• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

A. CAPAIAN KINERJA DITJEN BINALATTAS

2. IKP-2 : Persentase Peningkatan LSP Berlisensi

Tabel 4.

Pengukuran Indikator Kinerja Program - 2

INDIKATOR

Yang dimaksud dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi adalah lembaga sertifikasi yang telah mendapatkan lisensi yang diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). BNSP merupakan lembaga yang independen dalam melaksanakan tugasnya dan bertanggungjawab kepada Presiden. BNSP dibentuk melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi, dengan tugas melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja untuk berbagai profesi di Indonesia. Dalam mendukung pelaksanaan sertifikasi tersebut, BNSP dapat memberikan lisensi kepada LSP guna melaksanakan sertifikasi kompetensi profesi atas nama BNSP. Lisensi tersebut diberikan setelah 2015

LSP Berlisensi Tahun 2015 : 180 Lembaga LSP Berlisensi s/d Tahun 2015 : 322 Lembaga

2016

LSP Berlisensi Tahun 2016 : 322 Lembaga LSP Berlisensi s/d Tahun 2016 : 644 Lembaga

23

BNSP melakukan penilaian kesesuaian kepada LSP, sesuai dengan ketentuan BNSP.

Cara pengukuran untuk indikator ini adalah jumlah LSP yang telah berlisensi sampai dengan tahun n dikurangi jumlah LSP berlisensi sampai dengan tahun n-1 dibagi dengan jumlah LSP berlisensi sampai dengan tahun n-1 dikali 100%.

Perhitungan realisasi tahun 2016 dilakukan dengan cara jumlah LSP berlisensi sampai dengan tahun 2016 (644 lembaga) dikurangi jumlah LSP berlisensi sampai dengan tahun 2015 (322 lembaga) dibagi dengan jumlah LSP berlisensi sampai dengan tahun 2015 (322 lembaga) dikali 100 %.

Sehingga realisasi IKP-2 Persentase Peningkatan LSP Berlisensi sebesar 100,00 % dan capaian kinerja 172,41 %.

Realisasi pada tahun 2016 mencapai 100,00 %, melebihi dari target 58,00%. Dari sisi capaian target renstra, IKP-2 sampai dengan tahun 2016 sudah berjalan 106,38 % atau melebihi target 94,00 % pada tahun 2019.

Jumlah LSP berlisensi sampai dengan tahun 2016 sebesar 644 lembaga terdiri dari sebanyak 322 Lembaga sampai dengan tahun 2015 dan 322 Lembaga pada tahun 2016. Dengan rincian terdiri dari 80 lembaga yang dicapai dari kegiatan yang didanai oleh APBN Sekretariat BNSP dan 242 yang dicapai melalui fasilitasi Sekretariat BNSP dengan mendorong sektor untuk membentuk LSP. Pencapaian target LSP berlisensi dengan anggaran APBN Sekretariat BNSP, hanya tercapai sebesar 80 % yaitu 80 lembaga, yang seharusnya 100 lembaga disebabkan adanya Self blocking yaitu penghematan belanja Kementerian/Lembaga Tahun Anggaran 2016, berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Langkah-Langkah Penghematan Belanja Kementerian/Lembaga

24

(K/L) Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Tahun Anggaran 2016.

Tahun 2016, LSP berlisensi melalui dana sektor terkait sebesar 242 lembaga. Hal ini disebabkan tumbuhnya kesadaran di masyarakat dan sektor bahwa kebutuhan akan tenaga kerja yang kompeten semakin meningkat sehingga keberadaan LSP berlisensi diberbagai bidang profesi semakin dibutuhkan karena merupakan salah satu infrastruktur dari pelaksanaan sertifikasi kompetensi kerja.

Dari sisi capaian target renstra, IKP-2 sampai dengan tahun 2016 sudah berjalan 106,38 % atau melebihi target renstra 94,00 %. Dengan tercapainya IKP-2 dalam kurun dua tahun renstra 2015-2019, menjadi hal yang sangat menggembirakan, tetapi juga mengandung konsekuensi meningkatnya kebutuhan akan pemeliharaan sistem mutu LSP dan pelaksanaan sertifikasi. Jaminan sistem mutu ini dilakukan melalui kegiatan surveillance yang dalam pedoman BNSP ditetapkan minimal dilakukan sekali setahun pada setiap LSP berlisensi. Diharapkan pada tahun selanjutnya penganggaran pada kegiatan surveillance ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah LSP berlisensi.

BNSP melakukan kegiatan desiminasi, rapat koordinasi, harmonisasi lintas sektor, menghadiri pertemuan bilateral dan internasional dalam rangka mendorong tumbuhnya minat masyarakat dan komitmen sektor untuk mendirikan LSP dan melaksanakan kegiatan sertifikasi kompetensi dibidangnya masing masing. Kegiatan kegiatan tersebut membawa dampak positif dengan meningkatnya kesadaran dan pelaksanaan kegiatan sertifikasi kompetensi kerja di masyarakat dan sektor.

25

Upaya-upaya di atas memberikan hasil, dilihat dari kontribusi dalam pencapaian jumlah LSP berlisensi pada tahun 2016 yang melebihi target yang ditetapkan. Beberapa sektor yang telah mendorong berdirinya LSP di sektornya antara lain Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perindustrian.

Tabel 5

Penyebaran LSP Per Sektor s.d Tahun 2016

NO KEMENTERIAN/

SEKTOR

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

1 Teknologi Informatika dan Komunikasi

17 Pendidikan dan Kebudayaan

3 2 116 236

18 Keamanan 1 1

19 Dalam Negeri 1

Total 13 9 13 17 13 11 18 24 24 180 322

26 Tabel 6

Penyebaran LSP Berdasarkan Wilayah s.d. Tahun 2016

NO PROVINSI JUMLAH LSP melakukan percepatan kompetensi tenaga kerja, agar pangsa pasar tenaga kerja tidak dikuasai oleh tenaga kerja negara ASEAN lainnya. Meskipun begitu, sektor-sektor lain yang tidak masuk prioritas MEA juga akan dilakukan sertifikasi kompetensi. Salah satu cara yang harus dilakukan dalam rangka percepatan sertifikasi kompetensi adalah dengan membangun infrastruktur sertifikasi di semua wilayah Indonesia dimana salah satu infrastruktur tersebut adalah keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi.

27

Pencapaian Tahun 2016 dilakukan melalui kegiatan :

a. Assesmen terhadap Lembaga Sertifikasi Profesi yang mengajukan permohonan untuk diberi lisensi oleh BNSP, setelah melengkapi dokumen-dokumen dan persyaratan lainnya sebagaimana diatur dalam Pedoman BNSP 201 dan 202;

b. Witness (penyaksian uji kompetensi), yang dilakukan setelah asesmen selesai, dan bila ada temuan ketidaksesuain dengan Pedoman BNSP yang terkait telah diperbaiki oleh LSP. Assesmen dan witness terhadap LSP dilakukan oleh asesor lisensi;

c. Pelatihan asesor lisensi untuk memenuhi kebutuhan yang semakin bertambah seiring pertumbuhan LSP berlisensi.

d. BNSP melakukan rapat koordinasi dan harmonisasi dalam rangka mendorong komitmen pembina sektor dan masyarakat untuk mendirikan LSP berlisensi sebagai salah satu infrastruktur pelaksanaan sertifikasi.

Hal ini membawa dampak dengan bertumbuhnya LSP berlisensi tidak hanya mengandalkan dana APBN.

Hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target ini adalah sebagai berikut :

a. Diperlukan perencanaan pelaksanaan kegiatan yang lebih efektif untuk mengatur jadwal pelaksanaan assesmen dan witness mengingat asesor lisensi tidak bekerja full time sebagai tenaga asesor lisensi.

b. Mendorong LSP agar cepat melalukan perbaikan bila ditemukan adanya ketidaksesuaian dengan Pedoman yang terkait.

Solusi yang dilakukan atas hambatan tersebut melalui adalah melakukan koordinasi yang intensif dengan pihak LSP yang akan di asesmen dan witness dengan tim asesor lisensi agar jadwal bisa sinkorn, sehingga proses asesmen dapat berjalan tepat waktu sesuai rencana dan bila ada temuan ketidaksesuaian dapat cepat diproses oleh LSP dan tim

28

asesor lisensi, sehingga periode dari asesmen, witness sampai keluarnya lisensi bisa lebih cepat dan terukur.

Upaya yang dilakukan dalam pencapaian rencana yang akan dilakukan pada tahun 2017, antara lain :

a. Melakukan sosialisasi dan koordinasi ke pembina sektor, pemerintah daerah dan masyarakat agar LSP semakin tumbuh dan berkembang diberbagai profesi di seluruh wilayah Indonesia;

b. Perencanaan pelaksanaan kegiatan yang semakin efisien dan efektif.

Dokumen terkait