• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Strategi Value Pemasaran Perbankan Syariah

ANALISA STRATEGI NEW WAVE MARKETING PADA BANK SYARIAH

D. Implementasi Strategi Value Pemasaran Perbankan Syariah

Selanjutnya dalam membangun value di era new wave marketing, yang dilakukan Perbankan Syariah bukan lagi brand, service, dan proses. Perbankan Syariah perlu melakukan character, caring, dan collaboration. Hal ini bisa dilakukan juga oleh perbankan syariah. untuk lebih jelasnya sebagai berikut.

1. Selling is Commercialization

Pembahasan terakhir dari taktik ini bukan lagi selling (capture tactic) tapi commercialization.14 Proses selling terkesan satu arah, dari Perbankan Syariah ke pelanggan. Perbankan Syariah punya produk, ditawarkan kepada pelanggan. Pelanggan membelinya dan setelah itu selesai. Tidak ada relasi lebih lanjut antara Perbankan Syariah dengan pelanggan. Commercialization bersifat dua arah, terjadi proses pertukaran value antara Perbankan Syariah dengan pelanggan. Tidak seperti selling, commercialization tidak dilakukan secara “langsung”. Artinya, pelanggan tidak begitu saja disodori produk. Perbankan Syariah harus berupaya melakukan engagement dengan pelanggan sebagai pihak yang setara. Dalam era new wave marketing, commercialization harus dilakukan atas dasar kesadaran bahwa relasi jangka panjang yang dibangun akan sama-sama menguntungkan kedua belah pihak yaitu Perbankan Syariah dan pelanggan.

14

Hermawan Kartajaya, New Wave Marketing; The World is stil round the market is already flat, h. 248

2. Brand is Character

Layaknya manusia, karakter pada dasarnya sama dan tetap sesuai dengan DNA-nya. Seseorang bisa gonta-ganti baju, mengubah potongan rambut atau bahkan melakukan operasi plastik, namun tetap saja DNA-nya tidak bisa berubah. Begitu juga merek. Merek bisa saja berubah-ubah atribut luarnya (logo, warna, tagline, dan sebagainya) namun karakternya akan tidak berubah dan konsumen akan tetap bisa mengenali karakternya. Untuk mengetahui bahwa produk sudah memiliki karakter yang kuat adalah dengan melepas semua atribut atau simbol yang melekat pada merek tersebut. Kalau kita masih tetap mengenalinya, berarti karakternya memang sudah kuat. Mungkin tidak lagi diperlukan brand book atau brand manual. Biarkan kemasan merek berubah-ubah yang penting karakternya tetap. Kedinamisan ini sekaligus menunjukkan semangat muda. “Muda” dan “dinamis” inilah yang menunjukkan paradigma horizontal di era new wave marketing.

Di era legacy marketing ada istilah brand equity dari David Aaker yang terdiri atas brand awareness, brand associations, perceived quality, other proprietary assets, dan brand loyalty. Sedangkan di era new wave marketing istilahnya menjadi character meaning, terdiri dari character presence, character connection, perceived relevance, other ownership assets, dan character advocacy.15 Orang bukan hanya harus sadar (aware) terhadap

15

Evan Hendrata Subagijo, S.E., ICPM, "Citizens" or "Criminals"?: The BBC World Case,

merek itu, namun juga harus merasakan kehadirannya (presence). Bukan hanya bisa melihat asosiasi, namun juga merasakan koneksi dengan merek tersebut. Bukan hanya bisa menilai kualitas, namun juga merasakan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Dan bukan hanya loyal, namun juga mampu menjadi pendukung setia merek tersebut. Sebuah merek memang akan bergerak secara dinamis dari waktu ke waktu.

Di era new wave marketing ini, Perbankan Syariah tidak bisa lagi membangun mereknya sendirian, namun harus melibatkan pelanggan untuk membangun karakternya. Sebuah merek harus melihat konsumen sebagai seorang manusia yang tidak hanya butuh kualitas semata, tetapi juga membutuhkan merek yang bisa memberikan ketenangan dan kontribusi bagi perkembangan lingkungan sekitar dan dunia secara keseluruhan. Inilah yang menunjukkan terjadinya proses horizontal di era new wave marketing. Karakter seperti inilah yang akan mampu bertahan selama bertahun-tahun. Karakter ini akan dijaga bukan hanya oleh Perbankan Syariah namun juga pelanggannya sendiri. Kalau misalnya saja sebuah merek melakukan aktivitas- aktivitas yang dianggap melenceng dari karakternya maka pelanggan akan langsung memprotesnya. Masyarakatlah yang menentukan seperti apa karakter sebuah merek.

3. Service is Care

Setelah membangun karakter suatu produk, selanjutnya adalah caring (sepenuh hati). Servis itu sudah taken for granted, sudah jadi sesuatu yang

memang seharusnya ada. Semua perusahaan melakukannya. Semua pelanggan juga mengharapkannya. Caring is beyond service. Caring ini bukan sekadar servis yang mangandalkan RATER (Reliability, Assurance, Tangible, Empathy dan Responsiveness) atau experience16 semata. Namun, bagaimana pemasar bisa benar-benar memperhatikan pelanggan layaknya manusia.

Jadi, kalau untuk servis, Perbankan Syariah belajar dari hospitality business, untuk caring ini Perbankan Syariah belajar pada hospital business. Inilah bedanya. Dalam hospitality industry, kalau Perbankan Syariah tidak melakukan servis dengan baik, akibat terjeleknya adalah pelanggan akan merasa tidak puas dan mungkin saja menjadi tidak loyal. Namun, dalam hospital industry, kalau Perbankan Syariah tidak melakukan servis dengan baik, nyawa pasienlah yang menjadi taruhannya. Di hospital business ini, pelanggan alias pasien sedang sakit sehingga dalam kondisi yang sangat tertekan. Pelanggan juga bukan sekadar mampir layaknya di toko, namun malah bisa menginap di tempat. Layanan terhadap pelanggan di hospital business ini juga harus sangat personal; bukan sekadar kondisi kesehatannya yang diperhatikan, namun juga faktor-faktor usia, status mental, kepribadian, preferensi, pendidikan, situasi keluarga, dan kendala keuangan juga harus diperhatikan. Dengan cara pandang seperti ini, new wave marketer akan benar-benar memperhatikan pelanggannya dengan sepenuh hati. Tiap-tiap orang akan berupaya menjadi “dokter”dan “perawat” bagi pelanggannya. Dan

16

yang tidak kalah penting, Perbankan Syariah akan membangun dirinya menjadi sebuah service organization layaknya sebuah rumah sakit. Dengan menerima caring, pelanggan bukan hanya akan merasa puas, melainkan juga bisa menjadi “manusia baru” layaknya seorang pasien yang baru selesai menjalani perawatan

4. Process is Collaboration

Elemen terakhir dari value marketing bukan lagi proses melainkan collaboration.17 Hal ini disebabkan proses tidak lagi bisa dijalankan secara vertikal oleh satu Perbankan Syariah, namun harus dijalankan secara horizontal dengan memanfaatkan banyak sumber. Perbankan Syariah harus menjalin kolaborasi dengan banyak pihak agar bisa lebih kompetitf dan menawarkan value yang lebih tinggi kepada pelanggan. Oleh karena itulah, collaboration akan memegang peranan penting di era new wave marketing. Kemampuan Perbankan Syariah untuk memilih dan menjalin kerja sama dengan mitra yang tepat akan menentukan daya saingnya di lanskap new wave yang seperti galaksi tanpa batas ini.

17

Hermawan Kartajaya, New Wave Marketing; The World is stil round the market is already flat, h. 280

75

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dalam Perbankan Syariah tantangan perubahan di pasar bisa di didukung oleh dua pihak. Regulator dan juga pelaku bisnis Syariah. BI sebagai regulator bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi untuk melakukan penelitian dan mempersiapkan kurikulum dalam mengembangkan SDM berkualitas tinggi yang tidak hanya paham ilmu fiqh tetapi juga mendalami ilmu perbankan dan keuangan. Selain itu pelaku bisnis melakukan working group dengan beberapa pihak seperti Ikatan Akuntansi Indonesia dan Dewan Syariah Nasional agar dapat berjalan dengan baik sehingga inovasi dan pengembangan produk perbankan Syariah dapat berjalan dengan cepat dan efektif.

2. Perbankan Syariah bisa mengimplementasikan secara spesifik konsep new wave marketing diantaranya dengan strategi komunitas maka segmentasi pasar lebih fokus sebagai contohnya Tabungan Haji untuk komunitas dosen di UIN, setelah itu Di konfirmasikan kepada komunitas dosen tersebut, setelah itu di klarifikasi tentang bagaimana tingkat minat komunitas tersebut dalam talangan haji, sehingga produk tersebut bisa ditemukan Coding-nya atau DNA-nya yang kemudian benar menjadi produk yang tidak bisa ditiru oleh yang lain. Tidak berhenti disitu bank syariah mengkreasikan produk tersebut,

dan membuat karakter tersendiri dengan currency sehingga lebih fleksibel. Untuk penjualannya dengan komunikasi secara interaktif (Conversation) dengan komunitas tersebut.

3. Potensi spesifik yang bisa membedakannya dengan bank konvensional dalam menerapkan New Wave Marketing yang pertama adalah DNA-nya perbankan syariah ternyata memang sudah berbeda dengan karena DNA dan roh dari Perbankan Syariah berawal dari Agama. Yang agama itu sendiri adalah rahmat untuk seluruh alam. Secara produk DNA yang bisa dijadikan contoh adalah produk Shar-e. Produk ini sangat berbeda dengan produk perbankan yang lainnya. Sehingga tidak akan ditiru oleh perusahaan yang lainnya, tinggal pengelolaan dan kreatifitas dari Bank Muamalat untuk menjaga produk tersebut.

B. Saran-saran

Dikarenakan Strategi Pemasaran perbankan syariah yang masih mengikuti strategi konvensional, padahal perubahan zaman atau era terus terjadi maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Strategi baru dari hermawan kartajaya dengan 12 Cs untuk era baru ini sangatlah relefan dan bisa diterapkan dalam strategi pemasaran Bank Syariah. bagi para akademisi diharapkan bisa mengelupas lebih dalam dengan strategi baru tersebut.

2. Pada Lembaga Keuangan Syariah dalam hal ini Perbankan Syariah diharapkan para praktisi bisa menganalisa dan meneliti lebih lanjut lagi strategi pemasaran yang telah dilakukan untuk menghadapi era baru yang menakin kompetitif ini.

3. Bagi pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia diharapkan memberikan kebijakan yang tepat sehingga bisa membantu berkembangnya perbankan Syariah minimal berjalan seimbang dengan bank konvensional.

78

A. Buku

Alma, Buchari, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Bandung: Alfabeta, 2004

Antonio, M. Syarfii, Bank Syariah: Teori dan Praktik, Jakarta: Gema Insani Press, 2001

Arifin, Zainul, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, Jakarta: Alfabet, 2006 Buchory, Herry Achmad dan Djaslim Saladin. Dasar-dasar Pemasaran Bank.

Bnadung: Linda Karya. 2006

Candra, Gregorius, Strategi Program Pemasaran, Yogyakarta: Andi Ofset, 2002 Karim, Adiwarman Azwar, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan, Jakarta:

Rajawali Press, 2004

Kartajaya, Hermawan dan Waizly Darwin, Connect! Surfing New Wave Marketing, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010

Kartajaya, Hermawan, New Wave Marketing: Theworld is Still Round The Market Is Already Flat., Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010, Cet. 5

Kasmir, Pemasaran Bank. Jakarta: Kencana, 2008, Ed.rev., cet.3

Kertajaya, Hermawan, New Wave Marketing The World Is Still Round the Market is Already Flat, Jakarta: Gramedia, 2010

Kotler, Philip dan AB Susanto. Manajemen Pemasaran di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat. 2000

Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran. Jakata: Indeks. 2007

Kotler, Philip. Marketing Management. New Jersey: Prentice Hall. 2000 Lupiyadi, Rambat, Manajemen Pemasaran Jasa, Jakarta: Gramedia, 2002

Maleong, lexy J., Metode Penelitian kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002

Marzuki, Metodologi Riset, Yogyakarta: BPFE-UII, 2001

Perwataatmadja, Karnaen dan Muhammad Syafii Antonio, Apa dan Bagaimana Bank Islam, Yogyakarta: Dana Bhakti Prima yasa, 2002

Rianto Al-Arif, M. Nur, SE., M.Si, Dasar-dasar Pemasaran Bank Syariah, Jakarta: Alfabeta, 2010

Suharsimi, Arikonto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2002, Edisi Revisi V

Sula, M. Syakir dan Hermawan kertajaya, Syariah Marketing, Jakarta: Mizan, 2006

Sumarni, Murti, Marketing Perbankan, Yogyakarta: Penerbit Liberty, 1996 Tjahjono, Fandy, Strategi Pemasaran, Yogyakarta: Andi Offset, 2002 Tjiptono, Strategi Pemasaran, Yogyakarta: Andi Offset, 2000

Umar, Husein, Metode Penelitian Untuk Skripsi Dan Tesis Bisnis, Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada. 2003)

B. Internet

Arif, Mencapai Keunggulan Bank Syariah melalui new wave marketing, (Kopicoklat.com: 13 Agustus 2010), di Akses 29 Desember 2010

Haikal, The 12 Cs of New Wave Marketing, (http://haikalworld.multiply.com/

journal/item/6/) di akses 24 Desember 2010

Jiwandaru, Rhanu, Gaet Nasabah Bank Syariah dengan Strategi Jaring Ikan, (http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com: 22 May 2010) diakses 29 Desember 2010

Kartajaya, Hermawan,Waizly Darwin, Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran, (KOMPAS.com: Rabu, 9 Desember 2009, 10:16 WIB), http://bisniskeuangan. kompas.com, Diakses 21 Desember 2010

Subagijo, Evan Hendrata, S.E., ICPM, "Citizens" or "Criminals"?: The BBC World Case, (http://duniapemasaran.com: 16 December 2009) diakses 29 Desember 2010

Subagijo, Evan Hendrata, S.E., ICPM, The Value of Community: From Sarnoff's Law to Reed's Law, (http://duniapemasaran.com: 15 December 2009) diakses 29 Desember 2010

Wijaya MBA, Andy Rio, Strategi Pengembangan Bisnis Pasca 2010, (http://suarapembaca.detik.com/) diakses 21 Desember 2010

Dokumen terkait