C. Dasar Aksiologis Pancasila
3.4. IDEOLOGI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA
51
agama. Agama justru harus terus mengkontrol kecenderungan absolutisme dunia sekuler negara. Untuk itu, agama harus melakukan proses obyektivikasi dan rasionalisasi agar bersifat universal. Institusi negara bebas menjalankan kebijakan dalam batas konstitusi, sementara agama juga diberi kebebasan penuh beribadah privat dalam batas keyakinan masing-masing. Agama bisa mengembangkan nilai keagamaan di ruang publik melalui civil society atau bahkan political society (Yudi Latief, 2011).
52
kolektif). Menurut Frederick Sontaq, setidaknya ada lima problem fundamental dalam ontologi. Pertama, apakah yangada itu bersifat plural atau tunggal. Kedua, apakah yang-ada itu bersifat transenden atau immanen. Ketiga, apakah yang-yang-ada itu bersifat permanen atau baharu. 137 Keempat, apakah yang-ada itu bersifat jasmani atau rohani.
Kelima, apakah yangada itu bernilai atau tidak. Lima problem mendasar inilah yang selalu menjadi kerangka konseptual dalam melihat cara masyarakat atau orang memang diri dan lingkungannya. Berangkat dari dasar pandangan fundamental tersebut, lalu menjadi idealisasi kolektif yang terangkum dalam sistem nilai yang bersifat dasar, yang terekspresikan ke dalam budaya masyarakat bangsa tersebut. Perangkat konseptual keyakinan dasar yang dimiliki manusia, masyarakat, bangsa disadari atau tidak, itulah yang disebut pandangan hidup. Singkatnya, pandangan hidup merupakan suatu pandangan menyeluruh mengenai hakikat, asal, nilai, tujuan dan arti dunia seisinya, khususnya mengenai manusia dan kehidupannya, suatu pandangan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari (Slamet Sutrisno, 2006: 20).
Jika dilihat dari perspektif ontologis, masyarakat Indonesia memandang realitas itu bersifat plural, kebhinekaan, baik dari sisi agama, bahasa, suku dst. Titik tolak ontologis ini harus menjadi kerangka acuan bangsa Indonesia dalam bersikap dan berperilaku dengan orang lain/kelompok lain yang berbeda dari kelompoknya.
Kenyataannya, nilai kebhinekaan tersebut diekspresikan oleh masyarakat dalam bentuk budaya, misalnya, kebudayaan tepa slira, tenggang rasa, dan lainnya. Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangakaian nilai-nilai luhur, yakni menyangkut wawasan menyeluruh terhadap kehidupan itu sendiri. Pada level praksis, pandangan hidup berfungsi sebagai acuan, baik untuk menata diri pribadi maupun menata hubungan antara manusia, masyarakat dan alam sekitar. Kebudayaan tepa slira tersebut terbukti mampu menata hubungan manusia satu dengan lainnya (Slamet Sutrisno, 2006: 21).
Pandangan hidup memberikan orientasi dalam kehidupan, serta menunjukkan tatanan bagi segala sesuatu yang berada dalam jagad raya. Oleh karenanya, arah atau orientasi yang diberikan suatu pandangan hiduap bersifat global dan tidak eksplisit (Oetojo Oesman dan Alfian, 1992: 48). Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan kenyataan objektif yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Dalam pengertian inilah maka 138 diistilahkan bahwa bangsa Indonesia
53
sebagai causa materialis dari Pancasila. Secara ilmiah harus disadari bahwa suatu masyarakat, suatu bangsa senantiasa mempunyai suatu pandangan hidup atau filsafat hidup masing-masing yang berbeda dengan bangsa lain. Bangsa Indonesia tidak mungkin mempunyai pandangan hidup atau filsafat hidup dengan bangsa lain.
Pembuktian epistemologis mengenai hal ini dapat diverifikasi melalui pengalaman selama ribuan tahun bangsa Indonesia dalam bertuhan, memanusiakan manusia, kebhinekaan, musyawarah dan cita-cita sosial, yakni keadilan. Sejatinya, konsep pandangan hidup, filsafat atau falsafah dan ideologi memiliki keterkaitan satu sama lain.
Istilah-istilah ini merupakan gambaran menyeluruh Pancasila, namun ketiganya memuat makna yang berlainan atau berdekatan . Filsafat adalah pemikiran ilmiah dan rasional dengan klaim validitas universalitas, falsafah adalah hasil dari kegiatan filsafati.
Kemudian, weltanschauung (pandangan hidup atau pandangan dunia) adalah pandangan yang lebih relatif, personal, eksistensial dan historikal. Filsafat tidak otomatis menjadi pandangan hidup. Untuk menjadi sebuah weltanschauung, sebuah falsafaf harus menjadi sikap dan pendirian orang atau sekelompok orang tentang dunia kehidupan.
Pandangan hidup lebih abstrak kemudian di jalankan dan diterima dalam kehidupan sehari-hari. Weltanschauung tidak selalu lahir dari filsafat dan membentuk fisafat.
Dalam beragam nilai kearifan tradisional di Indonesia tidak semua weltanschauung didahului oleh bangunan filsafat, tetapi bisa dijumpai pula weltanschauung yang melahirkan rumusan filsafat. (Latif, 2015: 33-35).
Terdapat lima kelompok pandangan yang melihat hubungan antara filsafat dan weltanschauung. Latif (2015: 35) merangkumnya sebagai berikut:
a. Weltanschauung berbeda dengan filsafat.
b. Weltanschauung adalah mahkota filsafat. Weltanschauung adalah manifestasi tertinggi filsafat.
c. Weltanschauung berdampingan dengan filsafat.
d. Weltanschauung menjadi induk filsafat.
e. Weltanschauung sebagun (sama) dengan filsafat.
Latif (2015, 32-36) mencatat bahwa Soekarno memposisikan Pancasila sebagai ideologi yang berasal dari pandangan hidup rakyat Indonesia. ―Pancasila sebagai pandangan hidup/pandangan dunia (weltanschauung) bangsa Indonesia hendak
54
dijadikan ideologi nagara‖. Posisi ini mirip dengan posisi yang dikonsepkan oleh Engels. Bahwa ideologi adalah weltanschauung yang diorientasikan dan disistematisasikan secara ilmiah-filosofis bagi operasional pemerintahan Indonesia.
Weltanschauung yang demikian menjadi weltanschauung yang ilmiah (scientific worldview). Di antara pandangan hidup bangsa Indonesia adalah menempatkan Tuhan atau yang adi kodrati sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup manusia Indonesia. Hal ini terbukti adanya banyak peninggalan yang bernuansa religi, misalnya di zaman Megalitikum terdapat menhir, punden berundak-undak di Pasemah (wilayah antara Palembang dan Jambi), candi Borobudur, dan seterusnya. Pandangan hidup yang menempatkan Tuhan atau yang adi kodrati sebagai kutub yang penting dalam tatanan kehidupan masyarakat Indonesia menandakan nilai-nilai ketuhanan menjadi ‗pemandu‘
dalam menjalani kehidupan. Implikasi cara pandang demikian dapat dilihat dari aktivitas keduniawian (politik, sosial, ekonomi) sebagian besar masyarakat Indonesia yang selalu menghubungkannya dengan dunia adi kodrati atau Tuhan. Dalam konteks, antropologis-sosiologis, berbagai ragam keyakinan tersebut adalah hidup berdampingan dan tidak menjadi hambatan dalam berhubungan dengan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa manusia Indonesia betul-betul menjaga hidup dalam keharmonisan (Kaelan, 2002: 48).
Demikian pula pada wilayah kemanusiaan, pengakuan atas sifat kodrat manusia sebagai individu dan sosial telah dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Sebagai makhluk individu, manusia mempunyai hak-hak yang sederajat dengan lainnya, sementera sebagai makhluk sosial itu terkait dengan hubungannya dengan manusia lain. Hubungan sosial masyarakat Indonesia sejak dulu tidak membedakan satu dengan lainnya, meskipun tidak dengan masyarakat pribumi, yakni dengan komunitas Arab, Tionghoa, dan India.Bukti historis mengenai hal ini dapat dilihat pada masa kerajaan Sriwijaya yang telah mengakui bahwa di dunia terdapat bangsa lain secara sederajat. Dalam sebuah buku yang berjudul Iching, dijelaskan tentang berbagai bekerjasama masyarakat pribumi dengan bangsa lain seperti Cina, Birma di Universitas Nalanda. Perwujudan kerjasama juga terjadi dengan bangsa India, Cina dan Arab. Filsafat hidup bangsa memandang manusia sebagaimana ia sebagai manusia, karena ia adalah manusia (Immanuel Kant), bukan sebagai lainnya, bukan sebagai obyek di luar dirinya yang harus dieksplotasi. Pandangan filosofis inilah yang bisa menjadi modal dasar untuk bisa
55
berhubungan dengan yang lain, the others, meskipun berbeda dari sisi etnis, social, budaya bahkan agama (Kaelan, 2002: 48-49). Titik sentral manusia dalam filsafat hidup bangsa Indonesia tidaklah tenggelam dan sekaligus tidak menonjol. Di antara kutub Tuhan dan manusia terdapat keseimbangan tanpa saling mendominasi satu dengan yang lain. Inilah filsafat hidup yang terkristal dalam Pancasila
Cita-cita dan kesatuan tercermin dalam berbagai ungkapan dalam bahasabahasa daerah di seluruh nusantara sebagai budaya bangsa, seperti atau ungkapan ‗tanah air‘
sebagai ekspresi pengertian persatuan antara tanah dan air, kesatuan wilayah yang terdiri dari pulau-pulau, lautan dan udara: ‗tanah tumpah darah‘ yang mengungkapkan persatuan antara manusia dengan alam sekitar, persatuan antara orang dan bumi tempat tinggalnya. Ungkapan-ungkapan tersebut mempunyai kekhasan tersendiri bagi bangsa Indonesia dan tentu saja mempunyai makna khas pula. Pengalaman kesejarahan bangsa Indonesia dalam merebut ‗tanah tumpah darah‘ memberi pesan akan pentingnya persatuan antar berbagai ragam suku, bahasa, dan bahkan dengan ‗tanah‘ yang dipijaknya. Cita-cita persatuan dan kesatuan ini dalam sejarah bangsa Indonesia juga terungkap bahwa sejarah mencatat adanya kerajaan yang dapat dikelompokkan bersifat nasional, yakni Sriwijaya dan Majapahit (Kaelan, 2002: 49). Persatuan bukan hanya slogan semata, persatuan justru harus dibangun dalam bentuk kerja-kerja praksis kebudayaan, seperti pada ‗gotong royong‘, ‗siadapari‘, ‗masohi‘, ‗sambatan‘, ‗gugur gunung‘, dan sebagainya mengungkapkan 141 cita-cita kerakyatan, kebersamaan dan solidaritas sosial. Berdasarkan semangat gotong royong dan asas kekeluargaan negara tidak mempersatukan diri dengan golongan yang terbesar atau bagian yang terkuat dalam masyarakat, baik politik, ekonomis, maupun sosial kultural. Negara menempatkan diri di atas golongan dan bagian masyarakat, dan mempersatukan diri dengan seluruh lapisan masyarakat. Rakyat tidak untuk Negara, tetapi Negara untuk rakyat sebab pengambilan keputusan selalu berdasarkan musyawarah mufakat, seperti yang dilakukan dalam rembug desa, karaptan nagari, kuria, wanua, banua, nua (Kaelan, 2002: 49). Dalam hal ini, negara yang kadang berambisi untuk menyeragamkan, adanya perbedaan justru harus meletakkan keragaman itu sebagai potensi untuk dikelolo dan dikembangkan untuk menjadi kebudayaan nasional.
56
Selanjutnya, hubungan antara hak, kewajiban serta kedudukan yang seimbang itu merupakan cita-cita keadilan sosial. Ide tentang keadilan sosial ini bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia. Cita-cita akan masyarakat yang gemah ripa loh jinawi tata tentrem karta raharja, serta ajaran milinarisme dan messianime yang menyatakan bahwa masyarakat adil dan makmur akan terwujud dengan datangnya ‗Ratu Adil‘ (Kaelan, 2002: 50). Kedatangan ‗ratu adil‘ itu bukanlah datangya ‗sosok‘ itu sendiri, tetapi keadilan itu hadir jika telah dilakukan penegakan hukum, kedaulatan dan mandiri.
57 BAB IV PENUTUP 4.I Kesimpulan
Sebagai ilustrasi penting untuk mengakhiri modul ini, kami gambarkan dilema manusia ketika berhadapan dengan ilmu dan teknologi serta moral. Seoran ilmuwan Johan Fredirck Bloenmenbach pada 1800 telah mengumpulkan koleksi tengkorak yang diperolehnya dari temen-temen korenpondensinya dalam kawasan Eropa. Karya Bloenmenbach sama sekali tidak ada unsur untuk mengembangkan rasisme, namun ketika penelitiannya menunjukkan bahwa ukuran tengkorak orang Jerman lebih besar.
Setelah tradisi kelimuan lenyap dan hadirlah Hitler pada tahun 1933 mengumandangkan tingginya suku Arya dibanding bangsa lain, maka ilmuwan sejati seperti Born, Albert Einstein, Sigmund Freud, Leo Scilard, Arturo Toscanini, Bruno terdiam, karena diancam oleh konsep kemunduran kebudayaan. Ini berarti bahwa konsep pengetahuan kemanusiaan bersifat pribadi dan bertanggung jawab dengan untaian penjelajahan pada batas ambang ketidakpastian yang tiada akhirnya.
Gambaran ini menunjukkan manusia yang selalu dilema dalam mengahadapi ilmu, teknologi dan kemanusiaannya. Dilema manusia ini memiliki dua dimensi.
Pertama, bahwa tujuan menghalalkan semua cara, yang adalah suatu filsafat tekan tombol dan menjadikan kita tuli untuk penderitaan manusia lain, sehingga menjadi monster mesin perang. Kedua, dogma bangsa yang menjadikan kita buta kuasa yang dengan semaunya mengunakan hasil-hasil teknologi untuk menyerang bangsa 281 lain, Irak menjadi korban secara langsung dari perkembangan ilmu dan teknologi. Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa ilmu bukankah ilmu adalah bentuk pengetahuan yang sangat human.Kondisi dilema ini setidaknya dapat diselesaikan melalui dua cara. Pertama, mengkaitkan kembali hubungan antar berbagai disiplin keilmuan yang selama beberap dekade begitu renggang akibat nalar penggolongan, spesialisasi dan positivisme justru telah membuat ilmu kehilangan rujukan transendental dan kering dari dimensi etis.
Model interkoneksitas ini dapat kita ambil dari gagasan Jurgen Habermas. Kedua, mendialogkan antara filsafat, etika dengan ilmu. Yakni, mengusahakan agar percaturan (discourse) antar disiplin ilmu, etika dan filsafat sebagai sarana pengambilan keputusan etis bersama-sama dalam menghadapi masalah-masalah sosial-kemanusiaan yang dewasa ini semakin mendesak untuk diberikan solusinya.
58
DAFTAR PUSTAKA
Al-Jabiri, M. Abid. 2003. Kritik Nalar Arab (1) Formasi Nalar Arab, terj. Imam Khoiri, Ircisod. Jogjakarta
Edwards, Paul. Ed. Encyclopedia of Philosophy, New York: The Macmilan Campany &
The Free Press
eraf, Sonny, 2002, Etika Lingkungan, Penerbit Buku Kompas, Jakarta Gie, The Liang. 1996. Pengantar Filsafat Teknologi, Liberty. Yogyakarta
Habermas, Jurgen. 1971. Knowledge and Human Interests, transl. Beacon Press. Boston Habermas, Jurgen. 1983. Ilmu dan Teknologi sebagai Ideologi, tej. Hasan, LP3ES.
Jakarta
Hardiman, F. Budi. 2003. Melampau Positivistik dan Modernitas, Kanisius. Jogjakarta Haryatmoko, 2003. Etika Politik dan Kekuasaan, Jakarta: Gramedia, 2003.
Kaelan, 2002. Filsafat Pancasila: Pandangan Hidup Bangsa, Yogyakarta: Paradigma Kuswanjono, Arqom, 2013, ―Pancasila Sebagai Sistem Etika‖, Makalah/Modul, belum diterbitkan
Kant, Immanuel. 1788. Critique of Practical Reason. Trans. J.M.D. Meiklejohn. New York: Prometheus Books.
Magnis-Suseno, Franz, 2000. 13 Tokoh Etika Abad ke-20. Yogyakarta: Kanisius.
Verhaak dan R. Haryono Imam, 1989. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Kritis atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu, Gramedia. Jakarta 264