Maskapai penerbangan secara konsisten menerapkan fuel surcharge sebagai salah satu komponen tarif. Berdasarkan keterangan Pemerintah komponen tarif penerbangan terdiri dari :
• Basic fare (Tarif dasar) • IWJR • PPN • Fuel Surcharge 0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 Jan-08Feb -08 Mar-08Apr-0 8 Mei -08 Ju n-08 Jul-0 8 Agus t-08 Sep -08 O kt-08 Nop -08 De s-08 Jan -09 Fe b-09 Mar-09Apr-0 9 Mei-0 9 Jun -09 Ru p ia h
Pemerintah Seharusnya Garuda Lion
Besaran tarif sepenuhnya diserahkan kepada setiap maskapai penerbangan dengan batasan batas atas (di luar fuel surcharge). Pemerintah hanya akan bertindak apabila tarif secara keseluruhan dikurangi dengan fuel surcharge melebihi batas atas tarif yang ditetapkan.
Dalam upaya bersaing, maskapai saat ini menggunakan pricing strategy yang umum dikenal sebagai sub classes strategy. Di mana setiap kursi penumpang memiliki nilai tersendiri yang merupakan representasi dari berbagai variabel yang diperhitungkan oleh maskapai penerbangan sebagai hal yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian. Dalam prakteknya konsumen pada akhirnya mendapati banyaknya variasi tarif untuk kelas yang sama (ekonomi). Maskapai menggunakan prkatek diskriminasi harga yang ditujukan untuk mengoptimalkan upaya meraih keuntungan dengan memaksimalkan daya beli setiap segmen konsumen.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Asosiasi Travel Indonesia (ASITA), diketahui maskapai penerbangan menyampaikan sejumlah model tarif yang terbagi ke dalam beberapa kelas. Sebagai contoh hal ini bisa dilihat dalam grafik di bawah ini.
Grafik 14
Harga Tiket (Termasuk Fuel Surcharge ) Lion Air Rute Medan-Jakarta
-200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 1.400.000 1.600.000 1.800.000 Y A G W S B H K L M N Q T V R upi a h Tarif Batas Atas
Grafik 15
Harga Tiket Mandala (Termasuk Fuel Surcharge ) Rute Medan - Jakarta per Maret 07
0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 1800000 W S Y B G H K L M N O P Q T U V R Z J I Tarif Maskapai Tarif Batas Atas
Gambar di atas memperlihatkan bahwa tarif maskapai penerbangan pada umumnya selalu memenuhi kriteria dibawah batas atas tarif. Tarif baru akan berada di atas batas atas jika ditambahkan dengan fuel surcharge. Dilihat dari definisi ini, terlihat bahwa konsumen hanya dibebani ketika mereka membeli kelas-kelas tertentu kelas B, Y, S dan W untuk Mandala atau kelas G, A dan Y untuk Lion Air.
Tetapi dalam faktanya kemudian maskapai penerbangan juga memberlakukan perlakuan tarif yang berbeda antara saat peak season dan low season. Saat low season, maskapai penerbangan bisa memberlakukan seluruh kelas karena saat itu penumpang cenderung turun. ASITA menyatakan bahwa dalam peak season. Tetapi pada saat peak season, kelas yang dibuka bisa jadi akan sangat sedikit dengan kecenderungan membuka kelas-kelas atasnya dengan tujuan untuk mengeksploitasi konsumen di saat konsumen yang akan menggunakan jasa penerbangan meningkat dengan sangat pesat.
Dalam hal inilah ternyata kemudian fuel surcharge juga memiliki peran yang berbeda bagi maskapai penerbangan di saat peak dan low season. Di saat peak season, maskapai akan dengan leluasa menggunakan fuel
surcharge sebagai alat untuk mengkesploitasi konsumen, karena mereka memberlakukan tarif yang tertinggi dalam sub classes yang tersedia.
Sebaliknya saat low season, terjadi anomali karena ternyata besaran tarif sebelum dan sesudah fuel surcharge diberlakukan, besaran tarif cenderung sama. Hakl ini terasa aneh, tetapi kalau kita menyadari bahwa fungsi fuel surcharge sudah tidak sesuai lagi dengan definisi awal, maka hal tersebut dapat kita pahami. Dalam hal ini fuel surcharge memiliki fungsi yang lain sebagaimana diungkap di atas.
Hal yang unik sebagaimana disebutkan di atas, besaran tarif relatif sama dengan sebelum fuel surcharge diberlakukan. Tetapi komposisinya mengalami perubahan yang signifikan. Komposisi tersebut bisa dilihat dari contoh tiket rute Jakarta-Surabaya berikut :
• Fare basic : Rp 84.500 • IWJR : Rp 6.000 • PPN : Rp 8.450 • Fuel Surcharge : Rp 210.000 • Total : Rp 308.950
Sebelum kebijakan fuel surcharge diberlakukan harga tersebut sama yakni Rp 308.950. Akan tetapi harga tersebut hanya terdiri dari fare basic, PPN dan IWJR. Komposisi yang baru sebagaimana tercantum di atas mengundang pertanyaan karena biaya fuel surchargenya (68%) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fare basic (27%). Padahal fare basic mengcover merupakan tarif yang diupayakan untuk menutup biaya yang ditimbulkan avtur sampai dengan harga Rp 2.700/liter, biaya administrasi, operasional dan sebagainya. Komposisi yang aneh ini bisa dilihat dari gambar 1 di bawah ini.
Gambar 1
Komposisi aneh tarif saat low season
Komposisi di atas, memperlihatkan bahwa bahwa maskapai tampaknya mencoba memainkan peran lain dalam kaitan dengan harga tiket. Secara keseluruhan harga tiket yang diterima konsumen tidak jauh berbeda dengan kondisi saat fuel surcharge belum diberlakukan, sehingga konsumen mungkin tidak terpengaruh dengan harga tiket yang berlaku. Akan tetapi bagi travel hal ini menjadi bermasalah, karena komisi yang diterima anggota ASITA menjadi jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang seharusnya.
Dilihat dari definisi awal tentang fuel surcharge, tidak berubahnya besaran fuel surcharge baik saat low dan perak season mungkin bisa dipahami justru kalau fuel surcharge menurun atau naik pada saat tidak ada perubahan harga avtur maka hal tersebut akan dipandang aneh. Akan tetapi besaran yang sangat kontras antara fuel surcharge dengan fare basic menjadikan justifikasi bahwa fuel surcharge memiliki peran lain, kembali terbukti. Peran yang signifikan kali ini adalah dengan mereduksi komisi bagi agen perjalanan yang menjual tiket. Hal ini terjadi karena fuel surcharge tidak boleh dipotong besarannya untuk komisi karena sesuai dengan definisi tidak ada unsur komersial di sana, dan sepenuhnya hanya diperuntukan untuk mengganti biaya yang muncul diakibatkan oleh kenaikan harga avtur semata.
Biaya Avtur sd 2700 Biaya operasional Biaya administrasi dst IWJR PPN Fuel surcharge Rp 308.950 Rp 210.000 Rp 98.950
Bila kita menggunakan komposisi harga tiket di atas, maka terlihat bahwa besaran komisi sebelum ada fuel surcharge adalah sekitar 29.450 ( sekitar 10% dari fare basic ditambah dengan fuel surcharge yang dulunya menyatu seutuhnya sebagai fare basic (210.000 + 84.500)). Tetapi setelah ada fuel surcharge, maka komisi yang diperoleh agen perjalanan hanya sebesar Rp 8.450 yang emrupakan besaran 10 % x Rp 84.500. Terlihat di sini ada saving komisi bagi agen perjalanan sebesar Rp 21.000 (72%). Sementara agen perjalanan hanya menerima sekitar 28% dari komisi semula. Hal ini terutama berlaku saat low season. Akibat kondisi ini, maka posisi agen perjalanan menjadi pihak yang paling dirugikan, sehingga berjualan tiket saat low season menjadi sangat tidak menarik bagi mereka. Mengingat hal ini semata-mata terjadi karena penggunaan fuel surcharge yang melenceng dari definisi awal, maka kerugian yang diderita oleh agen perjalan sesungguhnya merupakan kerugian yang diakibatkan oleh perilaku curang maskapai penerbangan. Efek berikutnya omset agen perjalanan dipastikan tereduksi drastis, bisa berada di atas 50 % dari omset di awal.
Berdasarkan paparan di atas, maka terlihat bahwa dalam strategi maskapai penerbangan saat ini, fuel surcharge memiliki dua peran yang cukup signifikan. Pertama di saat peak season, fuel surcharge menjadi komponen yang sangat penting untuk mengeksploitasi konsumen. Sementara pada saat low season, fuel surcharge berfungsi menjadi alat untuk mereduksi komisi bagi agen perjalanan sehingga pengeluaran maskapai untuk komisi agen perjalanan bisa dihemat.
Variasi besaran fuel surcharge juga ternyata bisa dibaca lain, sebagai bagian dari strategi yang tidak terpisahkan ketika persaingan terjadi. Variasi yang ekstrim antara Rp 0 – Rp 480.000 menunjukkan bahwa di setiap maskapai peran dan fungsi fuel surcharge sangat beragam, dengan dugaan yang sama semuanya menyeleweng dari definisi dan peruntukan awalnya.
Untuk Garuda misalnya, mereka dengan percaya diri menyatakan bahwa pentarifan mereka relatif tidak mengalami perubahan yang signifikan
mereka adalah penguasa pasar, dengan segmen konsumen yang cenderung tidak sensitif terhadap harga. Oleh karena itulah maka peran fuel surchargenya, juga tidak berbeda baik saat low maupun peak season. Mereka juga seolah tidak terlalu memperhatikan tarif maskapai lain, sekalipun di saat low season. Dalam hal inilah maka peran untuk menjadi alat baru dalam mengeksploitasi konsumen menjadi lebih terasa.
Tetapi bagi Lion Air, sekalipun merupakan maskapai dengan jumlah penumpang terbesar di tahun 2008, akan tetapi karena segmen konsumennya adalah segmen konsumen yang sensitif terhadap harga maka ketika low season tiba, maka strateginya menjadi berbeda. Pada saat peak season, fuel surcharge berperan secara maksimal untuk mengeksploitasi konsumen, akan tetapi di saat low season maka peran yang muncul adalah sebagai alat untuk mereduksi komisi bagi agen perjalanan.
Model yang dilakukan oleh Lion Air memang umumnya dilakukan oleh maskapai lainnya kecuali Garuda dan Air Asia. Umumnya mereka masih membidik konsumen yang sensitif terhadap harga. Hal ini umumnya dilakukan oleh maskapai dengan brand image yang tidak cukup kuat, dan selalu mengandalkan tarif murah sebagai cara untuk menarik konsumen. Beberapa maskapai tersebut antara lain Batavia Air, Sriwijaya Air, Mandala Air, Indonesia Air Asia, Merpati Airlines dan sebagainya.
Secara keseluruhan, dalam kaitan dengan menganalisis tarif secara keseluruhan, memang terasa mengherankan mengapa maskapai justru menggunakan fuel surcharge sebagai komponen tarif dengan komposisi yang terasa aneh, padahal ruang untuk menaikkan tarif masih terbuka pada fare basic. Hal ini bisa dilihat dari tarif aktual yang disampaikan oleh maskapai penerbangan kepada Pemerintah yang hampir semuanya masih berada di bawah batas atas tarif.
Dugaan terbesar terhadap kondisi ini, terletak pada keinginan maskapai untuk menetapkan harga jual yang tidak jauh berbeda, tetapi dengan
mereduksi komisi/fee dari agen perjalanan. Sebagai gambaran bagaimana tarif harga bisa dilihat dalam tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2
Perbandingan besaran tarif aktual dengan batas atas tarif
JKT-BPN Rp 1.193.000 JKT-DPS Rp 971.000 JKT-MDN Rp 1.271.000 JKT-SBY Rp 778.000 JKT-MANADO Rp 2.150.000 Garuda 737.000 971.000 1.271.000 778.000 2.150.000 Mandala 626.364 450.000 1.363.636 450.000 -Lion 799.400 620.600 699.300 679.100 999.600 Batavia 673.636 300.909 373.636 410.000 600.909 Air Asia 760.000 820.000 699.300 539.400 -Sriwijaya 727.000 530.000 675.000 569.100
-Sumber : Departemen Perhubungan
Dari tabel ini, tampak terlihat bahwa Garuda benar-benar menjadi maskapai yang senantiasa memanfaatkan dengan sempurna kelebihan brand imagenya dengan memasang tarif pada harga batas atas. Tetapi maskapai yang lainnya tampak memasang harga yang masih jauh di bawah batas atas tarif. Sulit untuk memahami hal ini, kecuali sebuah dugaan bahwa mereka menggunakan model seperti ini untuk mengurangi fee/komisi kepada ASITA.
Awalnya, kecilnya komisi ASITA (sekitar 7 %) cukup meragukan untuk menjadi alasan yang digunakan maskapai untuk mereduksi komisi ASITA melalui penggunaan fuel surcharge. Tetapi memperhatikan kecilnya margin keuntungan yang diperoleh maskapai penerbangan, yakni sekitar 10 % saja kemudian membuat kita bisa memahami bagaimana maskapai berusaha merebut porsi ASITA ke dalam pendapatan mereka melalui fuel surcharge yang digunakan.
Strategi pemanfaatan fuel surcharge untuk mereduksi komisi/fee bagi ASITA ini, digunakan secara optimal oleh maskapai penerbangan pada saat low season.