BAB IV : PENTINGNYA AUDIT INTERNAL DALAM
B. Implementasi Good Corporate Governance Pada PT. Bank
Dewasa ini tuntutan terhadap terwujudnya Good Corporate Governance di setiap perusahaan sudah semakin penting. Rendahnya kualitas penerapan Good Corporate Governance akan berpengaruh kepada kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Indonesia. Dikatakan bahwa para ekonomi masih kurang pemahaman terhadap Good Corporate Governance, maka konsekuensinya dalam praktek bisnis terjadi Bad Governance. Bad governance dari pihak manajemen menyebabkan kerugian yang sangat besar sehingga terjadi kebangkrutan pada setiap perusahaan termasuk pada perbankan syari’ah.
Sebagai suatu unit usaha dari Bank DKI, maka penerapan Good Corporate Governance pada PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang mengacu kepada penerapan Good Corporate Governance pada Bank DKI. Dalam hal ini, Bank DKI telah berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance secara baik dan benar. Komitmen tersebut dituangkan dalam suatu slogan yang diciptakan untuk memudahkan karyawan dalam menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam kegiatan sehari-hari. Slogan Bank DKI untuk penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dikenal dengan sebutan TARIF.72
72
Adi Sukmanto, Internal Audit PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang, Wawancara Pribadi, Jakarta, 5 September 2008
Sebagai salah satu komitmen dalam menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance, maka manajemen Bank DKI telah meningkatkan struktur dan kerangka Good Corporate Governance sesuai dengan perkembangan terkini di dunia perbankan baik lokal maupun internasional seperti rekomendasi Basel II tentang manajemen resiko bank, Sarbanes-Oxley Act tentang standar keterbukaan laporan keuangan, blue print Arsitektur Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia serta International Financial Reporting Standards.
Implementasi Good Corporate Governance pada PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang berpedoman kepada ketentuan Bank Indonesia yang meliputi : 1. Pemenuhan komposisi Dewan Komisaris dan Direksi beserta pelaksanaan tugas
dan tanggung jawabnya. Hal ini ditunjukkan oleh adanya Komisaris Independen yang sesuai dengan peraturan Bank Indonesia No. 8/14/PBI/2006 yang mengatur bahwa sedikitnya 50% dari anggota Komisaris merupakan Komisaris Independen, kebijakan bahwa Dewan Komisaris tidak boleh memiliki kepemilikan saham yang mencapai 5% atau lebih, baik pada Bank DKI maupun pada bank umum dan perusahaan lain yang berkedudukan di dalam ataupun di luar negeri serta tidak memiliki hubungan keuangan dan keluarga dengan anggota Dewan Komisaris lain, anggota direksi dan/ atau pemegang saham pengendali, kebijakan dan tidak boleh rangkap jabatan.
2. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab komite-komite yaitu komite audit, komite pemantau resiko dan komite remunerasi serta nominasi. 3. Pelaksanaan fungsi kepatuhan, audit internal dan audit eksternal.
4. Pelaksanaan fungsi manajemen resiko.
5. Pemenuhan ketentuan Bank Indonesia terkait dengan prinsip kehati-hatian dalam penyediaan dana kepada pihak terkait dan debitur besar.
6. Penyusunan rencana strategis bank sesuai dengan ketentuan mengenai rencana bisnis bank.
7. Pelaksanaan transparansi kondisi keuangan dan non keuangan.
8. Penyusunan buku pedoman kerja dan dewan komisaris dan buku pedoman kerja direksi.
9. Penerapan visi dan misi serta nilai budaya kerja perusahaan yang terdiri dari tujuh nilai KTPP DKI yaitu komitmen, teamwork, profesional, pelayanan, disiplin, kerja keras dan integritas.
10.Penunjukkan direktur kepatuhan dan pembentukan satuan kerja kepatuhan, satuan kerja manajemen resiko dan satuan kerja audit internal serta penetapan fungsi pengelola Good Corporate Governance pada satuan kerja kepatuhan, group manajemen resiko dan kepatuhan.
Salah satu bentuk dari implementasi Good Corporate Governance tersebut dapat dilihat dari transparansi yang dilakukan oleh manajemen dengan menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang remunerasi yang diterima oleh dewan direksi dan dewan komisaris. Semua informasi tersebut dapat dilihat oleh seluruh masyarakat melalui annual report perusahaan. Dengan adanya annual report pada perusahaan, biasanya dapat diketahui hasil audit internal pada suatu perusahaan, termasuk institusi perbankan.
Hasil audit internal pada tahun 2007 menunjukkan bahwa terdapat 31 sanksi yang telah dikeluarkan oleh manajemen yang berupa sanksi teguran lisan yang paling banyak dikeluarkan. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa tingkat penyimpangan yang terjadi masih relatif ringan. Penyimpangan seperti ini dapat diketahui karena adanya penerapan Good Corporate Governance.
Untuk mengukur tingkat implementasi Good Corporate Governance, manajemen Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang secara rutin melaksanakan self assessment tentang pelaksanaan Good Corporate Governance dengan menggunakan metode assessment yang telah baku dan diakui oleh dunia usaha. Berdasarkan assessment tahun 2007, Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang memperoleh predikat baik dengan nilai komposit akhir sebesar 1,81 dengan 9 area masalah yang perlu dicermati dan ditindaklanjuti oleh manajemennya73 oleh pihak PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang dalam mengimplementasikan Good Corporate Governance.
Saat ini, Good Corporate Governance dianggap begitu penting, terutama bagi PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang. Karena Good Corporate Governance diharapkan dapat memperbaiki citra perbankan yang sempat terpuruk beberapa waktu lalu. Hal ini mengingat dalam Good Corporate Governance terkandung lima prinsip yang anggap positif bagi pengelolaan sebuah perbankan. Prinsip keterbukaan atau transparansi misalnya, bank harus memberikan informasi secara tepat waktu,
73
Irwan Abdullah, et.al., “Analisa Perusahaan PT. Bank DKI Unit Syari’ah”, Makalah Mata Kuliah Manajemen Keuangan Islam. Makalah ini diakses pada tanggal 4 November 2008 dari
memadai, jelas, akurat dan dapat dibandingkan. Informasi tersebut juga harus mudah diakses stakeholders sesuai dengan haknya. Prinsip akuntabilitas, berarti bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari setiap komponen organisasi yang selaras dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi perbankan. Setiap komponen organisasi memiliki kompetensi sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Mereka harus dapat memahami perannya dalam pelaksanaan Good Corporate Governance.74
Dengan demikian, implementasi Good Corporate Governance pada PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan, yang dapat membantu tercapainya kesinambungan perbankan melalui pengelolaan berdasarkan asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. Oleh sebab itu, banyak manfaat yang diambil dari penerapan Good Corporate Governance yang salah satunya adalah dapat meningkatkan kualitas struktur pengelolaan dan pola kerja perusahaan, tak terkecuali PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa implementasi Good Corporate Governance bagi perkembangan bank syari’ah bukan sekedar mengikuti peraturan tertulis yang terlanjur dikeluarkan oleh pemerintah. Lebih dari itu, Good Corporate Governance pada hakekatnya merupakan standar etis di mana perbankan syari’ah tidak hanya dituntut untuk memenuhi pencapaian-pencapaian laba materil,
74
Adi Sukmanto, Internal Audit PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang, Wawancara Pribadi
tetapi juga mengemban tanggung jawab etis vertikal dan sosial-horizontal. Untuk itu, penerapan Good Corporate Governance perlu dijadikan sebagai bagian dari kultur perbankan, bukan sekedar Good Corporate Governance, tetapi juga Good Corporate Culture.
C. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance di PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang
Pada dasarnya prinsip-prinsip pokok dan best practice Good Corporate Governance yang dikembangkan pada perbankan syari’ah hampir sama dengan perbankan konvensional. Hal ini disebabkan secara umum, fungsi bank syari’ah sama dengan perbankan konvensional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan konsep Good Corporate Governance di antaranya adalah kultur manajemen, akuntansi dan pengawasan. Demikian pula halnya dengan PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang.75
Adapun prinsip-prinsip Good Corporate Governance di PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang pada dasarnya bertumpukkan kepada lima pilar utama yang disebut dengan TARIF yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibility, independensi dan fairness. Secara yuridis prinsip-prinsip tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 sebagaimana telah
75
Adi Sukmanto, Internal Audit PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang, Wawancara Pribadi
diubah dalam Peraturan Bank Indonesia No. 8/14/PBI/2006 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance bagi bank umum sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat 6.
Pengertian kelima prinsip-prinsip tersebut telah diuraikan dalam keputusan Menteri BUMN No. KEP. 117/M-MBU/2002, dan dijabarkan sebagai berikut :
1. Transparansi
Yaitu mengelola perusahaan secara transparan dengan semua stakeholders atau orang-orang yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dengan aktivitas perusahaan. Dalam hal ini, para pengelola perusahaan harus berbuat secara transparan kepada pemegang saham, jujur apa adanya dalam membuat laporan usaha dan tidak manipulatif. Keterbukaan informasi dalam proses pengambilan keputusan dan pengungkapan informasi yang dianggap penting dan relevan. Selain itu, PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang juga harus menyampaikan informasi secara tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat dibandingkan. Informasi tersebut juga harus mudah diakses stakeholders sesuai dengan haknya.
2. Akuntabilitas
PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang harus memberikan kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban dari setiap komponen organisasi dan selaras dengan visi, misi, sasaran usaha serta strategi dalam perusahaan, sehingga pengelolaan perusahaan dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Manajemen harus membuat job description yang jelas kepada semua karyawan dan menegaskan fungsi-fungsi dasar setiap bagian, sehingga PT. Bank
DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang akan menjadi jelas hak dan kewajibannya, fungsi dan tanggung jawabnya serta kewenangannya dalam setiap kebijakan perbankan.
3. Responsibiliti
Yaitu menyadari bahwa ada elemen-elemen dari PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang yang membawa dampak pada lingkungan dan masyarakat pada umumnya. Pihak PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang harus memperhatikan masalah-masalah seperti keamanan, lingkungan dan berusaha menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat. Pihak PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang harus apresiatif dan proaktif terhadap perkembangan gejolak sosial masyarakat. Dengan kata lain, PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang juga harus mampu bertindak sebagai perusahaan yang baik. Prinsip ini harus dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tetap terjaga kelangsungan usaha PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang.
4. Independensi
PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang harus mampu menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh stakeholders. Pengelola PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang tidak boleh terpengaruh oleh kepentingan satu pihak, sehingga dapat berjalan tegak bergandengan bersama masyarakat. PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang harus memiliki otonominya secara penuh, sehingga pengambilan-pengambilan keputusan dilakukan dengan
pertimbangan otoritas yang ada secara penuh. PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang harus memperoleh keuntungan agar dapat memelihara keseimbangan bisnisnya dengan cara yang halal sesuai dengan prinsip syari’ah. 5. Fairness
PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang perlu memberikan kesempatan kepada stakeholders untuk memberikan masukan bagi kepentingan ban itu sendiri serta memiliki akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan. Dengan kata lain, fairness adalah semacam kesetaraan atau perlakuan yang adil dalam memenuhi hak dan kewajibannya terhadap stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian, PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang dituntut untuk melakukan kinerja yang baik sebagai cerminan dari aktivitas yang Islami.
Kelima prinsip pokok Good Corporate Governance di atas sesuai dengan norma dan nilai Islam dalam aktivitas dan kehidupan sehari-hari orang muslim. Islam sangat intens mengajarkan diterapkannya prinsip keadilan, keseimbangan, akuntabilitas, transparansi, independensi dan fairness atau kewajaran.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipastikan bahwa Islam jauh mendahului kelahiran Good Corporate Governance yang menjadi acuan bagi tata kelola perusahaan yang baik di dunia. Prinsip-prinsip itu diharapkan dapat memelihara pengelolaan institusi ekonomi dan keuangan syari’ah secara profesional dan menjaga
interaksi ekonomi, bisnis dan sosial berjalan dengan aturan permainan dan best practice yang berlaku.
D. Tanggung Jawab Audit Internal PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang Dalam Mewujudkan Good Governance
Dalam Pasal 2 ayat (1) PBI dijelaskan, bahwa bank wajib melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam setiap kegiatan, usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang. Dalam ayat (2) lebih diperinci lagi tentang implementasinya dalam perbankan antara lain pelaksanaan tugas dan tanggung jawab dewan komisaris dan direksi dalam pelaksanaan audit internal.
Pelaksanaan tanggung jawab audit internal atau yang lebih sering disebut sebagai Satuan Pengawas Internal PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang dalam membantu meningkatkan implementasi Good Corporate Governance telah dilakukan secara efektif. Hal ini disebabkan Satuan Pengawas Internal PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang telah mengikuti Peraturan Bank Indonesia No. 1/6/PBI/1999.
Kegiatan audit internal yang dilaksanakan Satuan Pengawas Internal PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang adalah assurance dan consulting. Kedua kegiatan ini dilaksanakan secara independent dan obyektif, sehingga dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasional PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang.76
76
Adi Sukmanto, Internal Audit PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang, Wawancara Pribadi
Salah satu tanggung jawab yang merupakan ruang lingkup utama bagi Satuan Pengawas Internal ialah meliputi pemeriksaan dan penilaian kecukupan serta efektivitas sistem pengendalian internal. Setiap harinya Satuan Pengawas Internal melakukan pemeriksaan dan penilaian apakah pengendalian internal sudah dilaksanakan dengan baik dan apakah manajemen resiko, pengawasan dan proses Good Corporate Governance sudah berjalan efektif.
Satuan Pengawas Internal PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang menilai sistem pengendalian internal dengan maksud untuk mengetahui resiko utama yang dihadapi pengelolanya sesuai dengan proses yang sedang berjalan. Penilaian pengendalian internal tersebut setidaknya dapat memastikan bahwa :
1. Resiko telah teridentifikasi dan dikelola secara tepat.
2. Informasi penting keuangan, manajerial dan operasional telah disajikan secara akurat, handal dan tepat waktu.
3. Seluruh aktivitas bank telah sesuai dengan kebijakan, standar, prosedur serta peraturan dan/atau perundang-undangan yang berlaku.
4. Program-program dan tujuan-tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien. 5. Kualitas dan perbaikan yang berkesinambungan selalu terpelihara dengan tetap
memperhatikan aspek internal kontrol sistem.
Dalam penanganan untuk mengurangi resiko, evaluasi terpisah selalu dilakukan oleh Satuan Pengawas Internal sesuai dengan rencana audit tahunan yang telah disepakati bersama sebelumnya pada awal tahun. Segala isu yang berkaitan dengan kecukupan pengendalian internal dilaporkan kepada direksi, dan
langkah-langkah rekomendasi yang diperlukan semata-mata hanya untuk meminimalkan resiko yang ada.
Laporan audit internal tentang temuan-temuan audit beserta rekomendasi yang diperoleh selama melakukan audit diberikan kepada komite audit, yang pada akhirnya komite audit akan mengawasi dan mengkaji laporan dari audit internal atau Satuan Pengawas Internal.
Meskipun demikian, tugas audit internal dan komite audit tidak menjamin kebenaran data laporan, disebabkan karena hal itu merupakan tugas manajemen. Audit internal dan komite audit tidak bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan manajemen, karena dapat mempengaruhi independensi dan objektivitas audit internal dan komite audit.
Internal audit dan komite audit hanya membantu manajemen dalam mencapai tujuannya yang salah satunya adalah membantu manajemen memiliki suatu sistem agar pelaporan manajemen tidak melanggar undang-undang yang berlaku serta data yang disajikan reliable, terutama yang terjadi pada laporan keuangan. Hal ini perlu dilakukan, karena merupakan bentuk dari sebuah pertanggungjawaban.
Salah satu contoh dari bentuk pertanggungjawaban sosial PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang yang menarik adalah memberikan pinjaman lunak yang disebut dengan istilah qard dan pinjaman kebajikan yang dikenal dengan sebutan qardul hasan. Jika nasabah memang tidak dapat mengembalikan pinjamannya dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh pihak bank, maka nasabah diperkenankan untuk tidak mengembalikan pinjaman tersebut. Dana untuk menutupi
pinjaman tersebut dapat diambil dari dana zakat, infaq dan shadaqah yang ada dalam Bait al-Maal PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang.77 Bila tanggung jawab audit internal sampai kepada pemahaman seperti yang dipaparkan di atas, bukan mustahil PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang akan dapat mewujudkan Good Corporate Governance pada bank yang bersangkutan.
77
Adi Sukmanto, Internal Audit PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang, Wawancara Pribadi
A. Kesimpulan
Dari uraian, penjelasan dan analisa di atas sebagai hasil penelitian yang berkaitan dengan pentingnya audit internal dalam upaya mewujudkan Good Corporate Governance pada perbankan syari’ah, maka sebagai upaya mengakhiri pembahasan skripsi ini, penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Mekanisme pelaksanaan audit internal pada PT. Bank DKI Syari’ah Cabang
Tanah Abang dilakukan dengan melalui beberapa tahapan yaitu tahap perbandingan, tahap vouching, tahap konfirmasi, tahap analisa, tahap pengecekkan, tahap inspeksi, tahap verifikasi, tahap mentrasir dan tahap sampling. Inilah proses dan tahapan audit internal yang dilakukan PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang. Dengan adanya proses dan tahapan audit internal ini, diharapkan kinerja perbankan syari’ah secara umum dan PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang khususnya, akan lebih maju dan tampil sebagai pioneer terdepan dalam mewujudkan Good Corporate Governance.
2. Prinsip-prinsip yang menjadi landasan bagi tericiptanya Good Corporate Governance pada PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang pada dasarnya bertumpu pada lima pilar utama. Kelima pilar utama itu adalah transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi dan kewajaran. Dengan adanya
prinsip-prinsip yang menjadi pedoman bagi terciptanya Good Corporate Governance, maka PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang secara yuridis telah sesuai dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006.
3. PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan Good Corporate Governance yang salah satunya adalah melibatkan peran ganda audit internal dalam mewujudkan Good Corporate Governance. Peran ganda audit internal terjadi pada perkembangan dalam peran yang dibawakannya, yaitu dari sekedar unit yang mengecek kepatuhan, menjadi sebuah fungsi yang berperan aktif sebagai mitra bagi manajemen dalam mendukung penerapan Good Corporate Governance. Upaya inilah yang sedang dilakukan oleh PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang dalam menciptakan kinerja perbankan syari’ah.
B. Saran-saran
Dari hasil studi dan penela’ahan tentang observasi yang tertuang dalam pembahasan skripsi ini, kiranya tidak berlebihan jika penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
1. Sebagai suatu unit usaha dari Bank DKI, PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang hendaknya terus berupaya membenahi diri untuk selalu menjadi bank terbaik yang membanggakan sesuai dengan visi dan misi yang bawakannya, yaitu
dengan cara meningkatkan struktur maupun kerangka Good Corporate Governance sesuai dengan perkembangan terkini di dunia perbankan baik lokal maupun internasional.
2. Untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang sangat beragam, PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang menyediakan berbagai macam produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan para nasabah. Produk dan layanan ini tidak akan berguna tanpa adanya sumber daya insani yang berkualitas dan berdedikasi tinggi, handal dan berakhlak mulia sebagai wujud dari customer satisfaction, karena suatu pelayanan dinilai memuaskan bila pelayanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan para nasabah. Oleh karena itu, semboyan yang berupa transparansi, akuntabilitas, responsibility, indenpendensi dan fairness yang kemudian disingkat menjadi TARIF dan nilai budaya kerja perusahaan berupa KTPP-DKI hendaknya benar-benar diterapkan pada perbankan syari’ah.
3. Bila dibandingkan dengan para bankir konvensional, maka bankir syari’ah seharusnya lebih unggul dan terdepan dalam mengimplementasikan Good Corporate Governance di lembaga perbankan, mengingat lembaga perbankan syari’ah membawa nama agama ke dalam lembaga bisnis. Oleh sebab itu, para bankir syari’ah hendaknya jangan melakukan penyimpangan dan moral hazard, karena hal itu, tidak saja berimplikasi kepada lembaga tersebut, tetapi juga kepada citra syari’ah.
4. Untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi penerapan Good Corporate Governance pada perbankan syari’ah bukan sesuatu hal yang mudah. Untuk itu,
pihak PT. Bank DKI Syari’ah Cabang Tanah Abang hendaknya menjalin kerja sama yang harmonis antar alim ulama, nasabah bank, akademisi dan pemerintah agar memacu kinerja bank syari’ah dalam mematuhi prinsip-prinsip Good Corporate Governance, sehingga dapat membangun citra syari’ah sebagai uswah hasanah dan dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam membangun