• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Isolasi Sosial

4. Implementasi pada Isolasi Sosial Tindakan keperawatan untuk klien

Tujuan : Setelah tindakan keperawatan klien mampu : a) Membina hubungan saling percaya

b) Menyadari penyebab isolasi sosial c) Berinteraksi dengan orang lain a. Tindakan Keperawatan untuk Klien

1) Membina hubungan saling percaya

Tindakan yang harus dilakukan dalam membina hubungan saling percaya adalah :

a) Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan klien

b) Berkenalan dengan klien : perkenalkan nama lengkap dan nama panggilan perawat serta tanyakan nama lengkap dan nama panggilan klien.

c) Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini.

d) Buat kontrak asuhan apa yang perawat akan lakukan bersama klien, berapa lama akan dikerjakan dan tempatnya dimana.

e) Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi.

f) Setiap saat tunjukkan sikap empati terhadap klien. g) Penuhi kebutuhan dasar klien bila memungkinkan.

Untuk membina hubungan saling percaya pada klien isolasi sosial kadang-kadang perlu waktu yang lama dan interaksi yang singkat

dan sering tidak mudah bagi klien untuk percaya pada orang lain. Untuk itu sebagai perawat harus konsisten bersikap terapeutik kepada klien. Selalu penuhi janji adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan. Pendekatan yang konsisten akan membuahkan hasil. Bila klien sudah percaya dengan perawat program asuhan keperawatan lebih mungkin dilaksanakan.

2) Membantu klien mengenal penyebab isolasi sosial

Langkah-langkah untuk melaksanakan tindakan ini adalah sebagai berikut:

a) Menanyakan pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.

b) Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.

c) Membantu klien mengenal keuntungan berhubungan dengan orang lain. Dilakukan dengan cara mendiskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka.

3) Membantu klien mengenal kerugian tidak berhubungan, dilakukan dengan cara :

a) Mendiskusikan kerugian bila klien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.

b) Menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik klien

c) Membantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.

Secara rinci tahapan melatih klien berinteraksi dapat Saudara lakukan sebagai berikut :

a) Beri kesempatan klien mempraktekan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan dihadapan anda.

b) Mulailah bantu klien menunjukkan dengan satu orang (klien, perawat dan keluarga).

c) Bila klien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan, jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat dan seterusnya.

d) Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh klien.

e) Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi dengan orang lain. Mungkin klien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Beri dorongan terus menerus agar klien tetap semangat meningkatkan interaksinya.

b. Tindakan keperawatan untuk keluarga

1) Tujuan setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat klien isolasi social

2) Tindakan : Melatih keluarga merawat klien isolasi sosial

3) Tahapan melatih keluarga agar mampu merawat klien isolasi sosial di rumah meliputi :

a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.

b) Menjelaskan tentang :

(1) Masalah isolasi sosial dan dampaknya pada klien (2) Penyebab isolasi sosial

Cara-cara merawat klien dengan isolasi sosial, antara lain:

a) Membina hubungan saling percaya dengan klien dengan cara bersikap peduli dan tidak ingkar janji

b) Memberikan semangat dan dorongan kepada klien untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain, yaitu dengan tidak mencela kondisi klien dan memberikan pujian yang wajar.

c) Tidak membiarkan klien sendiri di rumah

d) Membuat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan klien e) Memperagakan cara merawat klien dengan isolasi sosial

f) Membantu keluarga mempraktekan cara merawat yang telah dipelajari dan mendiskusikan yang dihadapi

g) Menyusun perencanaan pulang bersama keluarga (MPKP Keliat, 2010: 98-104).

5. Evaluasi

Evaluasi proses yang berkelanjutan untuk melihat efek dari tindakan keperawatan klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat

dibagi dua, yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan.

S = Respons subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

O = Respons objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

A = Analisa ulangan atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada.

P = Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respons klien.

Klien dan keluarga perlu dilibatkan dalam evaluasi agar dapat melihat perubahan dan berupaya mempertahankan dan memelihara. Pada evaluasi sangat diperlukan reincorcement untuk menguatkan perubahan yang positif. Klien dan keluarga juga dimotivasi untuk melakukan self

reinforcement (Keliat, 2006).

Kemungkinan evaluasi yang terjadi setelah perawat memberikan tindakan keperawatan menurut Keliat (2006) adalah :

a. Rencana teruskan, jika masalah tidak berubah

b. Rencana dimodifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil belum memuaskan.

c. Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada serta diagnosa lama dibatalkan.

d. Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang baru. Hasil evaluasi yang diharapkan:

a. Terbina hubungan saling percaya

b. Klien mampu menyadari penyebab menarik diri c. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain.

Erlinafsiah, 2010. Modal Perawat Dalam Praktik Keperawatan Jiwa, Jakarta: Trans Info Media.

Hadiansyah, 2011. Tersedia dalam http//Ia-Hadiansyah.blogspot.com/2011/10/ Isolasi-Sosial.html.

Heryawan, A. , 2011. Tersedia dalam http//www.ahmadheryawan.com/lintas-jabar/ lintas-jawa-barat/kesehatan/935-gangguan-jiwa-di-jabar-tertinggi.

http://refreshyourmind-newbie.blogspot.com/2009/10/jumlah-orang-Indonesia-yang-terkena-html.

Keliat, A., 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. ---, 2010. MKMP Jiwa, Jakarta: EGC.

Maramis, 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

RSU Kota Banjar, 2016. Catatan Rekam Medik Ruang Tanjung Rumah Sakit Umum Kota Banjar.

Stuart, 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta: EGC.

Tim Diklat Cimahi, 2011. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: RSJ Cimahi. Yani, A., 2013. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Dokumen terkait