LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis
5 KS-III Plus
1. Keluarga secara teratur dengan sukarela
memberikan sumbangan materiil untuk kegiatan sosial
2. Ada anggota keluarga yang aktif sebagai pengurus perkumpulan sosial/ yayasan/ institusi masyarakat.
Sumber: Data diambil dari sebuah naskah akademis karya Euis Sunarti186
186 Euis Sunarti, “Indikator Keluarga Sejahtera: Sejarah Pengembangan Evaluasi dan Keberlanjutannya”, Sebuah naskah Akademis, Fakultas ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, (2012).
Disertasi 100
c. Aspek dan Indikator tentang Tingkat Kesejahteraan
Dalam pengukuran tingkat kesejahteraan nelayan dalam penelitian ini digunakan kriteria tingkat kesejahteraan dari BKKBN,187 yang disesuaikan dengan kondisi lapangan meliputi yaitu; (1) kebutuhan dasar keluarga; pangan, sandang, papan, kesehatan, Pendidikan, keluarga berencana, (2) kebutuhan psikologis keluarga; agama/religi, pendapatan/penghasilan, (3) kebutuhan pengembangan dari keluarga; interaksi dalam keluarga, informasi dan komunikasi, (4) aktualisasi diri keluarga; interaksi sosial dengan lingkungan, peran dalam masyarakat.
Pendidikan dapat menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat karena pendidikan berkaitan dengan produktivitas.
Orang yang berpendidikan lebih tinggi lebih mampu mengembangkan usaha dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, selain itu dari segi penerimaan teknologi, orang dengan pendidikan tinggi lebih mudah memahami dan menerima teknologi.
Oleh karena itu, tingkat pendidikan dapat dijadikan salah satu indikator untuk menentukan tingkat kesejahteraan karena dengan tingkat pendidikan yang tinggi dapat membentuk masyarakat yang terampil dan produktif sehingga dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan keluarga. Dengan demikian orang yang berpendidikan memiliki ketrampilan dan produktivitas untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
187 BKKBN. Batasan dan Pengertian MDK. (2011). Available at:
http://aplikasi.bkkbn.go.id/mdk/BatasanMDK.aspx. (diakses tgl 15 Maret 2020)
Pascasarjana UIN Walisongo 101 Keikutsertaan dalam program Keluarga Berencana (KB) juga dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesejahteraan dimana keluarga berencana dapat membatasi jumlah anak, dan menurut BKKBN mempunyai 2 anak lebih baik karena manfaat ekonomi keluarga berencana mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga, dengan KB minimal. tidak akan menambah anggota baru dalam keluarga, sehingga keluarga lebih leluasa dalam mengelola biaya kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, perawatan, kesehatan anggota keluarga dan lain-lain.
Penghasilan adalah sejumlah uang yang diterima kepala rumah tangga dalam satu bulan untuk digunakan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penghasilan digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui kesejahteraan seseorang dengan melihat pendapatan perkapita per bulan suatu keluarga.188
Begitu pula menurut BPS (2012), tingkat kesejahteraan rumah tangga sebenarnya dapat diukur dengan tingkat pendapatan dibandingkan dengan kebutuhan minimal untuk hidup layak. Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kabupaten Pati saat ini Rp.
1.891.000,- dapat digunakan sebagai perbandingan indikator pendapatan masyarakat nelayan di Desa Bendar, Juwana, Pati.
Dari beberapa tahapan tingkat kesejahteraan dan indikatornya sebagaimana tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa tingkat
188 Sumardi, Sumber Pendapatan, Kebutuhan Pokok dan Perilaku Menyimpang, (Jakarta : Rajawali, 1992), h. 84 lihat juga dalam teori pendapatan http://ilmuandinformasi.blogspot.com/2013/06/teori-pendapatan.html (diakses tgl 15 Mei 2020)
Disertasi 102
kesejahteraan merupakan sejumlah kepuasan yang diperoleh seseorang dari hasil pemenuhan berbagai kebutuhan hidup, namun tingkat kesejahteraan itu sendiri relatif, karena tergantung besarnya kepuasan yang dirasakan di dalam hati, dan yang dapat diukur dalam realitas empiris adalah seberapa besar seseorang dapat dikategorikan telah memenuhi kriteria indikator kesejahteraan.
d. Hubungan Tingkat Kesejahteraan Terhadap Ketaatan Beragama
Hubungan antara tingkat kesejahteraan dengan ketaatan beragama, merupakan hubungan yang problematik dan timbal balik dua arah, artinya tingkat kesejahteraan berpengaruh terhadap ketaatan beragama, begitu pula sebaliknya ketaatan beragama akan berpengaruh terhadap tingkat kemajuan ekonomi. Ada hubungan antara kedalaman penghayatan agama dan kegairahan dalam kehidupan berekonomi. Orang yang menjalankan syariat agama dalam kehidupan sosial dan pribadinya, maka akan lebih mampu beradaptasi dalam kehidupan ekonomi sehingga memunculkan kesejahteraan dalam kehidupan keluarga. Semakin baik penghayatan dan pengamalan terhadap religiusitas semakin besar kemungkinan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Di satu sisi, bahwa dengan kemapanan ekonomi maka seseorang dapat memiliki sarana prasarana untuk beribadah, menyantuni anak yatim, berzakat infaq dan shadaqoh, berhaji dan
Pascasarjana UIN Walisongo 103 umroh. Di sisi lain, dengan adanya kemapanan ekonomi juga bisa menjadikan sarana perberbuatan nista dan aniaya pada dirinya sendiri;
minum-minuman keras, narkoba, dan maksiat lainnya. Karena itu, uang bisa menjadi solusi untuk sarana beribadah, pembangunan, membangun tempat ibadah, tetapi bisa juga menjadi petaka saat terjadi penyelewengan. Bahkan, penyelewengan ini dapat dilakukan oleh orang yang memiliki ibadah bagus, artinya orang yang rajin beribadah; salat rajin, sudah berhaji, sering umrah, puasa senin-kamis, tapi waktu melihat uang dia juga bisa lupa segalanya, korupsi dilakukannya.
Menurut Wahyudi189 bahwa semakin tinggi tingkat ketaatan beragama seseorang, maka akan semakin rendah tingkat perilaku kejelekan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat ketaatan beragama seseorang, maka akan semakin tinggi tingkat perilaku kejelekannya.
Ahli yang lain yaitu menurut Suhendar 190 bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat religiusitas dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Ketika masyarakat makin memiliki religiusitas yang tinggi, maka kesejahteraan mereka juga meningkat, dan begitu pula sebaliknya, semakin tidak religius seseorang maka ia memiliki sifat yang tidak baik, hubungan dengan saudara, tetangga dan relasi kerja
189 Rodi Wahyudi, “Hubungan Perilaku Korupsi dengan Ketaatan Beragama di Kota Pekanbaru”, Integritas: Jurnal Antikorupsi , Volume 2 Nomor 1 – Agustus (2016): 191-214.
190 Suhendar, “Religiusitas dan Kesejahteraan pada Masyarakat Miskin (di Desa Lubuk Gaung Kecamatan Siak Kecil Kabupaten Bengkalis”, Jurnal Jom Fisip, Volume 1 No.2-Oktober (2014): 1-15.
Disertasi 104
juga tidak baik, yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan orang tersebut sehingga jatuh miskin.
Dengan tingkat kehidupan ekonomi yang mapan atau sejahtera maka akan menjadikannya lebih mampu dalam melaksanakan ibadah, atau ajaran agamanya, misalnya kalau dalam agama Islam melaksanakan sholat, dapat membayar zakat, infaq dan shodaqoh, mampu berpuasa, dan melaksanakan haji dan umroh. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat kesekahteraan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat ketaatan beragamanya, artinya seseorang lebih mampu dalam melaksanakan ketaatan dalam beragama.
Tingkat kesejahteraan keluarga menjadi penunjang dari terselenggaranya ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, artinya dengan tingkat kesejahteraan keluarga maka dapat meningkatkan ketaatan beragama pada keluarga tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh Suhendi 191 bahwa harta benda yang dimiliki oleh seorang muslim adalah sekedar titipan dari Allah SWT, dan dipergunakan sesuai dengan hendak Allah SWT. yaitu dalam rangka menjalankan ibadah ritual, ibadah sosial, dan berakhlak budi pekerti yang baik.
Dengan demikian secara teoretis bisa dikatakan bahwa dengan tingkat kehidupan ekonomi yang mapan, maka akan menjadikannya seseorang lebih mampu dan lebih taat dalam melaksanakan ibadah, dan bertaqwa.
191 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Bandung: Gunung Djati Press, 1997), h. 28
Pascasarjana UIN Walisongo 105 Dari beberapa konsep teoretis sebagimana tersebut di atas, maka dapat diduga bahwa semakin tinggi tingkat kesejahteraan seseorang maka akan semakin meningkat pula ketaatan beragamanya.