BAB V ANALISA TEMUAN
5.1. Implementasi Program Pinjaman Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan di Kelurahan Bantan berdasarkan model G Edward III
a. Komunikasi
Setiap kebijakan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika terjadi komunikasi yang efektif antara pelaksana program (kebijakan) dengan para kelompok sasaran (target group). Tujuan dan sasaran dari program atau kebijakan dapat disosialisasikan secara baik sehingga dapat menghindari adanya distorsi atas kebjakan dan program
Sosialisai merupakan tahapan pertama kegiatan Implementasi PNPM Mandiri – Perkotaan dimana pada tahap ini masyarakat, khususnya masyarakat miskin, diberikan pemahaman bahwa mereka dapat bangkit dari kemiskinan melalui program pinjaman bergulir PNPM Mandiri – Perkotaan. Program pinjaman bergulir memberikan akses pinjaman yang mudah untuk masyarakat miskin yang saat ini belum memiliki akses pinjaman ke lembaga keuangan lain. Sosilalisasi dilakukukan dengan mengumpulkanwarga kelurahan Bantan dan memberikan penjelasan tentang program pinjaman Bergulir PNPM Mandiri Perkotaan.
Program pinjaman bergulir ini diperkenalkan oleh Fasilitator Kelurahan. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat mengerti tentang tata cara pelaksanaan kegiatan pinjaman bergulir ini, tahap – tahap peminjaman dan proses pengembalian pinjaman. hal ini sesuai dengan pernyataan bapak Makmur Hasibuan, Sekretaris Kelurahan Bantan, mengenai sosialisasi program pinjaman bergulir kepada masyarakat:
“Pertama sekali fasilitator kelurahan dating ke kantor lurah untuk meminta izin melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Kemudian masyarakat dikumpulkan, fasilitator kelurahan melakukan sosialisasi program pinjaman bergulir PNPM MP ini. Setelah sosialisasi dilaksanakan maka dibentuklah LKM yang didampngi oleh fasilitator kelurahan dan lurah bantan. Kordinator dan anggota LKM dipilih oleh warga melalui rembug warga.” (wawancara pada tanggal 16 Juni 2013)
Berdasarkan wawancara di atas, diketahui bahwa sosialisasi dilakukan oleh fasilitator kelurahan, kemudian terbentuklah Lembaga Keswadayaan Masyarakat(LKM) yang dipilih oleh masyarakat sendiri yang didampingi oleh fasilitator dan lurah Bantan. Melalui rembug warga, dipilih lah satu koordinator LKM dan 9 orang anggota LKM. Sebagian besar anggota LKM merupakan Kepala Lingkungan.
Dalam sosialisasi yang dilksanakan oleh fasilator kelurahan dan Lurah Bantan, tidak semua warga dapat menghadiri kegiatan tersebut sehingga tidak semua warga mengetahui informasi tentang program pinjaman bergulir PNPM Mandiri Perkotaan ini. Seperti yang disampaikan oleh Sekertaris Kelurahan, Bapak Makmur Hasibuan yang menyatakan:
“Waktu sosialisasi memang tidak semua warga dapat mengikuti sosialisasi yang disampaikan oleh fasilatator kelurahan, karena memang aula kantor yang tidak begitu besar untuk menampung semua warga Kelurahan Bantan. Jadi kami berkoordinasi dengan kepala – kepala lingkungan yang ada di Kelurahan Bantan dan disepakati setiap lingkungan diwakilkan oleh dua orang warga.” (wawancara pada tanggal 16 Juni 2013)
Pada awalnya, banyak warga yang tidak percaya dan sedikit yang berpartisipasi, akan tetapi lambat laun dengan berjalanya berbagai program PNPM Mandiri Perkotaan, maka warga berangsur – angsur ikut dalam kegiatan PNPM Mandiri – Perkotaan, termasuk pinjaman bergulir. Kepala lingkungan memiliki peran yang sangat besar dalam hal sosialisasi kepada warga. Kepala lingkungan menyadari perannya sebagai penyambung lidah dalam meneruskan informasi tentang pinjaman bergulir PNPM MP agar program ini bisa berjalan dengan baik. Hal senada disampaikan kepala lingkungan IV Arwin yang menyatakan:
“Kami selaku kepala lingkungan bertugas meneruskan informasi mengenai program pinjaman bergulir ini kepada masyarakat karena memang tidak semua warga hadir dalam sosialisasi kemaren. Banyak warga yang tidak ikut karena tidak percaya ada program ini. Saya sendiri bekerja sama dengan salah satu warga yang aktif di kegiatan PKK dan posyandu, disampaikan juga lewat perwiritan.” (wawancara pada tanggal 16 Juni 2013)
Berdasarkan hasil wawancara di atas, terlihat bahwa bentuk komunikasi yang dilakukan belum efektif dan baik dikarenakan keterbatasan tempat pertemuan masyarakat, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama agar masyarakat bisa mendapatkan informasi tentang pinjaman bergulir PNPM MP ini.
b.
Setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai. Ketersediaan sumber daya sangat mendukung berhasil atau tidaknya suatu kebijakan. Dalam pelaksanaan program pinjaman bergulir dibutuhkan sumber daya, seperti : staff, informasi, wewenang dalam pelaksanaan program serta fasilitas – fasilitas dalam pelaksanaan kegiatan program.
Sumber daya
1. Staff
Berbeda dengan program – program kebijakan lainnya, yang menempatkan masyarakat sebagai objek suatu kebijakan, maka dalam kegiatan pinjaman bergulir PNPM MP masyarakat sendiri lah yang menjalankan program tersebut. Untuk mengkoordinasi kegiatan pinjaman bergulir ini, dibentuk Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang dibentuk oleh masyarakat sendiri. Untuk pengelolaan pinjaman bergulir dibentuk Unit Pengeola Keuangan (UPK). UPK dipilih melalui rapat LKM. Lurah sebagai wakil perpanjangan pemerintah di Kelurahan Bantan, memberikan dukungan dan jaminan pelaksanaan pinajaman bergulir dapat berjalan lancer. Seperti yang disampaikan Sekretaris Kelurahan Bantan, Bapak yang menyatakan bahwa :
“Dalam pelaksanaan pinjaman bergulir ini, masyarakat lah yang menjalankannya sendiri, masyarakat yang memilih LKM yang mengkoordinir kegiatan ini. Untuk syarat peminjaman masyarakat diwajibkan untuk membentuk kelompok peminjam yang disebut Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). KSM inilah yang mengajukan permohonan pinjaman kepada UPK. Dan lurah memfasilitasi pelaksanaan yang berkaitan dengan pinjaman bergulir ini.” (wawancara pada tanggal 18 Juni 2013)
Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator LKM, dalam wawancara beikut ini : “Dalam kegiatan pinjaman bergulir ini memang LKM lah yang mengkordinir dan mengawasi pengelolaan keuangan. kelompok- kelompok peminjam mengajukan pinjaman, kemudian UPK melakukan peninjauan kelapangan apakah memenuhi syarat peminjaman, setelah setelah sesuai syarat, disetujui permohonan peminjamanya.” (wawancara pada tanggal 18 Juni 2013)
Berdasarkan wawancara di atas terlihat bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pinjaman bergulir ini, masyarakat sendiri lah yang menjalankan kegiatan ini dengan
berkoordinasi dengan Lembaga keswadayaan Masyarakat (LKM) yang dibentuk oleh masyarakat sendiri. Sebelum mengajukan peminjaman masyarakat membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Setelah memenuhi syarat peminjaman maka permohonan tersebut disetujui oleh LKM.
2.
Informasi merupakan sumber penting yang kedua dalam implementasi kebijakan. Informasi mempunyai dua bentuk; pertama, informasi mengenai bagaimana melaksanakan suatu kebijakan. Pelaksana-pelaksana perlu mengetahui apa yang dilakukan dan bagaimana harus melakukannya. Dengan demikian para pelaksana diberi petunjuk untuk melaksanakan kebijakan. Kedua, data tentang ketaatan personil-personil lain terhadap peraturan-peraturan pemerintah. Dalam pelaksanaan program pinjaman bergulir PNPM MP, terdapat petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis sebagai acuan umum dalam memberikan pinjaman bergulir. Lembaga Keswadayaan Masyarakat dan Kelompok Swadaya masyarakat haruslah mengetahui dan memahami petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis program pinjaman bergulir PNPM MP ini. Seperti yang disampaikan koordinator LKM yang mengatakan :
Informasi
“Pada awalnya diperkenalkan oleh fasilitator kelurahan, banyak yang disampaikan, seperti persyaratan sebelum meminjam, rentang waktu dalam membayar kembali pinjaman. Itu masyarakat sendiri yang memilih, sesuai dengan kemampuanya. ya dalam pelaksanaan kan kita mengacu pada juklak dan juknisnya.” (wawancara pada tanggal 18 Juni 2013)
Dari uraian di atas, masyarakat (baik LKM maupun KSM) sudah mengetahui bagaimana melaksanakan program pinjaman bergulir dari sosialisasi yang disampaikan fasilitator kelurahan dan masyarakat juga sudah mengetahui bahwa dalam pelaksanaan program pinjaman bergulir harus mengacu pada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya.
Wewenang berbeda dari program yang satu dengan prgram yang lain, serta mempunyai banyak bentuk yang berbeda. Wewenang dapat berbentuk dari memberi bantuan hingga memaksakan perilaku. Wewenang yang mau diketahui penulis adalah bagaimana kesigapan segera untuk melaksanakan tugas, ataupun tanggungjawab karena memang kebutuhan yang mendesak terutama menyangkut kepentingan umum serta adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarahkan kepada sebagaimana yamg diharapkan. Sebagai organisasi yang mengelola pinjaman bergulir ini, Unit Pengelola Keuangan menyetujui atau tidak atas pengajuan pinjaman oleh KSM, seperti yang disampaikan oleh bapak Misman berikut :
3. Wewenang
Jjadi sebelum kita kabulkan permohonan pinjamannya, terlebih dahulu membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang, masyarakat bebas memilih anggota dan ketua kelompok KSM ini, semua ketentuan kan diatur di PNPM Mandiri Perkotaan ini. Kemudian kita melakukan kunjungan ke rumah dan kita seleksi bersama UPK. Kalo ada KSM yang nunggak ya kita tagih terus sampe lunas, dan resikonya untuk pinjaman berikutnya kita gak kasih lagi, kan masih banyak masyarakat yang membutuhkan pinjaman ini, ya dengan seperti ini kita harap semua KSM yang meminjam bisa lebih bertanggungjawab lagi,”
Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa UPK memiliki kewenangan untuk meyetujui atau tidak pinjaman yang diajukan oleh KSM. UPK memberikan penyadaran kepada masyarakat agar bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan dari program pinjaman bergulir PNPM MP. Hal tersebut sesuai dengan tujuan program pinjaman bergulir PNPM MP yaitu untuk memperbaiki ekonomi masyarakat miskin dan membelajarkan masyarakat dalam mengelola pinjaman dan menggunakannya secara benar.
(wawancara pada tanggal 18 Juni 2013)
4. Fasilitas
Dalam pelaksanaan program diperlukan fasilitas untuk mendukung berlangsungnya program, Fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk
melakukan kegiatan program seperti dana dan sarana prasarana. Kantor LKM Sari Bantan berada pada kantor kelurahan. Semua informasi mengenai pinjaman bergulir dipusatkan di kantor kelurahan ini. Dana operasional pelaksanaan program berasal dari keuntungan yang diperoleh dari pinjaman masyarakat. Hal terkait disampaikan oleh koordinator LKM , bapak Misman yang mengatakan:
“Kantor LKM berada di kantor kelurahan yang digunakan untuk membagikan informasi - informasi kepada masyarakat, di depan ada papan pengumuman, disitu biasanya kita tempelkan pengumuman – pengumuman, disini juga kita adakan rembug warga.”
Dan mengenai dana operasional anggota UPK menyampaikan : (wawancara pada tanggal 18 Juni 2013)
“untuk dana operasional yang kita pake itu berasal dari laba yang kita dapat dari pinjaman masyarakat. Kan itu ada aturnya. Ya memang sangat sedikit dana operasional yang kita dapat, bunga satu setengah persen dari pinjamanan masyarakat, kita kadang terkendala di biaya operasional ”
Berdasarkan observasi peneliti, terdapat fasilitas – fasilitas yang digunakan untuk mendukung berjalanya program pinjaman bergulir ini, seperti kantor LKM yang digunakan sebagai pusat informasi bagi warga Kelurahan Bantan yang berkaitan dengan pinjaman bergulir PNPM MP. Selain itu, untuk mendukung kegiatan juga diperlukan dana operasional yang berasal dari laba atas pinjaman KSM. Kekurangan biaya operasional juga mempengaruhi pelaksanaan program ini.
(wawancara pada tanggal 18 Juni 2013)
c. Disposisi
Salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas implementasi kebijakan adalah sikap implementor. Jika implemetor setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan maka mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak masalah.Ada tiga bentuk sikap/respon implementor terhadap kebijakan ; kesadaran pelaksana, petunjuk/arahan pelaksana untuk merespon program kearah penerimaan atau penolakan, dan intensitas dari
respon tersebut. Masyarakat Kelurahan Bantan yang merupakan objek dan juga sebagai pelaksana program sangat antusias dengan adanya program ini, seperti yang disamapaikan oleh seorang peminjam yang mengatakan :
“Ibu sangat bersyukur dengan adanya program pinjaman, saya gak bingung lagi mencari pinjaman buat modal usaha yang selama ini sulit didapat. Awal pinjaman saya minta lima ratus ribu, pinjaman seterusnya dua juta. Ya sangat membantu lah.” (wawancara pada tanggal 24 Juni 2013)
Senada dengan yang disampaikan oleh koordinator LKM yang menyampaikan: “kita sebagai LKM merasa program ini sangat membantu, khususnya masyarakat yang selama ini sangat kesulitan mendapatkan pinjaman dari bank. Kita berusaha agar melalui program ini, kesejahteraan masyarakat bisa terangkat. (wawancara pada tanggal 24 Juni 2013)
Berdasarkan observasi diatas, masyarakat sebagai objek dan juga sebagai pelaksana program, sangat antusias dan memahami arti pentingnya program yang sedang dijalankan. Dan hal ini sangat berpengaruh terhadap berhasil tidaknya program pinjaman bergulir itu sendiri.
Birokrasi merupakan salah satu badan yang paling sering atau dominan menjadi pelaksana kebijakan. Apabila para pelaksana kebijakan telah mengetahui apa yang dilakukan dan mempunyai cukup keinginan serta sumber-sumber untuk melakukannya, tetapi dalam pelaksanaanya masih terhambat oleh struktur-struktur organisasi maka tujuan dari kebijakan tidak akan tercapai. Menurut Edward
d. Struktur Birokrasi
25
1. SOP (Standart Operating Procedures)
terdapat 2 (dua) karakteristik dari birokrasi, yakni posedur-prosedur kerja atau ukuran-ukuran dasar yang sering disebut sebagai Standart Operating Procedures (SOP) dan Fragmentasi.
SOP merupakan aspek struktur yang penting dari setiap organisasi. SOP ini menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. SOP digunakan agar pelaksana kebijakan dapat memanfaatkan waktu yang tersedia, selain itu SOP juga
25
menyeragamkan tindakan-tindakan dari para pejabat dalam implementasi kebijakan. SOP dalam implementasi program pinjaman bergulir PNPM MP adalah pedoman pelaksanaan dan petunjuk teknis pinjaman bergulir, terkait dengan bagaimana implementasi kebijakan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan Sekretaris Kelurahan Bantan, Koorditator LKM, serta Ketua BKM, bahwa di dalam buku Pedoman Pelaksanaan Pinjaman Bergulir telah terdapat segala langkah yang harus dilakukan, mulai dari sosialisasi, seleksi kelayakan peminjam, pemberian pinjamanserta serta pengelolaan pinjaman bergulir. Berdasarkan data sekunder yang ada pada penulis, memang benar semuanya telah terdapat di dalam buku pedoman, hanya saja bagaimana implementor melaksanakan pedoman yang ada di lapangan.
Fragmentasi merupakan pembagian tanggung jawab untuk sebuah bidang kebijakan antar unit-unit organisasional. Dalam implementasi program pinjaman bergulir ini, penulis mengamati koordinasi antara aparatur kelurahan, LKM, serta UPK. Berdasarkan obesevasi penulis, semua unit organisasi yang berkaitan dengan program pinjaman bergulir ini,memiliki peran masing – masing. Aparatur kelurahan memberikan dukungan pelaksanaan program melalui keikutsertaaan dalam memantu sosialisasi, dan memfasilitasi pertemuan antara masyarakat dengan Tim Fasilitator. Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) memiliki peran dalam mengkoordinir pelaksanaan program. Unit Pengelola Keuangan merupakan organisasi pengelola pinjaman bergulir serta berperan dalam seleksi peminjam dengan meminta pertimbangan dari LKM.
2. Fragmentasi