HASIL PENELITIAN
B. Analisis Hasil Penelitian
2. Implementasi Sistem Pengendalian Intern
Pemeriksaan atas laporan keuangan yang dilakukan BPK RI bertujuan untuk memberikan opini atas tingkat kewajaran penyajian informasi keuangan. Syarat pertimbangan dalam memberikan opini adalah hasil penilaian atas desain dan implementasi Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Untuk mengetahui hal tersebut, BPK RI mengajukan pengujian atas desain dan implementasi SPI yang dimiliki Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk memberikan keyakinan tentang keandalan informasi yang disajikan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Penyelenggaraan akuntansi pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dilaksanakan dengan menggunakan program aplikasi Sistem Informasi Keuangan Pemerintah Daerah (SIKPD) – keuangan oleh bagian pembukuan. Pembukuan dan penyusunan laporan keuangan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar akuntansi Pemerintahan serta Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, juga Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007.
Hasil pemeriksaan atas sistem pengendalian intern atas pengelolaan keuangan daerah yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara masih menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam organisasi, kebijakan, personalia, perencanaan, prosedur, pembukuan dan pencatatan, pelaporan, serta pengawasan.
a. Organisasi
Struktur organisasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2009 ditetapkan melalui Perda No. 7 Tahun 2008 tentang Organisasi Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan DPRD Prov. Sumut, Perda No. 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata-tata Kerja Dinas-dinas Daerah Provinsi Sumatera Utara, Perda No. 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Provinsi Sumatera Utara dan Perda No. 6 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Lain Provinsi Sumatera Utara sudah mengacu kepada Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007, namun didalam pelaksanaannya
belum mengacu kepada PP No. 41 Tahun 2007, antara lain Kepala PPKD masih berada di bawah Sekretaris Daerah.
b. Kebijakan
Mulai Oktober 2009 Pemprovsu telah menggunakan SP2D dan telah melakukan perjanjian kerjasama dengan PT. Bank Sumut mengenai Penggunaan Aplikasi Kas On Line Daerah Dalam Pengelolaan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan sistem tersebut masih terdapat kelemahan-kelemahan, antara lain proses kerja yang lambat dan kapasitas yang belum memadai untuk memproses transaksi-transaksi Pemprovsu. Sistem tersebut juga belum dapat melaksanakan transaksi pajak secara langsung ke kantor pajak, sehingga masih ada pajak-pajak Pemprovsu yang sampai dengan 31 Desember 2009 sebesar Rp 29.003.167.174,09 yang belum diproses dan ditampung terlebih dahulu oleh Bank Sumut dalam rekening penampungan.
Berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara tanggal 23 Maret 2009, telah ditunjuk PPKD dan Kuasa Bendahara Umum Daerah, serta Pejabat yang diberi wewenang antara lain menandatangani SP2D, cek dan giro Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009. Namun dengan ditetapkannya sistem kas on line tersebut maka Pemprovsu telah menggunakan SP2D sebagai instrumen pencairan dana dan tidak lagi menggunakan giro/cek, hal itu menyebabkan uraian tugas yang tercantum dalam SK tersebut sudah tidak relevan lagi.
Disamping itu, Gubernur Sumatera Utara telah mengeluarkan SK No. 445/4496/K/Tahun 2008 pada tanggal 5 Desember 2008 tentang Penetapan Rumah Sakit Jiwa Daerah selaku Penyelenggara Pola Pengelola Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) Provinsi Sumatera Utara namun belum ada petunjuk pelaksanaan atas pengelolaan BLUD tersebut, antara lain dalam pengelolaan pendapatannya, sehingga Rumah Sakit Jiwa tersebut masih melaksanakan penerimaan daerah seperti halnya SKPD.
c. Personalia
Masih ditemukannya pengelolaan keuangan daerah dalam hal ini berdaharawan yang tidak memahami arti penting aspek pengendalian yang memadai dengan menyimpan dana yang dikelolanya dalam rekening pribadi yaitu Bendahara Pengeluaran pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Dinas Perhubungan. Dan dengan terjadinya perubahan struktur organisasi yang mempedomani PP No. 41 Tahun 2007, dari 1422 posisi pejabat eselon yang tersedia hanya 610 pejabat eselon yang dilantik sehingga masih terdapat 750 pejabat eselon yang belum dilantik. Dengan belum dilantiknya pejabat-pejabat tersebut diatas akan berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan keuangan dilingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
d. Perencanaan
Dari hasil pemeriksaan APBD Provinsi Sumut TA 2009 diketahui bahwa dalam penganggarannya masih terdapat beberapa kelemahan, antara lain adanya duplikasi penganggaran di Biro Organisasi yaitu kegiatan survey indeks kepuasan pada unit pelayanan publik, adanya anggaran Belanja Barang dan Jasa pada Sekretariat Daerah untuk Komisi Penyiaran Indonesia Daerak (KPID) Sumut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) yang merupakan lembaga diluar Pemprovsu, serta adanya pemberian bantuan sosial tanpa rincian mengenai penerima bantuan sosial yang membuka peluang untuk tidak tepat sasaran.
e. Prosedur
Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada TA 2009 masih belum ditetapkan dengan Peraturan Gubernur karena Peraturan Daerah mengenai Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah yang berpedoman kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13 Tahun 2006 yang telah disusun dalam bentuk draft, sudah dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri tanggal 1 Maret 2010, namun sampai dengan akhir tahun 2009 belum disahkan oleh DPRD Provinsi Sumut. Dengan belum adanya Perda ini sebagai pedoman, mengakibatkan pengelolaan keuangan antara lain Uang Persediaan (UP) belum sesuai dengan ketentuan. Didalam pelaksanaan pengadaan aset daerah juga terdapat beberapa kelemahan, antara lain pada Dinas Pendidikan yaitu pengadaan TV
berwarna 29” Flat, DVD Player dan Speaker Stereo untuk SMK SSN dan SBI, speaker stereo yang diserahkan tidak sesuai dengan penawaran rekanan.
f. Pembukuan dan Pencatatan
Pembukuan dan pencatatan yang diselenggarakan oleh beberapa Bendahara Pengeluaran masih terlambat diselesaikan yaitu sampai dengan bulan Maret tahun 2010 antara lain pada Biro Tata Pemerintahan, Dinas Perhubungan dan Sekretariat DPRD yang mengakibatkan terhambatnya penyusunan Laporan Keuangan Daerah.
h. Pelaporan
Laporan pertanggungjawaban fungsional Bendahara Pengeluaran SKPD sebahagian besar terlambat disampaikan kepada PPK-SKPD atau kepada PPKD. Namun Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah disampaikan tepat waktu kepada BPK RI, yaitu tanggal 25 Maret 2010.
i. Pengawasan
Inspektorat Provinsi Sumatera Utara telah melaksanakan kegiatan pemeriksaan rutin pengelolaan keuangan daerah dilingkungan Pemprovsu antara lain pemeriksaan kas dan biro keuangan sehubungan dengan diberlakukannya sistem on line kas daerah antara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan PT. Bank Sumut. Inspektorat Provinsi Sumatera Utara juga telah melakukan peninjauan atas draft Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan bantuan dari pihak BPKP.
Namun pada akhir tahun 2009 Inspektorat tidak melakukan penutupan kas pada Kuasa BUD (Bendahara Umum Daerah) untuk menguji pisah batas transaksi per 31 Desember 2009.
BPK RI juga menemukan 5 (lima) kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009 diantaranya:
1. Pengelolaan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara TA 2009 belum tertib dan realisasi anggara sebesar Rp 44.009.767.135,00 melewati Tahun Anggaran.
Prosedur pencairan dana dari rekening kas daerah sampai dengan bulan September 2009, masih mempergunakan giro untuk Belanja Non Gaji dan Cek untuk Belanja Gaji. Namun sejak bulan Oktober 2009 Pemprovsu telah menggunakan SP2D dan telah melakukan perjanjian kerjasama dengan PT. Bank Sumut mengenai Penggunaan Aplikasi Kas Daerah On Line
Sistem On Line Kas Daerah ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pencairan anggaran yang melewati tahun anggaran, namun dari hasil pemeriksaan diketahui masih terjadi keterlambatan pencairan dana, khususnya transaksi pada tanggal 31 Desember 2009 sehingga masih terdapat 43 SP2D yang dicairkan melewati tanggal 31 Desember 2009 yang dilakukan secara manual. Atas seluruh
SP2D yang terlambat dicairkan sebesar Rp44.009.767.135,00 tersebut, oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tetap diakui sebagai pengeluaran TA 2009.
Hal tersebut tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah juga Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Pernyataan No. 01 Paragraf 5 yang menyatakan bahwa Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah yaitu basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, serta Peraturan Gubernur Sumatera Utara No.7 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan APBD Provinsi Sumatera Utara TA 2009.
2. Pengelolaan Keuangan pada Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan SKPD Tidak Tertib
Berdasarkan pemeriksaan atas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan pada Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan pada beberapa SKPD diketahui bahwa Bendahara Pengeluaran dan Penerimaan tidak melakukan penatausahaan terhadap keuangan yang dikelolanya secara memadai. Hasil opname kas yang dilakukan oleh
Tim BPK pada tanggal 8 Maret 2010, hanya terdapat uang tunai di brankas sebesar Rp12.500.000,00 yang akan digunakan untuk membayar listrik, air, dan telepon, sementara sisa uang sebesar Rp142.420.933,00 tidak dijumpai dalam opname kas.
Berdasarkan pernyataan dari Kepala SKPD terkait pada tanggal 26 Maret 2010 bahwa pengembalian sisa UP (Uang Persediaan) sebesar Rp350.000.000,00 merupakan dana yang dikumpulkan oleh Kepala SKPD dari pinjaman untuk menutupi sisa UP yang belum disetorkan oleh Bendahara Pengeluaran, disertai dengan surat pernyataan/perjanjian oleh Bendahara Pengeluaran untuk dikembalikan.
Ditemukannya juga penyimpanan uang APBD di rekening pribadi Bendahara Pengeluaran yaitu pada tanggal 15 Desember 2009 sebesar Rp425.000.000,00 dan 27 Januari 2010 sebesar Rp70.000.000,00. Penyimpanan di rekening pribadi tersebut tidak diberitahukan kepada Kepala SKPD selaku Pengguna Anggaran. Menurut keterangan bendahara bahwa uang tersebut merupakan pajak yang belum dibayarkan karena belum selesainya penginputan Surat Setoran Pajak (SSP) dan penyimpanan uang tersebut dilakukan demi pengamanan sebelum uang tersebut dibayarkan.
Selain itu juga terdapat penggunaan langsung sisa UP sebesar Rp3.000.000,00 oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu di UPT Sibolga yang belum disetorkan hingga pemeriksaan berakhir tanggal 29 Maret 2010, sehingga penyetoran sisa UP dari UPT tersebut ke Kas Daerah dengan menggunakan dana pribadi Bendahara Pengeluaran Dinas Perhubungan.
Hal tersebut bertentangan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 541/KMK.04/2000 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Tata Cara Pembayaran, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pemberian Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak, Peraturan Gubernur Sumatera Utara No.7 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan APBD Provinsi Sumatera Utara TA 2009 BAB III yang menyatakan bahwa setiap kegiatan harus dilaksanakan sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan dalam batas waktu satu tahun anggaran (1 Januari-31 Desember).
3. Pajak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sampai dengan 31 Desember 2009 Belum Disetorkan PT Bank Sumut sebesar Rp29.003.167.174,00 ke Kas Negara
Pada Tahun Anggaran 2009 Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyusun draft Neraca per 31 Desember 2009. Dalam draft Neraca tersebut terdapat hutang PFK (Perhitungan Fihak Ketiga) sebesar Rp14.999.882.950,00. Hutang PFK tersebut merupakan pajak-pajak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang belum disetorkan ke Kas Negara sampai dengan 31 Desember 2009.
Hasil pemeriksaan terhadap pengelolaan keuangan di bagian Perbendaharaan diketahui bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mulai bulan Oktober 2009 sudah menggunakan SP2D sebagai alat pencairan dana. Dengan aplikasi tersebut,
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dapat langsung melakukan pencairan dana di kantor gubernur tanpa harus datang ke PT Bank Sumut.
Dalam pelaksanaannya, pencairan SP2D dilakukan dengan dua cara yaitu secara online dan secara manual. Pencairan SP2D secara manual pada bulan Oktober 2009 sebanyak 11% dan secara online sebanyak 89%, bulan November 2009 sebanyak 15% secara manual dan secara online sebanyak 85%, sedangkan bulan Desember 2009 sebanyak 20% dilakukan secara manual dan secara online sebanyak 80%. Apabila pencairan secara online, maka pada saat terjadi transaksi di perbendaharaan, secara otomatis rekening Kas Daerah sudah terdebet senilai SP2D. Walaupun pencairan secara online, namun lembaran SP2D dan SSP tetap diantarkan ke PT Bank Sumut.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut diketahui bahwa setiap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyetorkan pajak yang dipungutnya ke PT Bank Sumut, pihak Bank tersebut tidak langsung menyetorkan ke rekening Kas Negara namun ditampung terlebih dahulu di rekening penampungan. Akibatnya, sampai dengan tanggal 31 Desember 2009 masih terdapat dana sebesar Rp29.003.167.174,00 dalam rekening tersebut yang merupakan pajak–pajak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang belum disetorkan PT Bank Sumut ke Kas Negara. Pajak-pajak tersebut baru disetorkan PT Bank Sumut ke Kas Negara mulai tanggal 6 s.d 25 Januari 2010. Berdasarkan ketentuan Menteri Keuangan bahwa pajak penghasilan harus disetorkan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dan pajak penambah nilai (PPN) dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah harus disetorkan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.
Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 541/KMK.04/2000 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Tata Cara Pembayaran, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pemberian Angsuran atau Penundaan Pembayaran Pajak, Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dengan PT Bank Sumut tentang Penggunaan Aplikasi Kas Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang antara lain menyatakan bahwa User Data Entry diberikan kewenangan kalkulasi potongan PPn dan PPh serta melakukan proses penyetoran PPh dan PPn ke Kas Negara. Hal tersebut mengakibatkan pajak-pajak negara yang dipungut oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp29.003.167.174,00 sampai dengan tanggal 31 Desember 2009 belum disetorkan ke Kas Negara oleh PT Bank Sumut.
4. Pengelolaan Persediaan Obat-obatan pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara TA 2009 Tidak Tertib
Berdasarkan pemeriksaan fisik di lapangan diketahui bahwa pengurus barang BKD (Badan Keuangan Daerah) dan Biro Umum Sekretariat Daerah tidak pernah melakukan penghitungan sisa obat pada akhir tahun. Berdasarkan pemeriksaan terhadap dokumen Belanja Barang dan Jasa pada Sekretariat Daerah TA 2009 yaitu
Belanja Jasa Pelaksana Pemeliharaan Kesehatan dengan anggaran sebesar Rp93.200.000,00 dan realisasi sebesar Rp93.200.000,00 diketahui bahwa belanja tersebut dipergunakan untuk membeli obat-obatan kebutuhan di rumah dinas Gubernur dan Wakil Gubernur sebesar Rp43.200.000,00 dan pemeliharaan kesehatan Gubernur dan Wakil Gubernur sebesar Rp50.000.000,00 yang diterima secara tunai oleh Gubernur Sumatera Utara.
5. Pengelolaan Barang Milik Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara belum tertib dan penyajian nilai aset tetap pada Neraca Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2009 belum menyajikan informasi secara andal, dan bebas dari salah saji yang material
Berdasarkan hasil pemeriksaan pada beberapa dinas, diketahui bahwa dalam penyajian saldo aset tetap diantaranya masih terdapat aset yang sudah diserahkan ke masyarakat tapi masih diakui sebagai aset, antara lain pada Dinas Pertanian dan Dinas Kesehatan. Dalam proses pengerjaan koreksi data aset, terdapat beberapa SKPD yang langsung menghapuskan aset yang rusak dari aset tetap lainnya tanpa mengajukan penghapusan aset kepada biro perlengkapan aset dan tanpa melalui SK Gubernur Sumatera Utara, antara lain pada Dinas Pendapatan dan Dinas Kesehatan.
Penyajian nilai aset tetap sebesar Rp5.363.368.021.452,98 pada Neraca TA 2009, diantaranya terdapat barang-barang yang sudah rusak tapi masih diakui sebagai aset
tetap, dengan tujuan untuk pengamanan. Dari perbedaan data tersebut, BPK tidak dapat melakukan koreksi karena tidak dapat menelusuri nilai dari aset terkait.