• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.6 Implikasi Hasil Kebijakan

4.6.1 Keterkaitan Antarsektor

Hasil analisis keterkaitan antarsektor di Provinsi Jawa Tengah dapat disimpulkan bahwa sektor yang memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang yang tinggi merupakan sektor unggulan di Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan sektor yang hanya memiliki salah satu keterkaitan yang tinggi merupakan sektor potensial atau sektor berkembang, dan untuk sektor yang memiliki keterkaitan ke depan

95

dan ke belakang yang rendah merupakan sektor terbelakang. Hasil identifikasi sektor unggulan yang diperoleh dari hasil analisis keterkaitan antarsektor ini berbeda dengan sektor penyumbang nilai terbesar pada PDRB Provinsi Jawa Tengah yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan.

Berdasarkan hasil analisis keterkaitan ke depan bahwa sektor yang memiliki angka keterkaitan ke depan diatas rata-rata (keterkaitan total ke depan yang tinggi) diantaranya adalah sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan galian. Sedangkan sektor yang memiliki angka keterkaitan total ke depan dibawah rata-rata (keterkaitan ke depan yang rendah) diantaranya adalah sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan perusahaan, dan sektor jasa-jasa.

Selanjutnya berdasarkan hasil analisis keterkaitan ke belakang menunjukkan bahwa sektor yang memiliki angka keterkaitan total ke belakang diatas rata-rata (keterkaitan ke belakang yang tinggi) pada perekonomian Provinsi Jawa Tengah diantaranya adalah sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan dan sektor pengangkutan komunikasi. Sedangkan untuk sektor yang memiliki angka keterkaitan total ke belakang dibawah rata-rata (keterkaitan ke belakang yang rendah) diantaranya adalah

96

sektor pertanian, sektor pertambangan dan galian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan, persewaan dan perusahaan, dan sektor jasa-jasa.

Identifikasi dari hasil analisi keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang akan diperoleh klasifikasi sektor-sektor mana saja yang termasuk dalam sektor unggulan, sektor potensial, sektor berkembang, dan sektor terbelakang, dapat dilihat pada bagan berikut ini. Forward Linkage (tinggi) Forward Linkage (rendah) Backward Linkage (tinggi) I. Sektor Unggulan 1. Sektor Industri Pengolahan

III.Sektor Potensial 1. Sektor Listrik, Gas,

dan Air Bersih 2. Sektor Bangunan 3. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Backward Linkage (rendah)

II.Sektor Berkembang 1. Sektor Pertanian 2. Sektor

Pertambangan dan Galian

IV. Sektor Terbelakang 1.Sektor Perdagangan,

Hotel dan Restoran 2.Sektor Keuangan,

Persewaan dan Perusahaan 3.Sektor Jasa-Jasa

Hasil klasifikasi dapat dilihat bahwa sektor yang termasuk dalam sektor unggulan adalah sektor industri pengolahan, selanjutnya yang termasuk dalam sektor berkembang adalah sektor pertanian, dan sektor pertambangan dan galian, dan untuk sektor potensial diantaranya adalah sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor

97

bangunan dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sedangkan yang termasuk sektor terbelakang adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan, persewaan dan perusahaan serta sektor jasa-jasa.

Berdasarkan dari hasil analisis keterkaitan antarsektor di Provinsi Jawa Tengah, hal ini sesuai dengan penelian terdahulu Stanny, Dewinta (2009) dalam penelitian yang berjudul : Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Barat (Analisis Input-Output). Menyimpulkan bahwa sektor industri pengolahan di Provinsi Jawa Barat mempunyai nilai keterkaitan ke depan yang lebih besar dibandingkan dengan nilai keterkaitan ke belakang. Maka menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di Provinsi Jawa Barat lebih mampu untuk mendorong pertumbuhan sektor hilirnya.

Selain itu hasil analisis keterkaitan antarsektor menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan merupakan sektor unggulan, karena sektor tersebut memiliki angka keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang yang tinggi (diatas rata-rata), yaitu angka keterkaitan total ke depan sebesar 4,177 dan angka keterkaitan total ke belakang sektor industri pengolahan sebesar 2,021.

Kondisi tersebut sesuai dengan teori pembangunan tidak seimbang (unbalanced growth)yang dikemukakan oleh Hirschman dan Streeten, menjelaskan pembangunan tidak seimbang adalah pola

98

pembangunan yang lebih cocok untuk mempercepat proses pembangunan dinegara berkembang. Hirschman juga mengamati bahwa proses pembangunan yang terjadi antara dua periode waktu tertentu akan tampak bahwa berbagai sektor kegiatan ekonomi mengalami perkembangan dengan laju yang berbeda, yang berarti pula bahwa pembangunan berjalan dengan tidak seimbang. Perkembangan sektor pemimpin (leading sector) akan merangsang perkembangan sektor lainnya. Begitu pula perkembangan di suatu industri tertentu akan merangsang perkembangan industri-industri lain yang erat kaitannya dengan industri yang mengalami perkembangan tersebut (Arsyad, 2010:141).

4.6.2 Analisis Penyebaran

Berdasarkan hasil analisis penyebaran menyimpulkan bahwa sektor-sektor perekonomian Provinsi Jawa Tengah yang memiliki nilai koefisien penyebaran lebih dari satu (>1), diantaranya adalah sektor industri pengolahan 1,12458, sektor listrik, gas dan air bersih 1,22799, sektor bangunan 1,25509, dan sektor pengangkutan komunikasi 1,12218. Nilai koefisien penyebaran yang lebih dari satu ini berarti, bahwa sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, dan sektor pengangkutan komunikasi di Provinsi Jawa Tengah mampu untuk menarik pertumbuhan sektor- sektor hulunya.

99

Selanjutnya untuk hasil analisis kepekaan penyebaran terdapat sektor-sektor perekonomian Provinsi Jawa Tengah yang memiliki nilai kepekaan penyebaran lebih dari satu (>1), diantaranya adalah sektor pertanian 1,08749, sektor pertambangan dan galian 1,37064, dan sektor industri pengolahan 2,32459. Nilai kepekaan penyebaran yang lebih dari 1 (satu) ini berarti bahwa sektor pertanian, sektor pertambangan dan galian, dan sektor industri pengolahan di Provinsi Jawa Tengah mampu untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya.

Berdasarkan dari hasil analisis penyebaran, hal ini sesuai dengan penelian terdahulu Stanny, Dewinta (2009) dalam penelitian yang berjudul : Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Barat (Analisis Input- Output). Menyimpulkan bahwa sektor industri pengolahan di Provinsi Jawa Barat mempunyai nilai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran sektor industri pengolahan yang lebih besar dari satu (>1). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di Provinsi Jawa Barat mampu meningkatkan pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya.

Selain itu dari hasil analisis penyebaran Tabel I-O Jawa Tengah 2013 dapat di tarik kesimpulan bahwa sektor yang memiliki nilai koefisien penyebaran dan nilai kepekaan penyebaran yang lebih dari satu (>1) adalah sektor industri pengolahan. Berarti sektor

100

industri pengolahan mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin (leading sector), maksudnya dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian Provinsi Jawa Tengah secara keseluruhan.

4.6.3 Multiplier Effect

Berdasarkan hasil analisis multiplier antarsektor di Provinsi Jawa Tengah dapat dilihat bahwa sektor yang memiliki nilai tertinggi untuk analisis angka pengganda output adalah sektor bangunan, pengganda pendapatan (income) adalah sektor jasa-jasa, pengganda kesempatan kerja (employment) adalah sektor pertanian. Angka tertinggi pada analisis angka pengganda output yaitu pada sektor bangunan menunjukkan bahwa output dari sektor bangunan digunakan oleh sebagian besar sektor lainnya dan berpengaruh besar untuk meningkatkan output bagi sektor lainnya.

Analisis angka pengganda pendapatan (income) yang tertinggi terjadi pada sektor jasa- jasa, hal tersebut menjelaskan bahwa output dari sektor jasa-jasa digunakan pada sebagian besar sektor lainnya untuk meningkatkan pendapatan pada masing-masing sektor. Sedangkan analisis angka pengganda kesempatan kerja (employment) yang tertinggi diperoleh oleh sektor pertanian yang menyatakan bahwa output yang dihasilkan pada sektor pertanian digunakan pada sektor lainnya untuk meningkatkan kesempatan

101

kerja bagi sektor-sektor lainnya. Namun, untuk sektor industri pengolahan angka pengganda output, pendapatan dan kesempatan kerja masih rendah. Maka diperlukan kebijakan melalui peningkatan pendapatan masyarakat, kemampuan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat serta adanya keterkaitan antarsektor yang diakibatkan oleh adanya penambahan permintaan terhadap produksi disektor industri pengolahan.

Kondisi tersebut tidak lepas dari konsep Multiplier effect yang dapat dilihat dari PDRB, peningkatan pendapatan masyarakat, kemampuan menciptakan atau membuka lapangan kerja bagi masyarakat dalam Domanski & Gwosdz (2010:30), serta adanya keterkaitan antar sektor terkait yang diakibatkan oleh adanya penambahan permintaan terhadap produksi disektor tertentu dalam Tarigan (2001:253). Sementara Abegunde (2011:254) menyatakan bahwa adanya pertumbuhan ekonomi, khususnya perkembangan industri disuatu daerah akan memberikan spread effect yaitu adanya transmisi rekrutmen dan perpindahan pekerja yang dibeli oleh industri tersebut sehingga mempengaruhi pendapatan personal dari masyarakat tersebut. Hal tersebut memberikan efek negatif bagi daerah yang ditinggalkan. Efek negatif dalam pembangunan ekonomi, khusunya dalam pengembangan industri tertentu akan menimbulkan adanya persaingan yang ketat (Marshall, 1920:404).

102 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis terhadap Tabel Input-Output Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sektor industri pengolahan memiliki peranan yang cukup penting terhadap perekonomian Provinsi Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut:

1. Dilihat dari hasil analisis keterkaitan bahwa sektor yang memiliki angka keterkaitan ke depan diatas rata-rata (keterkaitan total ke depan yang tinggi) diantaranya adalah sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan galian. Sedangkan berdasarkan hasil analisis keterkaitan ke belakang menunjukkan bahwa sektor yang memiliki angka keterkaitan total ke belakang diatas rata-rata (keterkaitan ke belakang yang tinggi) pada perekonomian Provinsi Jawa Tengah diantaranya adalah sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan dan sektor pengangkutan komunikasi. Berdasarkan identifikasi hasil analisis keterkaitan antarsektor menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan merupakan sektor unggulan, karena sektor tersebut memiliki angka keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang yang tinggi (diatas rata-rata), yaitu angka keterkaitan total ke depan 4,177 dan angka keterkaitan total ke belakang sektor industri pengolahan sebesar 2,021.

103

2. Berdasarkan hasil analisis penyebaran yang di mana analisis penyebaran itu dibagi menjadi koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran, dapat disimpulkan bahwa secara umum sektor industri pengolahan tersebut memiliki nilai kepekaan penyebaran sebesar 2,32459, dan nilai koefisien penyebarannya, yaitu sebesar 1,12458. Nilai analisis koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran sektor industri pengolahan, keduanya menunjukkan angka yang lebih besar dari satu (>1), maka sektor industri pengolahan mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin (leading sector), artinya bahwa sektor industri pengolahan ini mempunyai kemampuan mendorong pertumbuhan output sektor-sektor hilirnya serta sektor industri pengolahan mampu untuk menarik pertumbuhan sektor- sektor hulu di Provinsi Jawa Tengah.

3. Berdasarkan hasil analisis multiplier output, sektor industri pengolahan sendiri angka multiplier output hanya mampu menempati urutan ketiga, yaitu sebesar 2,02060 dari klasifikasi 9 sektor perekonomian Provinsi Jawa Tengah. Untuk multiplier output yang paling tinggi adalah pada sektor bangunan, yaitu 2,25509. Berdasarkan hasil analisis multiplier pendapatan sektor jasa-jasa memiliki nilai pengganda pendapatan tertinggi, yaitu 0,59764. Sedangkan untuk sektor industri pengolahan hanya mampu menempati peringkat keenam pada angka multiplier pendapatannya, sebesar 0,28543. Berdasarkan hasil analisis multiplier tenaga kerja terbesar adalah pada sektor pertanian, yaitu 0,30992 dan

104

untuk sektor industri pengolahan hanya mampu menempati peringkat kelima pada angka multiplier tenaga kerja, yaitu sebesar 0,16558.

5.2 Saran

Melihat hasil analisis Tabel Input-Output Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 tentang sektor industri pengolahan, maka saran penelitian yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut :

1. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam hal ini Badan Perencanaan Pembangunan Daerah diharapkan lebih memperhatikan dan meningkatkan usaha pengembangan sektor industri pengolahan yang lebih terarah dan tepat dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Selain itu berdasarkan hasil analisis keterkaitan antarsektor menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan merupakan sektor unggulan, karena sektor industri pengolahan memiliki angka keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang yang tinggi

2. Sektor industri pengolahan memiliki nilai koefisien penyebaran dan nilai kepekaan penyebaran yang tinggi (>1), maka sektor industri pengolahan mempunyai peranan sebagai sektor pemimpin (leading sector), maksudnya dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya. Kondisi ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian Provinsi Jawa Tengah secara keseluruhan. 3. Informasi dari hasil analisis pengganda atau multiplier output, pendapatan

105

masih terbilang rendah maka diperlukan kebijakan melalui peningkatan pendapatan masyarakat, kemampuan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat serta adanya keterkaitan antarsektor yang diakibatkan oleh adanya penambahan permintaan terhadap produksi disektor industri pengolahan.

106

DAFTAR PUSTAKA

Abegunde, Albert A. 2011. Community development in Africa through indigenous agro allied industries : a Resource to bottom-up stategy. International Journal of Business and Sosial Science Scrience Vol. 2 No. 18; October 2011

Adisasmita, R. 2008. Ekonomi archipelago. Yogyakarta: Graha Ilmu

Arsyad, Lincoln. 2010. Ekonomi Pembangunan, Edisi 5. Yogyakarta: UPP STIM YKPN Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik. 2008. Kerangka Teori dan Analisis Tabel Input Output. Jakarta: PT. Tionarayana Marbuejaya.

Badan Pusat Statistik, 2009. Jawa Tengah Dalam Angka Tahun 2009. Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah. Semarang.

Badan Pusat Statistik, 2011. Jawa Tengah Dalam Angka Tahun 2011. Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah. Semarang.

Badan Pusat Statistik, 2014. Statistik Indonesia Tahun 2014. Badan Pusat Statistik.Jakarta

Badan Pusat Statistik, 2013. Jawa Tengah Dalam Angka Tahun 2013. Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah. Semarang.

Badan Pusat Statistik, 2014. Jawa Tengah Dalam Angka Tahun 2014. Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah. Semarang.

Bartik, Timothy J. 2003. Local economic development policies. Upjohn Institute Staff Working Paper No. 03-91. The W.E. Upjohn Institute for Employment Research, Kalamazoo, Michigan.

Bess, Rebecca and Zoë O. Ambargis. 2011. Input-Output Models for Impact Analysis:Suggestions for Practitioners Using RIMS II Multipliers. Presented at the 50th Southern Regional Science Association Conference. U.S. Bureau of Economic Analysis U.S. Bureau of Economic Analysis. Boediono, 1985. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yokyakarta: BPFE-UGM.

107

Daryanto, Arief dan Hafizrianda, Yundy. 2010.Analisis Input Output dan SocialAccounting Matrix Untuk Pembangunan Ekonomi Daerah. Bogor: IPB Press.

Domanski, Boleslaw & Gwosdz, Krzysztof. 2010. Multiplier effect in local and regional development. Quaestiones Geographicae 29 (2), Adam Mickiewicz University Press, Poznan 2010, pp. 27-37

Dumairy. 1996. Perekonomian Indonesia Cet 5. Jakarta: Erlangga.

Firmansyah. 2006. Operasi Matrix dan Analisi Input-Output (I-O) untuk Ekonomi Aplikasi Praktid dengan Microsoft Excel dan Matlab. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ghalib, Rusli. 2005. Ekonomi regional. Bandung : Pustaka Ramadhan

Glasson, John and Marshall Tim. 2007. Regional planning. New York: Routledge Taylor & Francis Group.

Irawan, dan Suparmoko. 1996. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPFE. Jamieson, Walter., Goodwin, Harold and Edmuns, Cristopher. 2004. Contribution

of tourism to poverty alleviation: Pro-poor tourism and the challenge of measuring impact. The paper builds on previous ESCAP work namely the

“Seminar on Tourism and Poverty Reduction” held in Bangkok (2001), a

monograph, Poverty Alleviation through Sustainable Ourism Development, New York: United Nations Economic and Social Commission for Asia and

the Pacific (2003), “The Challenges of Urban Tourism and Poverty

Reduction, Regional Workshop on the Seminar on Poverty Alleviation through Sustainable Tourism Development, held in Katmandu, Nepal (2003)

Juhari, Imam. 2008. Dampak Perubahan Upah Terhadap Output dan Kesempatan Kerja Industri Manufaktur di Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan. Jurusan Ekonomi PembangunanFakultas Ekonomi Unnes.Volume 2, Nomor 2.

Kartasasmita, Ginanjar. 1997. Administrasi pembangunan: Perkembangan pemikiran dan praktiknya di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

. 2007. Ekonomi Industri Indonesia, Menuju Negara Industri Baru 2030. Yogyakarta: Andi.

108

. 2007. Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi Edisi 3. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Marshall, Alfred. 1920. Industry and Trade: A Study of industrial technique and business organization; and of their influences on the condition of various classes and nations. Balliol Croft, Cambridge.

Morretti, Enrico. 2010. Local multiplier. American Economic Review : Papers & Proceedings 100 (May 2010): 1-7

Nazara, Suahasil. 1997. Analisis Input-Output. Jakarta : Fakultas Ekonomi UI Purnomo, Didit. 2008. Analisis peranan sektor industri terhadapPerekonomian

Jawa Tengah tahun 2000 dan tahun 2004(analisis input output). Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta.Jurnal Ekonomi PembangunanVol. 9, No. 2, hal. 137 – 155

Rayner, Vanessa and James. 2013. Bishop Industry Dimensions ofthe Resource Boom : An Input-Output Analysis. Economic Research Department Reserve Bank of Australia

Riggs, Fred W. 1989. Administrasi pembangunan, sistem administrasi dan birokrasi. Cetakan Pertama. Jakarta: Rajawali Pers

Stanny, Dewinta. 2009. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Barat (Analisis Input-Output).Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor

Stynes, Daniel J. 1997. Economic impact of tourism : A Handbook of tourism professionals. Chapter IV What are Multiplier Effect ?. Tourism Research Laboratory at the University of Illinois at Urbana-Champaign.

Suharno. 2009. Analisis Input Output Manufaktur di Jawa Tengah. 2009. Laporan Penelitian. Purwokerto : Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Sudirman. Suhendra, dkk. 2005. Peranan Sektor Pariwisata dalam Pertumbuhan Ekonomi Makro Provinsi Bali dengan Pendekatan Input Output. Jurnal Ekonomi.Fakultas Ekonomi.Universitas Gunadarma : Jakarta. Diakses pada

28 Desember 2014 pkl 20.23 dari

Ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/ekbis/article/view/16 Sukirno, Sadono. 2001. Ekonomi Mikro. Jakarta : Rajawali Pers

Suryana et al. 1998. Kebijakan Peningkatan Produktivitas dan Pertumbuhan Agroindustri Pedesaan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

109

Suryani, Timtim. 2013. Analisis peran sektor ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pemalang (analisis tabel input output Kabupaten Pemalang tahun 2010).Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang. Economics Development Analysis Journal 2 (1).

Tambunan, Tulus, 2001. Industri di Negara Berkembang Kami Indonesia. Jakarta: Ghalia.

Tarigan, Robinson. 2002. Perencanaan pembangunan wilayah : Pendekatan ekonomi dan ruang. Medan : Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

. 2010. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Tjokroamidjojo, Bintoro. 1990. Pengantar administrasi pembangunan. Cetakan Ketigabelas. Jakarta: LP3ES

Todaro, Michael and Smith,C Stephen. 2006. Pembangunan Ekonomi Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

Widodo, Tri. 2006. Perencanaan Pembangunan : Aplikasi komputer (Era Otonomi Daerah). Yogyakarta: UPP STI YKPN.

Wirutomo, dkk. 2003. Paradigma pembangunan di era otonomi daerah. Jakarta: CV. Cipruy.

110

111

Lampiran 1. Perbedaan Klasifikasi 19 sektor dan 9 sektor

Perbedaan Klasifikasi 19 Sektor dan 9 Sektor Tabel Input-Output Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 Klasifikasi 19 Sektor Klasifikasi 9 Sektor Kode

Sektor Nama Sektor

Kode

Sektor Nama Sektor 1 Padi

1 Pertanian 2 Tanaman Bahan Makanan Lainnya

3 Tanaman Pertanian Lainnya 4 Peternakan dan Hasil-hasilnya 5 Kehutanan

6 Perikanan

7 Pertambangan dan Penggalian 2 Pertambangan dan Penggalian

8 Industri Makanan, Minuman dan Tembakau

3 Industri Pengolahan 9 Industri Lainnya

10 Industri Pengilangan Minyak

11 Listrik, Gas dan Air Bersih 4 Listrik, Gas dan Air Bersih

12 Bangunan 5 Bangunan

13 Perdagangan

6 Perdagangan, Restoran dan Hotel

14 Restoran dan Hotel

15 Pengangkutan dan Komunikasi 7 Pengangkutan dan Komunikasi 16 Lembaga Keuangan, Real Estate

dan Jasa Perusahaan 8

Keuangan, Persewaan dan Perusahaan

17 Pemerintah Umum dan Pertahanan

9 Jasa-Jasa 18 Jasa-Jasa

19 Kegiatan yang tidak Jelas Batasannya

112

Lampiran 2. Daftar Kode dan Nama Sektor Tabel Input-Output Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Kode Sektor Nama Sektor

190 Jumlah Input Antara

200 Impor

201 Upah dan Gaji 202 Surplus Usaha 203 Penyusutan

204 Pajak Tak Langsung 205 Subsidi

209 Nilai Tambah Bruto 210 Jumlah Input

180 Jumlah Permintaan Antara

301 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 302 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 303 Pembentukan Modal Tetap Bruto 304 Perubahan Stok

305 Ekspor

309 Jumlah Permintaan Akhir 310 Jumlah Permintaan

401 Impor

402 Pajak Penjualan 403 Bea Masuk 409 Jumlah Impor

501 Margin Perdagangan Besar 502 Margin Perdagangan Eceran 503 Biaya Pengangkutan

509 Jumlah Margin Perdagangan dan Biaya Pengangkutan

600 Jumlah Output 700 Jumlah Penyediaan

113 Lampiran 3. Tabel Input-Output Klasifikasi 19 sektor Provinsi Jawa Tengah 2013

Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 4.209.662,03 47.591,51 4.270,84 46.656.771,44 8.741,01 2 3.001.077,65 365.694,42 43.145,09 11.090.609,11 54.599,03 3 835,89 3.204,65 347.248,04 8.497,72 43,43 22.603.144,79 5.108.751,15 3,07 4 549.075,63 640.862,58 86.076,52 235.057,75 9.116,61 475.346,51 27.466,33 5 2.021,23 4.267,09 15.112,18 1.151,32 51.152,05 2.802,81 6.061,09 112.986,01 4.358.641,58 6 197.916,74 53.041,26 7.031,03 7.417,69 4.209,89 271.027,80 2.851.948,28 8.025,61 7 26,19 65,73 323.206,10 5.969.018,27 15.033.689,43 65.372.751,34 8 119.011,78 10.629.175,32 384.985,97 31.400.523,91 4.425.838,13 9 4.000.513,01 2.792.770,30 1.540.045,83 475.856,07 231.939,94 186.945,12 236.105,76 11.018.622,69 57.026.459,38 33.121,55 10 13.559,56 85.952,35 159.712,16 151.759,13 148.989,87 256.700,64 415.370,77 6.529.562,46 7.526.843,66 9.391,58 11 302,9 9.770,03 132.499,03 4.894,51 28.397,12 2.642,95 1.256.683,19 4.222.473,13 4.445,26 12 385.616,56 144.109,00 201.717,76 5.863,85 57.573,43 24.882,02 211.037,04 82.356,60 306.856,40 2.944,21 13 14 48.458,86 7.866,51 1.858,45 5.283,08 9.388,11 38.673,24 1.128.855,62 995.412,20 4.470,38 15 238.651,41 274.490,31 80.895,23 39.089,73 55.274,00 13.340,59 46.626,70 3.889.668,64 4.105.536,19 5.067,21 16 810.016,27 129740,2 207.707,19 46.486,90 36.987,08 31.244,97 73.022,45 5.613.336,04 3.002.524,05 26.726,75 17 1.159,67 4.182,53 1.520,05 1.318,59 966,69 43.310,91 160.053,88 151,96 18 370.500,85 48.918,86 40.258,23 32.958,17 38.361,85 7.282,00 92.019,37 3.561.375,40 1.451.682,09 8.253,16 19 190 10.778.369,18 8.108.355,68 2.826.661,21 12.182.542,84 634.665,70 1.274.891,71 1.445.732,16 155.084.199,87 107.823.593,25 65.467.324,47 200 201 6.616.524,72 6.941.189,22 2.418.248,74 7.279.069,11 670.888,13 991.971,75 1.966.705,49 17.869.964,83 18.117.556,61 22.832.036,28 202 30.557.502,37 33.879.987,25 6.071.669,46 8.919.414,89 2.207.658,23 3.699.099,51 3.242.789,50 35.844.012,33 29.162.732,38 65.884.761,26 203 691.472,12 197.273,43 432.377,09 575.662,86 157.019,45 132.097,41 550.657,40 6.799.379,93 6.634.906,84 9.033.578,83 204 562.240,15 426.214,42 231.349,97 330.462,74 131.537,74 65.359,70 220.535,59 26.004.719,99 2.143.702,48 655.310,91 205 -40.529,15 -3.002,71 -340.590,36 -36.853.320,92 209 38.387.210,21 41.441.661,61 9.153.645,26 17.104.609,60 3.167.103,55 4.888.528,37 5.980.687,98 86.518.077,08 55.718.307,95 61.552.366,36 210 49.165.579,39 49.550.017,29 11.980.306,47 29.287.152,44 3.801.769,25 6.163.420,08 7.426.420,14 241.602.276,95 163.541.901,20 127.019.690,83

114 Tabel Input-Output Klasifikasi 19 sektor Provinsi Jawa Tengah 2013 (Lanjutan...)

Sektor 11 12 13 14 15 16 17 18 19 1 1.581,80 3.792,33 1.854,64 2 18.838,51 2.236.453,99 4.460,98 1.149.483,86 247.874,39 3 1.159,02 31.523,67 333,06 0,01 15.658,04 22.014,42 4 2.725.324,25 2.481,23 6,24 102.191,11 37.053,73 5 1,86 3.367.484,38 2.670,25 23.384,51 746,94 183,16 1.612,27 20.092,61 6 468.538,20 1.051,87 724,72 47.185,29 14.972,19 7 12.623.366,30 7.906.000,71 6.252,60 234.751,65 54.190,63 1.256.702,14 526.952,25 8 84.280,19 13.589.284,39 199.070,25 54.710,86 1.487.014,63 442.604,37 9 421.536,07 44.947.424,96 8.184.661,39 1.172.548,16 4.431.453,28 678.378,48 9.710.029,30 8.869.224,01 10 4.740.948,55 10.668.768,38 7.138.463,24 381.021,39 21.499.519,25 145.735,87 2.941.331,49 219.658,66 11 1.654.229,37 128.949,93 4.402.332,74 507.791,94 687.399,97 151.162,75 1.108.076,77 426.782,62 12 81.497,14 215.807,39 2.864.470,24 75.667,41 618.815,99 1.769.382,40 3.018.382,10 143.752,50 13 14 8.168,50 1.028.448,45 2.828.044,33 663.139,28 319.952,69 229.399,81 3.306.545,31 185.559,83 15 30.012,23 833.270,18 10.309.928,55 629.246,68 3.494.262,13 536.295,27 3.597.500,79 445.613,20 16 209.735,41 3.715.604,71 15.163.401,59 838.197,42 2.548.252,81 2.391.609,73 1.971.113,15 1.007.944,57 17 3.027,66 181.445,92 187.045,36 94.848,86 250.025,86 450.772,20 59.988,91 18 12.356,41 1.185.876,93 3.119.890,41 261.003,81 7.280.306,46 380.102,28 2.879.880,03 754.940,71 19 190 19.784.879,58 74.179.081,94 54.125.974,94 24.024.922,11 41.237.154,40 6.587.717,44 33.047.270,81 13.426.883,61 200 201 2.074.047,92 14.489.212,16 30.708.523,09 5.960.134,91 13.597.975,48 3.007.530,73 45.090.308,15 7.851.735,36 202 3.394.887,13 16.864.450,10 65.371.953,72 11.789.482,32 9.796.133,10 17.877.183,54 5.713.961,05 203 3.170.668,31 4.357.572,72 8.181.172,45 1.411.891,63 13.536.531,27 1.888.837,46 6.049.953,50 1.403.485,26 204 326.457,31 1.484.857,87 4.001.627,51 1.194.286,93 687.794,40 506.809,40 424.202,17 205 -2.366.211,14 -6.555,86 -3.480,59 209 6.599.849,53 37.196.092,85 108.263.276,77 20.355.795,79 37.611.878,39 23.280.361,13 51.140.261,65 15.389.903,25 210 26.384.729,11 111.375.174,79 162.389.251,71 44.380.717,90 78.849.032,79 29.868.078,57 84.187.532,46 28.816.786,86

115

Tabel Input-Output Klasifikasi 19 sektor Provinsi Jawa Tengah 2013 (Lanjutan...)

Sektor 180 301 302 303 304 305 AD 305 LN 305 309 1 50.934.265,60 10.164,80 2.945.113,95 2.945.113,95 2.955.278,75 2 19.892.317,03 35.064.579,13 288,43 501.193,53 11.614.875,76 75.701,03 11.690.577,59 48.136.638,68 3 28.142.414,96 3.620.028,76 84.774,84 -2.689,96 3.368.589,65 143.669,51 3.512.259,16 7.214.372,80 4 4.890.058,49 34.714.539,36 44.447,81 6.352,24 253.220,50 181.678,91 434.899,41 35.200.238,82 5 7.970.371,34 139.670,61 155.702,23 70.313,03 12.340,56 82.653,59 378.026,43 6 3.933.090,57 8.300.753,84 -108.261,69 365.080,43 162.474,87 527.555,30 8.720.047,45 7 109.306.901,50 84.449,30 154.082,96 57.814,21 694.748,47 493,74 695.242,21 991.588,68 8 62.816.499,80 143.699.829,68 3.100.597,33 115.386.012,93 2.526.140,91 117.912.153,84 264.712.580,85 9 155.957.635,30 61.948.761,03 23.316.805,55 3.522.299,87 62.256.336,20 21.210.558,00 83.466.894,20 172.254.760,65 10 63.033.289,01 22.122.043,63 1.181.654,39 27.524.830,30 33.179.234,92 60.704.065,22 84.007.763,24 11 14.728.834,21 12.366.809,57 34.425,13 34.425,13 12.401.234,70 12 10.210.732,04 101.164.442,75 101.164.442,75 13 14 10.809.524,65 23.182.916,52 8.650.994,89 6.689.293,16 15.340.288,05 38.523.204,57 15 28.624.769,04 23.881.889,37 6.516,45 5.986,50 12.502,95 23.894.392,32 16 37.823.651,29 11.278.134,86 227,26 6.665,98 6.665,98 11.285.028,10 17 1.439.819,05 13.102.990,35 69.644.723,06 82.747.713,41 18 21.525.967,02 13.665.655,70 4.675,78 1.332,07 3.097,69 4.429,76 13.674.761,24 19 190 632.040.220,90 407.973.051,71 69.644.723,06 124.769.745,38 8.504.826,95 233.179.055,74 64.190.670,60 297.369.726,34 908.262.073,44 200 201 208.483.622,68 202 350.277.678,14 203 65.204.537,96 204 39.397.469,28 205 -39.613.690,73 209 623.749.617,33 210 1.225.789.838,23

116

Tabel Input-Output Klasifikasi 19 sektor Provinsi Jawa Tengah 2013 (Lanjutan...)

Sektor 310 401 AD 401 LN 401 402 403 409 501+502 503 1 53.889.544,35 162,65 162,65 162,65 3.081.767,10 1.642.035,21 2 68.028.955,71 1.323.715,03 1.224,29 1.324.939,32 139,99 47,79 1.325.127,10 14.927.312,64 2.226.490,60 3 35.356.787,76 17.832.619,98 799.266,46 18.631.886,44 25.745,78 6.049,65 18.663.681,87 3.800.736,79 912.062,63 4 40.090.297,31 608.931,34 25.377,74 634.309,08 9.681,68 10,27 644.001,03 9.146.738,09 1.012.405,75 5 8.348.397,77 2.859.660,45 32.044,60 2.891.705,05 2.678,72 1.020,63 2.895.404,40 1.299.311,09 351.913,30 6 12.653.138,02 2.821.652,46 31.371,96 2.853.024,42 2.480,99 795,22 2.856.300,63 3.122.054,29 511.363,02 7 110.298.570,18 98.424.227,05 98.424.227,05 607.739,42 74.185,07 99.106.151,54 1.935.706,50 1.830.292,00 8 327.529.080,65 14.809.975,35 2.592.731,90 17.402.707,25 194.413,87 69.125,51 17.666.246,63 60.273.320,30 7.987.236,77 9 328.212.395,95 33.321.679,09 58.558.255,94 91.879.935,03 5.874.407,12 2.060.495,97 99.814.838,12 48.012.677,43 16.842.979,20 10 147.041.052,25 51,16 51,16 0,52 0,06 51,74 16.789.627,48 3.231.682,20 11 27.130.068,91 745.339,80 745.339,80 745.339,80 12 111.375.174,79 13 -162.389.251,71 14 49.332.729,22 1.334.649,02 3.617.362,30 4.952.011,32 4.952.011,32 15 52.519.161,36 1.849.931,11 8.368.665,95 10.218.597,06 10.218.597,06 -36.548.468,49 16 49.108.679,39 18.632.812,01 607.788,81 19.240.600,82 19.240.600,82 17 84.187.532,46 18 35.200.728,26 6.383.368,69 572,71 6.383.941,40 6.383.941,40 19 190 1.540.302.294,34 102.524.496,98 173.058.940,87 275.583.437,85 6.717.288,09 2.211.730,17 289.512.456,11 200 201 202 203 204 205 209 210

117

Tabel Input-Output Klasifikasi 19 sektor Provinsi Jawa Tengah 2013 (Lanjutan...)

Sektor 509 600 700 Keterangang : 1 Padi 1 4.723.802,31 49.165.579,39 53.889.544,35 2 Tanaman Bahan Makanan Lainnya 2 17.153.811,32 49.550.017,29 60.028.955,71 3 Tanaman Pertanian Lainnya 3 4.712.799,42 11.980.306,47 35.356.787,76 4 Peternakan dan Hasil-hasilnya 4 10.159.143,84 29.287.152,44 40.090.297,31 5 Kehutanan 5 1.651.224,12 3.801.769,25 8.348.397,77 6 Perikanan 6 3.633.417,31 6.163.420,08 12.653.138,02 7 Pertambangan dan Penggalian 7 3.765.998,50 7.426.420,14 110.298.570,18 8 Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 8 68.260.557,07 241.602.276,95 327.529.080,65 9 Industri Lainnya 9 64.855.656,63 163.541.901,20 328.212.395,95 10 Industri Pengilangan Minyak 10 20.021.309,68 127.019.690,83 147.041.052,25 11 Listrik, Gas dan Air Bersih 11 26.384.729,11 27.130.068,91 12 Bangunan 12 111.375.174,79 111.375.174,79 13 Perdagangan 13 -162.389.251,71 162.389.251,71 14 Restoran dan Hotel 14 44.380.717,90 49.332.729,22 15 Pengangkutan dan Komunikasi 15 -36.548.468,49 78.849.032,79 52.519.161,36 16 Lembaga Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 16 29.868.078,57 49.108.679,39 17 Pemerintah Umum dan Pertahanan 17 84.187.532,46 84.187.532,46 18 Jasa-Jasa 18 28.816.786,86 35.200.728,26 19 Kegiatan yang tidak Jelas Batasannya 19 190 Jumlah Input Antara 190 1.255.789.838,23 1.540.302.294,34 509 Jumlah Margin Perdagangan dan Biaya Pengangkutan 200 600 Jumlah Output 201 700 Jumlah Penyediaan 202 203 204 205 209 210

118 Lampiran 4. Tabel Input-Output Klasifikasi 19 Sektor yang di Agregasi menjadi 9 Sektor Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013

Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 10.168.611,45 6.061,09 93.357.033,92 1,86 3.367.484,38 5.509.474,20 9.074,08 914,13 1.663.784,88 2 91,92 323.206,10 86.375.459,04 12.623.366,30 7.906.000,71 241.004,25 54.190,63 0,00 1.783.654,39 3 21.177.917,05 651.476,53 117.970.363,36 5.162.484,62 55.616.193,34 30.550.258,76 26.184.233,41 878.825,21 23.669.862,46 4 175.863,59 2.642,95 5.483.601,58 1.654.229,37 128.949,93 4.910.124,68 687.399,97 151.162,75 1.534.859,39 5 819.762,62 211.037,04 392.157,21 81.497,14 215.807,39 2.940.137,65 618.815,99 1.769.382,40 3.162.134,60 6 72.855,01 38.673,24 2.128.738,20 8.168,50 1.028.448,45 3.491.183,61 319.952,69 229.399,81 3.492.105,14 7 701.741,27 46.626,70 8.000.272,04 30.012,23 833.270,18 10.939.175,23 3.494.262,13 536.295,27 4.043.113,99 8 1.262.182,61 73.022,45 8.642.586,84 209.735,41 3.715.604,71 16.001.599,01 2.548.252,81 2.391.609,73 2.979.057,72 9 546.460,80 92.986,06 5.224.827,40 15.384,07 1.367.322,85 3.567.939,58 7.375.155,32 630.128,14 4.145.581,85 190 35.805.486,32 1.445.732,16 328.375.117,59 19.784.879,58 74.179.081,94 78.150.897,05 41.237.154,40 6.587.717,44 46.474.154,42 200 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 201 24.917.891,67 1.966.705,49 58.819.557,72 2.074.047,92 14.489.212,16 36.668.658,00 13.597.975,48 3.007.530,73 52.942.043,51 202 85.335.331,71 3.242.789,50 130.891.505,97 3.394.887,13 16.864.450,10 77.161.436,04 9.796.133,10 17.877.183,54 5.713.961,05 203 2.185.902,36 550.657,40 22.467.865,60 3.170.668,31 4.357.572,72 9.593.064,08 13.536.531,27 1.888.837,46 7.453.438,76 204 1.747.164,72 220.535,59 28.803.733,38 326.457,31 1.484.857,87 5.195.914,44 687.794,40 506.809,40 424.202,17 205 -43.531,86 0,00 -37.193.911,28 -2.366.211,14 0,00 0,00 -6.555,86 0,00 -3.480,59 209 114.142.758,60 5.980.687,98 203.788.751,39 6.599.849,53 37.196.092,85 128.619.071,56 37.611.878,39 23.280.361,13 66.530.164,90 210 149.948.244,92 7.426.420,14 532.163.868,98 26.384.729,11 111.375.174,79 206.769.969,61 78.849.032,79 29.868.078,57 113.004.319,32 Keterangan :

1 Pertanian 7 Pengangkutan Komunikasi 202 Surplus Usaha

2 Pertambangan dan Galian 8 Keuangan, Persewaan dan Perusahaan 203 Penyusutan

3 Industri Pengolahan 9 Jasa-Jasa 204 Pajak Tak Langsung

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 190 Jumlah Input Antara 205 Subsidi

5 Bangunan 200 Impor 209 Nilai Tambah Bruto

119 Lampiran 5. Matriks A (Matriks Teknologi) dan Matriks (I-A)-1 Kebalikan Leontief

Matriks A (Matriks Teknologi) Koefisien Input Tabel Input-Output Provinsi Jawa Tengah 2013

Kode Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Pertanian 0,06781 0,00082 0,17543 0,00000 0,03024 0,02665 0,00012 0,00003 0,01472 2 Pertambangan dan Galian 0,00000 0,04352 0,16231 0,47843 0,07099 0,00117 0,00069 0,00000 0,01578 3 Industri Pengolahan 0,14123 0,08772 0,22168 0,19566 0,49936 0,14775 0,33139 0,02942 0,20946 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,00117 0,00036 0,01030 0,06270 0,00116 0,02375 0,00872 0,00506 0,01358 5 Bangunan 0,00547 0,02842 0,00074 0,00309 0,00194 0,01422 0,00785 0,05924 0,02798 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 0,00049 0,00521 0,00400 0,00031 0,00923 0,01688 0,00406 0,00768 0,03090 7 Transportasi dan Komunikasi 0,00468 0,00628 0,01503 0,00114 0,00748 0,05291 0,04432 0,01796 0,03578 8 Keuangan dan Persewaan 0,00842 0,00983 0,01624 0,00795 0,03336 0,07739 0,03232 0,08007 0,02636 9 Jasa-Jasa 0,00364 0,01252 0,00982 0,00058 0,01228 0,01726 0,09354 0,02110 0,03669

Matriks (I-A)-1 Matriks Kebalikan Leontief Tabel Input-Output Provinsi Jawa Tengah 2013

Kode Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Pertanian 1,11486 0,03275 0,26329 0,07266 0,17137 0,08310 0,10332 0,02462 0,08800 2 Pertambangan dan Galian 0,04041 1,07697 0,24599 0,60220 0,20510 0,06635 0,10362 0,02910 0,09297 3 Industri Pengolahan 0,22105 0,16076 1,39262 0,37712 0,73027 0,27934 0,53350 0,11482 0,36727 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,00421 0,00290 0,01670 1,07201 0,01089 0,03067 0,01813 0,00823 0,02106 5 Bangunan 0,00871 0,03270 0,01240 0,02324 1,01382 0,02431 0,01881 0,06722 0,03646 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 0,00218 0,00743 0,00828 0,00603 0,01508 1,02094 0,01127 0,01084 0,03594 7 Transportasi dan Komunikasi 0,01001 0,01143 0,02682 0,01307 0,02455 0,06496 1,06194 0,02491 0,04928 8 Keuangan dan Persewaan 0,01566 0,01740 0,03249 0,02526 0,05643 0,09661 0,05377 1,09473 0,04464 9 Jasa-Jasa 0,00846 0,01780 0,02202 0,01482 0,02757 0,03106 0,11192 0,02909 1,05025

120 Lampiran 6. Data Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Jawa Tengah Tahun 2013

Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas yang Bekerja

Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Jawa Tengah Tahun 2013

Kode Sektor Jumlah

1 Pertanian 39.220.261

2 Pertambangan dan Galian 1.426.454

3 Industri Pengolahan 14.959.804

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 252.134

Dokumen terkait