• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Kondisi Biofisik Sumberdaya

4.3.2. Ikan karang

Sale (1980) menyatakan bahwa srtuktur fisik dari karang batu Scleractenia

berfungsi sebagai habitat dan tempat berlindung bagi habitat karang, dimana beberapa jenis ikan karang menggunakan habitat ini sebagai tempat berlindung

dari predator dan sebagai tempat mencari makan, dimana sejumlah ikan karang memanfaatkan karang secara langsung.

Interaksi ikan karang yang terjadi dalam ekosistem terumbu karang menurut Nybakken (1992) meliputi pemangsaan dan grazing. Ada dua kelompok ikan yang secara aktif memakan koloni karang seperti ikan buntal (Tetraodontidae), ikan kuli pasir (Monochantidae), ikan pakol (Balistidae), ikan kepe-kepe (Chaedontidae) dan sekelompok multivora yang memindahkan polip karang untuk mendapatkan alga didalam kerangka karang atau berbagai invertebrate yang hidup dalam lubang karang (Acanthurida dan Scaridae) Grazing dilakukan oleh ikan- ikan family Siganidae, Pomacentridae, Acanthuridae dan Scaridae yang merupakan herbivore grazer pemakan alga sehingga pertumbuhan alga yang bersaing ruang hidup dengan karang dapat terkendali.

Pengamatan ikan karang difokuskan kepada tiga kategori yaitu ikan target (ikan ekonomis penting yang biasa ditangkap untuk konsumsi), ikan mayor (ikan yang berukuran kecil dengan pewarnaan yang beragam atau dikenal juga sebagai ikan hias) dan ikan indikator (jenis ikan karang yang khas yang mendiami daerah terumbu karang yang menjadi indikator kesuburan daerah ekosistem tersebut).

Dari hasil pengamatan terhadap ikan karang dengan metode UVC (underwater visual cencus) pada 11 titik stasiun ditemukan sebanyak 38 jenis ikan yang mewakili 16 suku dengan total kelimpahan 1.121 individu/transek. Kehadiran ikan mayor merupakan kelompok ikan dengan kelimpahan terbanyak yaitu 950 individu/transek disusul dengan kelompok ikan target sebanyak 158 individu/transek dan ikan indikator sebanyak 13 individu. Ketiga kelompok ikan tersebut masing- masing memiliki nilai perbandingan 73:12:1 artinya dari jumlah 86 individu ikan, kemungkinan ikan mayor ditemukan sebanyak 73 ekor, ikan target sebanyak 12 ekor dan 1 ekor ikan indikator. Jumlah jenis dan suku ikan ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian COREMAP II-LIPI (2008) yang berhasil mengidentifikasi 245 jenis ikan karang dengan 33 suku pada seluruh perairan wilayah Coremap II Kabupaten Tapanuli Tengah. Hasil identifikasi jenis dan suku diseluruh stasiun penelitian disajikan pada Lampiran 4.

Hasil analisis terhadap kelimpahan jenis ikan, diperoleh bahwa ikan dari suku Pomacentridae memiliki kelimpahan yang terbanyak yaitu 637

individu/transek, kehadiran ikan ini hampir ditemukan pada setiap stasiun. Menurut Nybakken (1992) kelompok ikan ini sangat aktif melakukan grazing

pada tutupan terumbu karang. Demikian halnya dengan ikan suku Apogooniddae, Kelimpahan suku ini sebanyak 261 individu/transek. Caesionidae dari kelompok ikan target juga memiliki kelimpahan terbanyak yaitu 51 individu/transek. Jenis- jenis ikan ini tidak selalu hadir pada stasiun pengamatan namun pada stasiun tertentu ikan ini tampak hadir secara berkelompok.

Kehadiran ikan dari kelompok Scaridae tampak hadir pada setiap stasiun demikian halnya dengan Labridae dan Luthjanidae. kelimpahan ikan dari ketiga suku tersebut masing- masing sebanyak 48 individu/transek, 40 individu dan 29 individu. Chaetodontidae yang merupakan ikan indikator kesehatan karang juga selalu dijumpai pada setiap stasiun, meskipun jumlahnya tidak banyak, namun kehadirannya relatif merata pada setiap stasiun pengamatan. Kelimpahan ikan dari suku ini sebanyak 13 individu/transek.

Kelompok ikan dari Pomacanthidae dan Siganidae, yang merupakan salah satu kelompok ikan yang aktif melakukan grazing pada tutupan terumbu karang masing- masing memiliki kelimpahan sebanyak 10 individu/transek dan 9 individu. Kehadiran Pomacanthidae dijumpai diseluruh stasiun, sedangkan Siganidae tidak ditemukan pada dua stasiun yaitu stasiun P02 dan M03. Kelompok Acanthuridae tidak ditemukan pada stasiun M05. Jenis ikan ini memiliki kelimpahan sebanyak 8 individu/transek. Monochantidae juga jarang ditemukan, dimana pada stasiun P02, P03, P04, M01 dan M05 ikan ini tidak ditemukan pada saat pengamatan. kelimpahan ikan ini sebanyak 2 individu/transek. Sedangkan Tetraodontidae memiliki jumlah kelimpahan yang sedikit yaitu sebanyak 1 individu/transek dan kehadirannya sangat jarang dijumpai. Ketiga suku ikan ini merupakan kelompok ikan yang aktif memakan koloni karang (Nybakken 1992).

Kelompok ikan target seperti Mullidae, Haemullidae, Scolopsidae sangat jarang ditemukan dan memiliki kelimpahan yang tidak banyak. Kelimpahan ikan ini masing- masing sebanyak 1 individu/transek. Jumlah kelimpahan individu ikan berdasarkan suku pada masing- masing stasiun penelitian, secara grafik ditunjukan pada Gambar 10.

Gambar 10. Jumlah kelimpahan individu ikan berdasarkan suku

Keanekaragaman ikan yang tinggi disebabkan oleh variasi habitat yang ada di ekosistem terumbu karang seperti daerah berpasir, berbagai lekuk dan celah, daerah alga dan juga perairan yang dangkal dan dalam serta zona yang berbeda melintasi karang. Hasil analisis diperoleh, jenis dan suku ikan pada masing- masing stasiun relatif merata. Hal ini diperkirakan karena seluruh titik sampling pengamatan masih dalam satu kawasan. Jumlah family dan genus serta kelimpahan ikan per stasiun ditunjukan pada Gambar 11

Gambar 11. Jumlah famili dan genus ikan karang di masing- masing stasiun Penelitian

Pada gambar tersebut di atas diketahui bahwa Jumlah famili dan genus ikan terbanyak terdapat pada stasiun P01 dan terendah pada stasiun J01. Hasil identifikasi ini menunjukan adanya hubungan positif antara jumlah ikan dengan kondisi terumbu karang. Semakin bagus kondisi terumbu karang akan semakin tinggi jumlah jenis dan keanekaragaman ikan yang ditemukan. Hasil analisa tutupan karang hidup pada seluruh stasiun penelitian menunjukan bahwa pada stasiun P01 dan J02 termasuk dalam kategori baik dimana persentase karang hidupnya masing- masing 59.73% dan 58.17%. Banyak peneliti berpendapat bahwa tutupan karang hidup mempunyai pengaruh positif terhadap keanekaragaman spesies dan kelimpahan inidividu ikan karang (Carpenter et al. 1982; Chabanet et al. 1997).

Hasil analisis indeks keragaman (H’) ikan karang pada seluruh stasiun pengamatan berada pada kisaran 1.91-2.41. Indeks keseragaman (E) berkisar 0.61-080 dan indeks dominansi berkisar 0.11-0.20. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 24.

Tabel 24. Indeks keragaman, keseragaman dan dominansi ikan karang

Uraian Stasiun dan Kategori indeks

P01 P02 P03 P04 M01 M02 Jumlah Individu 1089 1029 510 572 1028 884 jumlah suku 16 11 11 12 10 15 Jumlah Jenis 28 22 19 16 18 24 Kelimpahan ind. 3.11 2.94 1.46 1.63 2.94 2.53 Indeks (H') 2.28 1.97 2.08 2.01 2.32 1.95 Indeks (E) 0.68 0.64 0.71 0.72 0.80 0.61 Indeks ( C) 0.14 0.14 0.15 0.18 0.13 0.20 Uraian M03 M04 M05 J01 J02 Jumlah Individu 1224 1276 1217 1082 2416 jumlah suku 12 15 13 12 15 Jumlah Jenis 17 27 23 16 26 Kelimpahan indi. 3.50 3.65 3.48 3.09 6.90 Indeks (H') 1.91 2.18 2.09 2.03 2.41 Indeks (E) 0.67 0.66 0.67 0.73 0.74 Indeks ( C) 0.20 0.15 0.17 0.16 0.11

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa ikan karang diseluruh stasiun penelitian memiliki keragaman sedang, artinya penyebaran jumlah individu tiap jenis ikan sedang dan hal ini menunjukan bahwa kestabilan komunitas sedang serta tekanan ekologi tidak terlalu buruk. Dari segi keseragaman terlihat bahwa terdapat 10 stasiun memiliki keseragaman yang sedang kecuali stasiun M01 yang termasuk dalam kategori keseragaman tinggi. Artinya selain stasiun M01 menunjukan bahwa ada kecenderungan penyebaran individu tiap jenis dalam suatu area adalah sama atau tidak terlalu jauh berbeda. Sedangkan hasil analisis terhadap dominansi menunjukan nilai indeks dibawah 0.50 untuk seluruh stasiun penelitian yaitu berada pada kisaran 0.11-0.20 yang artinya bahwa tidak ada satu jenis ikan karang yang mendominasi suatu area. Kondisi ini cukup baik bagi habitat dan memungkinkan ikan karang tidak terjadi perebutan ruang dan makanan, sehingga kestabilan ekologi tetap terjaga.

Dokumen terkait