• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi LKM

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Posdaya Kenanga di Kelurahan Situ Gede didirikan untuk mengatasi masalah kurangnya akses masyarakat terhadap keuangan/modal usaha. Selain itu, bertujuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhdap bank keliling. Maraknya bank keliling yang menawarkan pinjaman dengan proses yang cepat membuat masyarakat mengabaikan konsekuensi tingginya bunga pinjaman, karena terdesak akan kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Verhagen (1996) dalam Hikmat (2004) merumuskan delapan instrumen untuk menilai implementasi dari kegiatan pemberdayaan masyarakat. Instrumen tersebut dinilai dapat membantu di dalam menyusun suatu program pemberdayaan masyarakat dan memberikan gambaran tentang proses pemberdayaan masyarakat. Instrumen yang dimaksud adalah:

1. Identifikasi kelompok sasaran

Setiap calon program pemberdayaan diseleksi agar tepat sasaran. 2. Penelitian dan perencanaan usaha secara partisipatif

Masyarakat (tidak terkecuali wanita) dilibatkan dalam identifikasi masalah dan perencanaan kegiatan usaha. Hal ini dilakukan agar perencanaan yang dilaksanakan dapat bermanfaat karena telah sesuai dengan kebutuhan, kondisi, serta potensi yang dimiliki.

3. Pendidikan dan pelatihan timbal balik

Salah satu penyebab masyarakat tidak berdaya adalah kurangnya pengetahuan serta keterampilan. Oleh karena itu, perlu adanya pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Pendidikan dan pelatihan ini hendaknya memperhatikan potensi dan sumber daya lokal.

4. Mobilisasi dan pemberian sumber daya secara seimbang

Pelayanan dan kemudahan akses terhadap sumber daya diperlukan untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pelatihan. Selain itu, masyarakat hendaknya juga dibimbing untuk menghimpun modal atau sumber daya secara mandiri.

5. Konsultasi manajemen dan administrasi atau pembukuan

Salah satu kelemahan dari sektor usaha kecil adalah lemahnya manajemen dan administrasi usaha sehingga mereka tidak berkembang. Oleh karena itu, pembinaan dan pengarahan di dalam mengelola kegiatan usaha harus dilakukan. Dengan demikian, mereka akan belajar bagaimana mengatur manajemen usahanya.

6. Pengembangan gerakan dan perluasan proses

Kegiatan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat menjangkau banyak sasaran, sehingga dibutukan peran aktif dari berbagai pihak.

7. Pengembangan jaringan dengan pihak ketiga di luar LSM dan kelompok Pembinaan hubungan kemitraan dengan pihak lain diperlukan agar usaha kelompok sasaran dapat berkembang, misalnya lembaga keuangan, lembaga pemasaran, perusahaan, dan pihak lain.

8. Evaluasi terus-menerus sebagai upaya untuk menciptakan mekanisme umpan balik

Evaluasi baik terhadap strategi, metode, dan kinerja sangat diperlukan karena dapat dimanfaatkan untuk mengetahui proses perencanaan, pelaksanaan, efek, dan dampak yang ditimbulkan. Dengan demikian, dapat diketahui hal penting yang seharusnya diperbaiki dalam perencanaan selanjutnya.

Implementasi LKM dalam penelitian ini diukur dengan tiga indikator, yakni tingkat ketepatan sasaran, tingkat pemberian sumber daya, dan tingkat pengembangan gerakan. Tingkat ketepatan sasaran dilihat dari karakteristik peminjam yang termasuk masyarakat miskin atau berpenghasilan rendah. Selanjutnya, tingkat fleksibilitas prosedur dilihat dari proses dan prosedur Tingkat pemberian sumber daya dilihat dari fasilitas yang disediakan oleh LKM dan sikap dari petugas LKM. Selanjutnya, tingkat pengembangan gerakan dilihat dari banyaknya sasaran yang dijangkau dalam kegiatan pemberdayaan.

Sasaran dari penerima kredit mikro adalah masyarakat miskin atau berpenghasilan rendah. Kategori miskin dan berpenghasilan rendah dilihat dari jenis bantuan pemerintah yang diterima oleh pelaku usaha mikro, yakni memperoleh bantuan raskin dan memiliki jamkesmas/jamkesda. Adanya kredit mikro ini diharapkan dapat membantu mereka untuk meningkatkan pendapatan. Perubahan tingkat pendapatan tentunya akan mempengaruhi taraf hidup masyarakat itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sasaran dari penerima usaha mikro sebagian besar masih kurang tepat. Sebanyak 61 persen pelaku usaha mikro yang menerima pinjaman masuk dalam kategori tidak tepat karena tidak termasuk sebagai masyarakat yang memperoleh bantuan raskin dan tidak memiliki jamkesmas/jamkesda. Selebihnya 39 persen masuk dalam kategori tepat karena memperoleh bantuan raskin dan memiliki jamkesmas/jamkesda. Tabel 5 Jumlah dan persentase pelaku usaha mikro menurut tingkat ketepatan

sasaran LKM Posdaya Kenanga di Kelurahan Situ Gede tahun 2013 Tingkat Ketepatan Sasaran Jumlah Persentase (%) Tepat 18 39 Tidak tepat 28 61 Total 46 100

Adams et al. (1984) dalam Zeller et al. (1997) mengungkapkan bahwa persyaratan agunan, lembar kerja/usaha, proses yang lama, korupsi, dan penagih pinjaman telah banyak membuat peminjam yang merupakan masyarakat miskin cukup ketakutan untuk memperoleh kredit formal. Pemberian sumber daya secara seimbang akan mempengaruhi transaksi keuangan pelaku usaha mikro di LKM. Pelayanan dan kemudahan akses terhadap sumber daya sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemberian sumber daya LKM Posdaya Kenanga masuk dalam kategori baik, seperti yang tercantum pada Tabel 6.

Tabel 6 Jumlah dan persentase pelaku usaha mikro menurut tingkat pemberian sumber daya LKM Posdaya Kenanga di Kelurahan Situ Gede tahun 2013 Tingkat Pemberian Sumber Daya Jumlah Persentase (%) Baik 44 96 Tidak baik 2 4 Total 46 100

Data di atas menunjukkan bahwa tingkat pemberian sumber daya di LKM Posdaya Kenanga secara keseluruhan masuk dalam kategori baik, karena fasilitas yang disediakan cukup lengkap, seperti simpanan dan pinjaman. Selain itu, faktor lainnya yang juga mempengaruhi adalah sikap petugas LKM Posdaya Kenanga yang ramah, disiplin, dan jujur dalam melayani transaksi keuangan. Plafond pinjaman yang disediakan mulai dari Rp 1 000 000 ‒ Rp 2 000 000, kemudian fasilitas simpanan yang disediakan terbagi dalam dua jenis, yakni simpanan wajib dan sukarela. Simpanan wajib adalah uang yang wajib dibayar sebesar Rp 5 000. Uang ini dapat digunakan jika sewaktu-waktu pelaku usaha mikro tidak dapat membayar pinjaman atau dapat dicairkan jika pelaku usaha mikro sudah tidak lagi melanjutkan pinjaman. Simpanan sukarela sendiri adalah tabungan dari masing- masing individu yang tidak dibatasi jumlahnya, dan dapat diambil sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Selain itu, ada pula simpanan pokok sebesar Rp 25 000 yang diberikan oleh pelaku usaha mikro saat pertama kali mengajukan permohonan memperoleh pinjaman untuk membayar biaya administrasi. Sistem pelayanan keuangan dilakukan secara teratur satu kali seminggu, setiap hari selasa. Masyarakat yang ingin melakukan permohonan dan transaksi dapat dengan mudah menemui petugas LKM Posdaya Kenanga, karena lokasinya dekat dengan lingkungan setempat.

Sebanyak 4 persen pelaku usaha mikro yang menyatakan tingkat pemberian sumber daya tidak baik disebabkan kurangnya informasi terhadap penjelasan mengenai fasilitas yang disediakan oleh LKM Posdaya Kenanga kepada pelaku usaha mikro. Petugas LKM belum memberikan penjelasan yang terperinci, sehingga beberapa responden masih belum mengetahui dan memahami secara detil mengenai fungsi dan jenis-jenis dari tabungan yang disediakan oleh LKM.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat menjangkau banyak sasaran. LKM sudah seharusnya mengutamakan pemberian kredit mikro kepada masyarakat selaku pelaku usaha mikro di lokasi sekitar, tempat dibentuknya LKM.

Tabel 7 Jumlah dan persentase pelaku usaha mikro menurut tingkat pengembangan gerakan LKM Posdaya Kenanga di Kelurahan Situ Gede tahun 2013 Tingkat Pengembangan Gerakan Jumlah Persentase (%) Baik 45 98 Tidak Baik 1 2 Total 46 100

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengembangan gerakan LKM Posdaya Kenanga masuk dalam kategori baik. Ini disebabkan LKM Posdaya Kenanga telah menjangkau banyak sasaran dari kalangan pelaku usaha mikro di Kelurahan Situ Gede.

“Kalau ke bank ditinjau dulu atau disurvei dan diminta slip gaji. Kalau ini cuma diminta KTP dan KK saja. Seminggu ngajuin, seminggu kemudian

cair”. (WNR/ 37 tahun/Pedagang besar)

Tabel 8 Jumlah dan persentase pelaku usaha mikro menurut implementasi LKM Posdaya Kenanga di Kelurahan Situ Gede tahun 2013

Implementasi LKM Jumlah Persentase (%)

Baik 44 96

Tidak baik 2 4

Total 46 100

Mengacu pada data setiap variabel dapat ditarik kesimpulan bahwa hampir seluruh pelaku usaha mikro menganggap implementasi LKM Posdaya Kenanga masuk dalam kategori baik. Implementasi LKM Posdaya Kenanga dikatakan baik karena dari hasil tabel frekuensi menunjukkan tingkat ketepatan sasaran, tingkat pemberian sumber daya, dan tingkat pengembangan gerakan masuk dalam kategori tepat dan baik. Selain itu, dibuktikan dengan hasil tabel frekuensi implementasi LKM secara keseluruhan, yang menunjukkan sebanyak 96 persen pelaku usaha mikro menyatakan bahwa implementasi LKM masuk dalam kategori baik.

Pengembangan Usaha Mikro

Tersedianya pelayanan keuangan terhadap masayarakat miskin adalah salah satu cara untuk membantu meningkatkan pendapatan dan produktivitas mereka. Kredit mikro dan program kerjasama sudah dibentuk untuk mengisi kelangkaan ini. Tujuannya adalah untuk membantu masayarakat miskin menjadi self employed dan keluar dari garis kemiskinan (Khandker 1998). Menurut Krisnamurthi (2002) pengembangan ekonomi rakyat ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Prinsip dasarnya adalah untuk mengembangkan kemampuan rakyat secara mandiri dalam berusaha mencapai peningkatan kesejahteraannya. Pendekatan utamanya adalah apresiasi terhadap kedaulatan dan kemampuan rakyat itu sendiri, dilanjutkan dengan usaha untuk memperkuat dan meningkatkan keberdayaannya. Daya saing, peningkatan produktivitas, efisiensi, penguasaan pasar, atau peubah ekonomi lain hanya merupakan indikator-indikator antara menuju tujuan akhir keberlanjutan kegiatan ekonomi rakyat, peningkatan kemandirian, dan akhirnya peningkatan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.

Pengembangan usaha mikro dalam penelitian ini dianalisis dari jumlah omset dan nilai aset usaha, di luar tanah dan bangunan. Merujuk pada hipotesis penelitian, diduga terdapat hubungan antara pengembangan usaha dengan tingkat pendapatan pelaku usaha mikro.

Tabel 9 Jumlah dan persentase pelaku usaha mikro menurut tingkat omset usaha di Kelurahan Situ Gede tahun 2013

Tingkat Omset Usaha Jumlah Persentase (%)

Tinggi 3 7

Rendah 43 93

Total 46 100

Omset adalah hasil penjualan atau pendapatan yang diperoleh dari suatu usaha dalam satu bulan. Pada penelitian ini omset merupakan salah satu alat ukur dalam melihat pengembangan usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha mikro memiliki omset yang rendah. Sebanyak 7 persen pelaku usaha mikro memiliki omset yang tinggi, selebihnya sebanyak 93 persen pelaku usaha mikro masih memiliki omset yang rendah. Pelaku usaha mikro yang termasuk dalam kategori kepemilikan omset rendah jika memperoleh omset setiap bulannya sebesar Rp 245 000 ‒ ≤Rp 22 622 500, sedangkan yang termasuk dalam kategori tinggi jika memiliki omset sebesar >Rp 22 622 500 ‒ Rp 45 000 000 setelah memperoleh pinjaman.

Tabel 10 Jumlah dan persentase pelaku usaha mikro menurut tingkat aset usaha di Kelurahan Situ Gede tahun 2013

Tingkat Aset Usaha Jumlah Persentase (%)

Tinggi 3 7

Rendah 43 93

Total 46 100

Aset adalah benda atau barang yang dibutuhkan oleh individu untuk menjalankan usaha, seperti alat produksi dan distribusi usaha. Pengembangan atau inovasi usaha dapat dilakukan jika aset yang dimiliki bertambah ataupun memiliki alat yang lebih modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 93 persen pelaku usaha mikro memiliki aset yang rendah, sedangkan 7 persen pelaku usaha mikro memiliki aset yang tinggi. Pelaku usaha mikro yang termasuk dalam kategori kepemilikan aset rendah jika memiliki nilai aset sebesar Rp 0 ‒ ≤Rp 2 340 000, sedangkan yang termasuk dalam kategori tinggi jika memiliki aset sebesar >Rp 2 340 000 ‒ Rp 4 680 000 setelah memperoleh pinjaman.

Tabel 11 Jumlah dan persentase pelaku usaha mikro menurut pengembangan usaha mikro di Kelurahan Situ Gede tahun 2013

Pengembangan Usaha Mikro Jumlah Persentase (%) Tinggi 2 4 Rendah 44 96 Total 46 100

Pengembangan usaha mikro dalam penelitian ini dianalisis dari jumlah omset usaha setiap bulan dan nilai aset usaha yang dimiliki oleh pelaku usaha mikro setelah memperoleh pinjaman. Mengacu pada data di atas dapat dilihat

bahwa sebanyak 4 persen pelaku usaha mikro mengalami peningkatan pengembangan usaha, sedangkan sebanyak 96 persen pelaku usaha mikro tidak mengalami peningkatan pengembangan usaha. Tingginya pengembangan usaha mikro dipengaruhi oleh tingginya jumlah omset usaha dan nilai aset usaha yang dimiliki pelaku usaha mikro.

Sebanyak 26 persen pelaku usaha mikro adalah produsen makanan/minuman, 59 persen pedagang besar/eceran, dan 15 persen penyedia jasa. Individu-individu pelaku usaha mikro tidak hanya berjualan di sekitar Kelurahan Situ Gede, tetapi ada juga yang berjualan di luar lingkungan setempat. Pemilihan lokasi perdagangan ditentukan berdasarkan perkiraan kemampuan dan peluang responden dalam memperoleh keuntungan.

HUBUNGAN IMPLEMENTASI LKM DENGAN

Dokumen terkait