• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Good Urban Governance dalam Pembangunan Ruko di Kota Makassar (Bumi Tamalanrea Permai)

Misi III : Mereformasi Tata Pemerintahan Menjadi Pelayanan Publik Kelas Dunia Bebas Korupsi

B. Implementasi Good Urban Governance dalam Pembangunan Ruko di Kota Makassar (Bumi Tamalanrea Permai)

Perumahan Bumi Tamalanrea Permai merupakan salah satu perumahan terbesar yang ada di Kota Makassar, sampai saat ini masih terus membangun untuk memenuhi kebutuhan perumahan di Kota Makassar. Kawasan ini termasuk kawasan permukiman terpadu yang masuk pada Kecamatan Tamalanrea yang diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan terpadu. Pertumbuhan penduduk yang tinggi itu menuntut ketersediaan permukiman yang memadai, maka peluang itu dimanfaatkan oleh pengusaha pengemban perumahan untuk berinvestasi di bidang properti. Dampaknya tentu saja peralihan fungsi kawasan yang sebelumnya sebagai kawasan permukiman terpadu serta kawasan resapan air dan kawasan hijau berubah menjadi kawasan komersil yang menyebar pada setiap blok perumahan dan cenderung tidak terkendali.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar 2015-2034 merupakan rencana pemanfaatan ruang wilayah yang disusun untuk menjaga keserasian pembangunan antar sektor dalam rangka penyusunan dan pengendalian program-program pembangunan di setiap wilayah. Selain itu, penataan ruang adalah salah satu aspek penting didalam penilaian penyelenggaraan pemerintahan daerah. Untuk itu perda RTRW Kota Makassar harus menyelaraskan dengan implementasi yang dijalankan.

Good Urban Governance merupakan upaya merespon berbagai masalah

pembangunan kawasan perkotaan secara efektif dan efisien yang diselanggarakan oleh pemerintah yang akuntabel dan bersama-sama dengan unsur masyarakat. Adapun indikator yang menjadi tolak ukur dari konsep Good Urban Governance yaitu: (1) Keberlanjutan, (2) Efisiensi, (3) Transparansi dan Akuntabilitas, (4) Keterlibatan Masyarakat/Penduduk. Hasil dari pengkajian pada indikator tesebut adalah sebagai berikut:

1. Keberlanjutan (Sustainability)

Prinsip keberlanjutan pada dasarnya membutuhkan visi dan misi yang kuat dari Pemerintah Kota dalam mengembangkan dan membangun kawasan perkotaan yang nyaman dan selaras dengan peruntukan wilayah terkait pembangunan ruko di Bumi Tamalanrea Permai sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kepala Seksi Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar sebagai berikut:

“Kami selaku Pemerintah yang terlibat dalam pembinaan maupun pengawasan di bidang penataan bangunan tahap keberlanjutan

47

pembangunan pada kawasan perumnas btp dari sekian rumah tinggal memang harus ada perniagaannya, harus ada kios atau ruko agar masyarakat yang berpemukiman di btp lebih mudah mengakses kebutuhan pokok mereka akan tetapi pembangunan tetap mengacu dan merujuk pada RTRW Kota Makassar dan harus tetap memperhatikan (RTRK) atau biasa disebut Zoning Regulation yang merinci dan mengatur secara jelas dan tegas tentang pembagian fungsi-fungsi dalam kawasan baik sebagai fungsi utama maupun fungsi penunjang agar tercipta tata kelola perkotaan yang baik dan tidak mengakibatkan masalah pada kawasan tersebut.”

(Wawancara dengan SP, 13 Agustus 2018).

Sementara itu penjelasan juga diberikan oleh Kepala Seksi Perencanaan dan Desain Bangunan yang bertugas di Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kota Makassar, sebagai berikut:

“Betul apa yang dikatakan bapak SP, pembangunan ruko pada kawasan btp memang sangat membantu masyarakat yang berpemukiman dikawasan tersebut karena dapat lebih mudah mendapatkan kebutuhan pokok mereka, tetapi pembangunan ruko yang dipergunakan untuk kegiatan komersial juga harus memperhatikan desain bangunan dengan memenuhi persyaratan sistem sanitasi, setiap bangunan gedung atau ruko harus dilengkapi dengan sistem air bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah serta penyaluran air hujan (drainasi) karena bangunan ruko yang dibangun sepanjang jalan perumnas btp ini masih ada yang tidak disertai dengan bangunan saluran drainasi.”

(Wawancara dengan LH, 13 Agustus 2018).

Selain itu penjelasan yang diberikan oleh Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Tamalanrea mengatakan bahwa:

“Kalau di Kecamatan Tamalanrea khususnya di Perumnas btp memang saya lihat pembangunan ruko dari tahun ke tahun belakangan ini memang marak dan para pengembang rumah toko juga sudah cukup tertib terhadap hal ini, tapi kalau diliat lagi dari segi kenyataan yang ada masih juga ditemukan beberapa bangunan yang menyalahi bahu-bahu jalan, pembangunan yang terus menerus dilakukan jika tetap

menyalahi aturan akan berdampak pada lingkungan yang mengganggu sarana dan prasarana umum dan Pemerintah yang bersangkutan dalam hal mengawasi pembangunan ruko harus tetap menindaklanjuti bangunan-bangunan yang dibangun menyalahi aturan RTRW.”

(Wawancara dengan FN, 14 Agustus 2018).

Dari hasil wawancara diatas, dapat dilihat bahwa Pemerintah yang bersangkutan hendak melakukan kajian ulang mengenai pembangunan kawasan pertokoan agar kesan tata kelola perkotaan dan pemanfaatan ruang dapat lebih maksimal demi kepentingan publik dan selaras dengan visi dan misi yang ada.

Sementara itu penjelasan yang diberikan oleh salah satu masyarakat yang berpemukiman di perumnas Btp mengatakan bahwa:

“Kalau saya lihat memang dari tahun ke tahun ini semakin banyak pembangunan ruko di sepanjang ruas jalan perumnas, banyak juga masuk di blok perumahan, yang begini biasanya bikin macet, bikin banjir dan bikin rusak lingkungan karna kadang itu pembangunannya tidak sesuai dengan aturan pemerintah, pemerintah juga kayaknya kurang perhatikan masalah ini.”(Wawancara dengan HZ, 16 Agustus 2018).

Penjelasan juga di tambahkan oleh salah satu masyarakat di perumnas BTP yang mengatakan bahwa:

“memang dari segi kenyataan yang ada masih banyak ruko yang menyalahi aturan, pemerintah yang bersangkutan juga sepertinya perlu menindak lanjuti developer ruko demi kenyamanan bersama agar dapat mengurangi kemacetan, dan masalah pengguna jalan lainnya.

Wawancara dengan RN, 16 Agustus 2018).

Sementara itu penjelasan yang diberikan selaku Developer Ruko mengatakan bahwa:

”memang pada kawasan tamalanrea adalah kawasan permukiman dan pendidikan tetapi dalam hal ini kita juga sudah mendapat izin

49

dari pemerintah setempat untuk membangun ruko pada kawasan ini, apalagi bangunan ruko-ruko ini mampu meningkatkan PAD dan disini kami juga memenuhi permintaan sebagian masyarakat.

(Wawancara dengan IK, 18 Agustus 2018).

Berdasarkan beberapa pendapat diatas mulai dari pihak pemerintah hingga ke masyarakat dapat disimpulkan bahwa Good Urban Governance dalam pembangunan ruko yang ada di Perumnas

BTP dari tahun ke tahun keberlanjutan pembangunan lebih dominan ke fungsi penunjang di bandingkan fungsi dominan sebagai kawasan permukiman dan pendidikan terpadu. Pemerintah masih perlu menyelaraskan visi dan misi Kecamatan Tamalanrea yang terhadap impelementasi yang ada. Pemerintah yang bersangkutan perlu mengkaji secara teknis dan sosial terhadap tingkat kebutuhan masyarakat terhadap sarana perdagangan disetiap kawasan.

Pemerintah juga perlu melakukan penertiban pemanfaatan ruang dalam pembangunan ruko maupun wilayah yang belum sesuai dengan rencana tata ruang dan bangunan yang diselenggarakan dalam bentuk sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Hal ini didukung pada pengamat penulis yang bersangkutan pada Perda RTRW Kota Makassar Nomor 4 Tahun 2015 yang masih timpang tindih pada implementasi yang ada.

2. Efisiensi (Efficiency)

Pada konsep efisiensi yang dilakukan terutama dengan pembiayaan ataupun penggunaan sumber daya yang digunakan akan

ditanggung bersama antara pemerintah dan pihak yang yang terkait dampak dari pembangunan bangunan bisnis yang semakin marak.

Efisiensi akan terjadi jika penggunaan sumber daya diberdayakan secara optimun sehingga tujuan akan tercapai.

Untuk mengetahui sejauh mana efisiensi yang dilakukan dari pembangunan ruko yang terkait Konsep Good urban governance dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Kepala Seksi Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar sebagai berikut:

“Pembangunan merupakan suatu kegiatan yang dirancang oleh berbagai macam tugas dengan jangka waktu relatif panjang serta berkelanjutan, apabila kita berbicara tentang efisiensi bilamana kita membayangkan hal penggunaan sumber daya kita secara optimun untuk mencapai suatu tujuan tertentu, pada pembangunan ruko di kawasan ini memang cukup marak maka dari itu dari pihak pemerintah itu sendiri masih mewanti-wanti pembangunan yang tidak sesuai aturan RTRW, masih terdapat pula bangunan bisnis yang menyalahi prosedur tidak dilengkapi lahan parkir ataupun drainase hal seperti ini yang dapat merusak lingkungan sekitar.

(Wawancara dengan SP, 13 Agustus 2018).

Sementara itu penjelasan juga diberikan oleh Kepala Seksi Perencanaan dan Desain Bangunan Kota Makassar adalah sebagai berikut:

“Menurut saya pembangunan ruko memang perlu diperhatikan terutama pada desain bangunan yang tidak memenuhi standar operasionalnya, karena yang saya lihat faktanya banyak model-model ruko yang mengubah pada desain awal yang telah di setujui ditambah lagi tidak ada grand strategy yang baik mengenai dampak yang ditimbulkan seperti lahan parkir yang memacetkan jalan yang membuat para pengguna jalan tidak nyaman hal akan tersebut, biasanya hal seperti ini justru menggunakan biaya yang tidak sedikit.

(Wawancara dengan LH, 13 Agustus 2018).

51

Pernyataan diatas didukung oleh penjelasan yang diberikan oleh Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Tamalanrea mengatakan bahwa:

“Di Kecamatan Tamalanrea memang merupakan kawasan pendidikan tinggi terpadu tetapi dari tahun ke tahun kawasan ini telah beralih fungsi, yakni memang banyak bangunan-bangunan komersil yang menempati kawasan ini, sebagian memang tercatat pada laporan yang meminta izin ke kecamatan untuk membangun bangunan yang berupa ruko maupun rukan.

(Wawancara dengan FN, 14 Agustus 2018).

Dari beberapa pernyataan pemerintah yang bersangkutan dapat diketahui bahwa Pemerintah berusaha mengembangkan dan meningkatkan perannya dalam pembangunan kota khususnya kecamatan tamalanrea dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah.

Sementara itu penjelasan yang diberikan oleh masyarakat setempat sebagai berikut:

“pembangunan ruko-ruko di daerah btp atau kecamatan tamalanrea setiap tahunnya memang meningkat hal seperti inilah yang terlalu mengedepankan sisi bisnis dibanding pendidikan maupun perumahan, padahal fungsi utama dari kecamatan tamalanrea adalah kawasan pendidikan tetapi sepanjang jalan terlalu banyak ruko-ruko yang terbangun apalagi lahan parkir setiap ruko tidak ada jadi hal ini dapat memacetkan jalan.

(Wawancara dengan HZ, 16 Agustus 2018).

Hal serupa dinyatakan oleh salah satu masyarakat setempat sebagai berikut:

“iya memang kalau dilihat dari segi fungsi utama tidak sesuai dengan realita yang ada, apalagi pembangunan ruko-ruko ini hanya menguntungkan pihak yang mampu dan merugikan

masyarakat yang tingkat ekonominya masih terbilang rendah ditambah lagi lahan parkiran yang tidak memadai membuat kemacetan dimana-mana.

(Wawancara dengan RN, 16 Agustus 2018).

Dari wawancara diatas dimana dalam hal ini menunjukkan bahwa konsep efisiensi sudah hampir berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan format dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, akan tetapi jika kita kembali pada fungsi utama dari wilayah Tamalanrea yaitu sebagai pusat pendidikan dan permukiman terpadu tetapi justru tertutupi oleh kegiatan bisnis dengan adanya pembangunan ruko diperparah lagi dengan tidak adanya grand strategy yang baik mengenai dampak yang ditimbulkan misalnya lahan parkir yang memacetkan jalan serta bangunan yang tidak dilengkapi dreinase yang baik sehingga menyebabkan banjir dimana menyebabkan jalan rusak yang tentunya membutuhkan biaya perbaikan yang tidak sedikit mengingat hal ini terjadi hampir setiap tahunnya

3. Transparansi dan Akuntabilitas (Transparency and Accountabilty)

Transparansi dan akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas pembangunan ruko-ruko dan membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunannya maupun pelaksanaannya yang dapat diukur pada efektifitas dan efisiensi.

53

Untuk mengetahui sejauh mana transparansi dan akuntabilitas yang dilakukan dari pembangunan ruko yang terkait Konsep Good urban governance dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Kepala

Seksi Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar sebagai berikut:

“kalau berbicara masalah transparansi terkait pembangunan ruko di kecamatan tamalanrea atau perumnas btp sudah berjalan dengan baik, kami dari pihak pemerintah juga sudah melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat terkait masalah-masalah pembangunan ruko di tamalanrea.

(Wawancara SP 13 Agustus 2018).

Hal serupa dinyatakan oleh Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Tamalanrea adalah sebagai berikut:

“Transparansi dalam upaya penataan pembangunan ruko sudah baik meskipun masih ada hal-hal yang melanggar mulai dari drainase maupun pembangunan ruko yang sepadan dengan bahu jalan yang dapat menyebabkan macet dimana-mana karena lemahnya pengaturan mengenai penataan kawasan untuk pertokoan pemerintah dalam pemanfataan ruang melalui instansi terkait melakukan penanganan pemanfaatan ruang dengan memantau dan mengevaluasi pemanfaatan ruang sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang kawasan.

(Wawancara, FN 14 Agustus 2018).

Berdasarkan pernyataan Pemerintah menunjukkan bahwa pembangunan ruko dalam konsep transparansi dan akuntabiltas sudah berjalan dengan baik namun yang menjadi kendala dalam hal tersebut adalah kurangnya kesadaran bagi penyewa ruko maupun developer yang membangun karena masih terdapat ruko yang dibangun tidak memiliki drainase.

Melihat kondisi yang ada dilokasi penelitian HZ salah satu masyarakat setempat mengatakan bahwa:

“Menurut saya penataan pembangunan ruko di perumnas btp masih kurang transparansi antara pihak pemerintah dan masyarakat sekitar karena pemanfaatan lahan seringkali menimbulkan konflik berupa perijinan, ketidaknyamanan yang ditimbulkan yang selalu menyebabkan kemacetan lalu lintas dan berkurangnya kenyamanan mengendara. . (Wawancara, HZ 16 Agustus 2018)

Pernyataan diatas juga didukung oleh salah satu masyarakat setempat sebagai berikut:

“betul yang dikatakan HZ bahwa masih kurangnya transparansi dan akuntabilitas antara masyarakat dan pemerintah karena masih terjadi timpang tindih dari apa yang dengan yang kenyataan yang terjadi, masih banyak bangunan yang menyalahi aturan, masih banyak bagunan ruko yang merugikan masyarakat setempat dan masih banyak pembangunan yang merugikan lingkungan sekitar dikarenakan pembangunan masih tidak sesuai SOP yang berlaku, hal seperti inilah yang dapat merusak lingkungan.

(Wawancara, RN 16 Agustus 2018)

Dari hasil wawancara diatas antara pemerintah dan masyarakat dapat disimpulkan bahwa Transparansi dan akuntabilitas sudah berjalan dengan baik dari segi Efisiensi sudah baik karena pembangunan ruko dapat mengarungi beban pusat kota dalam menampung aktifitas dan meningkatkan pendapatan daerah. Sedangkan berbicara mengenai efektifitas hal ini tidak tercapai sebab apa yang direncanakan tidak sesuai dengan harapan masyarakat yang ada pada wilayah Kecamatan Tamalanrea ataupun perumnas BTP dimana menjadikan Tamalanrea sebagai kawasan pendidikan tinggi terpadu, serta masyarakat umumlah yang paling merasakan dampak-dampak yang ditimbulkan dari pembangunan ruko yang menyalahi aturan seperti kemacetan lalu lintas yang sering kali terjadi. Pemerintah juga harus meningkatkan

55

pengawasan terhadap pembangunan ruko dan di perlukan SOP (Standar Operasional Prosedur ) yang jelas agar pembangunan ruko terssebut dapat berjalan secara terarah dan lebih berkualitas.

4. Keterlibatan Masyarakat/penduduk (citizenship)

Keterlibatan masyarakat dapat melalui penciptaan kerjasama pemerintah maupun masyarakat dalam proses pembangunan kawasan perkotaan khususnya pada pembangunan ruko di perumas bumi tamalanrea permai, akan ada pembagian kewenangan, tugas, resiko dan keuntungan yang jelas bagi masyarakat maupun pemerintah yang terkait. Perlibatan pada masyarakat itu dapat berupa sosialisasi akan kebijakan dari pemerintah yang bersangkutan agar tidak terjadi timpang tindih antara masyarakat dan pihak pemerintah untuk mewujudkan tata kelola yang baik, teratur dan aman. Untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan masyarakat dalam pembangunan ruko di perumnas bumi tamalanrea permai dapat dilihat dari salah satu hasil wawancara dari Kepala Seksi Penataan Ruang Kota Makassar adalah sebagai berikut:

“Kalau masalah keterlibatan masyarakat kami dari pihak pemerintah sudah melibatkan masyarakat baik dari segi kebijakan yang mengatur masalah RTRW yang berlaku, serta masalah perijinan tentang lokasi pembangunan agar masyarakat setempat tidak merasa terbebani ataupun merasa tidak nyaman dikarenakan pembangunan ruko-ruko yang ada di perumnas btp dan kami dari pihak pemerintah selalu mencegah pelanggaran pemnafaatan ruang yang dapat merugikan masyarakat.

(Wawancara, SP 13 Agustus 2018).

Selanjutnya pernyataan ditambahkan oleh Kepala Seksi Perencanaan dan Desain Bangunan Kota Makassar oleh LH sebagai berikut:

“betul yang dikatakan bapak SP, kami dari pihak pemerintah yang terkait sudah melibatkan masyarakat melalui sosialisasi mengenai pembangunan wilayah terutama pembangunan ruko-ruko yang ada di perumnas btp, kami juga sudah menindak lanjuti permasalahan-permasalahan yang dikeluhkan oleh masyarakat terkait tata kelola yang kurang baik maka dari itu pemerintah memang harus memantau pembangunan-pembangunan yang dilakukan pada wilayah tamalanrea terutama jika ada proyek-proyek swasta yang sedang dikerjakan.

(Wawancara, LH 13 Agustus 2018)

Dari pernyataan pemerintah terkait tentang keterlibatan masyarakat dapat disimpulkan bahwa dalam konsep keterlibatan masyarakat sudah berjalan sebagaimana mestinya karena pihak pemerintah sudah memberikan sosialisasi terkait pembangunan ruko pada wilayah tamalanrea, pemerintah juga sudah turun langsung memantau apabila terdapat proyek swasta yang sedang berjalan dikarenakan terkadang sebagian masyarakat kurang respek akan hal tersebut

Berbeda pernyataan yang dinyatakan oleh RN selaku masyarakat setempat terkait masalah pembangunan ruko-ruko di perumnas btp yaitu sebagai berikut:

“dari segi efektifitas keterlibatan masyarakat belum tercapai secara maksimal dikarenakan hanya dilibatkan dalam sosialisasi tapi tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan mengenai pembangunan maupun pemanfaatan lahan/ruang, karena masih terdapat pembangunan ruko yang menyalahi

57

aturan yang dapat merusak kelestarian lingkungan. Disinilah sangat dibutuhkan keterlibatan masyarakat dalam hal pemantauan dan dapat melaporkan kepada pihak pemerintah yang terkait apabila didapati hal-hal yang melanggar aturan yang berlaku. ( Wawancara, RN 16 Agustus 2018).

Pernyataan ditambahkan oleh salah satu masyarakat setempat perumnas bumi tamalanrea permai sebagai berikut:

“betul yang dikatakan dari RN, saya selaku masyarakat setempat juga masih kurang merasakan pemerintah melibatkan langsung masyarakat dalam bentuk pembangunan ruko karena hanya sosialisasi yang kami dapatkan, tidak pada perumusan kebijakan terkait masalah rencana tata ruang wilayah yang menyangkut masalah tata kelola kota pada wilayah perumnas ini, masih banyak bangunan yang tidak mendapat ijin, lokasi yang pemanfaatan ruang yang disalah gunakan, hal seperti harus ditindak lanjuti.

(Wawancara, HZ 16 Agustus 2018)

Sesuai dengan wawancara diatas dimana yang memberikan keterangan baik dari pemerintah dan masyarakat yang terkait masalah konsep keterlibatan masyarakat dalam pembangunan ruko di Perumnas Bumi Tamalanrea Permai menunjukkan bahwa Keterlibatan Masyarakat / penduduk (citizenship) tidak tercapai sebab pelibatan masyarakat hanya terlihat pada sosialisasi akan kebijakan tersebut tetapi tidak dilibatkan pada perumusan kebijakan dan keterlibatan masyarakat/ penduduk (citizenship) tersebut tidak tercapai sebab ini merupakan dampak dari perumusan kebijakan yang tidak dilakukan secara menyeluruh dan tidak adanya analisa akan dampak terhadap kebijakan yang dilakukan sehingga pembangunan yang ada malah

memberikan kerugian pada sisi lainnya, seperti kemacetan, banjir dan peralihan lahan. Sedangkan kurangnya pelibatan masyarakat secara menyeluruh malah akan membutuhkan waktu yang lama dari segi sosialisasi kepada masyarakat.

Berdasarkan pendapat dari hasil wawancara diatas mengenai empat indikator bahwa pembangunan rumah toko di Bumi Tamalanrea Permai Pemerintah masih perlu melalukan pembinaan terhadap para pelaku penyelenggara pembangunan ruko agar dari sisi keberlanjutan pembangunan tersebut tidak merugikan lingkungan disekitarnya.

Untuk mengoptimalkan peran lembaga tersebut perlu diberi ruang cukup dalam bentuk keterlibatan masyarakat dalam perumusan kebijakan agar tidak mengalami dampak negatif akibat pembangunan rumah toko. Pemerintah juga perlu mengkaji kembali tingkat kebutuhan masyarakat terhadap sarana perdagangan di kawasan Bumi Tamalanrea Permai agar tidak terlalu mengedepankan sisi bisnis dibandingkan dengan fungsi utama kawasan Bumi Tamalanrea Permai.

59 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya terkait Implementasi Pemerintah pada konsep Good Urban Governance dalam Pembangunan Ruko Di Bumi Tamalanrea Permai maka dapat disimpulkan melalui beberapa indikator adalah sebagai berikut:

1. Dilihat dari sisi keberlanjutan, implementasi yang dilakukan oleh Pemerintah dalam mewujudkan tata kelola perkotaan yang baik jika dikaitkan dengan pembangunan ruko dari tahun ketahun masih kurang terlaksana dengan baik dikarenakan banyaknya pembangunan ruko di Perumnas Bumi Tamalanrea Permai. Pemerintah masih dengan mudah memberikan rekomendasi semua permohonan IMB yang masuk atas izin pembangunan ruko.

2. Efisiensi dalam pembangunan ruko di Bumi Tamalanrea Permai dan tidak adanya grand strategy yang baik akan memberi dampak bagi lingkungan misalnya lahan parkir yang memacetkan jalan serta bangunan ruko yang tidak dilengkapi drainase dapat menyebabkan banjir yang dimana juga akan merusak lingkungan yang justru akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit mengingat hal ini masih sering terjadi dari tahun ketahun

3. Transaparansi dan Akuntabilitas sudah berjalan dengan baik Pemerintah juga harus meningkatkan pengawasan terhadap pembangunan ruko dan di perlukan SOP (Standar Operasional Prosedur ) yang jelas agar pembangunan ruko tersebut dapat berjalan secara terarah dan lebih berkualitas.

4. Keterlibatan Masyarakat masih kurang terlihat jelas jika Pemerintah hanya melibatkan dalam sosialisasi tapi tidak melibatkan dalam perumusan kebijakan mengenai pembangunan ruko di wiliyah perumas Bumi Tamalanrea Permai.

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat diberikan saran – saran yang nantinya di harapkan dapat memperbaiki pembangunan ruko-ruko diwilayah tamalanrea agar tercapai tata kelola yang baik.

Saran-saran dimaksud adalah :

1. Perlu dibuat aturan khusus mengenai penataan pembangunan rumah toko agar ada payung hukum bagi aparat melakukan penertiban

2. Pemerintah hendaknya melakukan kajian ulang mengenai pembangunan kawasan pertokoan agar kesan ruko-ruko tidak melekat dan pemanfaatan ruang dapat lebih maksimal demi kepentingan publik serta menyelaraskan visi dan misi

61

untuk menjadikan tata kelola kota yang baik agar tidak terjadi timpang tindih dengan kenyataan yang terjadi.

3. Masih perlu adanya peran maupun keterlibatan masyarakat dalam mengawasi pembangunan termasuk memberikan rekomendasi terkait pembangunan kawasan pertokoan.

4. Perlunya SOP (Standar Operasional Prosedur ) yang jelas agar pembangunan dapat berjalan secara terarah dan jelas sesuai dengan perda yang telah ditetapkan.

pengadaan ruang terbuka hijau di kota bima. Skripsi Program Ilmu Adminisrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Arsyal, 2015. Strategi Pengendalian Fungi Ruang Perumahan bumi tamalanrea Permai. Jurnal: Jurusan Tehnik Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas

Arsyal, 2015. Strategi Pengendalian Fungi Ruang Perumahan bumi tamalanrea Permai. Jurnal: Jurusan Tehnik Perencanaan Wilayah dan Kota. Universitas

Dokumen terkait