• Tidak ada hasil yang ditemukan

DZAWĪ AL-ARḪĀM A. Teori Keadilan Gender

1. Identitas dan Peran Gender a. Identitas Gender

Gender menurut sosial budaya menekankan ke arah identifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dalam studi biologis diartikan sebagai sex, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti jenis kelamin.1 Terlahirnya seorang anak sudah dapat dikenal apakah bergender sebagai laki-laki atau perempuan, gender yang ia dapatkan sesuai dengan jenis kelamin yang ia miliki (penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan).2

Pengertian gender dalam Women’s Studies Encylopedia adalah konsep budaya yang membedakan antara wanita dan pria berdasarkan prilaku, watak, peran, mentalitas, dan karakter.3 Gender tak terlepas dari genotipe4 dan fenotipe5, genotipe

1 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal. 1287

2 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur’ān, (Jakarta: Paramidani, 2001), hal. 35

3 Hasbi Indra, Iskandar Ahza, dkk., Potret Wanita Shalehah, (Jakarta:

Penamadani, 2004), hal. 243

4 Genotipe adalah gen yang diwariskan orang tua, orang kembar memiliki genotip yang sama namun tidak dengan fenotip. Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal. 465

5 Fenotipe adalah ciri khas individu yang bisa diamati secara fisik yaitu tinggi badan, warna kulit, warna rambut, dll. Lihat Kamus Besar Bahasa

ditentukan oleh kromosomnya ketika dilahirkan sedangkan fenotipe dipengaruhi dari luar yaitu perkembangan di dalam lingkungan nya.

Banyak persepsi yang lahir di masyarakat bahwa upaya kesetaraan gender merupakan salah satu wujud perempuan untuk menyaingi laki-laki. Sebenarnya, tujuan dibalik itu semua untuk mencari keadilan perilaku dan kesamaan hak yang diperoleh perempuan, karena di dalam kehidupan nyata perempuan lebih banyak diperlakukan dengan tidak adil di rumah, tempat kerja, bahkan di masyarakat.6

Pertanyaan yang sering muncul apakah peran biologi menjadi tolak ukur dalam berperilaku? Menurut Ilmuan, perbedaan anatomi biologi laki-laki dan perempuan sangat mempengaruhi perkembangan emosional dan mental.7 Dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Perbedaan anatomi biologi laki-laki dan perempuan.

Laki-laki (masculine) Perempuan (feminim) Indonesia (KBBI), (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hal. 461

6 Zaitunnah Subhan, Al-Qur’ān dan Perempuan Menuju Kesetaraan Gender dalam Penafsrian, (Jakarta: Kencana, 2015), hal. 2

7 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur’ān, hal. 43

7. Dominan

Dari tabel di atas, tampak bahwa perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan sangat berpengaruh terhadap tingkah laku dan cara mengambil keputusan. Dasar perbedaan biologis sebenarnya tidak dapat dihayati secara makna dan kepentingan nya oleh seks saja, kenyataannya keadaan jasmani sangat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Kondisi jasmani sangat

perlu dipahami untuk mengetahui karakteristik perilaku perempuan dan laki-laki.8

Kombinasi antara karakteristik biologi, prilaku, dan sikap sangat mempengaruhi derajat feminimitas dan kemaskulinan seseorang. Derajat ini dapat dilihat dari Skala Donelson dalam penelitianya yang berjudul Women a psychological perspective9 kemudian penulis sajikan dalam (Gambar. 1)

Gambar 1. Hipotesis distribusi bimodal dari karakteristik gender.

b. Peran Gender

Fakta-fakta di dalam kultural, peranan wanita tidak kalah penting dengan peranan pria. Ortner di dalam buku Wanita Karir

8 Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara Pemikiran Tentang Kajian Perempuan, (Jakarta: Kompas Nusantara, 2010), hal. 26

9 Donelson Gullahom, Women A Psychological Perspective, hal. 52, dikutip dalam Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara Pemikiran Tentang Kajian Perempuan, (Jakarta: Kompas Nusantara, 2010), hal. 27

dalam bingkai Islam mengatakan bahwa sub-ordinasi pada wanita bukan menjadi sesuatu yang inheren secara biologis dan bukan pula menjadi perbedaan dengan jenis kelamin laki-laki.10 Menurut kaum feminis, tidak ada pintu penghalang antara ruang independen wanita dan pria, perbedaan jenis kelamin hanya konstruksi kultural, sehingga tidak perlu pemisahan.

Perbedaan gender melahirkan stereotip dalam masyarakat bahwa pria tetap unggul dibanding wanita, padahal baik pria maupun wanita dapat menjadi korban ketidakadilan gender.

Wanita mengalami perilakuan rendahnya harkat, sedangkan pria mengalami rendahnya harkat karena melonggarkan penindasan gender.11

Usaha dan perjuangan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan harkat dan martabat dengan kaum lelaki tak pernah padam. Sekalipun di Indonesia kekuasaan tertinggi pernah dijabat oleh Perempuan, mantan Presiden Megawati Soekarno Putri dan banyak kaum perempuan yang memegang jabatan strategis dalam pemerintahan di Indonesia, kesetaraan gender yang diharapkan ternyata belum bisa teratasi dan belum dikatakan tercapai, bahkan kaum perempuan dianggap selalu ketinggalan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dibidang hukum.12

10 Ortner, dikutip dalam Siti Muri’ah, Wanita karir dalam Bingkai Islam, (Bandung: Angkasa, 2004), hal. 45

11 Siti Muri’ah, Wanita karir dalam Bingkai Islam, (Bandung: Angkasa, 2004), hal. 45-47

12 Dede Kania, Hak Asasi Perempuan dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia (The Rights of women in Indonesian Laws and Regulations), Jurnal Konstitusi, Vol. 12 No. 4 Desember 2015, (Bandung:

Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati), hal. 718

Persoalan hak-hak perempuan menjadi masalah yang sangat amat penting dalam kelompok masyakarat bagi setiap negara di dunia, dikarenakan dari tahun ketahun perempuan menjadi sosok yang terus menerus berada dibawah lelaki dalam masyarakat Patrineal. Selama berabad-abad “hukum alam” selalu menempatkan perempuan pada posisi kedua secara sosial dan harus tunduk kepada laki-laki demi kelancaran dan keharmonisan rumah tangga mereka.13

Begitu banyak perempuan yang ikut berpartisipasi dalam sektor ketenagakerjaan dan kontribusi untuk meningkatkan kebutuhan ekomoni rumah tangga, bahkan dewasa ini wanita menekuni dunia karier cenderung meningkat. Berbagai faktor mendorong wanita terjun ke dunia karier sebagaimana pendapat Abdul Hakim Abū Syuqqah14 yaitu:

1) Kemajuan dunia pendidikan meliputi jenjang dan pemerataan terhadap anak laki-laki dan perempuan, hal ini mendorong wanita untuk menggeluti pendidikan dalam berbagai bidang profesi

2) Peningkatan pelayanan dan sektor serta peruntukkannya terhadap laki-laki dan perempuan yang berperan melahirkan kebutuhan baru dalam masyarakat seperti spesialis pendidikan, pengobatan, dan lain sebagainya.

13 Ashgar Ali Engineer, Hak-hak Perempuan dalam Islam,(Yogyakarta:

LSPA, 1994), hal. 3

14 Abu Halim Abu Syuqqah dikutip dalam Siti Muri’ah, Wanita Karir dalam Bingkai Islam, (Bandung: Angkasa, 2004), hal. 32

3) Kemajuan sarana transportasi di dunia penerbangan yang membutuhkan wanita sebagai pramugari

4) Kemajuan dan keberagaman kebutuhan serta perlengkapan pakaian wanita yang menuntut tenaga ahli wanita dalam transaksi jual beli seperti kasir dan pramuniaga

5) Terjadinya diskriminasi dalam rumah tangga yang menyebabkan salah satu pihak (laki-laki) meninggalkan tanggung jawabnya, dalam kondisi seperti ini wanita yang dicerai atau karena faktor lainnya dituntut untuk mandiri bekerja menghidupi kebutuhan diri dan anak-anaknya.

Dibayangkan betapa besar peran wanita dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Contoh sederhana tersebut mengasumsikan alasan sosiologis untuk memberikan kedudukan perempuan sebagai ahli waris dan tidak menyamaratakan porsi bagian perhitungan waris bagi perempuan dan laki-laki.