SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
5.2 Implikasi dan Rekomendasi
1. Berdasarkan hasil penelitian, pendekatan saintifik (variabel x) memiliki hasil yang menunjukkan kategori cukup efektif. Meski demikian, masih ada dimensi yang rendah dari pendekatan saintifik yaitu dimensi mengkomunikasikan/ membentuk jejaring (networking). Ukuran dalam indikator ini yaitu: mengarahkan siswa untuk menyampaikan hasil
Melly Anggun puspita, 2015
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA: (Studi pada Siswa Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 11 Bandung)
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis atau media lainnya; mengajak siswa untuk memberikan komentar, saran, atau perbaikan mengenai apa yang dipresentasikan siswa lain; menginspirasi siswa untuk membuat jejaring dengan orang lain baik dalam bidang yang mereka tekuni maupun di luar bidang tersebut; dan melatih siswa untuk memiliki kemampuan membuat hubungan internal dan mampu memandu ke jaringan kerja eksternal. Oleh sebab itu, untuk memaksimalkan efektifitas dimensi mengkomunikasikan/ membentuk jejaring (networking), disarankan bagi guru agar menerapkan model pembelajaran kerja kelompok. Model ini sangat efektif untuk mengajak siswa untuk aktif dan partisipatif dalam proses pembelajaran. Kegiatannya pun dapat berupa memberikan tugas berkelompok dan diskusi kelompok. Kegiatan pembelajaran dengan cara kerja kelompok dapat melatih siswa saling membantu mengkontruksi konsep dan menyelesaikan persoalan. Oleh karenanya, model ini seusai dengan teori kontruktivis yang dikemukakan oleh Vygotsky (dalam Isjoni, 2013, hlm. 40) bahwa “kualitas berpikir siswa dibangun dalam ruang kelas, sedangkan aktivitas sosialnya dikembangkan dalam bentuk kerja sama antara pelajar dengan pelajar lainnya yang lebih mampu, di bawah bimbingan orang dewasa dalam hal ini guru.”
2. Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan berpikir kritis siswa (variabel y) dalam penelitian ini berada pada kategori sedang. Dari semua dimensi, hanya dimensi membangun keterampilan dasar yang berada pada kategori rendah. Ukuran dalam indikator ini adalah mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak, mengamati atau mengobservasi, mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi, mencatat hal-hal yang penting, dan penggunaan teknologi yang kompeten. Oleh sebab itu, untuk memaksimalkan kemampuan berpikir kritis dilihat dari dimensi membangun keterampilan dasar disarankan bagi guru untuk membiasakan siswa menjadi observer yang baik. Beberapa kegiatan melatih kemampuan observasi adalah dengan cara mengamati kelebihan dan kekurangan dari suatu hal atau objek yang dipelajari. Setelah itu siswa diajak untuk membuat kesimpulan
92
Melly Anggun puspita, 2015
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA: (Studi pada Siswa Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 11 Bandung)
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
sementara kemudian siswa lain memberikan kritik dan saran atas kesimpulan tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkap Lan Wright dan C. L. Bar, L. M Sartorlli dan R. Swartz dan Parks dalam Hassoubah (2008:123) cara mengembangkan kemampuan observasi dalam berpikir kritis yakni “mengamati kelebihan dan kekurangan dari suatu hal, membuat kesimpulan sementara kemudian siswa lain memberikan kritik dan saran atas keputusan tersebut.”
Melly Anggun puspita, 2015
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA: (Studi pada Siswa Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 11 Bandung)
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Ahjar Chalis dan Hudaya Latuconsina. (2008). Pembelajaran Berbasis Fitrah. Jakarta: PT Balai Pustaka (Persero).
Aisyah, Siti. (2015). Perkembangan Peserta Didik dan Bimbingan Belajar. Yogyakarta: Deepublish.
Andayani. (2015). Problema dan Aksioma: dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Deepublish.
Arikunto, S. (2011). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Baharuddin. (2009). Psikologi Pendidikan: Kajian Teoritis terhadap Fenomena. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Budiyartati, Sri. (2014). Problematika Pembelajaran di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Deepublish.
George H. Fried dan George J. Hademenos. (2005). Schaum’s Biologi Edisi
Kedua. Jakarta: Erlangga.
Hassoubah, Z.I. (2007). Mengasah Pikiran Kreatif dan Kritis: Disertai Ilustrasi dan Latihan. Bandung: Nuansa.
Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesa.
Isjoni. (2013). Cooperative Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Pekanbaru: Alfabeta.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. (2014). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: buku guru / Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kun Maryati dan Juju Suryawati. (2001). Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis.
Kuswana, Wowo Sunaryo. (2001). Taksonomi Kognitif. Bandung: PT Remaja. Muhidin, S.A. (2010). Statistika 1 Pengantar untuk Penelitian. Bandung: Karya
94
Melly Anggun puspita, 2015
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA: (Studi pada Siswa Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 11 Bandung)
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
___________. (2010). Statistika 2 Pengantar untuk Penelitian. Bandung: Karya Adhika Utama.
Muhidin, S.A. dkk. (2014). Pedoman Operasional Penyusunan & Pembimbingan Skripsi. Bandung:UPI
Nursyamsuddin, dkk. (2013). Pembelajaran Berbasis Kompetensi dengan Pendekatan Saintifik. Jakarta: Kemendikbud RI.
Sagala, Syaiful. (2013). Suspensi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan Edisi Pertama. Jakarta: Fajar Interpratama Offset.
Santrock, John W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga.
Simamora, Ns. Raymond H. (2008). Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sudjana, Nana. (2009). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sugiyono. (2012). Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
Suparno, Paul. (2001). Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius.
Syah, Muhibbin. (2010). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Tatang Sontani, U. & Muhidin, S.A. (2011). Desain Penelitian Kuantitatif. Bandung: Karya Adhika Utama
Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (2014). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Usman, Moh Uzer. (2010). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja. Wibisono, Amri Gunawan. (2014). Menjadi Kritis: It’s Not A Crime. Jakarta:
Willian.
Widoyoko, S. Eko Putro. (2012). Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Pendidik. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
Melly Anggun puspita, 2015
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA: (Studi pada Siswa Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 11 Bandung)
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Arti Setia, Restu. (2014). ‘Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Mata Pelajaran
Kearsipan’. Skripsi Pendidikan Manajemen Perkantoran Universitas
Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Astriani Rohman, Ela. (2012). ‘Penerapan Model Quantum Learning untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMP’. Skripsi
Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Mulyaningsih. (2011). ‘Hubungan Berpikir Kritis dengan Perilaku Caring Perawat
di RSUD Dr. Moewardi Surakarta’. Tesis Magister Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Nur’aviandini, Tresna. (2013). ‘Penerapan pendekatan Model-Eliciting Activities (MEAs) dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP’. Skripsi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.
Rohyani, Annisa. (2014). ‘Pengaruh Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific
terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis Siswa
SMP’. Skripsi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia.
Tidak Diterbitkan.
Liliasari. (1996). ‘Beberapa Pola Berpikir dalam Pembentukan Pengetahuan Kimia oleh Siswa SMA’. Disertasi Doktor pada FPS IKIP Bandung. Tidak Diterbitkan.
Sumber Jurnal dan Proseding
Lambertus. (2009). ‘Pentingnya Melatih Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika di SD’. Forum Kependidikan. Vol. 28 No. 2. Hlm. 136-142.
Leksono, Jati Widyo. (2014). ‘Pendekatan Saintifik pada Kurikulum 2013 untuk
Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa’. Prosiding Konvensi Nasional Asosiasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (APTEKINDO) ke 7 FPTK Universitas Pendidikan Indonesia. Hlm. 520-525.
M. F. Atsnan dan Rahmita Yuliana Gazali. (2013). ‘Penerapan Pendekatan
Scientific dalam Pembelajaran Matematika SMP Kelas VII Materi
Bilangan (Pecahan)’. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan
Pendidikan Matematika di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta. Hlm. 429-436.
Wahyuddin. (2012). ‘Pemilihan Pendekatan dalam Pembelajaran’. Pendidikan. Vol. 16 No. 2 Hlm.1-11.
96
Melly Anggun puspita, 2015
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA: (Studi pada Siswa Kompetensi Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 11 Bandung)
Universitas Pendidikan Indonesia | \.upi.edu perpustakaan.upi.edu
Sumber Makalah
Rhosalia, Lulu Anggi. (2014). Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran Tematik Terpadu. Surabaya: Program Studi Pendidikan Dasar Program Pascasarjana. Universitas Negeri Surabaya. Tidak diterbitkan.