5.4. Arahan Kebijakan Penataan Ruang Wilayah
5.4.7. Identifikasi Wilayah Yang Didorong Pertumbuhannya
Adapun isi dari sub bab ini adalah menguraikan kawasan kota yang diarahkan sebagai lokasi baru bagi pengembangan kegiatan-kegiatan perkotaan yang mendukung strategi dan skenario pengembangan perkotaan. Dalam hal ini kegiatan-kegiatan yang terjadi yaitu terkonsenrasinya pusat kegiatan di kota Dumai hal ini mengakibatkan semakin perkembangnya permasalalahan –permasalahan di aspek lingkungan, prasarana serta jaringan struktur kota. Untuk itu perlunya langkah-langkah lokasi baru yang dimana lokasi tersebut berada pada kawasan pusat kota juga.
Berdasarkan RTRW Kota Dumai Pengembangan BWK II dalam lingkup makro dimaksudkan untuk dapat mengidentifikasi fungsi dan peran BWK II dalam lingkup wilayah yang lebih luas, baik Kota Dumai maupun wilayah Propinsi Riau, dan mengacu pada arahan kebijaksanaan tata ruang wilayah yang berpengaruh, yang sekaligus akan menjadi dasar dalam penetapan batas (delineasi) kawasan perkotaan yang akan dikembangkan.
Arah Kebijakan Penataan Ruang
Ditinjau dari posisi strategis, kedudukan Kecamatan Bukit Kapur akan mempunyai peranan yang cukup penting di wilayah Kota
Dumai karena terkait dengan pengembangan beberapa kawasan andalan di bagian Selatan Kota Dumai, yaitu :
Berada pada jalur jalan regional lintas Dumai - Dumai
Untuk menunjang fungsi pelayanan Kota Dumai yang diarahkan dari Pusat Kegiatan Lokal (PKL) menjadi Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) serta untuk menunjang peranan Kota Dumai sebagai pusat industri dan perdagangan di propinsi Riau.
Dalam RTRW Propinsi Riau, Kota Dumai ditetapkan sebagai kota orde I, yakni kota dengan fungsi hilir yang dapat langsung melakukan kegiatan ekspor.
Pemanfaatan ruang yang diarahkan untuk Kecamatan Bukit Kapur adalah sebagai pusat pemerintahan kota serta pusat perdagangan dan jasa.
Peran dan Fungsi Kota Dumai dalam Konstelasi Wilayah
Didasarkan pada arahan kebijaksanaan Tata Ruang Wilayah Propinsi dan kedudukan/statusnya, Kota Dumai sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) memiliki peranan yang penting di wilayah Pesisir Timur Sumatera serta mempunyai peran/fungsi utama sebagai :
Kawasan industri
Pusat Perdagangan dan Jasa
Pusat kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan internasional, angkutan CPO dan Migas
Pusat Pemerintahan Kota
Sebagai pusat pemerintahan Kota Dumai, Kecamatan Bukit Kapur akan menjadi pusat penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan. Sebagai pusat kegiatan pemerintahan ini wilayah pelayanannya adalah seluruh wilayah Kota Dumai yang mencakup 5 Kecamatan, tidak lagi hanya sebatas Kecamatan Bukit Kapur seperti selama ini. Dengan lokasinya yang strategis yaitu berada pada jalan lintas regional Dumai - Dumai, fungsi sebagai pusat administrasi-pemerintahan kota ini dapat diwujudkan dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
Fungsi sebagai pusat perdagangan dan jasa pada dasarnya berkaitan dengan kegiatan industri dan pengangkutan di Kota Dumai.
Kegiatan pengangkutan ini merupakan sektor terpenting di Kota Dumai yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB serta penyerapan tenaga kerja. Kegiatan pengangkutan selama ini telah memberikan dampak ekonomi kota yaitu dengan adanya berbagai industri penunjang serta mendorong tumbuhnya sejumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha perdagangan,
jasa dan perbankan.
Pada masa yang akan datang, disamping keempat fungsi diatas Kota Dumai potensial untuk berfungsi sebagai pusat koleksi, distribusi dan pemasaran berbagai komoditas wilayah hinterland. Kegiatan jasa potensial dikembangkan karena adanya berbagai peluang investasi di Kota Dumai yang dapat menjadikan Kecamatan Bukit Kapur sebagai tempat kedudukan kantor pusatnya yang pada gilirannya akan membangkitkan berbagai kegiatan jasa ikutannya.
Analisis Delineasi Kawasan Perkotaan Kecamatan Bukit Kapur
Secara administratif, Kecamatan Bukit Kapur meliputi 4 Kelurahan, yakni Kelurahan Bagan Besar, Kelurahan Bukit Nenas, Kelurahan Bukit Kayu Kapur dan Kelurahan Gurun Panjang. Sebagian wilayah keempat kelurahan tersebut pada dasarnya telah menunjukkan karakteristik sebagai kawasan perkotaan ditinjau dari berbagai indikator (Demografis, kegiatan ekonomi, fasilitas perkotaan).
Pada tahun 2001 Kecamatan Bukit Kapur telah dimekarkan menjadi 3 kecamatan yaitu : Kecamatan Bukit Kapur, Kecamatan Medang Kampai, dan Kecamatan Sungai Sembilan. Adanya pembagian/pemekaran kecamatan ini tentu saja harus pula dipertimbangkan dalam delineasi kawasan perkotaan yang akan dikembangkan.
Untuk melakukan delineasi kawasan yang akan dikembangkan sebagai kawasan perkotaan, perlu mengacu pada pengertian kawasan perkotaan yang secara fungsional tidak selalu harus sama dengan batas administrasi. Sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, Pengertian kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Delineasi kawasan perkotaan ini pada dasarnya bersifat fungsional, dan dapat menjadikan desa sebagai unit analisis terkecil. Dalam hal ini BPS membuat dua kategori desa yaitu desa urban dan desa rural, yang dalam penentuannya menggunakan indikator :
Demografis (kepadatan penduduk)
Kegiatan ekonomi (persentase rumah tangga pertanian)
Fasilitas perkotaan (jumlah fasilitas perkotaan)
Mengacu pada Permendagri No. 7 Tahun 1986 tentang Penetapan Batas Kota di Seluruh Indonesia, prosedur teknis penetapan batas wilayah kota yang ditempuh untuk Kecamatan Bukit Kapur adalah sebagai berikut :
1. Penetapan wilayah pengamatan ; dalam hal ini wilayah pengamatan adalah kecamatan yang ditetapkan sebagai dasar penelitian lapangan dan pengumpulan data. Wilayah Pengamatan ini terdiri dari 4 kelurahan dimana terdapat kawasan terbangun dan wilayah sekitarnya yang diperkirakan potensial berkembang menjadi kawasan perkotaan.
2. Tinjauan untuk melihat karakteristik tiap kelurahan berdasarkan kondisi fisik dasar, pola penggunaan lahan dan kependudukan.
3. Dalam menentukan arah perkembangan kota dan batas wilayahnya dipertimbangkan pentingnya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup.
4. Kesesuaian lahan untuk pengembangan kota yang diperoleh dari hasil pertimbangan terhadap berbagai peta kondisi fisik sehingga dihasilkan; kawasan terbangun/kawasan perkotaan, arah perkembangan kota, serta kawasan efektif pengembangan kota.
Bentuk Kota Di Masa Depan
Berdasarkan rencana kota Dumai bahwa kawasan yang akan menjadi altenatif terletak pada BWK II yaitu pada kecamatan Bukit Kapur dimana kawasan tersebut akan diarahkan menjadi kawasan altenatif yang seiring dengan terjadinya permaslahan yang terjadi di pusat Kota terletak pada Kecamatan Dumai Barat Dan Kecamatan Dumai Timur (BWK I).
Pada BWK II (Bagian Wilayah Kota) Pemanfaatan ruang di Bagian Wilayah Kota II diarahkan dengan berdasarkan pada prinsip mengakomodasi kecenderungan pola penggunaan ruang yang sudah ada. Kecenderungan pola penggunaan ruang dibentuk oleh jaringan transportasi. Bagian Wilayah Kota II dibagi dalam 3 distrik dan 6 sub distrik berdasarkan kegiatan dominan yang sudah ada.
Secara garis besar, konsep peruntukan lahan makro dibuat berdasarkan hasil survei lapangan serta potensi dan mengacu pada peraturan-peraturan yang berlaku, kawasan sekitar koridor Jalan Perwira memiliki potensi yang cukup baik sebagai kawasan pendukung bagi kawasan pemerintahan. Definisi kawasan pendukung ini mencakup fungsi-fungsi seperti hunian, komersial, jasa, campuran maupun pendidikan. Sebagai koridor utama memasuki kawasan kota Dumai, maka penataan sepanjang koridor ini harus dapat membentuk citra sebagai sebuah ‘gerbang kawasan’ bagi kota Dumai. Oleh karena itu, dalam penzoningannya, fungsi-fungsi campuran diperuntukan disepanjang koridor utama kawasan, sedangkan fungsi hunian, pendidikan, serta komersial skala lingkungan berada pada lapisan yang lebih dalam, dengan bentuk neighbourhood unit. Selain fungsi-fungsi tersebut, pada
beberapa daerah yang tidak memungkinkan untuk dibangun karena kondisi topografi, diusulkan menjadi daerah konservasi hijau yang berfungsi sebagai daerah resapan air serta paru-paru kota.
Daerah konservasi hijau ini juga dimungkinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bernuansa alam. Sehingga, selain memiliki fungsi sebagai kawasan baru yang berkembang melalui kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan ini juga memiliki nilai jual sebagai ‘kota dengan laboratorium hijau.
Untuk BWK II yang sedang dalam tahap perkembangan, berkembang secara radial ini pada suatu tahap tertentu harus dibatasi dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Pada suatu saat, kondisi ini akan menurunkan efisiensi ekonomi akibat terlalu beratnya beban pusat kota.
2. Karena kuatnya daya tarik pusat kota, daerah pinggiran kurang berkembang.
3. Perkembangan menjurus ke bentuk linier yang tidak efisien dalam penyediaan sarana dan prasarana pelayanan.
Sampai dengan tahun 2009, pola radial dalam pengembangan wilayah perencanaan ini masih dapat dipertahankan, dengan catatan:
1. Diperlukan tindakan mendesentralisasikan pusat-pusat pelayanan untuk mendorong pertumbuhan daerah pinggiran.
2. Peremajaan pusat kota untuk meningkatkan kapasitas lahan yang tersedia.
3. Membagi beban lalu lintas disepanjang jalur regional Dumai – Dumai dengan menetapkan fungsi jalan-jalan kota dan pembangunan alternatif jalan baru yang melintasi atau memotong jalur regional tersebut, sekaligus mengambil arus dari jalan tol.
4. Meningkatkan kapasitas pengembangan dengan cara mengalihkan sebagian fungsi kota pada areal-areal yang akan dan mempunyai potensi perkembangan di masa yang akan datang. Pengalihan ini dapat diarahkan ke barat dan timur kota.
Pembagian Unit Lingkungan.
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu, bahwa wilayah perencanaan mencakup areal seluas 25.700 Ha yang selanjutnya disebut sebagai BWK II Dumai. Dalam pembagian BWK ini didasarkan pada pengelompokan secara geografis dengan pembatas jaringan jalan maupun batas alam yang ada.
Dalam sistem lingkungan yang direncanakan, BWK II Kota Dumai dibagi dalam 3 (tiga) Distrik yaitu Distrik A, Distrik B dan Distrik C serta masing-masing terbagi lagi kedalam beberapa Sub Distrik. Selanjutnya, setiap Sub Distrik yang direncanakan ini masing-masing terbagi lagi kedalam beberapa unit lingkungan dengan pusat lingkungannya sendiri. Untuk itu, pengarahan pembangunan di masing-masing lingkungan tersebut hendaknya memperhatikan pengembangan jenis kegiatan dominan yang sudah ada pada saat ini. Adapun pembagian unit lingkungan secara jelas dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Pembagian unit lingkungan tersebut menggambarkan pola struktur ruang dan pelayanan yang dituju dengan membagi tingkat pelayanan ke dalam beberapa hirarki. Untuk pelayanan seluruh kota masih akan ditampung oleh Sub Distrik A.1, sedangkan pada setiap distrik yang direncanakan harus dilengkapi pula dengan pusat pelayanan dalam bentuk pusat distrik yang berfungsi melayani penduduk yang ada dalam distrik tersebut. Dengan demikian, maka beban pelayanan pusat kota dapat dikurangi, sekaligus merangsang pertumbuhan di masing-masing lingkungan yang direncanakan.
Selain itu, untuk fungsi pelayanan skala terkecil dapat dilayani oleh setiap pusat lingkungan dimana terdapat fasilitas pelayanan bagi kebutuhan penduduk sehari-hari.
Tabel 5.5
Kegiatan Dominan Pada Tiap Sub Distrik
No Sub-Distrik Luas (Ha) Kegiatan Dominan
1 A.1 841,46 Ha
- Perumahan - Perkantoran - Peribadatan - Pendidikan - Kesehatan - Militer - Perdagangan
2 A.2 316,57 Ha
- Perumahan - Pendidikan - Kesehatan - Perdagangan
- Jalur Hijau
3 B.1 1.767,37 Ha
- Perumahan - Pendidikan - Peribadatan - Tanah kosong - Perdagangan - Peribadatan - Kesehatan
4 B.2 1.146,23 Ha
- Perumahan - Perkantoran - Perdagangan - Pendidikan - Tanah kosong
5 C.1 812,70 Ha
- Perumahan - Pendidikan - Perdagangan - Kesehatan - Peribadatan - Tanah kosong
6 C.2 626,30 Ha
- Perumahan - Pendidikan - Peribadatan - Tanah kosong