• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan temuan hasil penelitian mengenai Penerapan Teknik Desensitisasi Sistematis Dalam Mengatasi Learned Helplessness Melalui Layanan Bimbingan kelompok. Peneliti menemukan bahwa ada perubahan ke arah yang lebih baik yang dialami oleh siswa anggota bimbingan kelompok setelah diadakannya bimbingan kelompok selama 2 siklus. Dilihat berdasarkan hasil penelitian, dimana hasil angket yang disebarkan setiap menyelesaikan satu pertemuan dalam siklus mengalami perubahan kearah yang lebih baik.

Guru bimbingan konseling bisa menggunakan layanan bimbingan kelompok untuk mengatasi learned helplessness pada siswa dalam program tahunan agar semua siswa tidak mengalami learned helplessness.

85

Social and Behavioral Sciences. ELSEVIER

Akmal Sutja. 2016. Teori dan Aplikasi Konseling. Jambi: Penerbit WR.

Akmal Sutja, dkk. 2017. Penulisan Skripsi untuk Prodi Bimbingan Konseling.

Yogyakarta: Writing Revolution.

Aulia, Rizky. 2012. Mengatasi Learned Helplessness Pada Siswa Tinggal Kelas Melalui Konseling Emotif Teknik Homework Assignments. Jurnal IJGC.

Vol 1, No 1.

Dede, R. H., & Adi B. 2012. Penelitian Tindakan dalam Bimbingan Konseling.

Jakarta Barat: PT Indeks.

Djamarah, Syaiful Bahri, dkk. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Halgin, R. P., & Whitbourne, S. K., 2003. Abnormal psychology: Clinical perspectives on psychological disorders. (4th ed.). New York, NY:

McGraw Hill.

Lubis, Namora Lamongga, M.Sc,2011. Memahami Dasar-Dasar Konseling Dalam Teori dan Praktik. Jakarta : Kencana

Moleong, L. J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nolen, Susan., Hoeksema. 2007. Abnormal Psychology 4th Edition. New York : McGraw-Hill Companies, Inc

Nurihsan, Achmad Juntika. 2005. Strategi layanan Bimbingan & Konseling.

Bandung: PT. Reflika Aditama

Papalia, D. E., Feldman, R., & Olds, S. (2009). Human development 11th ed. New York: McGraw Hill

Prayitno. 2012. Jenis layanan dan Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling. Padang: UNP

Prayitno. 2017. Konseling Profesional Yang Berhasil. Layanan dan Kegiatan Pendukung. Jakarta: Rajawali Pers

Prayoga, & Rehulina. 2013. Hubungan antara Adversity dan Ketidakberdayaan yang Dipelajari pada Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) di Rumah Tahanan Surabaya. Jurnal psikologi industri dan Organisasi. Vol 3 No.2.

Riyanto, Yatim. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya : SIC

Sarafino, E. P., & Smith, T. W., 2012. Heath Psychology: Biopsychology interaction 7th edition. New Jersey: John Wiley & Sons.

Sari, Y. I., Kartasasmita, S. 2017.Gambaran Learned Helplessness Wanita Tuna Susila Yang Mengalami Kekerasan. Jakarta: Universitas Tarumanagara.

Schmidt, J. 2003. Counseling in Schools. Essential Services and Comprehensive Programs. 4th edition. Boston: Allyn and Bacon.

Seligman, M. E. P. 2006. Learned optimism: How to change your mind and your life: Vintage

Slavin, robert E. 2009. Cooperative Learning (Teori, Riset, Praktik). Bandung:

Nusa Media

Tohirin. 2007. Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

Winkel. 2008. Psikologi Pengajaran . Jakarta: Grasindo.

Wiriaatmadja, Rochiati. 2012. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya

87

LAMPIRAN

ACC Diujikan

ACC Penelitian

Surat Permohonan Izin Penelitian

Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian Di SMPN 22 Kota Jambi

Pedoman Wawancara

Jambi, 14 Februari 2022 Mengetahui,

Guru Kolabolator Peneliti

Hayati, S.Pd Luky Arianto

A1E117027 Pedoman Wawancara

A. Tujuan Wawancara : Mengetahui learned helplesness pada siswa kelas VIII SMP Negeri 22 Kota Jambi

B. Interviewer : C. Interviewe : D. Pelaksanaan :

1. Hari/tgl : 2. Waktu : 3. Subjek :

a. Bagaimana gambaran kesulitan yang dialami siswa selama proses kegiatan belajar mengajar (KBM)?

b. Bagaimana learned helplessness yang terlihat dari siswa dengan teman atau guru di lingkungan sekolah ?

c. Apakah perilaku yang negatif pada siswa terlihat terus-terusan berulang pada siswa?

d. Apakah learned helplessness pada siswa yang mengakibatkan perubahan sikap siswa?

e. Apa siswa mengalami sikap yang mudah menyerah saat melaksanakan kegiatan belajar?

f. Bagaimanakah sikap yang terlihat dari siswa yang merasa dirinya tidak memiliki kemampuan?

g. Apakah siswa terlihat tidak aktif selama proses belajar mengajar?

h. Bagaimanakah perilaku siswa yang mudah menyerah yang ditunjukkan saat proses belajar mengajar?

i. Bagaimana learned helplessnes yang dialami siswa selama ini?

Hasil Wawancara

Dari wawancara yang telah dilakukan dengan guru BK SMP Negeri 22 Kota Jambi tentang learned helplessness pada siswa, maka peneliti uraikan hasil wawancara sebagai berikut:

1. Ya selama proses belajar kadang siswa hanya diam ditanya tidak tahu, disuruh bertanya hanya diam, apalagi saat ulangan harian siswa bawa buku kesana-kemari takut gagal.

2. Ada lah beberapa siswa kalau ujian terlihat gelisah panik, apalagi saat selesai ujian dan berdiskusi tentang soal yang diujikan siswa biasanya terlihat jadi hilang semangat.

3. Iya itu sering terjadi pada beberapa siswa yang saya amati.

4. Perubahan sikap siswa ya seperti itu tadi , gelisah tiba-tiba seperti kehilangan harapan.

5. Iya biasanya beberapa siswa ini kalau ulangan atau mengerjakan soal tapi tidak paham, bukannya bertanya pada guru atau temannya tapi malah tidur atau menganggu teman yang lain, jika ditanya jawabannya selalu “tidak paham soalnya bu”

6. Wujud perilakunya yang saya amati ya biasanya siswa itu merasa pesimis sama jawaban-jawabannya saat mengerjakan soal, takut salah menjawab.

7. Iya siswa yang seperti itu biasanya di kelas hanya diam saja angguk-angguk, tapi kalau sudah kkeluar main langusng aktif luar biasa

8. Wujud dari siswa yang mudah menyerah itu biasanya yang saya lihat ya siswa baru diberikan soal langsung menutup soalnya, tidak berusaha bertanya dahulu ke guru atau temannya yang lebih mengerti. Dianjurkan untuk belajar kelompok namun tidak juga dilakukan.

9. Sebagaimana yang telah disampaikan di awal, guru tidak membantah bahwa masih ada beberapa siswa yang masih belum mengindikasikan siswa mengalami leaerned helplessness.

Skenario Bimbingan kelompok Skenario

1. Pembentukan kelompok

a. Penjelasan tentang tujuan, azas-azas bimbingan kelompok yang akan dilakukan.

b. Perkenalan nama dengan rantai nama antar anggota kelompok.

c. Penjelasan mengenai learned helplessness yang akan dialami anggota kelompok.

2. Tahap Orientasi dan Eksplorasi

a. Mengajarkan kepada anggota kelompok cara-cara berpartisipasi aktif, yang akan menciptakan suasana kelompok yang produktif.

b. Membantu anggota kelompok mengekspresikan ketakutan dan harapan mereka menuju pengembangan kepercayaan

3. Tahap Transisi

a. Mengemukakan tahap-tahap teknik desensitisiasi sistematis

b. Memberikan informasi mengenai pentingnya mengetahui kecemasan dan ketakutan yang mereka alami

4. Tahap Kerja

Meminta anggota kelompok untuk duduk dengan rileks, memejamkan mata, menaruh kedua tangan diatas paha, (uji sensitif) pada tangan dengan membayangkan panas dan dingin. Selanjutnya:

a. Menanyakan tempat yang paling membuat anggota kelompok merasa nyaman atau peristiwa bahagia yang berkesan, untuk menukar rasa takut atau

penolakannya dengan perasaan lawannya.

b. Klien mengikuti instruksi yang diberikan oleh konselor. Anggota kelompok dapat memberikan isayarat kepada konselor dengan menggerakkan mulut, hidung atau tangan ketika klien tidak bisa melawan rasa takut yang di rasakan.

c. Disensitisasi, menukar perasaan takut dengan perasaan lawannya.

d. Konselor memberikan stimulus dengan kata-kata yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi anggota kelompok.

e. Apabila berhasil, maka melakukan urut jenjang pada masalah selanjutnya.

5. Tahap Akhir

a. Meminta tanggapan klien setelah melaksanakan teknik desensitisiasi sistematis b. Konselor memberikan apresiasi kepada anggota kelompok setelah melaksanakan

bimbingan kelompok c. Melakukan evaluasi

Kisi-kisi Angket Teknik Desensitisasi Sistematis

Variabel Indikator Deskriptor No Item Jumlah

Teknik Mendorong 1. Mengendalikan pikiran

2. Melawan rasa takut

1 2

Desensitisasi mengendalikan

Sistematis Pikiran 2

Mengurangi 1. Berfikir positif 2. Menerima

keadaan

3 2

Perasaan 4

Sensitif

Respon 1. Melewati

kondisi yang sulit

2. Respon yang berlebihan

5 2

terhadap diri

6 Kondisi 1. Rasa tenang dan

aman

2. Rasa bahagia tanpa beban

7 2

relaksasi

8 Respon yang 1. Menyesuaikan

diri

2. Respon yang akurat

9 2

akurat terhadap

lingkungan 10

Melawan rasa 1. Mengubah rasa takut dengan perasaan lawannya 2. Melatih diri

melawan rasa takut

11 2

Takut

12

Penerimaan diri 1. Mampu

menghargai diri 2. Menerima

keadaan

13 2

14

Mengalamai 1. Trauma dengan peristiwaa yang pernah terjadi 2. Takut dengan peristiwa yang menimbulkan trauma

15 1

trauma

17,18,19 4 20

Total 20

Angket Teknik Desensitisasi Sistematis

No Pertanyaan Penilaian

Ya Tidak 1. Saya mampu mengendalikan pikiran saya setelah melakukan latihan

teknik desensitisasi sistematis

2. Saya mampu melawan rasa takut saya setelah melakukan latihan teknik desensitisasi sistematis

3. Saya merasa lega terhadap masalah saya setelah melakukan latihan teknik desensitisasi sistematis

4. Saya mampu menerima segala keadaan diri saya setelah melakukan latihan teknik desensitisasi sistematis

5. Saya sudah melupakan masalah prestasi saya yang rendah setelah melakukan latihan teknik desentilisasi sistematis

6. Saya mampu melawan respon yang berlebihan setelah melakukan latihan teknik desensitisasi sistematis

7. Saya merasa tenang setelah melakukan latihan teknik desensitisasi sistematis

8. Saya merasa beban saya berkurang setelah melakukan latihan teknik desensitisasi sistematis

9. Saya mendorong diri saya untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan

10. Saya mencoba memberikan tanggapan yang sesuai dengan keadaan lingkungan

11. Saya mampu melawan rasa takut setelah melakukan latihan desensitisasi sistematis

12. Saya mendorong diri saya untuk berani terhadap masalah yang saya alami

13. Saya dapat lebih menghargai diri saya setelah melakukan latihan teknik desensitisasi sistematis

14. Saya menerima bahwa saya mendapatkan prestasi belajar yang rendah setelah melakukan latihan desensitisasi sistematis

15. Saya mampu melawan ketakutan saya jika saya mendapat nilai yang rendah kembali

16. Saya takut akan mengecewakan orang tua saya 17. Saya mengalami sikap tidak percaya diri

18. Saya takut jika saya tertinggal jauh dari teman-teman sekelas saya 19. Saya takut tidak diterima masuk sekolah yang saya inginkan

20. Saya merasa kemampuan diri saya tidak cukup, sehingga prestasi belajar saya rendah

Lembar Observasi No

Pernyataan

Penilaian

B S K

1. Mengidentifikasi learned helplessness

a. Konselor menjelaskan terlebih dahulu, mengenai konseling individual, asas konseling serta teknik konseling yang akan digunakan.

b. Membantu klien untuk mengurutkan permasalahan yang sedang dialami dari yang ringan sampai ke yang berat.

2. Kesediaan untuk mengurangi learned helplessness

a. Konselor menyiapkan kesediaan klien untuk mengurangi learned helplessness.

b. Konselor memberikan intruksi yang mudah dipami oleh klien.

c. Konselor memandu klien untuk mengurangi stres dengan:

1) Menggiring klien untuk membayangkan tempat yang paling disukai, indah, dan nyaman.

2) Konselor memberikan tahapan teknik desensitisasi sistematis dengan sesuai

3) Klien mengikuti tahapan teknik desensitisasi sitematis.

3. Mendorong klien untuk bisa memanajemen dirinya sendiri dengan mengontrol dan melawan stres melalui tindakan dengan memberi sugesti untuk membayangkan tempat yang paling disukai dan merasa nyaman.

4. Meminta tanggapan klien

a. Kesan yang disampaikan klien tentang diri sendiri setelah megikuti konseling.

b. Hal yang klien rasakan setelah mengikuti konseling.

5. Menemukan pemahaman baru

a. Menemukan perbedaan dengan dugaan semula.

b. Klien menyimpulkan pemahaman baru yan didapatkan.

6. Evaluasi

a. Konselor mengevaluasi proses menggunakan lembar observasi.

b. Konselor megevaluasi hasil mengunakan angket.

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN A Komponen Layanan Layanan Dasar (Bimbingan Kelompok) B Bidang Layanan Pribadi, Belajar

C Topik Layanan Mengentaskan learned helplessness dengan teknik desensitisasi sistematis

D Fungsi Layanan Pemahaman, Pencegahan, Pengentasan, Pengembangan

E Tujuan Umum a. Peserta layanan dapat mengenali permasalahan yang dialami

b. Peserta layanan dapat mengurangi tingkat learned helplessness yang dialaminya

F Tujuan Khusus Siswa bisa mengatasi learned helplessness yang dialami.

G Sasaran Layanan Siswa Kelas VIII (JR,DH,AH,NS,FT,PR,RD,SR)

H Tempat Ruang BK

I Waktu 1 x 40 Menit (Senin, 21 November 2022)

J Sumber Internet

K Metode/ Teknik Diskusi dan Tanya Jawab

L Media / alat -

M Pelaksanaan : 1. Tahap

Awal/Pendahuluan

a. Peneliti menyampaikan salam

b. Peneliti meminta salah satu anggota kelompok memimpin doa.

c. Peneliti menjelaskan apa itu bimbingan kelompok dan azaz bimbingan kelompok

d. Peneliti menjelaskan apa saja tugas-tugas dari setiap anggota selama bimbingan kelompok berlangsung serta menjelaskan bagaimana proses bimbingan kelompok dengan teknik desensitisasi sistematis untuk mengataasi learned helplessness nya.

e. Peneliti menanyakan bagaimana kesiapan semua anggota kelompok.

2. Tahap Peralihan

a. Menjelaskan kembali kegiatan bimbingan kelompok

b. Mengadakan Permainan “rantai nama”

Jl. H.M. Thaib Fahruddin Simpang Rmbo Kenali Besar, Jambi 36129, Kota Jambi, Alam Barajo, Kenali Besar

3. Tahap Kegiatan

a. Peneliti menyampaikan tema bimbingan kelompok

b. Peneliti mengadakan diskusi mengenai tema bimbingan kelompok

c. Peneliti mempersilahkan anggota kelompok untuk menyamankan dirinya

d. Peneliti menghentikan jalannya desensitisasi sistematis setelah dalam puncak klimaks

e. Peneliti mengadakan diskusi mengenai desensitisasi sistematis yang telah dilaksanakan f. Peneliti mengajak anggota kelompok untuk

memberikan komentar, kesimpulan untuk pertemuan selanjutnya

g. Peneliti kembali menjelaskan tujuan bimbingan kelompok untuk mengurangi learned helplessnessnya

4. Tahap Pengakhiran

a. Peneliti menyimpulkan hasil kegiatan bimbingan kelompok yang dilaksanakan

b. Peneliti merefleksi proses bimbingan kelompok c. Peneliti mengakhiri kegiatan dengan berdoa

bersama-sama N Evaluasi

1. Evaluasi Proses a. Penilaian terhadap proses pelaksanaan bimbingan kelompok menggunakan lembar observasi

2. Evaluasi Hasil a. UNDERSTANDING: Pemahaman baru apa saja yang diperoleh klien.

b. COMFORT: Bagaimana perasaan klien setelah mengikuti bimbingan kelompok.

c. ACTION:Apa yang akan dilakukan klien setelah proses bimbingan kelompok.

Jambi, 21 November 2022 Mengetahui,

Guru Bimbingan Konseling Peneliti

Hayati, S.Pd. Luky Arianto

NIP.196804291997022001 NIM: A1E117027

Learned Helplessness

A. Pengertian

Menurut Dayaksini dalam Aulia Riski (2012) menjelaskan bahwa Learned Helplessness merupakan perasaan kurang mampu mengendalikan lingkungannya yang membimbing pada sikap menyerah atau putus asa dan mengarahkan pada atribusi diri yang kuat bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan. Menurut pendapat tersebut learned helplessness akan cepat menyerah dan putus asa karena tidak dapat mengendalikan lingkungannya, individu yang mengalami learned helplessness menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang apapun. Menurut Peterson, Maier, &

Seligman dalam (Cemalcilar et. al, 2003), learned helplessness adalah suatu keadaan ketika pengalaman dengan kejadian yang tidak dapat dikontrol mengarah pada harapan bahwa kejadian – kejadian di masa mendatang akan tidak dapat dikontrol juga.

B. Ciri-ciri learned helplessness

Seligman (dalam Halgin & Whitbourne, 2003) juga menjelaskan, perilaku yang ditunjukkan dari learned helplessness mirip dengan orang yang depresi, individu menunjukkan perilaku ini dalam menanggapi pengalaman sebelumnya dimana individu merasa tidak berdaya untuk mengendalikan nasibnya, yakni sebagai berikut :

a) Sulit melihat peluang

Hal ini dikarenakan kegagalan terus menerus yang didapatkan oleh individu tersebut sehingga menimbulkan pemikiran pada individu yang helpless bahwa tidak ada yang individu dapat lakukan, selama ini tindakan yang dilakukan tidak mendapat respon bantuan, maka tidak akan ada bantuan bagi individu di kemudian hari.

b) Sikap yang pasif

Individu yang helpless akhirnya bersikap pasif karena belajar bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan dan diusahakan hanya menghasilkan

kegagalan, maka pengulangan tindakan adalah sia-sia dan lebih baik untuk pasif saja.

c) Perilaku rendahnya harapan akan keberhasilan

Individu yang helpless juga memiliki harapan yang rendah akan keberhasilan disebabkan oleh kegagalan yang selama ini dialami secara berulang-ulang, sehingga menyimpulkan bahwa dirinya “bodoh” maka tidak akan berhasil hingga seterusnya.

d) Menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan

Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan juga salah satu perilaku yang ditunjukkan oleh individu yang helpless, hal ini dikarenakan kegagalan selalu berulang dan terus-menerus terjadi sebagai hasil dari usaha yang dilakukan individu, maka individu mempelajari bahwa keadaan tidak berubah karena individu tidak memiliki kemampuan untuk merubahnya sehingga keadaan tidak akan pernah dapat berubah.

e) Berkurangnya usaha individu

Karena mempelajari bahwa usaha apapun yang dilakukan pada akhirnya akan berujung pada kegagalan, ditambah tidak ada kemampuan maka tidak perlu melakukan usaha apalagi mengulang usaha yang sudah jelas gagal atau bahkan dalam titik tertentu.\

f) Individu memilih untuk berperilaku tidak lagi berusaha

Sebab segala usaha yang gagal hanya menimbulkan kelelahan dalam percobaan mengendalikan lingkungan, situasi kegagalan yang tidak dapat diubah memunculkan pemikiran tidak perlu bersusah payah dalam tindakan yang hasilnya akan sama gagal

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri learned helplessness adalah individu merasa putus asa dan mulai berhenti berusaha karena individu meyakini dan merasa takut dirinya tidak akan mampu melakukan hal yang akan dilakukan nantinya, dan individu mulai membuat persepsi bahwa tidak akan mendapat bantuan dari orang-orang disekitarnya.

Dari ciri-ciri yang ditunjukkan tersebut, hal yang paling mengerikan yang

dapat dilakukan oleh individu yang mengalami learned helplessness saat ia sudah merasa berada pada kondisi yang penuh tekanan adalah dengan melakukan hal-hal yang terlarang

C. Dampak learned helplessness

Seligman dalam Lubis (2009) mengungkapkan bahwa Learned helplessness mengakibatkan gangguan emosional seperti depresi ringan atau sedang, meningkatkan kecemasan, perasaan tertekan, penurunan motivasi yakni merasa diri tidak memiliki kemampuan, usaha apapun akan berujung kegagalan sehingga memunculkan rasa menyerah, serta penurunan kognitif yaitu gagalnya individu dalam mempelajari respon-respon baru yang dapat membantu individu keluar dari permasalahan atau keadaan yang membuat individu tertekan.

Menurut Papalia dkk (2009) Keyakinan individu bahwa dirinya adalah “bodoh dan “tidak mampu‟ menyebabkan tidak adanya usaha individu untuk mengembangkan kognitif dalam melihat jalan keluar ataupun peluang untuk dapat menangani atau mengontrol keadaan yang terjadi.

Menurut Slavin (2009) hal inilah yang menyebabkan individu yang helplessness tidak mengembangkan kognitifnya dalam mencari jalan keluar dari permasalahannya.

Seligman juga mengemukakan 4 hal sebagai akibat dari learned helplessness sebagai berikut:

a. Jika seseorang sering mengalami kejadian-kejadian yang tidak dapat dikontrolnya, hal ini akan berakibat pada penurunan motivasi individu untuk bertingkah laku dengan cara terntentu yang sebenarnya dalam situasi tertentu dapat merubah hasil akhir dari suatu kejadian.

b. Pengalaman masa lalu dengan kejadian yang tidak dapat dikontrol akan mengurangi kemampuan individu untuk belajar bahwa kejadian-kejadian tertentu dapat diubah dengan tingkah laku tertentu pula.

c. Pengalaman yang berulang-ulang dengan kejadian-kejadian yang tidak dapat dikontrol akan mengarah pada perasaan tidak berdaya. Individu-individu akan mengatribusikan ketidakberdayaan pada diri mereka

sendiri atau pada kejadian-kejadian khusus dan orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Maier & Seligman dalam Taylor (2003), menngungkapkan jika learned helplessness menghasilkan penurunan dalam tiga area, yaitu:

a. Motivational Individu belajar bahwa hasil yang diperoleh dari suatu kejadian merupakan hal yang tidak dapat dikontrol, sehingga individu cenderung kurang dapat memulai berespon.

b. Cognitive Secara kognitif, individu belajar bahwa hasil yang diperoleh dari suatu kejadian merupakan pembelajaran tersembunyi yang tidak dapat dikontrol.

c. Emotional Prediksi emosional meliputi perasaan depresi setelah belajar bahwa hasil merupakan hal yang tidak dapat dikontrol.

Berdasarkan pendapat di atas, ada beberapa akibat dari learned helplessness yaitu motivasi akan berkurang, munculnya teori atau persepsi baru, dan emosi yang mulai tidak stabil

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN A Komponen Layanan Layanan Dasar (Bimbingan Kelompok) B Bidang Layanan Pribadi, Belajar

C Topik Layanan Mengentaskan learned helplessness dengan teknik desensitisasi sistematis

D Fungsi Layanan Pemahaman, Pencegahan, Pengentasan, Pengembangan

E Tujuan Umum c. Peserta layanan dapat mengenali permasalahan yang dialami

d. Peserta layanan dapat mengurangi tingkat learned helplessness yang dialaminya

F Tujuan Khusus Siswa bisa mengatasi learned helplessness yang dialami.

G Sasaran Layanan Siswa Kelas VIII (JR,DH,AH,NS,FT,PR,RD,SR)

H Tempat Ruang BK

I Waktu 1 x 40 Menit (Senin, 28 November 2022)

J Sumber Internet

K Metode/ Teknik Diskusi dan Tanya Jawab

L Media / alat -

M Pelaksanaan : 1. Tahap

Awal/Pendahuluan

a. Peneliti menyampaikan salam

b. Peneliti meminta salah satu anggota kelompok memimpin doa.

c. Peneliti menjelaskan apa itu bimbingan kelompok dan azaz bimbingan kelompok

d. Peneliti menjelaskan apa saja tugas-tugas dari setiap anggota selama bimbingan kelompok berlangsung serta menjelaskan bagaimana proses bimbingan kelompok dengan teknik desensitisasi sistematis untuk mengataasi learned helplessness nya.

e. Peneliti menanyakan bagaimana kesiapan semua anggota kelompok.

2. Tahap Peralihan

a. Menjelaskan kembali kegiatan bimbingan kelompok

b. Mengadakan Permainan “rantai nama”

Jl. H.M. Thaib Fahruddin Simpang Rmbo Kenali Besar, Jambi 36129, Kota Jambi, Alam Barajo, Kenali Besar

3. Tahap Kegiatan

a. Peneliti menyampaikan tema bimbingan kelompok

b. Peneliti mengadakan diskusi mengenai tema bimbingan kelompok

c. Peneliti mempersilahkan anggota kelompok untuk menyamankan dirinya

d. Peneliti menghentikan jalannya desensitisasi sistematis setelah dalam puncak klimaks

e. Peneliti mengadakan diskusi mengenai desensitisasi sistematis yang telah dilaksanakan f. Peneliti mengajak anggota kelompok untuk

memberikan komentar, kesimpulan untuk pertemuan selanjutnya

g. Peneliti kembali menjelaskan tujuan bimbingan kelompok untuk mengurangi learned helplessnessnya

4. Tahap Pengakhiran

a. Peneliti menyimpulkan hasil kegiatan bimbingan kelompok yang dilaksanakan

b. Peneliti merefleksi proses bimbingan kelompok c. Peneliti mengakhiri kegiatan dengan berdoa

bersama-sama N Evaluasi

1. Evaluasi Proses a. Penilaian terhadap proses pelaksanaan bimbingan kelompok menggunakan lembar observasi

2. Evaluasi Hasil a. UNDERSTANDING: Pemahaman baru apa saja yang diperoleh klien.

b. COMFORT: Bagaimana perasaan klien setelah mengikuti bimbingan kelompok.

c. ACTION:Apa yang akan dilakukan klien setelah proses bimbingan kelompok.

Jambi, 28 November 2022 Mengetahui,

Guru Bimbingan Konseling Peneliti

Hayati, S.Pd. Luky Arianto

NIP.196804291997022001 NIM: A1E117027

Learned Helplessness

A. Pengertian

Menurut Dayaksini dalam Aulia Riski (2012) menjelaskan bahwa Learned Helplessness merupakan perasaan kurang mampu mengendalikan lingkungannya yang membimbing pada sikap menyerah atau putus asa dan mengarahkan pada atribusi diri yang kuat bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan. Menurut pendapat tersebut learned helplessness akan cepat menyerah dan putus asa karena tidak dapat mengendalikan lingkungannya, individu yang mengalami learned helplessness menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan dalam bidang apapun. Menurut Peterson, Maier, &

Seligman dalam (Cemalcilar et. al, 2003), learned helplessness adalah suatu keadaan ketika pengalaman dengan kejadian yang tidak dapat dikontrol mengarah pada harapan bahwa kejadian – kejadian di masa mendatang akan tidak dapat dikontrol juga.

B. Ciri-ciri learned helplessness

Seligman (dalam Halgin & Whitbourne, 2003) juga menjelaskan, perilaku yang ditunjukkan dari learned helplessness mirip dengan orang yang depresi, individu menunjukkan perilaku ini dalam menanggapi pengalaman sebelumnya dimana individu merasa tidak berdaya untuk mengendalikan nasibnya, yakni sebagai berikut :

a) Sulit melihat peluang

Hal ini dikarenakan kegagalan terus menerus yang didapatkan oleh individu tersebut sehingga menimbulkan pemikiran pada individu yang helpless bahwa tidak ada yang individu dapat lakukan, selama ini tindakan yang dilakukan tidak mendapat respon bantuan, maka tidak akan ada bantuan bagi individu di kemudian hari.

b) Sikap yang pasif

Individu yang helpless akhirnya bersikap pasif karena belajar bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan dan diusahakan hanya menghasilkan

Dokumen terkait