8.1. Angka penyalahgunaan narkoba dan Proyeksi ke Depannya
Adanya kecenderungan kenaikan penyalahguna narkoba dari tahun ke tahun Pada tahun 2008, besaran penyalahguna narkoba diperkirakan sekitar 3,11 juta sampai 3,61 juta orang di Indonesia, dengan nilai tengah 3,36 juta orang. Angka ini lebih tingi dibandingkan dengan estimasi tahun 2004, sebesar 3,2 juta orang. Namun perlu diingat, ada perbedaan cara perhitungan metodologi antara tahun 20043 dan 2008. Bila membandingkan angka absolutnya, seolah-olah tidak ada kenaikan jumlah penyalahguna narkoba. Untuk itu, cara perhitungannya perlu disamakan, sehingga hasil datanya dapat diperbandingkan.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan metodologi yang telah disamakan, diperoleh kisaran jumlah penyalahguna di tahun 2004 antara 2,66 juta sampai 2,94 juta orang penyalahguna narkoba, dengan nilai tengah sebanyak 2,80 juta orang. Diperkirakan ada kenaikan sebanyak 20% jumlah penyalahguna dari tahun 2004 ke 2008 (Tabel 1).
Tabel 8. Hasil perhitungan jumlah penyalahguna dengan metode yang sama antara tahun 2004 dan 2008
2004 2008
Jenis penyalahguna min maks min maks
coba pakai 628,998 695,209 807,817 938,041 Teratur 708,771 783,378 829,814 959,166 Pecandu 1,324,206 1,463,596 1,476,603 1,713,612 pecandu bukan suntik 1,130,606 1,249,618 1,258,022 1,459,850 pecandu suntik 193,599 213,978 218,581 253,762 Total 2,661,975 2,942,182 3,114,234 3,610,819
Kenaikan angka penyalahguna ini di dukung oleh beberapa fakta, seperti dari hasil survei narkoba di kelompok pelajar/mahasiswa, diketahui angka prevalensi penyalahgunaan narkoba naik dari 3,9% di tahun 2003 (BNN & Pranata UI, 2004) menjadi 5,3% di tahun 2006 (BNN & Puslitkes UI, 2007). UNODC juga memperkirakan terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba di seluruh dunia dari 200 juta (2006) menjadi 208 juta orang di tahun 2007 atau terjadi kenaikan sekitar 4%.
Data dari pihak kepolisian menunjukkan terjadinya peningkatan peredaran narkoba. Terlihat dari hasil tangkapan dan pengungkapan kasus narkoba dari tahun 2001 sampai
3
Cara perhitungan yang dibuat tahun 2004 masih sangat kasar dan tidak bisa di rinci hasilnya per provinsi
Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008
2006 yang menunjukan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Ada beberapa fakta tentang ini, pertama jumlah kasus pidana narkoba pada tahun 2001 sebanyak 3.478 orang, maka meningkat tajam menjadi 16.252 orang tahun 2006. Dalam 6 tahun terakhir tersebut, kasus pidana terdistribusi atas masalah narkotika 54%, psikotripika 33%, dan bahan adiktif 13%. Kedua, Jumlah tersangka kasus narkoba juga meningkat setiap tahun, dari sekitar 5.000 tersangka pada tahun 2001 menjadi sekitar 32.000 tersangka pada tahun 2006. Dalam kurun waktu 2001-2006 jumlah tersangka kasus mencapai sekitar 85.000 orang. Sebagian besar tersangka adalah Warga Negara Indonesia. Hanya 0,5% tersangka kasus yang Warga Negara Asing. Ketiga, besaran barang bukti tangkapan narkotika, misalkan lahan ganja yang dihancurkan dari 23 hektar (2001) menjadi 289.6 hektar (2006). Heroin dari 16.642 gram (2001) menjadi 21.872 gram (2003) dan terus turun menjadi 11.901 gram (2006). Demikian juga dengan psikotropika terjadi peningkatan, misalkan ekstasi dari 90.523 tablet (2001) menjadi 466.907 tablet (2006), atau shabu dari 48.848 gram (2001) melonjak menjadi 1.241.200 gram (2006). Belum lagi pengungkapan beberapa labolatorium clandestine, jika tahun 2001 hanya 1 buah maka di tahun 2006 menjadi 16 buah. Bahkan tahun 2003 berhasil diungkap labolatorium clandestein terbesar di dunia, dan tahun 2005 terbesar ke-2 di dunia setelah Fiji (Dit IV/Narkoba, Desember 2006).
Kelompok Pelajar dan mahasiswa sasaran utama peredaran narkoba
Dengan semakin maraknya peredaran narkoba, diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba akan terus meningkat sampai tahun 2013. Terkait dengan hal itu, maka ada hal yang perlu diwaspadai, yaitu 1) diperkirakan terjadi kenaikan proporsi jumlah penyalahguna yang lebih tinggi pada periode tahun 2008-2013 dibandingkan 2004-2008. Kedua, adanya peningkatan pola kenaikan proporsi penyalahguna coba pakai dari 24% (2004) menjadi 28% (2013), detail lihat tabel 9.
Tabel 9. Perbandingan penyalahguna menurut Jenisnya dengan menggunakan nilai tengah antara tahun 2004, 2008, dan 2013
Jenis penyalahguna 2004 % 2008 % 2013 %
Coba pakai 662,104 0.24 872,929 0.26 1,274,483 0.28 Teratur 746,074 0.27 894,490 0.27 1,218,470 0.27 Pecandu 1,393,901 0.50 1,595,107 0.47 2,090,737 0.46 pecandu bukan suntik 1,190,112 0.42 1,358,936 0.40 1,777,828 0.39 pecandu suntik 203,789 0.07 236,172 0.07 312,909 0.07
Total 2,802,079 3,362,527 4,583,690
% terhadap populasi berisiko 1,75% 1,99% 2,56%
Fakta point ke-2 diatas, menunjukan ada upaya yang keras dan serius dari pihak pengedar /Bandar untuk melakukan penetrasi pasar (mencari penyalahguna baru) pada kelompok coba pakai. Di kelompok coba pakai sekitar 90%-nya adalah kelompok pelajar/mahasiswa di tahun 2008. Secara keseluruhan, jumlah penyalahguna di kelompok pelajar/mahasiswa diperkirakan 4,6% dari total jumlah pelajar/mahasiswa (2008) dan akan mengalami peningkatan hampir dua kali lipatnya (8,8%) di tahun 2013.
Upaya memperluas jaringan penyalahguna narkoba seakan tiada henti. Dari hasil survei, diketahui ada sebanyak 52% penyalahguna mengaku pernah menawarkan
Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008
narkoba kepada orang lain, bahkan 31% pernah menjual narkoba. Sedikitnya 1 dari 10 penyalahguna pernah menjadi kurir narkoba. Penasun adalah kelompok penyalahguna yang paling berisiko menjadi pengedar narkoba, karena hampir separuh (45%) penasun pernah menjual narkoba pada orang lain. Sehingga perang terhadap narkoba tidak hanya pada pengedar/bandar saja, tetapi tekanan lingkungan dan masa pertumbuhan dari pelajar/mahasiswa sendiri menjadi pemicu suburnya peredaran gelap narkoba.
Perkiraan besaran jumlah peredaran narkoba versus jumlah pengungkapan kasus narkoba di Indonesia. Permasalahan narkoba seperti fenomena gunung es, yang
bisa terungkap hanya yang berada di puncaknya. Hal ini disebabkan narkoba adalah barang illegal di Indonesia. Untuk itu, coba dilakukan kalkulasi berdasarkan kebutuhan konsumsi per jenis narkoba oleh semua penyalahguna narkoba dari hasil survei tahun 2008.
Cara penghitungan dengan melihat kebutuhan rata-rata konsumsi per jenis narkoba per hari oleh semua penyalahguna (angka median), kemudian dikalikan jumlah hari dalam 1 tahun, lalu dikalikan dengan perkiraan angka penyalahguna narkoba sehingga diperoleh perkiraan jumlah narkoba yang beredar pada tahun 2008.
Dari hasil jumlah tangkapan kasus narkoba oleh Dit/IV Narkoba tahun 2008, terlihat jumlah sitaan ganja, ekstasi, obat penenang dan shabu jauh lebih tinggi dibandingkan angka hasil estimasi survey di tahun 2008. Kemungkinan ini terjadi karena semua jenis narkoba tersebut telah diproduksi di Indonesia, dimana pabrik atau pusat produksi narkoba tersebut berhasil di bongkar oleh pihak kepolisian. Dengan demikian, Indonesia bukan lagi sebagai tempat mengedarkan narkoba tetapi sudah menjadi produsen narkoba (khususnya jenis ekstasi, shabu dan obat penenang). Demikian halnya dengan ganja, dimana ladang ganja banyak ditemukan dan dihancurkan pihak aparat penegak hukum, khususnya di NAD.
Tabel 10. Perbandingan hasil kalkulasi konsumsi narkoba dari hasil survei versus hasil tangkapan kasus narkoba oleh Dit/IV narkoba, tahun 2008
No
Jenis Narkoba Hasil Kalkulasi dari Hasil Survei tahun 2008
Hasil Tangkapan Narkoba oleh Dit/IV Narkoba tahun 2008
1 Ganja 459,5 - 562,1 kg 140.496,25 kg
2 Hasish 14,4 - 17,6 kg 0,03 kg
3 Kokain 2,4 -2,9 kg 2,9 kg
4 Shabu 251,1 - 306,9 kg 679,7 kg
5 Ekstasi 114.181 - 139.555 tablet 1.071.266 tablet
6 Heroin/putaw 8.229,6 - 10.058,4 kg 20,55 kg
7 Obat penenang 1.344.763 - 1.643.599 tablet 6.485.246 tablet
8 LSD 21.415 - 26.173 lembar -
Berbeda halnya dengan narkoba jenis kokain dan hasish yang diperkirakan peredarannya hanya di kalangan tertentu saja di Indonesia sehingga permintaan akan narkoba ini belum terlalu banyak dibandingkan jenis narkoba lainnya. Dari estimasi hasil survey dengan jumlah tangkapan kasus pihak Dit/IV narkoba tidak jauh berbeda, yaitu sekitar 2,9 Kg per tahun. Namun, untuk hasish jumlah yang terungkap masih terlalu rendah (0,3 Kg) dibandingkan jumlah permintaannya (14-18 Kg).
Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008
Namun, untuk jenis heroin/putau karena tidak diproduksi di Indonesia maka dapat dijadikan indikator kinerja dari pihak aparat penegak hukum dalam mengungkapkan jaringan atau sindikat narkoba internasional. Dari hasil estimasi konsumsi, diperkirakan jumlah peredaran heroin/putau ada sebanyak 8.230-10.059 Kg per tahun di Indonesia. Sayangnya jumlah heroin/putau yang berhasil disita hanya 20,5 Kg (2008) atau hanya 0,25% saja. Bahkan kinerja pengungkapan heroin/putau dari tahun 2005-2008 hanya mencapai 65,6 Kg saja atau sekitar 0.72%. Angka ini mengindikasikan bahwa heroin/putau sangat mudah masuk ke Indonesia.
Pola penggunaan jenis narkoba di tahun 2004 dan 2008
Untuk melihat pola penggunaan jenis narkoba antara tahun 2004 dan 2008, maka digunakan referensi waktu pernah pakai (ever used) dan pemakaian narkoba dalam setahun terakhir (current users). Respoden penyalahguna narkoba di tahun 2008 yang pernah pakai narkoba (ever used) pada hampir semua jenis narkoba lebih tinggi persentasenya dibandingkan responden tahun 2004. Misalkan pada ganja, kokain, ekstasi, obat penenang, dan kecubung. Namun, untuk jenis shabu, dan heroin para penyalahguna narkoba di tahun 2004 lebih tinggi dibandingkan 2008. Namun, jika merujuk pada current users, maka persentase menurut semua jenis narkoba yang dipakai di tahun 2008 lebih rendah dibandingkan di tahun 2004.
Tabel 11. Pola konsumsi narkoba menurut ever used dan current users di tahun 2004 dan 2008
2004 2008 Pernah pakai (ever used) Setahun terakhir (current users) Pernah pakai (ever used) Setahun terakhir (current users) N 956 956 2143 2143 Jenis narkoba
Ganja (gele, cimeng, marijuana) 85.9 79.1 91.7 71.5
Hasish 10.0 1.5 Kokain 5.5 4.7 7.2 0.7 Shabu 68.4 64.6 64.5 38.2 Ekstasi (inex, I, XTC) 52.0 47.8 53.8 30.0 Heroin/putau 47.9 43.8 36.4 17.6 Metadhon * - - 9.8 7.3 Subutex * - - 17.9 13.0
Obat penenang (valium, lexo/lexotan, nipam,
BK, rohypnol) 40.1 36.3 51.9 27.6
LSD (acid) 3.4 2.9 4.9 0.5
Kecubung, jamur di kotoran Sapi (mushroom) 7.9 7.0 16.8 4.2 Lem (Aica,-Aibon,UHU) 4.0 3.8 4.8 0.8
Lainnya, sebutkan - - 5.1 2.8
* program substitusi dalam upaya pengurangan risiko (harm reduction) yang diimplementasikan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional
Ini mengindikasikan bahwa penyalahguna narkoba di tahun 2008 lebih banyak yang pernah mencoba berbagai jenis narkoba (poly drugs), selanjutnya untuk pemakaian rutin setahun terakhir (current users) lebih selektif atau tidak banyak yang melakukan poly drugs seperti pola yang ditemukan di tahun 2004. Kedua, telah ada upaya program intervensi substitusi yang menjangkau para penyalahguna narkoba di
Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008
tahun 2008, terlihat dari pemakaian jenis metadone dan subutex. Mereka yang telah terjangkau oleh program pengurangan risiko diperkirakan hampir seperlimanya. Mereka yang telah ikut program substitusi cenderung tidak ingin mengkonsumsi jenis narkoba lainnya, apalagi heroin/putau karena rasanya tidak “seenak” sebelum menkonsumsi subutex/methadon. Keempat, dapat mengindikasikan keberhasilam upaya penegakkan hukum dalam menekan peredaran narkoba di tahun 2008, sehingga supplai berbagai jenis narkoba agak sulit diperoleh. Kelima, harga narkoba yang semakin mahal dibandingkan tahun 2004. Misalkan harga paket putau di tahun 2004 masih sekitar Rp.25.000,- maka di tahun 2008 minimal Rp.75.000,- Dengan demikian, kemampuan daya beli para penyalahguna berkurang sehingga hanya membatasi pada beberapa jenis narkoba saja.
Namun demikian, ada hal yang perlu diwaspadai dengan semakin meningkatnya jumlah penyalahguna yang ikut program subsitusi. Peningkatan peserta program terjadi karena program ini bersifat legal, dimana para penyalahguna dapat mengakses program tanpa perlu takut ditangkap pihak kepolisian, dan efek obat substitusi tidak jauh berbeda dengan narkoba. Kedua, adanya program penjangkauan ke penyalahguna (outreach) sehingga sosialisasi program substitusi akan terus berlanjut, terutama ke penyalahguna baru. Hal yang patut menjadi catatan atas itu semua adalah kemungkinan adanya penyelewengan cara pakai subutex atau methadon tersebut dengan cara disuntikkan. Jika itu terjadi maka upaya untuk mengurangi risiko penularan berbagai penyakit, terutama HIV/AIDS tidak terjadi. Lebih parah lagi, bila ada penyalahguna bukan heroin/putau dengan cara suntik, lalu memakai subutex/methadon dengan cara suntik. Dari hasil survei fenomena tersebut telah ada. Kedua, terjadinya penjualan secara bebas subutex dikalangan penyalahguna narkoba. Hal ini terjadi karena tidak ada pengawasan yang ketat, karena kartu berobat dari penyalahguna yang terdaftar dipakai untuk membeli subutex oleh orang lain. Atau membeli subutex lebih dari dosis seharusnya untuk dijual lagi ke teman-temannya.
Bagaimana bila program tidak dijalankan secara serius dan efektif?
Dengan fakta dan data diatas, maka permasalahan narkoba semakin kompleks dengan kerugian ekonomi dan sosial yang ditimbulkannya. Untuk itu, perlu upaya yang serius dan terpadu dalam upaya penanggulangan dan pemberantasan narkoba di Indonesia, baik oleh institusi terkait dan dukungan pihak seluruh lapisan masyarakat. Bila program tidak dijalankan, maka:
Jumlah penyalahguna akan semakin meningkat, bahkan peningkatan yang terjadi bisa 2 kali lipat dari angka yang diestimasi dalam laporan ini. Jumlah narkoba yang beredar akan semakin banyak, bahkan dapat menjadi sumber bisnis yang paling menguntungkan. Akibatnya, generasi muda Indonesia tidak mampu bersaing (loss productivity) dan negara diambang kehancuran. Tingkat kriminalitas dan kejahatan tinggi sehingga kenyamanan hidup masyarakat terganggu. Akibatnya, beban kerugian ekonomi dan sosial yang ditimbulkan akan sangat besar.
Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008
Indikasi permasalahan narkoba semakin marak dan memicu terjadinya peningkatan jumlah penyalahguna disebabkan beberapa fakta berikut:
Maraknya pabrik ekstasi dan shabu yang dibangun di berbagai tempat di Indonesia, termasuk di pemukiman penduduk. Pabrik yang dibangun tidak hanya berskala kecil, tetapi juga berskala sangat besar (pernah dibongkar pabrik terbesar ke-3 sedunia), bahkan telah menggunakan teknologi yang semakin canggih. Pembangunan pabrik ini mengindikasikan adanya permintaan narkoba yang semakin besar.
Letak Indonesia yang strategis, yaitu menghubungkan Asia dengan Australia sehingga sebagai salah satu tempat transit bagi peredaran narkoba jaringan internasional. Selain itu, Indonesia memiliki jumlah populasi penduduk Indonesia yang sangat besar, tentu merupakan pasar potensial untuk digarap secara serius dalam peredaran narkoba. Ditambah lagi secara ekonomi, tingkat pendapatan masyarakatnya cukup tinggi dibandingkan negara tetangga, seperti Vietnam, Laos, Papua Nugini ataupun Philipina.
Indonesia merupakan negara kepulauan, menjadikan Indonesia sasaran empuk untuk dimasuki oleh jaringan sindikat narkoba internasional, terutama jenis heroin/putau. Apalagi pintu masuk peredaran narkoba yang cukup banyak, baik melalui darat, pantai, maupun bandara. Selain itu, Indonesia juga memiliki tanaman ganja kualitas terbaik yang banyak tersebar di provinsi NAD. Bahkan sekarang ladang ganja juga telah menyebar ke beberapa propisinsi lain, seperti Jambi. Dengan dukungan teknologi, dan jejaring kaki-kaki peredaran narkoba yang semakin kompleks, membuat upaya pemberantasan dan penanggulangan narkoba seolah diam di tempat. Apalagi dengan terbatasnya sumberdaya yang ada tentu rentang pengawasan dan pengendalian dalam upaya menekan peredaran narkoba semakin berat ke depannya.
Adanya oknum aparat penegak hukum yang berupaya melindungi atau berbisnis narkoba mengakibatkannya peredaran narkoba tumbuh sumbur. Apalagi tempat hiburan malam semakin banyak berdiri, sampai ke tingkat kecamatan. Ditambah lagi gempuran informasi dari tayangan televisi yang tanpa disadari memberikan informasi yang kurang sesuai bagi masyarakat yang mampu memilahnya. Selain juga, ketiadaan lapangan kerja bagi masyarakat, menjadikan mereka rela menjadi kurir atau kaki-tangan dalam peredaran narkoba. Kondisi-kondisi tersebut membuat situasi semakin kondusif bagi peredaran gelap narkoba. Untuk itu, perlu upaya yang serius dan terintegrasi yang melibatkan semua sektor terkait serta melibatkan peran serta seluruh lapisan masyarakat dalam upaya penangulangan dan peredaran narkoba.
Laporan Survei Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia:
Studi Kerugian Ekonomi dan Sosial Akibat Narkoba, tahun 2008
Kesimpulan
Temuan studi menyimpulkan kenaikan jumlah penyalahguna dan kerugian biaya ekonomi penyalahgunaan narkoba. Jumlah penyalahguna diperkirakan sekitar 3,1 juta sampai 3,6 juta orang di Indonesia tahun 2008. Dengan menggunakan nilai tengah (3,3 juta), angka ini naik sedikit dibandingkan angka penyalahguna tahun 2004 (3,2 juta). Dari sejumlah penyalahguna tersebut, terdistribusi atas 26% coba pakai, 27% teratur pakai, 40% pecandu bukan suntik, dan 7% pecandu suntik. Sebagian besar adalah laki-laki (88%), dan hampir semua berada pada kelompok umur 15-34 tahun sekitar 93%. Ganja (71%), shabu (38%), ekstasi (30%), obat penenang/barbiturate (28%), dan putau bubuk (15%) adalah jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi dalam setahun terakhir. Sekitar sepertiga dari responden mengaku sebagai pecandu suntik. Narkoba yang banyak disuntikkan adalah putau bubuk dan subutex. Kerugian biaya ekonomi diperkirakan sebesar Rp.32,4 trilyun pada tahun 2008, dan diproyeksikan akan terus meningkat menjadi Rp.57 trilyun di tahun 2013.
Jumlah kerugian ekonomi di atas sebenarnya lebih kecil dibanding jumlah sesungguhnya karena perhitungan belum memasukkan semua komponen biaya, termasuk biaya membesarkan anak penyalah-guna, biaya pendidikan, dan biaya kerusakan failitas umum akibat penyalah-gunaan.
Gambaran ini menggambarkan masih belum efektifnya upaya pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan. Berbagai hambatan baik di tingkat legal dan kebijakan, kelembagaan mapun pelayanan membuat upaya tersebut tersendat. Dengan demikian perbaikan upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba perlu dilakukan di berbagai tingkatan, mulai dari aspek legal dan kebijakan; kelembagaan, termasuk kolaborasi dan koordinasi antar sektor dan lembaga swadaya masyarakat; sampai akses, jangkauan dan kualitas pelayanan.
Rekomendasi
(1) Perbaikan aspek legal dan kebijakan
Melakukan kajian sistematik terhadap ketepatan atau relevansi dan kejelasan undang-undang, kebijakan dan peraturan terkait, dan konsistensi kerangka legal tersebut antara berbagai sektor, dan antara pusat dan daerah; dan kemudian menindak-lanjuti hasil kajian dengan perbaikan kerangka legal dan kebijakan penanggulangan narkoba. Undang-undang dan kebijakan penanggulangan narkoba perlu komprehensif mempertimbangkan komplementasi tujuan terkait, termasuk dalam menghentikan dan mengurangi peredaran narkoba, mengurangi demand di masyarakat, dan mengurangi dampak buruk kesehatan dan sosial-ekonomi.