V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Implementasi dan Dampak Kebijakan PHBM di Taman Nasional
Implementasi dan dampak kebijakan PHBM di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat disurvey pada tiga desa sampel secara purpossive yang tersebar merata di Utara, tengah dan Selatan Taman Nasional Gunung Ciremai, yaitu Desa Padabeunghar (Kecamatan Pasawahan), Desa Linggarjati (Kecamatan Cilimus) dan Desa Karangsari (Kecamatan Darma).
A. Implementasi Kebijakan PHBM di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
Implementasi kebijakan PHBM terdiri atas beberapa tahapan, yaitu sosialisasi, pembentukan Forum PHBM, pemetaan, inventori, perencanaan desa, NKB, NPK dan Peraturan Desa. PHBM yang mulai diimplementasikan
sejak tahun 2001 di Kabupaten Kuningan telah mencapai hasil-hasil, seperti Tabel 30. Perinciannya dapat dilihat pada Lampiran 6.
Tabel 30. Implementasi kebijakan PHBM di Kabupaten Kuningan tahun 2001-2004
NKB NPK No. Tahun Desa
Desa % Luas (Ha) Desa % Luas (Ha) %
1 2001 3 3 100,00 123,35 3 100,00 123,35 100,00 2 2002 36 26 72,22 11.394,74 5 13,89 281,25 2,47 3 2003 60 39 65,00 8.365,19 3 5,00 296,79 3,55 4 2004 32 11 34,38 971,54 3 9,38 135,75 13,97
Jumlah 131 79 20.854,82 14 837,14
Sumber: LPI-PHBM Kabupaten Kuningan
Fungsi hutan Gunung Ciremai pada NPK di atas ialah hutan lindung dan hutan produksi. Pada akhir tahun 2003 keluar Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 195/Kpts-II/2003 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Provinsi Jawa Barat Seluas ± 816.603 Ha yang merubah fungsi hutan Gunung Ciremai menjadi hutan lindung. Konsekuensi dari perubahan ini ialah NPK yang berbasis kayu, hak bagi hasil masyarakat ditanggung oleh Perum Perhutani. Sedangkan pada areal yang tegakannya jarang dilakukan pengkayaan dengan jenis Multi Purpose Tree Species (MPTS) dan pada areal kosong Perum Perhutani dan masyarakat melakukan rehabilitasi lahan dengan komposisi tanaman hutan dan MPTS sekitar 60-40 sampai 70-30. Kesepakatan di atas dilakukan melalui musyawarah Perum Perhutani dengan masyarakat melalui Forum PHBM Desa.
Implementasi kebijakan PHBM yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan tahun 2005 terdapat pada Tabel 31 berikut.
Tabel 31. Implementasi kebijakan PHBM di Kabupaten Kuningan tahun 2005
No. Kegiatan/Kecamatan Desa
A Pembuatan persemaian 1 Cibeureum Cimara 2 Garawangi Gewok 3 Selajambe Padahurip 4 Hantara Bunigeulis 5 Darma Cimenga 6 Cilebak Cilebak
Tabel 31. (lanjutan)
No. Kegiatan/Kecamatan Desa
B Bantuan dana bergulir sebesar Rp 30.000.000,- 1 Selajambe Kutawaringin 2 Nusaherang Haurkuning 3 Cilimus Linggarjati 4 Garawangi Pakembangan 5 Hantara Citapen C Sosialisasi Taman Nasional Gunung Ciremai
1 Pasawahan Padabeunghar, Kaduela, Pasawahan, Padamatang, Singkup dan Cibuntu 2 Mandirancan Seda, Randobawagirang dan Trijaya 3 Cilimus Cibeureum, Setianegara, Linggarjati,
Linggasana dan Bandorasakulon 4 Jalaksana Sayana, Sangkanherang, Sukamukti
dan Babakanmulya 5 Kramatmulya Pajambon
6 Cigugur Cisantana dan Puncak 7 Darma Gunungsirah, Karangsari dan
Sagarahiang D Pengkajian pengelolaan hutan kolaboratif E Pembinaan fasilitator PHBM tingkat kecamatan sebanyak 100 orang
Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan
Sebelum lembaga resmi dibentuk, BKSDA II Provinsi Jawa Barat ditunjuk sebagai pengelola sementara Taman Nasional Gunung Ciremai dengan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor SK.140/IV/Set-3/2004 tentang Penunjukan BKSDA II Provinsi Jawa Barat sebagai Pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai. Sampai saat ini proses pembentukan lembaga pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai ialah surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor B/1027/M.Pan/4/2006 tentang Usul Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Balai Taman Nasional Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan. Di samping itu, dokumen Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai juga sedang dalam proses penyusunan oleh Universitas Kuningan saat ini.
BKSDA II Provinsi Jawa Barat sebagai pengelola sementara Taman Nasional Gunung Ciremai dalam rangka kegiatan Gerakan Rehabilitasi Hutan
dan Lahan (Gerhan) tahun 2005 telah melaksanakan penanaman dan pengkayaan seluas 400 Ha dengan jenis peutag, huni, salam, puspa, ki hujan dan manglid. Perinciannya dapat dilihat pada Lampiran 7. Selain itu juga sudah disepakati NPK antara Pemda Kabupaten Kuningan dengan BKSDA II Provinsi Jawa Barat dalam bidang pengembangan wisata alam dan pemanfaatan jasa lingkungan Nomor 522.82/678/Hutbun dan S.2150/IV- K.12/2006. Sebagai tindak lanjut dari NPK di atas juga telah disepakati NKB antara BKSDA II Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan tentang Implementasi Sistem PHBM di Taman Nasional Gunung Ciremai Nomor S.950/IV-K.12/2006 dan 8213/18/IV/Des/2006 dan Nota Perjanjian Kemitraan antara BKSDA II Provinsi Jawa Barat dengan Pondok Pesantren Madinatunnajah tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam melalui Pendidikan Konservasi di Taman Nasional Gunung Ciremai Nomor S.901/IV-K.12/2006. Hal ini karena akses masyarakat di dalam kawasan hutan sebelumnya sudah berkekuatan hukum, sehingga perlu adanya kekuatan hukum baru meskipun berganti Pemegang Otoritas Pengelolaan (POP).
Dalam rangka melanjutkan implementasi PHBM, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kuningan tahun 2006 melaksanakan kegiatan Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan dengan rincian, sebagai berikut:
1. Pelatihan lebah madu sebanyak dua kelompok 2. Bantuan dana bergulir sebesar Rp 20.000.000,- 3. Pemberian alat lebah madu sebanyak satu paket 4. Pertemuan teknis pembinaan Forum PHBM
Saat ini sedang dibahas draft Memorandum of Understanding (MoU) yang memayungi kepentingan para pihak di Kabupaten Kuningan dengan Departemen Kehutanan dan juga dibentuk Tim Pengkajian Pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai melalui Keputusan Bupati Kuningan Nomor 522.81/KPTS.251-Dishutbun/2005 tentang Tim Pengkaji Pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai Kolaboratif yang meliputi tiga Kelompok Kerja (Pokja), yaitu Pokja Review Kebijakan, Penyusunan Kelembagaan dan Penyusunan Zonasi. Pokja Kebijakan telah menyusun naskah Nota Kesepahaman antara Direktur Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam dengan Bupati Kuningan tentang Pengelolaan Kawasan Taman Nasional
Gunung Ciremai. Draft Kelembagaan Kolaborasi Taman Nasional Gunung Ciremai tingkat regional, terdiri dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, LSM, masyarakat dan dunia usaha. Sedangkan draft Kelembagaan Kolaborasi Taman Nasional Gunung Ciremai tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, terdiri dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Pemda, masyarakat dan pihak lainnya. Draft model-model zonasi dan kriterianya dinilai dari aspek ekologi, sosial dan ekonomi dengan bentuk-bentuk zona, yaitu zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan (terbatas dan tradisional) dan zona rehabilitasi.
Pendanaan untuk implementasi kebijakan PHBM bersumber dari Pemda Kabupaten Kuningan, Perum Perhutani dan lembaga donor melalui LSM dengan alokasi sebagaimana pada Tabel 32. Dana dari Perum Perhutani untuk menunjang kegiatan penguatan kelembagaan dan tenaga fasilitator. Sedangkan dana dari Pemda Kabupaten Kuningan dan lembaga donor bersifat sinergi untuk penguatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat. Dana dari lembaga donor cukup signifikan dan hal ini sangat membantu karena dana dari Pemda Kabupaten Kuningan baru pada akhir tahun, sehingga pelaksanaan PHBM di Kabupaten Kuningan tidak terhambat. Tabel 32. Dana dari lembaga donor, Pemda Kabupaten Kuningan dan Perum Perhutani untuk implementasi kebijakan PHBM di Kabupaten Kuningan tahun 2002-2005
Tahun (000 Rp) No. Instansi 2002 2003 2004 2005 Jumlah (000 Rp) 1 Lembaga donor 178.000,- 396.000,- 367.000,- - 941.000,- 2 Pemda Kabupaten Kuningan 200.000,- 500.000,- 500.000,- 100.000,- 1.300.000,- 3 Perum Perhutani 368.000,- 200.000,- 70.000,- - 638.000,- Jumlah 746.000,- 1.096.000,- 937.000,- 100.000,- 2.879.000,- Sumber: LPI-PHBM Kabupaten Kuningan
Implementasi kebijakan PHBM pada tiga desa sampel terdapat pada Tabel 33 berikut.
Tabel 33. Implementasi kebijakan PHBM pada tiga desa sampel NPK No. Desa Kecamatan BKPH RPH Tahun NKB (Ha)
Luas (Ha) % 1 Padabeunghar Pasawahan Linggarjati Pasawahan 2002 1.200,46 36,90 3,07 2 Linggarjati Cilimus Linggarjati Setianegara
dan Jalaksana
2003 394,83 42,26 10,70
3 Karangsari Darma Linggarjati Darma 2003 72,63 - -
Jumlah 1.667,92 79,16
Sumber: LPI-PHBM Kabupaten Kuningan
Sedangkan Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam PHBM pada tiga desa sampel terdapat pada Tabel 34 berikut.
Tabel 34. KTH dalam PHBM pada tiga desa sampel No. Desa Kecamatan KTH Anggota Luas
(Ha) Petak Komoditi 1 Padabeunghar Pasawahan Cirendang 33 106,90 1 A, 1 B
dan 1 C Melinjo, pete, pisang dan Kiara 14 42,00 3 C durian Batukuda 94 36,90 5 A Cipelah 30 98,90 11 D Kiamis 20 65,70 11 C Sipanenjoan 15 51,20 4 D, 11 A dan 11 B Silebu 20 64,30 4 A Siliangkerud 14 44,10 4 B Jumlah 240 510,00
2 Linggarjati Cilimus Salam 52 13,05 22 E dan 22 F Jeruk, nilam, pisang dan Sihurang 39 5,00 23 D kopi Sareng Tengah 35 19,15 22 B, 22 C dan 22 E Leuweung Datar 45 12,70 22 D dan 23 B Parigi 27 8,60 23 E Jumlah 198 58,50
3 Karangsari Darma Rimbasari 50 63,45 30, 31 A, 31 B, 31 C, 32 B dan 32 C Sayuran, alpukat, pisang dan kopi Jumlah 50 63,45 Total 488 631,95
Sumber: LPI-PHBM Kabupaten Kuningan
Pada Desa Linggarjati, di samping terdapat PHBM berbasis lahan ada juga PHBM berbasis non lahan dengan kegiatan pengelolaan pendakian Gunung Ciremai sepanjang 11 km, dimana jumlah pendaki sebanyak 9.000- 12.000 orang/tahun. Organisasi yang mengelola jalur pendakian ini ialah Badan Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (BPPGC). Retribusi pendakian Gunung Ciremai ini sebesar Rp 3.000,-/orang dengan pembagian sebagai berikut:
1. Perum Perhutani : Rp 1.250,- 2. Pemda Kabupaten Kuningan : Rp 500,- 3. Asuransi : Rp 100,-
4. Pemerintah Desa Linggarjati : Rp 350,- 5. Pengelola PHBM : Rp 800,-
Di samping itu, di Desa Linggarjati terdapat juga Buper. Buper terdapat juga di Desa Karangsari seluas 1 Ha, selain Situs Kancangan. Potensi wisata terdapat juga di Desa Padabeunghar, yaitu Batu Luhur, Gunung Rangkong dan Situ Ayu Salintang. Namun, potensi berbasis non lahan ini belum dikembangkan dan baru sebatas dalam rencana Forum PHBM Desa dan Pemerintah Desa Padabeunghar karena mengalami kesulitan dengan modal untuk pengembangannya.
Meskipun PHBM sudah dilaksanakan sejak tahun 2001, namun masih ada beberapa permasalahan dalam implementasinya, yaitu:
1. Kelembagaan KTH belum berfungsi secara maksimal
2. Forum PHBM Kecamatan dan Desa belum berfungsi optimal
3. Kemampuan petani dalam budidaya tanaman, baik semusim maupun hortikultura masih terbatas
4. Peran serta instansi yang tergabung dalam Forum PHBM Kecamatan belum maksimal
5. Pembagian wilayah tanggung jawab atau penentuan batas antar desa masih ada yang belum terjalin kesepakatan
6. Pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam pendataan potensi dan merencanakan kegiatan masih terbatas
B. Dampak Kebijakan PHBM di Taman Nasional Gunung Ciremai,