• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

4.1.2 Iklim dan Cuaca kota Semarang

Gambar 4.1 Peta Kota Semarang

(Sumber : https://www.peta-hd.com/2019/01/peta-kota-semarang.html)

4.1.2 Iklim dan Cuaca kota Semarang

Kota Semarang memiliki kondisi iklim tropis dengan tipe iklim menurut klasifikasi Koppen adalah Am (Tropikal Monsunal). Iklim tropis monsunal ini dipengaruhi oleh letak lintang yang cukup jauh dari khatulistiwa sehingga efek ITCZ (hujan tahunan) kurang berpengaruh di Kota Semarang. Iklim monsunal ini juga berpengaruh terhadap pola musim di Kota Semarang secara periodik, yaitu musim kering/kemarau dan musim basah/penghujan. Pola musim di Kota

Semarang disebabkan oleh pergerakan tahunan matahari yang menyebabkan perubahan dan perbedaan tekanan pada wilayah permukaan bumi.

Musim basah/penghujan memiliki periode 6 bulan (Oktober - Maret) meskipun keadaan sering berubah - ubah. Bulan Januari merupakan puncak musim basah dengan rata - rata curah hujan 430 mm dengan suhu rata - rata 27 derajat. Musim basah di Kota Semarang memiliki karakteristik dengan kondisi udara yang hangat dan basah. Musim basah ini terjadi karena adanya aliran massa udara dingin dari Benua Asia bertemu dengan massa udara hangat di sepanjang khatulistiwa, sehingga menimbulkan gumpalan awan dengan kandungan uap air tinggi di kawasan ekuator. Bulan - bulan basah juga merupakan periode penyinaran matahari lebih panjang daripada periode bulan - bulan kering.

Puncaknya pada tanggal 22 Desember dimana terjadi December Solstice (titik balik selatan matahari), yang mana lama panjang hari di Kota Semarang adalah 12 jam 30 menit (lebih panjang 30 menit).

Musim kering/kemaru memiliki periode 6 bulan (April - September) meskipun keadaan dan awal musim sering berubah - ubah. Bulan Agustus merupakan puncak musim kering dengan rata - rata curah hujan 60 mm dengan suhu rata - rata 28 derajat. Musim kering ini memiliki karakteristik kondisi udara yang kering dan terik. Terdapat fenomena yang terjadi ketika musim kering berlangsung di Kota Semarang, yaitu fenomena penurunan suhu udara. Fenomena penurunan suhu udara ini terjadi akibat adanya aliran massa udara dingin dari Australia menuju ke Benua Asia. Aliran massa udara dingin ini terjadi karena adanya pembentukan sistem tekanan tinggi di Australia dan pusat tekanan rendah di Asia sepanjang periode musim kering. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh

pergerakan tahunan matahari dan letak matahari yang saat periode musim kering berada di Belahan Bumi Utara. Suhu udara terendah yang pernah terekam pada bulan Juli 2015 mencapai 18° C. Periode bulan - bulan kering merupakan periode penyinaran matahari lebih singkat dibandingkan bulan - bulan basah. Puncaknya pada tanggal 21 Juni dimana terjadi June Solstice (titik balik utara matahari), yang mana lama panjang hari di Kota Semarang adalah 11 jam 35 menit (lebih singkat 25 menit).

Musim peralihan merupakan periode dimana terjadi pergantian musim, baik basah ke kering maupun sebaliknya. Musim peralihan ini terjadi pada bulan - bulan awal dan akhir baik musim basah maupun kering, yaitu bulan September, Oktober, Maret, dan April. Musim peralihan ini ditandai dengan bulan - bulan lembab yang mana curah hujan bulanan lebih dari 100 mm, namun kurang dari 200 mm.

Karakteristik musim peralihan ini ditandai dengan kondisi udara yang sangat lembab, sehingga menimbulkan efek gerah pada tubuh. Kondisi udara pada musim peralihan sangat ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme, sehingga banyak muncul penyakit, seperti flu, demam, dan penyakit kulit. Bulan - bulan musim peralihan ini disebabkan oleh fenomena kulminasi yang terjadi di Kota Semarang.

Fenomena kulminasi terjadi pada Bulan Oktober akhir dan Bulan Februari pertengahan di Kota Semarang.

Kota Semarang memiliki iklim basah dengan rata - rata curah hujan tahunan sebesar 2.780 mm. Meskipun demikian, curah hujan di Kota Semarang bervariasi, karena pengaruh dari efek topografi yang ada di Kota Semarang. Kota bawah memiliki rata - rata curah hujan tahunan sebesar 2.500 mm, sedangkan Kota atas memiliki rata - rata curah hujan tahunan lebih tinggi sebesar 3.000 mm.

Perbedaan curah hujan ini disebabkan karena efek topografi yang menimbulkan hujan konveksi pada wilayah Kota Semarang. Rata - rata suhu tahunan di Kota Semarang sebesar 28 °C, dengan fluktuasi suhu tidak begitu signifikan dalam setahun. Suhu tertinggi yang pernah terjadi di Kota Semarang adalah 39 °C, dan suhu terendah yang pernah terjadi adalah 18° C. Fenomena suhu panas ini juga dikarenakan adanya fenomena urban heat island di Kota Semarang.

(Sumber :

http://bappeda.semarangkota.go.id/v2/wp-content/uploads/2016/01/.zSDA2014.pdf diakses 20 Mei 2019) 4.1.3 Aspek Ekonomi kota Semarang

Selain sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Tengah dan Kotamadya Semarang, Kota Semarang juga merupakan pusat perdagangan dan bisnis yang termasuk dalam kawasan strategis nasional (KSN). Perananya sebagai pusat perdagangan dan bisnis, Kontribusi ekonomi Kota Semarang cukup besar terhadap perekonomian nasional. Menurut data BPS 2012, PDRB Kota Semarang atas dasar harga berlaku mencapai angka Rp 54,38 triliun. Sebagian besar sektor kegiatan perekonomian yang mendominasi adalah sektor perindustrian dan sektor perdagangan.

Dari tahun ke tahun, pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi ini ditandai dengan meningkatnya jumlah migrasi masuk, penurunan angka pengangguran, dan meningkatnya pembangunan infrastruktur di Kota Semarang. Meskipun pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang kalah saing dengan pertumbuhan ekonomi di Jakarta dan Surabaya, namun iklim bisnis yang kondusif memungkinkan pertumbuhan secara bertahap dan berkelanjutan. Kini, Kondisi perekonomian Kota Semarang juga mulai

ditandai dengan munculnya gedung - gedung pencakar langit yang tersebar di seluruh penjuru Kota Semarang. Menurut data skyscraper, Kota Semarang memiliki 30 gedung dengan ketinggian minimal 12 lantai dan 75 gedung berkisar 7 - 11 lantai. Gedung - gedung pencakar langit ini difungsikan sebagai perkantoran, hotel, dan apartemen. Gedung - gedung pencakar langit ini terkonsentrasi pada wilayah Semarang Pusat (Kawasan CBD Golden Triangle) dan Semarang Selatan (Tembalang dan Banyumanik). (Sumber:

https://semarangkota.go.id/p/1729/laju_pertumbuhan_ekonomi_kota_semarang_te rus_mengalami_peningkatan diakses 20 Mei 2019)

Dokumen terkait