A. Simpulan
Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Pola penalaran dari setiap jenjang pendidikan yang diteliti dapat dikatakan mengalami perubahan. Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) jenis penalaran yang dominan teridentifikasi adalah biosentris namun tidak ada jenis penalaran ekosentris. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) jenis penalaran yang teridentifikasi dominan adalah biosentris namun, jenis penalaran ekosentris sudah muncul. Sedangkan pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), jenis penalaran yang dominan teridentifikasi adalah antroposentris.
2. Jenis penalaran moral terhadap lingkungan yang dimiliki siswa dari jenjang pendidikan SD sampai SMA tidak menunjukkan perkembangan dari penalaran antroposentris ke arah ekosentris meskipun tidak secara menyeluruh. Sehingga dapat dikatakan pula perkembangan penalaran moral terhadap lingkungan yang terjadi tidak sesuai dengan jenjang pendidikannya.
3. Penalaran moral antroposentris, biosentris dan ekosentris dipengaruhi oleh perbedaan gender. Laki-laki didominasi oleh jenis penalaran antroposentris dan perempuan didominasi oleh jenis penalaran biosentris. Namun, semakin tinggi jenjang pendidikannya maka perbedaan jenis penalaran moral terhadap lingkungan berdasarkan gender semakin tidak terlihat.
B. Implikasi dan Rekomendasi
Dari penelitian ini ada beberapa hal yang menjadi keterbatasan di dalam penelitian ini. Keterbatasan-keterbatasan tersebut kiranya dapat diimplikasikan dan menjadi masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang yang perlu diperhatikan bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian mengenai pola penalaran moral terhadap lingkungan sebagai berikut :
76
Luthfianti Zhafarina Harmany, 2015
PENALARAN ANTROPOSENTRIS, BIOSENTRIS, DAN EKOSENTRIS PADA JENJANG SD, SMP, DAN SMA MENGENAI PERMASALAHAN LINGKUNGAN
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1. Untuk dapat menghasilkan data yang lebih lengkap dan akurat sebaiknya selain diberikan kuesioner uraian terbuka dilakukan wawancara secara individual kepada seluruh siswa secara menyeluruh, bukan hanya pada siswa dengan jawaban test yang kurang dapat dikategorikan.
2. Untuk mempermudah menggali informasi yang bersifat sama pada setiap siswa perlu dibuat angket khusus sesuai dengan informasi yang akan digali pada siswa. 3. Untuk melengkapai data sekunder dan mempermudah pembahasan baiknya
dilakukan wawancara dengan pihak yang terlibat dengan proses bernalar seseorang misalnya dengan guru mata pelajaran, guru wali kelas atau juga dengan orang tua murid.
4. Untuk dapat menggambarkan secara keseluruhan apa saja aspek yang dapat mempengaruhi penalaran seseorang, perlu menambah variabel untuk jenis penelitian ini. Seperti misalnya variabel berbagai macam sistem pendidikan yang dipakai pada yayasan pendidikan, variabel latar belakang ekonomi orang tua siswa, dan sebagainya.
5. Data penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal untuk penelitian mengenai metode pembelajaran materi ekosistem pada setiap jenjang pendidikan, karena setelah mengetahui jenis penalaran moral terhadap lingkungan pada siswa pendidik dapat mengubah metode mengajarnya untuk merubah jenis penalaran siswanya yang belum sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh.
Luthfianti Zhafarina Harmany, 2015
PENALARAN ANTROPOSENTRIS, BIOSENTRIS, DAN EKOSENTRIS PADA JENJANG SD, SMP, DAN SMA MENGENAI PERMASALAHAN LINGKUNGAN
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Almeida, A., Vasconcelos, A. M., Strecht-Ribeiro, O. & Torres, J. (2011). Non-anthropocentric reasoning in children: its incidence when they are confronted with ecological dilemmas. International Journal of Science Education. 10. h. 1-23.
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chapman, D., dan Sharma, K. (2001). Environmental attitudes and behaviour of primary and secondary students in Asian cities: An overview strategy for implementing an eco-schools programme. The Environmentalist. 21. h. 265– 272.
Chawla, L. (1998). Significant life experiences revisited: A review of research on sources of environmentalsensitivity. Journal of environmental Education. 29(3). h. 11–21.
Clements, R. (2004). An Investigation of the Status of Outdoor Play. Contemporary Issues in Early Childhood. 5(1).
Clerkin, B. dan Macrae F. (2006). Men Are More Intelligent Than Women, Claims New Study. [Online]. Tersedia pada: http://www.dailymail.co.uk/news/article-405056/Men-intelligent-women-claims-new-study.html [29 Juli 2015].
Coley, R. J. (2001). Differences in gender gap. Comparisons across racialethnic groups in education and work. Princeton, NJ: Educational Testing Service, Policy Information Center.
Conway, R. N. F. (1997). An Introduction to Cognitive Education: Theory and Applications . London: Routledge.
Dahar, R. (2011). Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Penerbit Erlangga.
Dawson, V. dan Venville, G. J. (2009). High-school Students’ Informal Reasoning and Argumentation about Biotechnology: An indicator of scientific literacy?. International Jounal of Science Education, 31(11), 1421-1445. http://doi.org/10.1080/09500690801992870.
Desmita. (2010). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Dharminto. (2007). Metode Penelitian dan Penelitian Sampel. [Online].
Tersedia pada: http://eprints.undip.ac.id/5613/1/METODE_PENELITIAN_-_dharminto.pdf [28 Juli 2015].
Luthfianti Zhafarina Harmany, 2015
PENALARAN ANTROPOSENTRIS, BIOSENTRIS, DAN EKOSENTRIS PADA JENJANG SD, SMP, DAN SMA MENGENAI PERMASALAHAN LINGKUNGAN
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Eisenberg dan Fabes. (1998). Emotion, Regulation, and Moral Development. Annu Rev Psychology. Arizona State University. 51. h. 665-697.
Ellis dan Omrod. (2007). Educational Psychology Developing Learners. Pearson. Fischer, K. W. (1980). A Theory of Cognitive Development: The Control and
Construction of Hirarchies of Skills. Psychology Review. 87(6). h. 477-531. Flavell, J. H. (2002). Cognitive Development Fourth Edition. Psychology Book. Froderman, R. dan Callicott , J. Baird. (2009). Encyclopedia of Environmental
Ethics and Philosophy. Gale, Cengage Learning. New York.
Frost, L., dan Jacobs, P.J. (1995). Play deprivation, a factor in juvenile violence, dimensions of early childhood. Southern Early Childhood Association, 23. Geary, D. C., dkk. (2000). Numerical and Arithmetical Cognition: A Longitudinal
Study of Process and Concept Deficit in Children with Learning Disability. Journal of Experimental Child Psychology. 77. h. 236-263.
Ibrahim, A.M. (2006). An anthropocentric approach to saving biodiversity: Kenyan pupils’ attitudes towards parks and wildlife. Applied Environmental Education and Communication. 5(1). h.21–32.
Kahn, P. H. (2002). Children's moral and ecological reasoning. Developmental Psychology. 33, 1091-1096.
Kortenkamp, Katherine V. dan Moore. Colleen F. (2001). Ecocentrism And Anthropocentrism: Moral Reasoning About Ecological Commons Dilemmas. Journal of Environmental Psychology, 21 h. 261-272.
Kohlberg, Lawrence. (1973). The Claim to Moral Adequacy of a Highest Stage of Moral Judgment. The Journal of Philosophy, 70 No. 18.
Kuswana, W. (2013). Taksonomi Berpikir. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Marcelo, X.A. B. (2004). Children’s perceptions of Brazilian Cerrado landscapes
and biodiversity. The Journal of Environmental Education. 35(4). h. 47–58. Martono, N. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis Data
Sekunder. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Menzel, S. dan Bogeholz, S. (2009). The loss of biodiversity as a challenge for sustainable development: how do pupils in Chile and Germany perceive resourch dilemmas?. Research in Science Education. 39. h. 429-447.
Nash, R. F. (1989). The Rights of Nature: A History of Environmenal Ethics. Madison, WI: University of Wisconsin Press.
Luthfianti Zhafarina Harmany, 2015
PENALARAN ANTROPOSENTRIS, BIOSENTRIS, DAN EKOSENTRIS PADA JENJANG SD, SMP, DAN SMA MENGENAI PERMASALAHAN LINGKUNGAN
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Neuman, L. (2003). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. Boston: Allyn and Bacon.
Nisiforou, O. dan Charalambides, A. G. (2012). Assesing undergraduate university students’ level knowledge, attitudes and behavior towards biodiversity: a case study in Cyprus. Internasional Journal of Science Education. 34 (7) h. 1027-1051.
Pergams, O.R.W., dan Zaradic, P.A. (2006). Is love of nature in the US becoming love of electronic media. Journal of Environmental Management. 80(4). h. 387–393.
Rahim, S. (2008). Etika Lingkungan dan Persfektif Filsafat. [Online]. Tersedia
pada:http://www.scribd.com/doc/66506942/8/C-Prinsip-Prinsip-Etika-Lingkungan [29 Juli 2015].
Roth, C. E. (1992). Environmental Literacy: Its Roots, Evolution, and Directions in the 1990s. U.S., Massachusetts: ERIC Clearinghouse for Science, Mathematics and Environmental Education.
Sadler, T. D. (2004). Informal reasoning regarding socioscientific issues: A critical review of research. Journal of Research in Science Teaching, 41(5), 513–536. http://doi.org/10.1002/tea.20009.
Santrock, J. (2007). Perkembangan Anak. University of Texas, Dallas: Penerbit Erlangga.
Siegler, R. dan Crowley K. (2001). The microgenetic method: A direct means for studying cognitive development. American Psychology. 56, h. 606-620.
Sihotang, K. (2012). Critical Thinking. Jakarta: Sinar Harapan.
Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.
Susilo, Rachmad K. D. (2008). Sosiologi Lingkungan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Wilson, B. G. (1990). Constructivist Learning Environments: Case Studies in Instructional Design. Englewood Cliffs NJ: Educational Technology Publication.
Woolfolk, Anita. (2009). Educational Psychology Active Learning Edition. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.