BAB II KAJIAN TEORI
C. Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Keagamaan dalam
52
Sehingga dapat disimpulkan secara umum strategi pembentukan budaya yang berladaskan pada nilai-nilai keagamaan atau biasa disebut dengan budaya religius dapat melalui :
a. Power strategy, yakni strategi pembudayaan nilai-nilai agama di sekolah dengan cara menggunakan kekuasaan seseorang atau people’s power. Dalam hal ini ialah peran kepala sekolah dalam membuat kebijakan yang digunakan di sekolah
b. Persuasive strategy, dimana strategi ini dilakukan mealui pembentukan opini warga sekolah atau pandangan masyarakat
c. Normative re-education, yakni melakukan penanaman kembali atau mengganti paradigma berpikir warga sekolah yang lama dengan yang baru.25
Pada strategi pertama, pembentukan budaya religius dikembangkan melalui pendekatan perintah atau laragan yang menitik beratkan pada adanya peran kepala sekolah maupun para pimpinan sekolah secara umum sebagai pemangku kebijakan. Sedangkan strategi yang kedua dan ketiga dikembangkan melalui pembiasaan, keteladanan dan pendekatan persuasif. Dimana mengajak warga sekolah untuk menegakkan nilai-nilai keagamaan dengan disertai dengan pemberian pengetahuan serta alasan yang baik.
C. Implementasi Kurikulum Muatan Lokal keagamaan dalam Membentuk Budaya Religius
Budaya religius merupakan cara berfikir dan cara bertindak seseorang atau kelompok yang didasarkan atas nilai-nilai keberagamaan. Religius itu sendiri
25Supriyanto, “ Strategi Menciptakan Budaya Religius di Sekolah”, Jurnal Tawadhu, Vol. 2 No, 1 (tb, 2018), 486.
53
menurut kajian dari beberapa ahli ialah sikap menjalankan ajaran agama secara menyeluruh. Alah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi:
اوُعِبَّتا ت الَاو ًةَّفااك ِمْلِ سلا ِفِ اوُلُخْدا اوُنامآ انيِذَّلا ااهُّ ياأ ايَ
ِنااطْيَّشلا ِتااوُطُخ
ۚ
ُهَّنِإ
ٌينِبُم ٌّوُداع ْمُكال
[
٢:٢٠٨
]
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Sedangkan budaya religius sekolah dapat definisikan sebagai terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah, maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melaksanakan ajaran agama.
Menurut Muhaimin dalam Asmaun Sahlan, pembentukan budaya religius di sekolah itu sendiri dapat melalui 2 macam cara, yakni:
1. Penciptaan budaya religius yang bersifat vertikal. Cara ini dapat diwujudkan dalam bentuk meningkatkan hubungan dengan Allah melalui peningkatan kuantitas dan kualitas kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah yang bersifat ubudiyah
2. Penciptaan budaya religius yang bersifat horizontal. Proses ini lebih mendudukkan sekolah sebagai institusi sosial religius. Proses penciptaan budaya religius disini bisa berupa dibuatnya
54
peraturan yang berhubungan dengan keberagamaan yang dilaksanakan di sekolah.26
Salah satu strategi dalam membangun budaya religius di sekolah dapat dilakukan dengan pemaksimalan pembelajaran pendidikan agama islam. Pendidikan agama di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, serta pengamalan peserta didik tentang agama islam. Sehingga ke depannya mampu menjadi muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, serta mampu berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.27
Akan tetapi pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama islam di sekolah saat ini juga masih belum maksimal dalam memberikan pemahaman keagamaan yang baik kepada peserta didik. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor, misalnya tuntutan hasil pendidikan yang masih berorientasi pada nilai kognitif, kurangnya jumlah waktu yang disediakan untuk pemberian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan kepada siswa, dan muatan materi yang berkisar pada materi-materi pengetahuan semata.
Berbagai hasil penelitian tentang problematika pelaksanaan pendidikan agama di sekolah juga menemukan bahwa pelaksanaan pendidikan agama cenderung lebih banyak digarap dari sisi-sisi didaktik-metodik semata. Guru-guru agama seringkali hanya diajak untuk mengkaji masalah-masalah teknis semata. Sementara persoalan yang lebih mendasar berkaitan dengan aspek pedagogisnya kurang banyak disentuh. Padaha fungsi utama pendidikan agama d sekolah adalah
26Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah ..., 47.
55
memberikan landasan yang mampu mendorong peserta didik melakukan perbuatan yang mendukung pembentukan pribadi beragama yang baik.28
Berdasarkan problematika-problematika tersebut, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah diberlakukannya kurikulum muatan lokal keagamaan. Dengan adanya kurikulum muatan lokal keagamaan maka guru akan memiliki lebih banyak ruang dan waktu untuk memberikan pembelajaran serta pengalaman keagamaan kepada siswa. Dengan harapan penambahan muatan lokal keagamaan tersebut mampu menjadi alat bantu dalam menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan pada diri siswa, yang nantinya akan mampu terlihat pada tingkah laku sehingga tercipta budaya religius di sekolah.
Melalui muatan lokal keagamaan sekolah akan mampu mengembangkan nilai-nilai religius di sekolah, mengadakan pembiasaan nilai-nilai keagamaan di sekolah yang diharapkan mampu meningkatkan dan memperkokoh nilai ketauhidan, pengetahuan agama dan praktik keagamaan peserta didik. Sehingga pengetahuan agama yang diperoleh bukan hanya sekedar menjadi pengetahun teoritis semata akan tetapi mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena muatan materi dari pelajaran muatan lokal keagamaan itu sendiri lebih mengasah kemampuan keterampilan peserta didik dalam implementasi keagamaan. Sehingga akan mampu meningkatkan keterampilan dan pemahaman nyata yang bisa dilaksanakan sebagai dasar pelaksanaan ibadah sehari-hari.
Jika diperhatikan lebih dalam, pelajaran muatan lokal keagamaan merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas
56
pendidikan agama di sekolah. Artinya dengan dengan semakin instensnya peserta didik berinteraksi dengan hal-hal kebaragamaan maka akan terjadi sebuah pembiasaan sikap dan pola pikir yang berorientasi pada nilai-nilai agama sehingga lama kelamaan akan tercipta budaya religius di sekolah.