BAB III METODE PENELITIAN
3.2. Identifikasi Variabel Penelitian
Identifikasi variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Variabel Terikat : Body Image
Variabel Bebas : Self Enhancement Motive 3.3. Defenisi Operasional Variabel Penelitian
Defenisi operasional merupakan defenisi dari variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel yang dapat diamati (Azwar,2007).
Adapun defenisi dari variabel-variabel penelitian ini adalah:
1. Body Image
Body image merupakan akumulasi dari pengalaman psikologi seseorang yang terdiri dari persepsi, perasaan, serta keyakinan dalam menilai tubuhnya seperti penampilan, perasaan, dan gerakan yang bersifat dinamis dalam kaitannya dengan suasana hati, pengalaman fisik, dan lingkungan.
Body image diukur dengan menggunakan skala Multidimensional Body Self-Relations Questionnaire (MBSRQ) oleh Cash (2002). Semakin tinggi skor maka seseorang memiliki body image positif, maka sebaliknya semakin rendah skor maka seseorang memiliki body image negatif.
2. 1. Self Enhancement Motive
Self enhancement motive merupakan usaha individu melihat dirinya dalam menggali aspek-aspek positif pada konsep dirinya serta menjauhkan diri dari umpan balik yang negatif serta perspektif untuk menjadi mandiri terhadap diri sendiri yang bersifat universal dan adaptif dalam meningkatkan harga diri.
Self enhancement motive akan diukur dengan menggunakan skala Self Enhancement Strategies scale oleh Happer (2010). Semakin tinggi skor maka seseorang memiliki self enhancement motive yang tinggi, maka sebaliknya semakin rendah skor maka seseorang memiliki self enhancement motive yang rendah.
3.4. Populasi dan Sample 3.4.1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan dari individu atau objek yang memiliki karakteristik ataupun sifat-sifat atau karakteristik tertentu yang akan diteliti
(Silaen,2018). Adapun dalam penelitian ini, populasi yang akan digunakan adalah seorang pria yang aktif menggunakan aplikasi Instagram.
3.4.2. Sample
Metode pengambilan sampel yang akan digunakan oleh peneliti adalah Non-Probability Sampling. Penentuan sampel digunakan dengan metode Accidental Sampling. Adapun karakteristik sampel pada penelitian ini adalah :
1. Pengguna aktif Instagram
Pengguna aktif Instagram merupakan kekuatan dari tingkah laku individu berdasarkan jumlah ulangan perilaku serta waktu yang dihabiskan saat menggunakan media sosial Instgramnya (Ningsih,2020). Intensitas penggunaan Instagram dilihat dari durasi penggunaan instagram yang berkisar 2-3 jam. Menurut penelitian Ningsih (2020) menemukan bahwa durasi rata-rata penggunaan media sosial adalah 3-4 jamn sehari.
2. Pria berusia lebih dari 23 tahun
Dalam penelitian ini subjek yang akan diambil hanya sampel populasi saja bukan populasi dari keseluruhan. Pria merupakan pengertian dari laki-laki (KBBI,2008). Dalam hal ini peneliti mengambil sample pria lebih dari 23 tahun dikarenakan pada usia ini para pria memperhatikan penampilan fisik dirinya untuk masuk kedalam pergaulan (Hurluck,1980).
3.5. Metode Pengumpulan Data
Metode dalam pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini
digunakan karena data yang ingin di ukur berupa konsep psikologi yang dapat diungkapkan secara tidak langsung melalui indikator- indikator perilaku yang diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem pernyataan (Azwar, 2013). Dalam penelitian ini, menggunakan dua skala. Skala yang pertama akan digunakan untuk mengukur self enhancement motive yang dirancang oleh Happer yaitu Self Enhancement Strategies scale. Skala ini terdiri dari 20 aitem. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan skala yang dibuat berdasarkan model skala Likert. Dan body image akan diukur menggunakan skala Multidimensional Body Self-Relations Questionnaire (MBSRQ). Skala ini terdiri dari 19 aitem. Aitem-aitem yang ada pada skala ini dibuat berdasarkan dimensi body image yang juga dikemukakan oleh Cash (2002).
a. Alat ukur Self Enhancement Motive
Self enhancement motive akan diukur menggunakan skala Self enhancement motive yang dirancang oleh Happer yaitu Self Enhancement Strategies scale. Skala ini terdiri dari 20 aitem. Aitem-aitem ini berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Happer (2010). Skala ini memiliki 5 alternatif jawaban, yaitu setuju (SS), setuju (S), Netral (N), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Skor untuk aitem favorable SS (5), S (4), N (3), TS (2), STS (1). Sedangkan untuk aitem unfavorable, STS (5), TS (4), N (3), S (2), SS (1). Adapun blue print dari skala Self enhancement motive adalah
Tabel 3.1. Blue Print Skala Self Enhancement Motive sebelum di Uji Coba
Aspek F UF Jumlah
Positivity Embracement 1,9,17 2,10 5
Favorable Construal 3,11,18 4,12 5
Self affirming reflections 5,13 6,14,19 5
Defensiveness 7,15,20 8,16 5
Jumlah 11 9 20
b. Alat Ukur Body Image
Skala yang pertama akan digunakan untuk mengukur body image yang dirancang oleh Cash (2002) yaitu Multidimensional Body Self-Relations Questionnaire (MBSRQ). Skala ini terdiri dari 18 aitem. Aitem-aitem yang ada pada skala ini dibuat berdasarkan dimensi body image yang juga dikemukakan oleh Cash (2002). Pemberian skor yang dipakai berdasarkan pada sistem skala likert yang bergerak dari angka 1 sampai 5. Masing-masing aitem dari skala ini memiliki lima pilihan jawaban, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), Netral (N), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Skor untuk aitem favorable SS (5), S (4), N (3), TS (2), STS (1). Sedangkan untuk aitem unfavorable, STS (5), TS (4), N (3), S (2), SS (1).
Adapun blue print dari skala body image:
Tabel 3.2. Blue Print Skala Body Image sebelum di Uji Coba
Aspek F UF Jumlah
Appearence evaluation bagian atas (dada, bahu,
lengan)
Kepuasan terhadap rambut
5,11,19,23,32,35 16,21,33,36,48 11
Overweight preoccuption Membatasi pola makan Kewaspadaan terhadap
berat badan
21,41,46 12,29,34,3749 8
Self–classified weight
Berat Badan 31,39,43,45,50,53 30,38,42,44,51,55 12
Jumlah 27 28 55
3.6. Uji Coba Alat Ukur 3.6.1.Validitas Alat Ukur
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi alat ukurnya (Azwar, 2003). Validitas yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah, content validity atau validitas isi. Untuk menguji validitas isi pada alat ukur penelitian ini, maka peneliti akan menggunakan teknik professional judgement (Azwar, 2017).
3.6.2.Realibilitas Alat Ukur
Reliabilitas atau dengan nama lain keajegan, keterandalan, adalah sejauh mana suatu alat ukur dapat memberikan hasil pengukuran yang konsisten menurut keadaan subjek ukurnya atau dapat juga didefinisikan sebagai konsitensi atau stabilitas yang merupakan indikasi sejauhmana pengukuran itu dapat memberi hasil yang sama bila dilakukan pengukuran ulang (Azwar, 2003). Uji realibilitas yang akan digunakan yaitu Cronbach’s Alpha Coefficient.
Apabila nilai reliablitasnya mendekati 1 maka akan semakin tinggi konsistensi internal reliabilitasnya. Tetapi jika nilai reliabilitasnya (rxx) >0,70 sudah dianggap baik (Azwar, 2017).
3.6.3.Uji Daya Beda Aitem
Pengujian daya beda aitem yang dilakukan dengan komputasi koefesien korelasi antara distribusi skor pada setiap aitem dengan satu kriteria yang relevan.
Koefesien korelasi aitem yang tinggi merupakan aitem yang dengan minimal nilai koerfisien korelasi sebesar 0,30 atau diatas 0,25 sebaliknya jika koefesien korelasinya tidak mencapai 0,30 atau dibawah 0,25 dapat diinterpretasikan sebagai aitem yang akan memiliki daya beda yang rendah (Azwar,2013). Untuk dapat menganalisis aitem, peneliti mencoba menguji skala self enhancement motive pada 187 responden pria yang termasuk kedalam populasi. Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan melihat corrected item total correlation dengan bantuan SPSS for windows 20.0 3.7. Teknik Analisa Data
Data-data dalam penelitian ini penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan menggunakan SPSS 20 for windows.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yaitu : body image terhadap variabel terikatnya yaitu self enhancement motive (Azwar,2007). Pada penelitian ini terdapat dua uji asumsi, yakni :
a. Uji Normalitas
Uji normalitas yang akan dianalisis pada penelitian ini menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov. Data dikategorikan terdistribusi dengan normal jika p >0,05 .
b. Uji Linieritas
Uji linearitas pada penelitian ini menngunakan uji F. Serta pengelolaan data pada penelitian ini menggunakan SPSS 2.0 for windows.
3.8. Hasil Uji Coba Alat Ukur 3.8.1. Self Enhancement Motive
Alat ukur yang dibuat oleh Happer (2012) yang terdiri dari 20 aitem. Pada penelitian ini peneliti tidak melakukan uji coba alat ukur ini, dikarenakan alat ukur ini telah di uji coba sebelumnya dari 20 aitem yang ada, setelah diuji coba oleh peneliti sebelumnya, dan diperoleh 20 aitem yang memiliki nilai diskriminasi melebihi 0,30.
20 aitem ini digunakan pada penelitian ini, setelah melihat daya diskriminasi pada aitem. Selanjutnya, dilihat bahwa perhitungan realibilitas aitem dan hasil realibilitas dari 20 aitem tersebut adalah a =0,835.
Tabel 3.3. Blue Print Skala Self Enhancement Motive Sesudah Uji Coba
Aspek F UF Jumlah
Positivity Embracement 1,2,3,4,5 - 5
Favorable Construal 6,7,8,9,10 - 5
Self affirming
reflections 11,12,13,14,15 - 5
Defensiveness 19,20 16,17,18 5
3.8.2.Body Image
Alat ukur yang dibuat oleh Cash 2002 yang terdiri dari 18 aitem. Pada penelitian ini peneliti tidak melakukan uji coba alat ukur ini, dikarenakan alat ukur ini telah di uji coba sebelumnya dari 18 aitem yang ada, setelah diuji coba oleh peneliti sebelumnya, dan diperoleh 18 aitem yang memiliki nilai diskriminasi melebihi 0,30.
18 aitem ini digunakan pada penelitian ini, setelah melihat daya diskriminasi pada aitem. Selanjutnya, dilihat bahwa perhitungan realibilitas aitem dan hasil realibilitas dari 18 aitem tersebut adalah a =0,845.
Tabel 3.3. Blue Print Skala Body Image sesudah di Uji Coba
Aspek F UF Jumlah
Appearence evaluation
(paha, pantat,punggung, bagian atas (dada, bahu,
lengan)
3.9. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 3.9.1.Tahap Persiapan Penelitian
a. Adaptasi Alat Ukur
Adaptasi alat ukur pada variabel yang dilakukan dengan diterjemahkan oleh Pusat Bahasa USU, dosen Fakultas Psikologi, dan 2 orang mahasiswa Fakultas Psikologi USU, dan beberapa pria yang dirasa kompeten dalam menerjemahkan aitem bahasa inggris. Selanjutnya peneliti bersama dosen pembimbing memilih terjemahan aitem yang lebih bisa dimengerti.
b. Uji Coba Alat Ukur
Selanjutnya aitem disusun membentuk skala, setelah disusun tahap selanjutnya adalah melakukan uji coba alat ukur. Uji coba yang dilakukan pada bulan 7 tahun 2021. Skala diberikan kepada beberapa pria yang menggunakan Instagram.
c. Revisi Alat Ukur
Setelah peneliti melakukan uji coba alat ukur, selanjutya peneliti melakukan uji relibilitas skala menggunakan koefesien reliabilitas Alpha Cronbach dengan bantuan aplikasi program SPSS 2.0. Setelah aitem yang memenuhi validitas dan reliabilitasnya diketahui, kemudian peneliti menyusun aitem-aitem tersebut mejadi alat ukur yang digunakan untuk pengambilan data penelitian.
3.9.2.Pelaksanaan Penelitian
Setelah melakukan revisi pada alat ukur, peneliti kemudian melakukan pengambilan data. Skala yang diberikan oleh peneliti dalam bentuk google form yang disebar pada bulan Agustus 2021, yang diisi oleh beberapa pria yang menggunakan Instagram sebanyak 187 subjek.
3.9.3.Pelaksanaan Penelitian
Setelah diperoleh hasil skor pada skala self enhancement motive dan body image, hal yang dilakukan selanjutnya yakni melakukan pengolahan data.Pengolahan data yang dilakukan menggunakan software SPSS 2.0 for Windows.
3.10. Metode Analisa Data
Data-data dalam penelitian ini penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana dengan menggunakan SPSS 20 for windows.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yaitu : body image terhadap variabel terikatnya yaitu self enhancement motive (Azwar,2007). Data akan diolah untuk menentukan skor maksimum dan minimum, mean serta standar deviasi. Data yang diperoleh juga digunakan untuk mengkategorisasikan sesuai kategorisasi yang ada. Lalu data juga diolah dengan uji normalitas dan liniearitas.
BAB IV
HASIL ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini, peneliti akan memaparkan hasil yang didapat dari pengambilan data yang telah dilakukan serta pengolahan data yang dilakukan dengan cara statistik.
Hasil yang akan dipaparkan dalam penelitian ini adalah gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian, dan analisa hasil penelitian.
4.1. Gambaran Umum Subjek Penelitian
Gambaran umum pertama dari subjek adalah identitas yang terdiri dari nama/inisial, usia, username Instagram, dan intensitas penggunaan Instagram. Subjek penelitian ini adalah pria yang menggunakan Instagram. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah sebanyak 187 orang. Berdasarkan hasil perhitungan dari distribusi frekuensi, sehingga gambaran umum subjek penelitian dapat dilihat sebagai berikut.
4.1.1. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia
Berdasarkan usia, penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan pada tabel berikut ini.
Gambar 4.1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa subjek penelitian terbanyak berusia 23-30 tahun yang berjumlah 120 orang (66%) dan subjek penelitian yang berjumlah paling sedikit adalah berusia 40-45 tahun yang berjumlah 3 orang (2%).
4.1.2.Gambaran Subjek Berdasarkan Domisili Pria Pengguna Instagram
Berdasarkan domisili pria pengguna Instagram, penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan pada tabel berikut ini:
Gambar 4.2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Domisili
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa subjek penelitian terbanyak berada di domisili Medan yang berjumlah 59 orang, dan subjek penelitian yang berjumlah paling sedikit adalah Bali, Batam, Pekanbaru, Jawa Timur yang berjumlah 1 orang.
4.1.3.Gambaran Subjek Berdasarkan intensitas penggunaan Instagram
Berdasarkan intensitas pria penggunaan Instagram, penyebaran subjek penelitian dapat digambarkan pada tabel berikut ini:
Gambar 4.3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Intensitas Penggunaan Instagram
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa subjek penelitian terbanyak berusia 1-3 jam yang berjumlah 117 orang (62%) dan subjek penelitian yang berjumlah paling sedikit adalah berusia lebih dari 5 jam yang berjumlah 27 orang (15%).
4.2. Hasil Uji Asumsi Penelitian 4.2.1.Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data yang tersebar diuji secara normal. Uji normalitas ini dilakukan dengan ini dilakukan dengan analisis statistik Kolmogorov-Smirnov.Asumsi normalitas pada penelitian ini akan dikatakan tersebar secara normal apabila memiliki nilai p> 0,05.
Tabel 4.1. Hasil Uji Asumsi Normalitas
Variabel Koefisien P Keterangan
Self Enhancement Motive 0,389 Data Terdistribusi Normal dan Body Image
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil uji terhadap variabel self enhancement motive dan body image menunjukkan nilai p=0,389>0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi secara normal.
4.2.2.Uji Linearitas
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui apakah antar variabel memiliki hubungan yang linier atau tidak. Hubungan variabel self enhancement motive dengan body image dinyatakan linear apabila p <0,05. Hasil uji linear dalam penelitian dapat dilihat sebagai tabel berikut.
Tabel 4.2. Hasil Uji Asumsi Liniearitas
Statistik F Sig Keterangan
Linearity 0,432 0,000 Linear
Berdasarkan hasil uji analisa regresi sederhana diatas, dapat diketahui bahwa nilai p<0,05, yaitu sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa self enhancement motive memiliki peran terhadap body image.
4.3. Hasil Utama Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peran dari self enhancement motive terhadap body image pada pria pengguna aplikasi Instagram
positif atau negatif. Maka hipotesis penelitian ini adalah “Terdapat Peran Positif Self Enhancement Motive terhadap Body Image Pada Pria Pengguna Aplikasi Instagram.”Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisa regresi sederhana dengan bantuan SPSS.
Tabel 4.3. Hasil Uji Regresi R Square Self Enhancement
Motive 0,430
Berdasarkan tabel diatas koefisien determinan (R-square) yang diperoleh dari peran self enhancement motive terhadap body image pada subjek penelitian adalah sebesar 0,430. Hal ini menunjukkan bahwa peran self enhancement motive terhadap body image pada pria pengguna aplikasi Instagram adalah sebesar 43%.
Hal tersebut berarti self enhancement motive memberikan sumbangan sebesar 43%
terhadap body image, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui pula bahwa peran dari self-enhancement motive terhadap body image pada pria pengguna Instagram adalah positif.
Tabel 4.4. Koefisien Regresi
Statistik B ST.Eror Sig
Constant
Dalam penelitian ini, variabel bebas yaitu self enhancement motive dilambangkan dengan X dan variabel tergantung yaitu body image dilambangkan dengan Y. Persamaan garis regresi linear sederhana dapat dijelaskan dengan rumus Y
= a + bX, a merupakan konstanta dan b merupakan koefisien regresi.
Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa persamaan garis regresi yang dihasilkan adalah Y = 39,736+ 0,267 X dengan eror 5,808 dan 0,095. Persamaan ini menunjukkan bahwa apabila self enhancement motive (X) bernilai nol, maka body image (Y) memiliki nilai sebesar 39,736. Nilai koefisien regresi sebesar 0,267, hal ini berarti apabila nilai self enhancement motive bertambah satu satuan, maka nilai body image akan mengalami kenaikan sebesar 0,267. Kemudian, dari tabel diatas juga dapat dilihat bahwa nilai signifikansi yaitu 0,000 < 0,05. Hal ini berarti self enhancement motive mempunyai peran dan signifikan terhadap body image.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Ha diterima. Dengan Ha diterima maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peran positif self-enhancement motive terhadap body image pada pria pengguna Instagram.
4.4. Hasil Analisa Tambahan 4.4.1.Kategorisasi Data Penelitian
Tujuan kategorisasi dilakukan untuk menempatkan subjek ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut kontinum berdasarkan atribut yang diukur (Azwar, 2012). Untuk menentukan skor kategorisasi, peneliti menggunakan rumus sebagai berikut :
Tabel 4.5. Kategorisasi Data Penelitian
Rendah X < M – 1SD
Sedang M – 1SD < X < M + 1SD
Tinggi M + 1SD < X
4.4.2. Kategori Self Enhancement Motive
Tujuan kategorisasi dilakukan untuk menempatkan subjek ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut kontinum berdasarkan atribut yang diukur, kontiniun berjenjang ini untuk melihat tinggi atau rendahnya atribut dari aitem self enhancement motive (Azwar, 2012). Satuan deviasi dan mean pada kategorisasi dapat dihitung melalui rumus dibawah ini:
Tabel 4.6. Kategorisasi Subjek pada Variabel Self Enhancement Motive Rentang Nilai Kategorisasi N Presentase
X< 46.67 Rendah 6 3,2%
46,67 < X <
73.33 Sedang 163 87,2%
73.33< X Tinggi 18 9,6%
Total 187 100,0%
Berdasarkan kategorisasi subjek pada variabel self enhancement motive terdapat 18 subjek (9,6%) memiliki tingkat self enhancement motive yang tinggi, sebanyak 163 subjek (87,2%) yang memiliki tingkat Self enhancement motive yang sedang dan 6 subjek (3,2%) yang memiliki tingkat yang rendah.
4.4.3.Kategori Body Image
Tujuan kategorisasi dilakukan untuk menempatkan subjek ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut kontinum berdasarkan atribut yang diukur, kontiniun berjenjang ini untuk melihat tinggi atau rendahnya atribut dari aitem body image (Azwar, 2012). Satuan deviasi dan mean pada kategorisasi dapat dihitung melalui rumus dibawah ini.
Tabel 4.7. Kategorisasi Subjek pada Variabel Body Image Rentang Nilai Kategorisasi N Presentase
X< 12 Negatif 3 1,1%
12 < X < 186 Sedang 179 96,2%
186 < X Positif 5 2,7%
Total 187 100,0%
Berdasarkan kategorisasi subjek pada variabel body image terdapat 5 subjek (2,7%) memiliki body image yang positif , sebanyak 179 subjek (96,2%) yang memiliki body image yang sedang, dan 3 subjek (1,1%) yang memiliki body image yang negatif.
4.5.1.Gambaran Mean Self Enhancement Motive dan Body Image Berdasarkan Usia
Tabel 4.8. Mean Self Enhancement dan Body Image Berdasarkan Usia
N Means SE STD SE Means BI STD BI
23-30 tahun 103 61,14 4,073 56,01 4,924
30-35 tahun 32 60,97 4,028 57,28 4,998
35-40 tahun 22 62,50 3,281 55,45 5,655
40-45 tahun 6 62,00 2,739 55,00 4,940
45-50 tahun 8 61,25 2,507 55,63 4,779
Lebih dari 50
tahun 16 61,30 3,786 56,08 4,209
Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh nilai mean self enhancement motive subjek yang paling menonjol berada pada kategori 35-40 sebesar 62,50. Pada variabel body image diperoleh mean pada subjek yang paling menonjol berada pada kategori 30-35 tahun sebesar 57,28.
4.5.2.Gambaran Means Pada Aspek Self Enhancement Motive Tabel 4.9. Means Pada Aspek Self Enhancement Motive
N Mean STD
Positive Embracement 187 16,39 1,898
Favorable Construal 187 13,82 1,823
Self Affirming Reflection 187 15,85 1,619
Defensiveness 187 15,25 2,319
Skala yang digunakan untuk mengukur self enhancement motive pada penelitian ini adalah Self Enhancement Strategies scale yang disusun berdasarkan empat aspek yang dikembangkan oleh Happer (2010). Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa mean yang paling besar diantara aspek lainnya adalah positive embracement sebesar 16,39. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek yang menonjol dari subjek penelitian yaitu untuk pria pengguna Instagram yang senang mendapatkan perilaku yang positif dari orang lain.
4.5.3.Gambaran Means Pada Aspek Body Image
Tabel 4.10 Means Pada Aspek Body Image
N Mean STD
Appearence Evaluation 187 10,15 1,616
Appearance Orientation 187 18,28 2,678
Body Area Satisfication 187 8,77 1,706
Overweight Preoccupation 187 9,04 1,506
Self Classified Weight 187 9,83 1,895
Skala yang digunakan untuk mengukur body image pada penelitian ini adalah Multidimensional Body Self-Relations Questionnaire (MBSRQ) yang disusun berdasarkan lima aspek yang dikembangkan oleh Cash (2002). Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa mean yang paling besar diantara aspek lainnya adalah Appearence Orientation sebesar 18,28. Sehingga dapat disimpulkan bahwa aspek yang menonjol dari subjek penelitian yaitu usaha yang pria lakukan dalam mengubah
yaitu usaha yang pria lakukan dalam mengubah penampilannya sehingga menarik di Instagram.
4.6. HASIL PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peran antara self enhancement motive terhadap body image pada pria pengguna aplikasi Instagram.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat self enhancement motive, maka semakin tinggi body image pada pria pengguna aplikasi Instagram. Hal ini dilihat dari persamaan samaan garis regresi yang dihasilkan adalah Y = 39,736+
0,267 X, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,267. Begitupun sebaliknya, semakin rendah tingkat self enhancement motive, maka semakin rendah body image pada pria pengguna aplikasi Instagram.
Adapun hasil dari uji analisa regresi sederhana, dari variabel self enhancement motive dan body image memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 dengan p<0,000, sehingga hasil penelitian menunjukkan bahwa self enhancement motive memiliki peran positif terhadap body image pada pria pengguna aplikasi Instagram.
Self enhancement motive merupakan usaha individu untuk meningkatkan dirinya menjadi lebih positif dengan menonjolkan kelebihannya untuk meminimalisir hal-hal negatif yang didapatnya (Sedikides,2009). Hasil penelitian juga menemukan bahwa variabel self enhancement motive memberikan sumbangan sebesar 43% terhadap variabel body image. Artinya, para pria yang memiliki self enhancement motive
memungkinkan ia menonjolkan karya atau prestasi di media sosial dan membentuk harga dirinya. Berdasarkan data diatas, ditemukan bahwa terdapat 18 subjek (9,6%) memiliki tingkat self enhancement motive yang tinggi, Sehingga memungkinkan pria memiliki harga diri pada dirinya.
Berdasarkan kategorisasi penelitian terdapat 5 subjek (2,7%) memiliki tingkat body image yang positif. Dari hasil analisa tambahan yang ditemukan pada penelitian, didapati bahwa aspek tertinggi pada variabel self enhancement motive adalah positivity embracement yaitu sebesar 16,39, sedangkan aspek tertinggi pada variabel body image adalah appearance orientation sebesar 18,28. Dan dari dua dimensi pada variabel diatas dapat disimpulkan bahwa pria pengguna aplikasi Instagram senang mengusahakan penampilan mereka agar tampak menarik ketika mengupload diri di feed maupun Instagram story, sehingga mereka mendapatkan komentar atau pujian dari follower atau orang lain di Instagram, mereka juga senang mengupload keberhasilan karena kemampuan mereka di aplikasi Instagram.
Selanjutnya, gambaran means pada self enhancement motive berdasarkan usia yang
Selanjutnya, gambaran means pada self enhancement motive berdasarkan usia yang