dilanjutkan dengan proses rehidrasi dengan alkohol, kemudian dicuci dengan air mengalir dan dibilas dengan aquades lalu dilap. Kaca benda kemudian dimasukkan kedalam Hematoksilin Meyers dan dicuci dengan air mengalir serta dibilas dengan aquades. Proses pewarnaan dilanjutkan dengan memasukkan kaca benda ke dalam Mallory untuk pewarnaan dilanjutkan dengan memasukkan kaca benda ke dalam Mallory untuk pewarnaan Mallory, lalu pewarnaan dinilai dibawah mikroskop cahaya. Bila pewarnaan telah dianggap baik maka selanjutnya adalah proses dehidrasi dengan alkohol secara bertingkat kemudian dilap,

setelah itu, dimasukkan kedalam larutan Xylol dan terakhir objek glass

ditutup dengan deck glass dan dilakukan pengamatan dengan mikroskop cahaya dengan perbesaran 40x.

e. Pembacaan preparat histopatologi

Kriteria penilaian histologi sel PMN dibuat berdasarkan jumlah sel nya. Dilihat dengan mikroskop cahaya pada perbesaran 40x. dilakukan penjumlahan sel PMN dengan cara melihat pada 5 lapang pandang lalu di bagi sejumlah lapang pandangnya dan di ambil nilai rata-ratanya pada setiap sediaan preparat.

H. Analisi Data

1. Uji normalitas yang digunakan adalah Saphiro Wilk karena sampel < 50 2. Jika distribusi data normal maka akan dilakukan analisa dengan uji One

Way Anova. Perbedaan dianggap bermakna jika p >0,05

3. Jika distribusi data tidak normal maka akan dilakukan analisa dengan uji

Kruskal Wallis. Perbedaan dianggap brmakna jika p>0,05

4. Uji lanjutan dengan menggunakan uji Least Significant Difference untuk mengetahui perbedaan tiap kelompok

I. Etik Penelitian

Penelitian dilakukan dengan melindungi hak subyek selama proses penelitian, untuk itu peneliti mengajukan ethical clearance dan mendapatkan persetujuan dari Tim Komite Etik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bahwa penelitian dilakukan tidak melanggar kode etik penelitian.

Manfaat yang diharapkan adalah untuk membuktikan secara ilmiah tentang efektifitas gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap penurunan diameter luka pada proses penyembuhan luka pada gingiva tikus (Sprague Dawley) jantan akibat efek samping bleaching kandungan hidrogen peroksida 35%.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Penelitian

Desain penelitian ini adalah eksperimental in vivo pada hewan uji. Penelitian ini menggunakan subjek 33 ekor tikus (spraguey dawlew jantan)

yang diseleksi berdasarkan kriteria inklusi penelitian, yaitu jenis kelamin jantan, umur 2-3 bulan, berat badan 250-300 gram, kondisi sehat, dan aktif..

Pada penelitian ini, sebelum subjek dilakukan induksi luka, tikus (Spraguey dawley jantan) jantan dilakukan anestesi dengan inhalasi clorofom untuk mengurangi rasa sakit. Clorofom akan menghasilkan efek sedasi dan tikus akan sedikit tenang saat diberikan perlukaan. Tikus didiamkan hingga lemas, dilanjutkan dengan induksi luka menggunakan larutan hidrogen peroksida 35% yang di aplikasikan menggunakan micro brush pada daerah gingival gigi anterior mandibula tikus. Pemberian aplikasi gel ekstak daun pepaya konsentrasi 75% dan kenalog dilakukan setelah 24 jam pasca induksi luka sesuai kelompok perlakuan, diaplikasikan pada gingiva tikus yang telah di beri perlukaan dengan menggunakan micro brush tanpa adanya kontak antara brush dengan area luka. Kelompok kontrol positif pada penelitian ini menggunakan kenalog.

Pada penelitian ini dilakukan pengukuran diameter luka menggunakan sliding caliper pada beberapa tikus yang dilakukan bersamaan dengan dekapitulas pada hari ke-1 , ke-3, ke-5dan ke-7 sebanyak empat kali yaitu dekapitulasi rahang pada hari pertama, ketiga, kelima dan ketujuh pasca diberi

perlakuan. Pengamatan dilakukan pada hari pertama, ketiga, kelima dan ketujuh. Prosedur untuk mengambil rahang tikus dengan melakukan proses euthanasia menggunakan klorofom. Tikus dimasukkan ke dalam toples yang tertutup rapat, setelah tikus mati proses pengambilan rahang dilakukan dengan menggunakan gunting bedah.

Pembuatan preparat dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi, Universitas Gadjah Mada. Jumlah sel PMN dapat dilihat dengan pewarnaan

HE. Preparat selanjutnya diamati di Laboratorium Histopatologi FKIK, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pembacaan preparat dengan mikroskop cahaya yang dihubungkan dengan kamera pada perbesaran 40x, sehingga pengamatan jumlah sel PMN dapat diambil dan diteliti sesuai perhitungan rata-rata jumlah sel PMN yang menjadi tolak ukur kesembuhan luka secara mikroskopis pada penelitian ini.

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini, diperoleh dari data yang didapat dari pengukuran diameter luka dapat dilihat pada tabel 1 dan pembacaan preparat jumlah sel pmn yang dibaca pada 5x lapang pandang pada perbesaran 40x untuk melihat proses penyembuhan luka dapat dilihat pada tabel 6.

1. Diameter Luka

Berikut merupakan gambaran diameter luka pada gingiva tikus

spraguey dawley jantan :

Gambar 6. Diameter Luka Pasca induksi luka pada gingiva tikus

Berikut cara perhitungan rata-rata diameter luka : Rata-rata diameter = dx(1)+dx(2)+dx(3)

3

Gambar 7. Diameter luka pada hari ke- 1

Gambar 8. Diameter luka pada hari ke-3

Gambar 9. Diameter luka pada hari ke- 5

Gambar 10. Diameter luka pada hari ke- 7

Tabel 1. Rata-Rata Diameter Luka Gingiva Tikus (Spraguey Dawley) Jantan

Kelompok perlakuan

Diameter luka (mm)

Hari ke-1 Hari ke-3 Hari ke-5 Hari ke-7

Kelompok I 1,00 0,50 0,10 0,00

Kelompok II 1,20 0,80 0,10 0,00

Kelompok III 3,00 2,20 1,70 0,50

Keterangan :

Kelompok I : Kontrol positif (kenalog)

Kelompok II : Gel ekstrak daun pepaya (carica pepaya L.) 75% Kelompok III : Kontrol negatif (aquades)

Berdasarkan data dari Tabel 1, menunjukkan bahwa rata-rata diameter terkecil pada kelompok 1 kontrol positif dengan rata-rata diameter luka adalah sebesar 0,00 pada hari ketujuh, pada kelompok II perlakuan dengan gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) 75% dengan rata-rata sebesar 0,00 pada hari ketujuh, pada kelompok III kontrol negatif sebesar 0,50 pada hari ketujuh. Secara umum dapat dikatakan bahwa diameter luka hari ketujuh pada ketiga kelompok perlakuan tersebut secara konsisten menunjukkan penurunan diameter luka pada proses penyembuhan luka pasca diinduksikan luka hidrogen peroksida 35% pada tikus (spraguey dawley) jantan, dan pada hari ketujuh kelompok II perlakuan gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) 75% dan kelompok I kontrol positif perlakuan menggunakan kenalog menunjukan bahwa keduanya memiliki ukuran diameter yang sama yaitu 0,00.

Pengujian statistik terhadap hipotesis penelitian, dengan menggunakan uji One Way Anova untuk melihat perbedaan tiap perlakuan dan uji lanjutan dengan uji Post Hoc Least Significant Differences , tetapi sebagai persyaratan untuk melakukan uji One Way Anova, maka sebelumnya dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji Shapiro Wilk, karena jumlah sampel pada penelitian ini kurang dari 50, yaitu sebesar 33 sampel dan dilakukan uji homogenitas data. Uji Shapiro Wilk sesuai dengan data pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk Pada Pengukuran Diameter Luka tikus spraguey dawley jantan

Kelompok

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Kelompok I .193 4 . .986 4 .938

Kelompok II .271 4 . .897 4 .416

Kelompok III .245 4 . .916 4 .517

Keterangan :

Kelompok I : Kontrol positif (kenalog)

Kelompok II : Gel ekstrak daun pepaya (carica pepaya L.) 75% Kelompok III : Kontrol negatif (aquades)

Berdasarkan data pada Tabel 2, menunjukan bahwa hasil uji normalitas

Shapiro-Wilk diperoleh nilai signifikansi penurunan diameter luka setiap kelompok sebesar (0,938, 0,416 dan 0,517) sehingga (p-value > 0,05). Hal ini menunjukan bahwa data jumlah sel PMN memiliki distribusi data yang normal. Perhitungan data dilanjutkan dengan uji homogenitas. Tujuan uji homogenitas untuk mengetahui kesamaan varians data pada setiap kelompok, karena syarat untuk melakukan uji parametrik One Way Anova,

Tabel 3. Hasil Uji homogenitas Pengukuran Diameter Luka Tikus Spraguey Dawley Jantan

Levene Statistic df1 df2 Sig.

1.201 2 9 .345

Dari hasil uji homogenitas diperoleh data signifikansi dengan nilai ( p-value= 0,345) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4, hal ini menunjukkan bahwa data yang diperoleh homogen karena nilai (p > 0,05). Pengujian distribusi dan variansi data didapatkan hasil normal dan variansinya sama, maka data tersebut dapat dilakukan pengujian berikutnya dengan menggunakan uji hipotesis parametrik One Way Anova. Uji One Way Anova

sesuai dengan data pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji One Way Anova Pada Pengukuran Diameter Luka Tikus Spraguey Dawley Jantan

Diameter Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between

Groups 5.165 2 2.583 4.746 .039

Within Groups 4.898 9 .544

Total 10.063 11

Berdasarkan data pada Tabel 4, menunjukan bahwa nilai signifikansi yaitu 0,039 sehingga (p < 0,05), nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektifitas penurunan diameter luka pada tiap kelompok perlakuan. Pada uji One Way Anova hanya dapat menunjukkan ada tidaknya perbedaan efektifitas antara kelompok perlakuan, untuk mengetahui besar perbedaan efektifitas dari setiap kelompok perlakuan maka dilakukan uji lanjutan. Uji lanjutan dilakukan dengan menggunakan uji Post Hoc Least Significant Differences , sesuai dengan Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Uji Post Hoc LSD Diameter Luka Tikus Spraguey Dawley Jantan

(I) sampel (J) sampel

Mean Difference (I-J) Std. Error Sig. 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound KL EP -.12500 .52162 .816 -1.3050 1.0550 AQ -1.45000* .52162 .021 -2.6300 -.2700 EP KL .12500 .52162 .816 -1.0550 1.3050 AQ -1.32500* .52162 .032 -2.5050 -.1450 AQ KL 1.45000* .52162 .021 .2700 2.6300 EP 1.32500* .52162 .032 .1450 2.5050 Keterangan :

KL (Kelompok I) : Kontrol positif (kenalog)

EP (Kelompok II ) : Gel ekstrak daun pepaya (carica pepaya L.) 75% AQ (Kelompok III) : Kontrol negatif (aquades)

Berdasarkan data pada Tabel 6, menunjukkan bahwa Mean Difference

tertinggi pada kelompok III yaitu sebesar 1.45000 dibandingkan dengan kelompok I dan hasil dari kelompok III dengan kelompok II sebesar 1.32500, sedangkan hasil antara kelompok II dengan kelompok I sebesar 12500. Hasil dari data-data tersebut menunjukan bahwa pemberian gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) konsentrasi 75% efektif terhadap penurunanan jumlah diameter luka yang signifikan dibandingkan dengan kelompok III (aquades) pada proses penyembuhan luka akibat efek samping bahan bleaching tikus (spraguey dawley) jantan, sehingga hipotesis penelitian ini terbukti.

2. Sel PMN

Berikut merupakan gambaran sel pmn pada gingiva tikus spraguey dawley jantan :

Gambar 11. Salah satu sel PMN yang ditemukan pasca induksi luka

Gambar 12. Jumlah sel PMN pada hari ke- 1

Gambar 13. Jumlah sel PMN pada hari ke- 3

Gambar 14. Jumlah sel PMN pada hari ke- 5

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada 5x lapang pandang dengan perbesaran 40x didapatkan hasil sebagi berikut :

Tabel 6. Jumlah Sel PMN Tikus Spraguey Dawley Jantan

Kelompok Hari Dekapitula

si

Jumlah Sel PMN Rata-

rata Lapang pandang 1 Lapang pandang 2 Lapang pandang 3 Lapang pandang 4 Lapang pandang 5 I 1 9 9 9 9 6 8 3 4 7 3 4 4 4,4 5 4 6 4 3 5 3,6 7 2 2 4 2 2 2,2 II 1 9 10 10 6 6 8,2 3 5 6 4 5 4 4,8 5 4 7 4 2 4 4 7 2 3 3 2 3 2,4 III 1 25 37 15 11 13 20,2 3 15 24 16 8 19 16,4 5 20 12 9 11 19 14 7 18 9 4 13 11 11

Gambar 15. Jumlah sel PMN pada hari ke- 7

Keterangan :

Kelompok I : Kontrol positif (kenalog)

Kelompok II : Gel ekstrak daun pepaya (carica pepaya L.) 75% Kelompok III : Kontrol negatif (aquades)

Berdasarkan data dari Tabel 6, menunjukkan bahwa jumlah sel PMN terkecil pada kelompok I kontrol positif dengan rata-rata jumlah sel pmn sebesar 2,2 pada hari ketujuh, pada kelompok II perlakuan dengan gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) 75% dengan rata-rata sebesar 2,4 pada hari ketujuh, pada kelompok III kontrol negatif sebesar 11,0 pada hari ketujuh. Secara umum dapat dikatakan bahwa hari dekapitulasi hari ketujuh pada kelima kelompok perlakuan tersebut secara konsisten menunjukkan penurunan jumlah sel PMN pada proses penyembuhan luka pasca diinduksikan luka hidrogen peroksida 35% pada tikus (spraguey dawley) jantan, dan pada hari ketujuh kelompok II perlakuan gel ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) 75% dan kelompok I kontrol positif perlakuan menggunakan kenalog menunjukan bahwa keduanya memiliki perbedaan jumlah yang tidak signifikan yaitu kelompok II sebesar 2,4 dan kelompok I sebesar 2,2 , ini menunjukan bahwa keduanya memiliki efektifitas yang hampir mendekati.

Pengujian statistik terhadap hipotesis penelitian, dengan menggunakan uji One Way Anova untuk melihat perbedaan tiap perlakuan dan uji lanjutan dengan uji Post Hoc Least Significant Differences , tetapi sebagai persyaratan untuk melakukan uji One Way Anova, maka sebelumnya dilakukan uji normalitas data dengan menggunakan uji Shapiro Wilk, karena jumlah sampel

pada penelitian ini kurang dari 50, yaitu sebesar 33 sampel dan dilakukan uji homogenitas data. Uji Shapiro Wilk sesuai dengan data pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk data Jumlah Sel PMN

Sampel

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic df Sig. sel_PMN Kelompok I .274 4 . .925 4 .563

Kelompok II .258 4 . .945 4 .687

Kelompok III .149 4 . .996 4 .986

Keterangan :

Kelompok I : Kontrol positif (kenalog)

Dokumen terkait