D.L. Wimer dan Aida R.Vining dalam Pasolong (2007:47) mengatakan ada tiga faktor umum yang mempengaruhi keberhasilan suatu kebijakan, yaitu (1) logika yang digunakan oleh suatu kebijakan, yaitu sampai seberapa benar teori yang menjadi landasan strategi atau seberapa jauh hubungan logis antara kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan; (2) hakekat kerjasama yang dibutuhkan, yaitu apakah semua pihak yang terlibat dalam kerjasama telah merupakan suatu assembling produktif dan (3) ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, komitmen untuk mengelola pelaksanaannya.
Untuk mengetahui efektivitas suatu strategi maka perlu dilakukan kajian sejauhmana pencapaian sasaran dan tujuan. Hal ini dapat dilakukan melalui proses evaluasi dan monitoring program yang telah dan sedang berjalan. Menurut Badjuri & Admin dalam Pasolong (2007:60) bahwa didalam proses monitoring dalam rangka mengevaluasi suatu strategi atau program dilakukan dengan pengamatan langsung ke lapangan dan hasil‐hasil sementara untuk dinilai tingkat efisiensi dan efektivitasnya. Tingkat efisiensi dalam proses ini menyangkut rasio terbalik antara semua biaya yang dikeluarkan selama implementasi dibandingkan dengan hasil sementara yang diperoleh, sementara tingkat efektivitasnya selalu dikaitkan dengan apakah suatu hasil sementara yang didapatkan merupakan hasil yang memang direncanakan atau tidak.
Pasolong (2007:64) mengatakan bahwa faktor lain yang turut memperburuk tingkat efektivitas strategi adalah kurangnya dukungan system anggaran pemerintah. Kenyataan menunjukkan bahwa tugas pengumpulan data, informasi dan merekam data yang seharusnya menjadi dasar pengusulan masalah publik untuk kemudian diproses dalam analisis kebijakan, seringkali dilakukan secara "acak-acakan"
karena tidak adanya atau kurangnya dana, terburu-buru oleh keterbatasan waktu yang mendadak.
Waktu dan system anggaran kita nampaknya tidak dapat dikompromi, dan ironisnya bila dana anggaran terlambat dicairkan, pemaksaan untuk menghabiskan dana dalam waktu begitu singkat terus terjadi. Dalam kondisi seperti ini, semua strategi yang diusulkan tahun
tersebut akhirnya dilaksanakan secara serta merta dan menjadi tidak efektif. Hasilnya jelas tidak memuaskan, dan semua pihak menyadari akan hal ini, termasuk petinggi Negara, tetapi tidak pernah ada upaya yang nyata untuk memperbaiki mekanisme ini.
Faktor yang tidak kalah penting juga dalam menentukan efektivitas strategi adalah rendahnya keterlibatan para stakeholders dan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, tingkat partisipasi masyarakat nampak masih rendah. Hal ini mungkin juga mereka tidak diberikan akses untuk berpartisipasi.
Budiardjo (2008:60) mengatakan bahwa strategi adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik, dalam usaha memilih tujuan dan cara untuk mencapai tujuan.
Pada prinsipnya, pihak yang membuat strategi strategi itu mempunyai kekuasaan untuk rnelaksanakannya.
Menurut Lister (1980:67) sebagai hasil maka implementasi menyangkut tindakan seberapa jauh arah yang telah diprogramkan itu benar-benar memuaskan. Akhirnya pada tingkatnya abstraksi tertinggi implementasi sebagai akibat ada beberapa perubahan yang dapat diukur dalam masalah-masalah besar yang menjadi sasaran program Implementasi dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses, hasil dan sebagai akibat.
Sebagai suatu proses, implementasi merupakan rangkaian keputusan dan tindakan. Maksudnya untuk menempatkan suatu keputusan otoritatif awal dari legislatif pusat dalam suatu akibat atau efek. Karakteristik esensial dari proses implementasi adalah kinerja (performance) yang tepat waktu dan memuaskan. Sebagai hasil implementasi menyangkut tindakan seberapa jauh arah yang telah diprogramkan itu benar-benar memuaskan. Akhirnya pada tngkat abstraksi tertinggi implementasi sebagai akibat ada beberapa perubahan yang dapat diukur dalam masalah-masalah besar yang menjadi sasaran program.
Kemudian Meter dan Horn (1975:116) menekankan bahwa tahap implementasi tidak dimulai pada saat tujuan dan sasaran ditetapkan oleh keputusan kebijaksanaan sebelumnya; tahap implementasi baru terjadi setelah proses legislatif dilalui dan pengalokasian sumber daya
dan dana telah disepakati. Studi implementasi lebih menekankan pada pengujian faktor - faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau ketidak berhasilan pencapaian sasaran kebijaksanaan.
Ekawati (2005:42) menyatakan bahwa definisi implementasi secara eksplisit mencakup tindakan oleh individu/kelompok privat (swasta) dan publik yang langsung pada pencapaian serangkaian tujuan terus menerus dalam keputusan strategi yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini meliputi antar usaha mentransformasi keputusan dalam tindakan operasional, berusaha mencapai perubahan besar dan kecil sebagaimana dimandatkan oleh keputusan kebijakan.
William dengan lebih ringkas menyebutkan dalam bentuk lebih umum, penelitian dalam implementasi menetapkan apakah organisasi dapat membawa bersama jumlah orang dan material dalam unit organisasi secara kohesif dan material dalam unit organisasi secara kohesif dan mendorong mereka mencari cara untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Implementasi strategi menurut William dan Elmore dalam Sunggono (1994:37) mengungkapkan bahwa implementasi strategi merupakan keseluruhan dari kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan. Wibawa, dkk (1994:139) mengatakan bahwa strategi publik selalu mengandung tiga komponen dasar, yaitu tujuan yang luas, sasaran yang spesifik dan cara mencapai sasaran tersebut.
Dalam cara mencapai sasaran tersebut terkandung beberapa komponen lain yakni siapa implementornya, jumlah dan sumber dana, siapa kelompok sasarannya, bagaimana program dan sistem manajemen dilaksanakan, serta kinerja strategi diukur. Didalam cara ini komponen tujuan yang luas dan sasaran yang spesifik diperjelas dan kemudian diinterprestasikan. Cara-cara mencapai sasaran ini biasa disebut dengan implementasi kebijakan.
Menurut Griddle dalam Abdul Wahab (1997:115) bahwa implementasi tidak hanya sekedar bersangkut paut dengan mekanisme penalaran keputusan politik kepada prosedur rutin lewat saluran-saluran birokrasi berperan lebih dari itu menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.
Walaupun dalam kenyataan terjadi perbedaan apa yang diharapkan dari
pembuat strategi dengan realita prestasi pelaksanaan strategi tersebut.
Hal ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan organisasi atau aktor yang melaksanakan keputusan kebijakan.
Implementasi merupakan suatu tahapan diantara pembuatan strategi dan konsekuensi dari kebijakan. Ripley (1985:115) menempatkan implementasi pada tahap ketiga dalam proses kebijakan;
tahap pertama penyusunan agenda, tahap kedua formulasi kebijakan, tahap ketiga implementasi kebijakan, dan tahap keempat dampak dari kebijakan.
Jones (1984:107) melihat masalah implementasi strategi dengan menekankan pada konsepsi aktivitas-aktivitas fungsional. Implementasi yang dimaksudkan mengoperasionalkan program. Aktivitas pengorganisasian, maksudnya pembentukan kembali sumberdaya, unit-unit dan metode agar program berjalan. Kedua aktivitas menafsirkan agar program menjadi rencana dan pedoman yang tepat serta dapat diterima kemudian dilaksanakan. Ketiga aplikasi yang berkaitan dengan per-lengkapan rutin untuk pelayanan, pembayaran yang disesuaikan dengan rujukan dan perlengkapan program.
Sedangkan Lester (1985: 115) mengemukakan bahwa implementasi dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses, hasil, dan sebagai suatu akibat. Dikatakan sebagai suatu proses implementasi merupakan rangkaian keputusan dan tindakan yang dimaksudkan untuk menetapkan suatu keputusan otoritatif awal dari legislatif pusat ke dalam suatu akibat atau efek, maka ciri utama dari proses implementasi adalah kinerja yang tepat waktu dan memuaskan. Sebagai hasil implementasi berkaitan dengan tingkat seberapa jauh arah yang telah diprogramkan itu benar-benar memuaskan. Akhirnya pada tingkat tertinggi implementasi sebagai akibat mengimplementasikan bahwa ada beberapa perubahan yang dapat diukur dalam masalah-masalah yang menjadi program.
Ripley dan Franklin dalam Nugroho (2005) menegaskan implementasi yang berhasil tidak hanya ada dua perspektif saja.
Pertama, keberhasilan diukur melalui tingkat kepatuhan birokrasi level bawah terhadap birokrasi level atas. Perspektif krpatuhan birokrasi hanya berbicara pada masalah perilaku birokratik. Kedua, keberhasilan
implementasi dicirikan oleh kelancaran rutinitas dan tidak adanya masalah. Tetapi masih ada perspektif yang lain, yaitu implementasi yang berhasil mengarah pada kinerja yang diinginkan dari suatu program dan dampak dari program.
Kemudian Linders dan Peters dalam Nugroho (2005) memberikan alternatif dalam menaksirkan keberhasilan implementasi dengan mengevaluasi kinerja strategi dan berusaha menentukan ada atau tidaknya perubahan yang nyata dalam populasi target atau kondisi sebagai akibat suatu intervensi strategi pemerintah. Kesulitannya ialah jika lingkungan sosial dan ekonomi dimana program itu diimplementasikan tidak dipahami secara utuh atau kondisinya yang berubah dengan cepat.
Kemudian Hogwood & Gunn dalam Abdul Wahab (1997:120) menyatakan bahwa kegagalan strategi dapat dikategorikan menjadi tidak terimplementasi dan implementasi yang tidak berhasil. Tidak terimplementasikan berarti bahwa strategi tersebut tidak sesuai dengan rencana. Hal ini disebabkan aktor-aktor yang terlibat tidak bekerja secara efektif dan efisien ataupun tidak menguasai permasalahan bahkan diluar jangkauan kekuasannya.
Sedangkan implementasi yang tidak menguntungkan, jika strategi tersebut tidak dapat mewujudkan dampak yang dikehendaki. Kondisi ini disebabkan oleh pelaksanaan yang jelek, kebijakannya sendiri jelek dan strategi tersebut bernasib jelek. Besar kecilnya implementation gap tersebut sedikit banyak akan tergantung pada apa yang disebut sebagai implementation capacity dari organisasi/aktor atau kelompok organisasi/aktor yang dipercaya untuk mengemban tugas mengimplementasikan strategi tersebut.
Implementation Capacity tidak lain ialah kemampuan suatu organisasi/aktor untuk melaksanakan keputusan strategi (policy decison) sedemikian rupa schingga ada jaminan bahwa tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen formal strategi dapat dicapai (Williams dalam Abdul Wahab, 1997: 112).
Sedangkan ketidak berhasilan implementasi biasanya terjadi apabila suatu strategi tertentu telah dilaksanakan sesuai dengan rencana tetapi mengingat kondisi eksternal ternyata tidak
menguntungkan sehingga strategi tersebut tidak berhasil dalam dampak atau hasil akhir yang dikehendaki. Biasanya strategi yang memiliki resiko untuk gagal itu disebabkan oleh faktor -faktor: (1) pelaksanaannya jelek (bad execution), (2) strategi itu sendiri memang jelek (bad policy), (3) strategi itu memang bernasib jelek (bad luck).
Menurut Tangkilisan (2003:21) implementasi strategi publik mampu memberikan jalan keluar dari berbagai macam alternatif strategi publik dan pemerintahan, dan yang paling banyak mencapai seperangkat tujuan didalam hal hubungan antara strategi dalam tujuan.
Definisi ini menentukan lima unsur pokok evaluasi kebijakan: Tujuan (goals), termasuk kendala normatif dan pertimbangan relatif untuk mencapai tujuan (goals); Kebijakan, program, proyek, keputusan, pilihan, sarana atau alternatif lain yang tersedia untuk mencapai tujuan;
Hubungan antara strategi dan tujuan, termasuk hubungan yang terbentuk oleh institusi, kewenangan, statistik, pengamatan, dedukasi, perkiraan atau sarana lain; Penarikan kesimpulan tentatif sebagai strategi atau kombinasi strategi yang mana paling baik untuk diadopsi dalam hal tujuan, strategi dan tujuan; menentukan apa yang akan dilakukan untuk memetakan alternatif kebijakan.Dalam melaksanakan atau membuat strategi publik hendaknya memperhatikan berbagai hal yang berkaitan dengan strategi tersebut.
Sebab berhasil tidaknya strategi dipengaruhi oleh banyak faktor.
Menurut Bryan dan White (1987:214) manajemen proyek yang baik merupakan satu- satunya variabel yang mempengaruhi hasil proyek.
Artinya, proyek yang paling efektif ialah disusun dengan sederhana dan lugas, dapat dipahami dengan mudah, hasil-hasil proyek bukan hanya bergantung pada rencana awal semata‐mata, tetapi juga pada pelaksanaannya (Implementasi).
Menurut Meter dan Horn dalam Wahab (1997:6) yang mendefenisikan implementasi strategi publik sebagai tindakan publik maupun swasta, baik secara individu maupun kelompok, ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan dalam keputusan kebijakan. Defenisi ini menyiratkan adanya upaya mentrsnformasikan keputusan ke dalam kegiatan operasional, serta mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Implementasi strategi dalam pembangunan Negara
perlu melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan swasta untuk mempercepat pelaksanaan strategi yang melahirkan konsep pembangunan dalam suatu negara.
Mazmanian dan Sabetier dalam Wahab (1997:71) mengungkapkan bahwa, peran penting dari analisis implementasi strategi Negara ialah mendefenisikan variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan formal pada proses implementasi.
Variabel-variabel yang dimaksud diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar, yaitu : (1) Mudah tidaknya masalah yang akan digarap dan dikendalikan; (2) kemampuan keputusan strategi untuk menstrukturkan secara tepat proses implementasi; dan (3) pengaruh langsung berbagai variabel politik terhadap keseimbangan dukungan bagi pencapaian tujuan strategi tersebut.
Menurut Grindle dalam Santoso (1986:13) mengungkapkan bahwa, keseluruhan proses strategi baru bisa dimulai bila tujuan umum dari strategi tersebut telah ditetapkan, program pelaksanaan telah dibuat, serta dana telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan kebijakan.
Selanjutnya menurut Grindle dalam Santoso (1986:21) mengatakan bahwa, implementasi strategi bukanlah sekedar terkait dengan bagaimana mekanisme penjabaran berbagai keputusan politik ke dalam prosedur rutin melewati saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu menyangkut masalah konflik, keputusan, dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan.
Meter dan Horn (1975:32) terdapat 6 variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi sebuah kebijakan sebagai berikut:
1) Standar kebijaksanaan dan tujuan: yaitu rincian tujuan keputusan kebijaksanaan secara menyeluruh yang berwujud dokumen peraturan menuju penentuan standar yang spesifik dan konkrit untuk menilai kinerja program.
2) Sumber daya: kebijaksanaan mencakup lebih dari sekedar standar dan sasaran, tapi juga menuntut ketersediaan sumberdaya yang akan memperlancar implementsi. Sumber daya ini dapat berupa dana maupun insentif lainnya yang akan mendukung implementasi
secara efektif.
3) Karakteristik agen pelaksana: meliputi karakteristik organisasi yang akan menentukan berhasil atau tidaknya suatu program, diantaranya kompetensi dan ukuran staf agen, dukungan legislatif dan esekutif, kekuatan organisasi, derajat keterbukaan komunikasi dengan pihak luar maupun badan pembuat kebijakan
4) Komunikasi antar organisasi dan aktifitas pelaksana : implementasi membutuhkan mekanisme dan prosedur institusioanal yang mengatur pola komunikasi antar organisasi mulai dari kewenangan yang lebih tinggi hingga yang terendah.
5) Kondisi sosial, ekonomi dan politik: pengaruh variabel lingkungan terhadap implementasi program, diantaranya sumberdaya ekonomi yang dimiliki organisasi pelaksana, bagaimana sifat opini publik, dukungan elit, peran dan kelompok-kelompok kepentingan dan swasta dalam menunjang keberhasilan program.
6) Disposisi sikap para pelaksana: persepsi pelaksana dalam organisasi dimana program itu diterapkan, hal ini dapat berubah sikap menolak, netral dan menerima yang berkaitan dengan sistem nilai pribadi, loyalitas, kepentingan pribadi dan sebagainya. Faktor di atas adalah merupakan faktor yang mengalami perubahan dalam rangka implementasi sebuah strategi.
Menganalisis Perubahan
P
ada tahapan implementasi strategi adalah dengan menganalisis perubahan yang terjadi, berikut ini beberapa perubahan antara lain:1) Tidak adanya perubahan yang signifikan. Penerapan pola ini karena adanya pengulangan strategi yang sama dengan strategi yang digunakan dalam priode sebelumnya.
2) Perubahan rutin Perubahan dalam pasar dengan memfokuskan pada upaya memikat pelanggan.
3) Perubahan terbatas Perubahan ini karena adanya penawaran produk baru kepada pelanggan baru dalam golongan produk umum yang sama.
4) Perubahan radikal Reorganisasi besar-besaran dalam perusahaan karena terjadi merger atau akuisisi
5) Merger/akuisisi Melibatkan merger dan akuisisi perusahaan yang berasal dari berada industri yang sama.
PERTANYAAN
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan implementasi!
2. Jelaskan apa kegunaan implementasi strategi!
3. Jelaskan bagaimana cara mengimplementasikan strategi!
Kompetensi
Setelah mempelajari mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu mengetahui dan memahami serta mengevaluasi strategi dalam dunia bisnis
Konsep evaluasi strategi
E
valuasi strategi adalah tahap akhir dari proses manajemen strategi ini merupakan suatu jenis khusus dari pengendalian organisasi yang berfokus pada pemantauan dan pengevaluasian proses manajemen strategi dengan maksud untuk memperbaiki dan memastikan bahwa system tersebut berfungsi sebagaimana mestinya.Dalam tahap ini akan dicoba dievaluasi apakah implemensi strategi benar-benar sesuai dengan formulasi strategi atau tidak. Atau apakah asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis lingkungan masih valid atau tidak. Hasil dari tahap pengandalian strategi ini akan sangat bermanfaat dan menjadi input untuk proses manajemen strategi organisasi selanjutnya. Dengan demikian organisasi diharapkan tetap memiliki kinerja yang baik.
Secara konsep menurut Nugroho (2006: 154) evaluasi dapat disamakan dengan penafsiran, pemberian angka, dan penilaian. Evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. evaluasi memberikan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yakni seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik.