• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Implikatur Iklan OS Telkomsel, XL, dan Axis

4.4.1 Iklan Telkomsel

Implikatur dalam iklan Telkomsel berjudul Sahur I(kartu data 001) bertujuan agar masyarakat mematuhi norma yang telah ada. Norma tersebut yakni, makan sahur secukupnya, tetapi di sisi lain OS ini mengatakan bahwa dalam melakukan komunikasi (telepon dan SMS) boleh sepuasnya.

Kata Ekstra Ampuh adalah sindiran terhadap operator lainnya yang mempunyai jargon yang sama, yaitu OS XL. Telkomsel sengaja menggunakan kata tersebut agar masyarakat bisa membandingkan dan mengetahui bahwa kartu As yang paling murah dibandingkan dengan OS XL. Pemilihan diksi tersebut mencoba untuk membatasi cakrawala masyarakat. Telkomsel benar-benar ingin memposisikan produknya lebih unggul dari produk lainnya.

Kata 24 Jam mempunyai tujuan untuk membuat penekanan mengenai tarif Kartu AS. Kata 24 jam akan berbeda daya perlokusinya dengan kata seharian. Diksi tersebut membatasi dan mengklasifikasikan pemahaman masyarakat bahwa tarif kartu As dapat digunakan dalam kurun waktu yang bebas. Berbeda dengan penggunaan kata seharian, masyarakat akan dibuat bingung dengan rentang waktu yang digunakan. Dalam pemikiran OS penggunaan angka yang terperinci lebih menarik daripada menggunakan kata ganti semisal seharian.

Gratis ribuan SMS menunjukkan adanya penonjolan makna, yakni penggunaan kata ribuan yang digambarkan sebagai kelebihan yang tak tertandingi. Umumnya paling banyak orang SMS hanya berkisar 100-200 SMS/hari. Kata ribuan menunjukkan bahwa masyarakat bebas untuk

menggunakan kartu As sepuasnya, tanpa khawatir akan dibatasi dengan berapa jumlah SMS yang maksimal dikirim setiap hari.

Selain permainan diksi, dalam iklan tersebut dapat terlihat bahwa Telkomsel menganjurkan masyarakat untuk sahur secukupnya, tetapi boleh menggunakan SMS dan telepon sepuasnya. Meskipun Telkomsel mencoba untuk menempatkan sesuatu pada normanya, namun penggunaan kata SMS dan telepon sepuasnya adalah sebuah antiklimaks dari norma tersebut. Iklan tersebut menggambarkan seakan-akan kartu AS bebas digunakan tanpa khawatir kemahalan.

Selain pemilihan diksi, Telkomsel mencoba untuk menyindir OS lainnya dengan penggunaan simbol-simbol warna. Telkomsel beranggapan bahwa masyarakat mengetahui simbol-simbol tersebut sebagai identitas tiap OS. Misalnya, kartu AS identik dengan merah dan kartu XL identik dengan warna biru.

Kata bonus nelpon 200 menit yang ada iklan tersebut mempunyai latar warna biru, artinya masyarakat dibatasi pandangannya dan mengharuskan kata tersebut tersebut adalah tarif OS XL. Kemudian kata bonus nelpon 200 menit yang berlatar belakang warna biru diganti dengan kata bonus nelpon 300 menit yang berlatar belakang merah. Hal tersebut memposisikan masyarakat agar mengganggap bahwa kartu AS yang memberikan bonus telepon lebih lama dan tentunya lebih murah.

Diakhiri tayangan iklan tersebut, Telkomsel mencoba untuk mengolah diksi dengan rima yang menarik, yakni “Ramadhan berkah dengan pilihan paling murah, Alhamdullilah”. Kata berkah disandingkan dengan kata murah, seakan-akan dengan tarif murah kartu AS dapat membawa berkah bagi masyarakat penggunanya. Kejelian pemilihan diksi tersebut kemudian diakhiri dengan kata Alhamdullilah.

Telkomsel dalam iklan tersebut mencoba untuk menempatkan norma yang berkembang di masyarakat dan menyandingkannya dengan tarif murah yang di usung oleh Kartu AS.

b) Testimoni Sule

Implikatur dalam iklan Telkomsel berjudul Testimoni Sule yakni keberpihakan Sule terhadap kartu AS. Sule melakukan testimoni kepada masyarakat bahwa produk yang telah dipilihnya dulu (OS XL) adalah pembohong, dan hanya kartu AS yang benar-benar murahnya.

Kata tobat mengindikasikan bahwa Sule secara tidak langsung kapok dan merasa dibohongi oleh OS yang pernah ia gunakan sebelumnya. Kini ia menyadari kesalahannya dan langsung menggunakan OS Telkomsel sebagai pengganti OS XL. Tujuan Telkomsel dalam iklan tersebut adalah menjatuhkan OS XL dan memposisikan Telkomsel sebagai produk paling murah di masyarakat.

“Beneran murahnya. Nelpon Rp 25/menit dari menit pertama” adalah iklan dari OS XL. Kemudian oleh Telkomsel diplesetkan dan disindir menjadi “Paling murah Rp 20/menit langsung dari menit pertama. Jujur dan transparan”.

Penggunaan susunan kalimat yang sama tidak hanya menyindir OS XL, tetapi menempatkan XL dengan tarif yang lebih mahal dari Telkomsel. Jujur dalam kalimat tersebut berarti tidak bohong dan transparan berarti apa adanya tanpa ditutupi. Pemilihan diksi tersebut secara tidak langsung menuduh XL berbuat kebohongan dan tarif yang tidak transparan mengenai produk yang ditawarkannya.

Kata pagi, siang, dan malam merupakan penonjolan dan perincian tarif yang ditawarkan oleh Telkomsel. Tujuan tuturan tersebut mempertegas bahwa tarif murah Telkomsel bisa digunakan kapan saja, pagi, siang, dan malam. Berbeda jika Telkomsel menggunakan kata seharian. Seharian mempunyai makna yang multitafsir yakni masyarakat akan kebingungan kapan tarif tersebut dimulai dan kapan berakhirnya. Pada akhirnya kata pagi, siang, dan malam mempunyai daya perlokusi yang lebih dibandingkan dengan penggunaan kata seharian.

“Ternyata kartu AS yang paling murah langsung dari menit” pertama adalah tuturan penyesalan yang Sule utarakan. Sule menyatakan kartu AS merupakan OS yang paling murah, hal tersebut kemudian dipertegas dengan dengan kalimat lanjutan dari menit pertama. Telkomsel beranggapan bahwa kebanyakan tarif OS akan murah setelah beberapa menit melakukan panggilan

telepon. Berbeda dengan Telkomsel yang tarif murahnya langsung dari menit pertama.

Kata Gak ribet, gak dibates-batesin mempunyai makna bahwa Telkomsel

adalah OS yang mudah dan tidak susah untuk digunakan. Tarif murah yang diusungnya tidak seperti OS lainnya.

Di akhir iklan tersebut, Sule menegaskan dengan mengatakan Saya kapok diboongin sama anak kecil. Tuturan tersebut bermakna Sule telah ditipu dan dibohongi oleh OS sebelumnya, yakni OS XL. Kata anak kecil adalah sindiran terhadap bintang iklan XL yaitu Baim. Jika diperhatikan secara keseluruhan sindiran OS Telkomsel terhadap OS XL dilakukan secara terang-terangan. Di akhir iklan, Telkomsel lagi-lagi mencoba untuk menyindir OS saingannya yaitu XL. Berikut kutipan yang menyindir operator XL,

Rianty : Siapa sih yang ada jam malamnya om Sule?

Sule : (Sttt) Entar ada yang marah(Diiringi suara tertawa Klanting).

Sule menyindir operator lain yang dianggapnya akan marah dan masih menggunakan jam malam. Pada tahap ini masyarakat diarahkan untuk membentuk opini, ”Mengapa masih menggunakan operator XL yang ada jam malamnya, mendingan menggunakan OS Telkomsel yang murahnya kapan saja”. Sindiran bagi OS dianggap cara ampuh untuk memperkenalkan dan menarik konsumen sebanyak-banyaknya.

c) Cek 123

Implikatur dalam iklan berjudul Cek 123 (kartu data 004) adalah Ajakan Sule kepada pengguna OS untuk menggunakan kartu AS dan meninggalkan operator lain yang menggunakan tarif murah tetapi dengan kualitas pelayanan yang lambat. OS yang dimaksud adalah OS saingannya yaitu OS XL.

Di awal iklan Sule menampakan kekesalan terhadap lawan tuturannya, lantas ia menjawab cek 123 mulu, kelamaan, langsung aja. Cek 123 merupakan nomor layanan kartu XL untuk pengecekan pulsa dan pelayan konsumen OS XL. Telkomsel menampilkan diksi cek 123 karena beranggapan bahwa produknya tidak selambat dan serumit menggunakan OS XL. Ada marjinalisasi makna dalam iklan tersebut, yakni menggunakan jargon OS lain dan menyindirnya untuk meningkatkan daya perlokusi bagi iklan tersebut.

Kecenderungan iklan OS Telkomsel yang membatasi pandangan publik, dianggap sebagai cara ampuh untuk mendapatkan pelanggan baru. Sindiran bagi OS Telkomsel adalah bagaimana menemukan kelemahan dari OS lainnya dan dipublikasikan ke masyarakat sehingga membentuk sebuah opini bahwa OS Telkomsel yang paling murah.

Untuk menguatkan daya perlokusi dari iklan tersebut, Telkomsel sengaja menampilkan sosok anak kecil berpakaian biru yang bertanya kepada Sule “Kartu AS paling murah ya Om Sule?”. Pertanyaan tersebut mengindikasikan adanya penyudutan tokoh dari iklan lain. Sepintas penyudutan tersebut dianggap tidak etis, namun di sisi lain justru bentuk kreatifitas bagaimana sebuah iklan

memengaruhi masyarakat. Maksud anak kecil yang menanyakan kartu As yang paling murah bertujuan menanamkan kesan bahwa kartu XL yang digunakan terlalu mahal. Hal tersebut diperkuat dengan jawaban Sule yang terkesan meledek pertanyaan anak kecil tersebut. Anak kecil sengaja menggunakan baju untuk mengindikasikan bahwa warna biru identik dengan kartu XL.

Teknik marketing lain yang digunakan dalam suatu promo iklan yaitu adanya pengklasifikasian makna. Klasifikasi tersebut dalam artian mengaburkan makna sesungguhnya dan diganti dengan makna yang menurut pengiklan cukup menarik untuk menarik perhatian. Misalnya dalam iklan tersebut, Telkomsel secara terang-terangan mengatakan nelpon nol rupiah, padahal kenyataannya merupakan bentuk layanan gratis yang bisa digunakan setelah melakukan pengeluaran pulsa dengan nominal tertentu.

Ada perbedaan yang cukup mendasar ketika orang mendengar kata nelpon gratis dengan nelpon nol rupiah. Daya perlokusi bagi masyarakat tentu saja nelpon nol rupiah. Pemunculan nilai nominal angka dianggap cara ampuh daripada menggunakan diksi gratis. Bahwa masyarakat seakan-akan mempunyai kebebasan dalam menggunakan tarif telepon, padahal kenyataannya justru tidak demikian.

d) Kurcaci

Implikatur dalam iklan Telkomsel berjudul Kurcaci untuk menyindir kartu XL yang dianggap OS Telkomsel mempunyai tarif yang terlalu mahal. Iklan ini

hadir sebagai bentuk balasan kepada OS XL dengan iklan berjudul ketagihan SMS.

Garis besar cerita tidak jauh berbeda dengan dongeng putri salju yang beredar di masyarakat. Jika dalam dongeng, Putri Salju pingsan karena racun yang diberikan oleh penyihir tua, dalam iklan Kartu As ini putri salju pingsan karena telepon mahal. Kemudian sang pangeran (Sule) tidak memberikan ciuman bibir untuk membuat Putri Salju siuman, tapi kartu perdana As yang dibawanya. Dalam adegan ini ada adegan sindiran yang dilakukan Sule, yaitu tuturan “..Kesurupan Setan Mahal” dan “Gak nakut-nakutin” Siapapun yang melihat iklan tersebut, tentu akan menuju pada iklan XL versi “Kuntilanak Korban Ketagihan SMS”.

Telkomsel mencoba membentuk opini masyarakat bahwa produknya memang murah, hal ini terlihat dari penggunaan kalimat “nelpon nol rupiah beneran pagi, siang, dan malam” . Penggunaan nol rupiah adalah bentuk pengaburan makna sebenarnya, padahal kenyataannya merupakan bentuk layanan gratis yang bisa digunakan setelah melakukan pengeluaran pulsa dengan nominal tertentu.

Kata pagi, siang, dan malam merupakan penonjolan dan perincian tarif yang ditawarkan oleh Telkomsel. Tujuan tuturan tersebut mempertegas bahwa tarif murah Telkomsel bisa digunakan kapan saja, pagi, siang, dan malam. Berbeda jika Telkomsel menggunakan kata seharian. Seharian mempunyai makna yang multitafsir yakni masyarakat akan kebingungan kapan tarif tersebut dimulai

dan kapan berakhirnya. Pada akhirnya kata pagi, siang, dan malam mempunyai daya perlokusi yang lebih dibandingkan dengan penggunaan kata seharian.

Diksi lain yang menarik adalah penggunaan kata ke semua operator. Diksi tersebut mencoba untuk memajukan mempertegas maksud dari kelebihan menggunakan OS Telkomsel. Ke Semua operator berarti mempunyai akses tak terbatas dan dapat menggunakan tarif tersebut ke operator mana saja tanpa ada batasan. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Sule gak ribet, gak nakut-nakutin. , Gak nakut-nakutin mempunyai arti bahwa masyarakat yang menggunakan OS Telkomsel tidak akan membuat konsumen pusing dengan tarifnya.

4.4.2 Iklan XL

a) Ketagihan SMS

Implikatur dalam iklan XL berjudul Ketagihan SMS (kartu data 006) bertujuan untuk membuktikan bahwa gratis SMS dari kartu XL tidak ada matinya. Hal ini diperkuat dengan kemunculan kuntilanak yang ketagihan SMS dari XL. Ikon Kuntilanak dalam iklan sebenarnya hanyalah seorang wanita biasa yang dengan asiknya sedang melakukan SMS.

Wanita dalam iklan tersebut diposisikan sebagai korban ketagihan SMS. Saking murah dan asiknya menggunakan OS XL wanita tersebut lupa diri dan seakan-akan seperti Kuntilanak. OS XL mencoba meyakinkan masyarakat bahwa SMS kartu XL benar-benar gratis dan mudah untuk digunakan.

Penggunaan kata Gratis 100% sebenarnya adalah sebuah pemborosan kata. Gratis tentu saja adalah murni 100% tanpa bayar, kalau sekiranya kurang dari 100% dapat dikatakan bukan hal yang gratis. XL berpandangan bahwa tidak cukup menggunakan kata gratis, mengingat kata tersebut sering dan masyarakat sudah bosan mendengarnya. Pemilihan diksi 100% memperkuat makna gratis yang telah XL tawarkan. Penguatan makna lain adalah penggunaan kata gak ada batas. Dengan adanya diksi gak ada batas, masyarakat akan tertarik menganggap bahwa memang tarif SMS OS XL benar-benar gratis.

Diksi 100% dan gak ada batas bisa menjadi tolak ukur bahwa satu kata tidak bisa membuat satu makna yang utuh, terlebih iklan mengharuskan daya perlokusi yang kuat. Jika kata-kata tersebut hanya XL gratis SMS, mungkin daya perlokusinya dianggap biasa dan kurang. Oleh karena itu penggunaan pleonalisme dianggap hal yang penting bagi OS XL dalam mengiklankan produknya ke masyarakat.

b) Beneran Murahnya

Implikatur dalam iklan XL berjudul beneran murahnya (kartu data 007) bertujuan untuk tarif XL jujur dan tidak membohongi masyarakat. Kejujuran ditandai dengan menampilkan tokoh anak kecil, yang secara tidak langsung bisa masyarakat bahwa anak kecil identik dengan kepolosan dan kejujuran.

Iklan tersebut menggambarkan seorang anak kecil yang dengan jujur dan polosnya mengatakan hal yang sebenarnya. Berikut kutipan mengenai iklan tersebut,

Sule : Gimana Im, Om Sule ganteng kan? Baim : Jelek!

Sule : Nih (memberikan permen), Om Sule ganteng kan?

Baim : Dari pertama, Om Sule itu Jelek. Dari pertama kalau Rp. 25 XL, murahnya beneran.

XL mencoba membangun persepsi masyarakat bahwa kejujuran dalam promosi iklan OS itu sangat penting. Hal tersebut mengingat banyak OS yang mengaburkan makna sebenarnya, seakan-akan yang diiklankan jujur sepenuhnya. XL berpendapat OS lain semisal Telkomsel, tidak jujur dalam mengiklankan tarifnya.

Baim digambarkan sebagai anak kecil yang polos dan jujur, ketika ia diminta oleh Sule untuk mengatakan bahwa Sule itu ganteng, ia menolaknya. Baim justru mengatakan hal yang sebenarnya yakni Sule itu jelek. Tuturan lainnya adalah ketika Baim di desak oleh Tia untuk mengatakan bahwa Tianya lagi tidur. Baim justru mengatakan hal sebaliknya.

Tuturan “Seakrab Baim sekabrab XL” mengindikasikan bahwa XL mencoba membangun persepsi publik bahwa kearaban seseorang itu tergantung dari bagaimana komunikasi dijalin. Akrab dapat diartikan juga sebagai intentitas komunikasi antara individu. Untuk menunjang hal tersebut, XL menawarkan tarif murah, sehingga masyarakat mampu untuk berkomunikasi dengan orang lain tanpa ada batasan dan tentunya dengan tarif murah.

XL menawarkan tarif 25/menit. Bagi OS ini, tarif tersebut diklaim sebagai tarif termurah dan tidak menyusahkan penggunanya. Lebih jauh lagi XL menawarkan kejujuran dalam penggunaan tarifnya, yakni benar-benar murah. Namun hal tersebut dibantah oleh Telkomsel, bahwa tarif XL masih mahal. Telkomsel kemudian menyindirnya dengan kemunculan iklan berjudul testimoni Sule, Cek 123, dan Jam malam.

c) 1000 SMS Versi Sulap

Iklan XL berjudul 1000 SMS Versi Sulap (kartu data 008) bertujuan untuk menyindir OS Telkomsel mengenai tarif SMS dan iklannya berjudul cek 123. Dalam iklan tersebut tampak seorang pesulap yang akan melakukan aksi sulap. Pesulap itu mengeluarkan dua gelas, yang satu berwarna merah yang itu Telkomsel dan yang satu lagi berwarna melakukan aktraksi sulap sekaligus mengatakan OS mana yang murah, OS XL atau OS merah(Kartu AS). Iklan tersebut kemudian dipertegas perlokusi menyarankan, yakni ketika Baim mengatakan “Yang lain bikin kapok, Baim kan udah bilang XL yang paling murah.”

d) Pembasmi Serangga

Iklan XL berjudul pembasmi serangga (kartu data 009) bertujuan memengaruhi masyarakat mengenai tarif murahnya. XL menampilkan sosok pengemis yang identik dengan kemiskinan. Namun, dalam iklan tersebut pengemis justru bisa nelpon dengan kartu XL. Hal ini membuktikan bahwa XL paling murah, pengemis saja bisa nelpon, masa masyarakat biasa tidak?

e) Sumpah Kambing

Implikatur dalam iklan XL berjudul Sumpah Kambing (kartu data 010) bertujuan untuk meyakinkan masyarakat bahwa tarif OS XL memang paling murah. Pria dalam iklan tersebut bersumpah bahwa tidak ada tarif OS lain semurah tarif OS yang dipilihnya. Tetapi kemudian dia salah ketika temannya memberitahukan bahwa tarif OS XL lebih murah.

4.4.3 Iklan Axis

a) Pisang Goreng

Implikatur dalam iklan Axis berjudul pisang goreng (kartu data 011) bertujuan untuk membandingkan tarif OS dan menyindir OS lainnya. Dalam iklan tersebut Axis mencoba menampilkan ikon iklan OS lainnya, yakni Sule untuk kartu AS, Kunti untuk kartu XL, dan Tari untuk mentari. Penampilan sosok anak kecil juga memengaruhi iklan tersebut, yakni barang yang murah coba ditawar lagi. Dengan asumsi yang sama di masyarakat Axis menganggap bahwa layanan yang ditawarkan operator lain masih mahal.

Penggunaan diksi “jangan ditawar” mengindikasikan bahwa Axis mencoba untuk menyindir OS lainnya. Axis beranggapan bahwa tarif OS masih terlalu mahal. Hal ini dipertegas dengan pernyataan ibu-ibu “Tiga ratus lima puluh, boleh nggak?”. Axis pandai memainkan perasaan masyarakat, bahwa orang anak kecil yang kondisinya mengkhwatirkan tega ia tawar. Penawaran tersebut sesungguhnya menantang tarif OS lainnya ketika dibandingkan dengan tarif OS

Axis. Reaksi anak kecil ketika ditawar malah pingsan, mempunyai arti bahwa tarif OS sudah mentok dan tidak bisa murah lagi.

Axis menggunakan diksi ke semua Axis, dibandingkan dengan ke sesama Axis. Tujuan dari pemilihan diksi tersebut yakni menciptakan kesan bahwa jumlah yang banyak bisa memengaruhi pola pikir masyarakat mengenai tarif Axis. Ke semua mempunyai kesan bahwa Axis mempunyai pelanggan yang banyak, sedangkan ke sesama Axis dibatasi oleh diksi ke sesama yang kesannya terlalu kecil.

Axis mencoba untuk membuat klasifikasi dan penonjolan wacana mengenai tarif OS Axis. Axis beranggapan bahwa tarif OS hanya murah ke sesama, sedangkan ke OS lainnya tarifnya akan mahal. Dalam iklan tersebut ikon bintang Axis menelepon OS lainnya, hal ini bertujuan bahwa Axis tidak hanya murah ke sesama tetapi murah juga ke OS lainnya.

b) Bayi Axis Lahir

Implikatur dalam iklan Axis berjudul Bayi Axis Lahir (kartu data 012) bertujuan mengajak masyarakat untuk menggunakan OS Axis karena tarif murahnya tidak harus repot dan terlalu dipikirkan. Hal tersebut tampak dari penampilan seorang suami yang dengan pusingnya memilih tarif rumah sakit yang begitu mahal.

Iklan tersebut menampilkan seorang istri yang akan melahirkan, seorang suami dengan panik akan membawa istrinya ke rumah sakit. Namun, karena ia

bingung memilih tarif rumah sakit yang mahal, akhirnya istrinya lahir dan tak sempat dibawa ke rumah sakit. Jika kita bandingkan hubungan kausal antara tarif rumah sakit, mungkin hanya sebatas hubungan antara mahal dan murah, tetapi hubungan tersebut dapat membuat masyarakat berpikir bahwa kartu Axis benar-benar murah.

Axis mencoba membangun sebuah opini publik, bahwa menggunakan kartu seluler tidak hanya dipandang dari murahnya, tetapi efektifitas dan kemudahan menggunakannya. Adanya ikon seorang suami yang dengan tega memilih tarif rumah sakit mengarahkan pada masyarakat bahwa tarif Axis tidak seperti itu. Ada kemungkinan bahwa penggunaan tarif rumah sakit identik dengan tarif OS lainnya.Pada akhirnya sindiran terhadap OS menjadi tema utama sebuah iklan OS.

Axis menawarkan tarif nol rupiah ke operator mana saja. Pemilihan diksi operator mana saja membentuk adanya pengklasifikasian makna, yakni nomor Axis bisa digunakan ke OS mana saja tanpa ada batasan. Axis sengaja tidak menggunakan diksi gratis, penulis beranggapan bahwa diksi tersebut terlalu multitafsir. Gratis bisa dianggap menjerumuskan manakala tidak ada batasan kapan dan kepada siapa tarif tersebut digunakan.

Slogan yang sering muncul dalam setiap akhir iklan Axis yakni Tinggalkan yang lain pindah ke Axis sekarang. Diksi yang lain adalah OS yang ada di indonesia selain Axis. Penempatan slogan tersebut bisa jadi menambah daya perlokusi bagi Axis dalam memasarkan produknya.

c) Gratisnya Gak Nyiksa

Iklan Axis berjudul Gratisnya gak Nyiksa (Kartu Data No 13) bertujuan meyakinkan masyarakat bahwa tarif OS Axis mudah dan benar murah adanya. Tujuan dari iklan ini sama dengan iklan Axis berjudul Bayi Axis Lahir (Kartu Data 12).

Iklan tersebut menampilkan seorang laki-laki yang tiba-tiba menerima hadiah. Hadiah pertama ia mendapatkan kado berwarna biru, kado tersebut menyimbolkan OS XL. Sebagai balasan dari pemberian kado tersebut, kurir pengantar kado tersebut menamparnya.

Kado yang kedua berwarna kuning. Kuning identik dengan simbol OS Indosat. Sebagai balasan pemberian kado tersebut, kurir pengantar kado tersebut menjambak rambutnya. Adegan terakhir muncul dengan kado ketiga, yakni kado berwarna merah. Warna merah identik dengan OS Telkomsel.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Axis yaitu OS seperti Telkomsel, XL, dan Indosat mengusung tarif murah tetapi menyiksa dan mempersulit pelanggannya. Contoh mempersulit misalnya penggunaan jam malam pada OS XL. Jam malam memberikan setiap penggunanya tarif murah nelpon pada jam-jam tertentu, yakni malam hari, sementara hampir jarang orang melakukan komunikasi di malam hari. Di akhir iklan, Axis menampilkan tulisan, Cuma Axis yang gratisannya gak nyiksa.

d) Hemat

Iklan Axis berjudul Hemat (Kartu Data 014) bertujuan memengaruhi masyarakat mengenai tarif murah Axis yang hematnya bisa mengalahkan tarif OS lainnya. Hemat dalam pandangan Axis berarti meminimalkan segala bentuk pengeluaran oleh karena itu perhatian masyarakat tertuju bahwa hemat bukan

Dokumen terkait