• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Manajerial

Dalam dokumen ANALISIS PENGARUH RASIO CAR BOPO NPL NIM (2) (Halaman 113-119)

BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI HASIL PENELITIAN

5.2. Implikasi Hasil Penelitian

5.2.2. Implikasi Manajerial

Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi, maka terlihat bahwa

efisiensi operasi yang diproksikan dengan rasio BOPO mempunyai nilai beta

unstandardized coefficients yang paling besar dan signifikan terhadap return

on asset (ROA) dengan nilai koefisien sebesar – 3,404; kemudian rasio Net

Interest Margin (NIM) dengan nilai koefisien sebesar 0,391; dan Capital

Adequacy Ratio (CAR) dengan nilai koefisien sebesar 0,243; serta yang

terkecil adalah Loan to Deposit Ratio (LDR) dengan nilai koefisien sebesar

0,137. Penggunaan beta unstandardized coefficients untuk melihat besarnya

pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen

disebabkan karena: dengan menggunakan beta unstandardized coefficients,

hasil perhitungan yang didapatkan akan memperoleh nilai konstanta; yakni

nilai variabel dependen ketika semua variabel dependen dalam keadaan tidak

mengalami perubahan atau statis (Ghozali, 2005). Hasil temuan ini

menunjukkan pula hal-hal yang perlu diperhatikan, baik oleh pihak

manajemen perusahaan (emiten) dalam pengelolaan perusahaan, dan oleh

para investor dalam menentukan strategi investasinya, serta pihak regulator

(Bank Indonesia) untuk mereview kembali apakah kebijakan yang telah

ditetapkan berhasil membawa perbankan (khususnya perbankan yang tercatat

di BEJ) kearah yang lebih sehat dengan melihat kinerja keuangannya. Adapun

implikasi manajerial dari hasil temuan penelitian ini untuk setiap variabelnya

1. Efisiensi operasi suatu perusahaan (dalam hal ini Perbankan yang

tercatat di BEJ) merupakan faktor yang sangat penting bagi

kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Sesuai dengan fungsinya

sebagai pihak intermediasi, efisiensi suatu bank sangat mempengaruhi

besar kecilnya return yang akan didapat. Semakin efisien kegiatan

operasi yang dilakukan bank tersebut, maka laba yang diperoleh bank

tersebut akan semakin besar. Rasio yang digunakan untuk mengukur

tingkat rasio efisiensi operasi sebuah bank adalah rasio BOPO yaitu

perbandingan antara total biaya operasi dengan pendapatan operasinya.

Pada penelitian ini, efisiensi operasi mempunyai pengaruh yang paling

besar terhadap rasio perolehan laba dibanding dengan variabel-variabel

lain. Terbukti dengan nilai koefisien BOPO sebesar -3,404

menunjukkan adanya pengaruh negatif dan paling dominan terhadap

return on asset (ROA). Jadi semakin besar rasio BOPO suatu bank,

maka semakin kecil tingkat rasio ROA atau dapat dikatakan kinerja

keuangan bank tersebut akan turun. Dengan demikian bagi emiten,

pergerakan rasio BOPO haruslah menjadi perhatian khusus agar

perusahaannya selalu berada pada tingkat efisiensi yang bisa

menghasilkan laba yang maksimal, sehingga kinerja yang dicapai akan

selalu meningkat. Kemudian bagi investor, rasio ini perlu diperhatikan

sebagai salah satu bahan pertimbangannya dalam menentukan strategi

investasinya. Sementara dari pihak regulator (Bank Indonesia)

bank yang berada dalam pengawasannya agar kinerja keuangan yang

dicapai bank-bank tersebut dapat selalu meningkat.

2. Hasil berikutnya menunjukkan bahwa setelah tingkat efisiensi operasi

bank, variable yang memiliki pengaruh terhadap return on asset adalah

net interest margin (NIM). Hal ini terlihat dari nilai beta unstandardized

coefficients rasio NIM sebesar 0,391. Nilai koefisien ini menunjukkan

bahwa rasio NIM mempunyai pengaruh positif terhadap return on asset

(ROA). Jadi semakin tinggi rasio NIM maka akan menyebabkan

semakin tingginya rasio ROA. Bagi pihak emiten (pihak manajemen

bank), rasio NIM menunjukkan berapa besar bunga bersih yang

diperoleh bank tersebut, dimana bunga merupakan hasil dari kegiatan

utama bank yaitu sebagai pihak penyalur dana kepada pihak yang

membutuhkan. Karena kegiatan usaha pokoknya tersebut, maka rasio

NIM ini merupakan faktor yang penting bagi kelangsungan hidup bank

tersebut. Sehingga sebaiknya pihak emiten (manajemen perusahaan)

harus selalu menjaga agar rasio NIM berada pada posisi yang tinggi,

sehingga laba yang diperoleh juga akan tinggi. Dengan tingginya laba

yang diperoleh, maka kinerja keuangan bank tersebut juga akan

meningkat. Kemudian bagi pihak investor, rasio NIM dapat digunakan

sebagai salah satu acuan untuk menentukan strategi investasi. Semakin

tinggi rasio NIM maka semakin tinggi pula kemampuan bank tersebut

memperoleh pendapatan bunga bersihnya, sehingga banyak investor

regulator (Bank Indonesia) diharapkan memacu bank-bank (khususnya

perbankan yang tercatat di BEJ) untuk lebih giat melakukan ekspansi

kredit, sehingga pendapatan bunga bersih yang diperoleh bank akan

semakin tinggi. Dengan tingginya pendapatan bunga, maka dapat

dipastikan kinerja keuangan bank tersebut akan meningkat.

3. Hasil berikutnya Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh

yang cukup besar terhadap return on asset (ROA). Besarnya nilai

unstandardized coefficients untuk rasio CAR adalah 0,243. Nilai

koefisien ini menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh positif

dan signifikan terhadap ROA. Hal ini berarti tingkat kecukupan modal

suatu bank merupakan faktor penting yang harus dipenuhi. Dengan

tercukupinya modal suatu bank (standart yang ditetapkan BI minimal

8%), maka diharapkan kerugian-kerugian yang dialami dapat terserap

oleh modal yang dimiliki bank tersebut. Sehingga dengan terserapnya

kerugian-kerugian tersebut, maka kegiatan usaha bank tidak akan

mengalami gejolak yang berarti. Bagi pihak emiten (manajemen

perusahaan) merujuk pada penelitian ini, diharapkan selalu menjaga

tingkat kecukupan modalnya, sehingga pada akhirnya dengan

tercukupinya tingkat kecukupan modal, kinerja keuangan bank tersebut

akan meningkat. Kemudian bagi investor, rasio CAR dapat dijadikan

sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan strategi investasinya.

Karena semakin besar rasio CAR suatu bank, maka semakin tinggi juga

tersebut. Sementara bagi regulator (Bank Indonesia), diharapkan selalu

memantau tingkat kecukupan modal bank (khususnya perbankan yang

tercatat di BEJ). Dengan tingginya tingkat kecukupan modal, maka

kerugian yang dialami bank dalam menjalankan kegiatan usahanya akan

semakin kecil, sehingga dengan kecilnya kerugian, keuntungan yang

didapat akan semakin tinggi. Dengan semakin tingginya keuntungan,

maka kinerja keuangan bank tersebut semakin meningkat.

4. Nilai beta unstandardized coefficients yang paling kecil dari keempat

variable yang signifikan adalah Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu

dengan nilai sebesar 0,137. Hal ini berarti LDR mempunyai pengaruh

yang positif terhadap ROA. Hal ini juga menunjukkan tingkat

likuiditas suatu bank mempunyai pengaruh yang cukup signifikan

terhadap besar kecilnya perolehan laba bank. Jika bank dalam

menyalurkan kredit dari dana pihak ketiganya tinggi, maka dapat

dikatakan tingkat likuiditasnya juga tinggi karena dana dari pihak ketiga

dapat dimaksimalkan dalam bentuk kredit. Dengan tingginya

penyaluran kredit yang diberikan, maka pendapatan bunga dari kredit

tersebut juga akan meningkat, yang berdampak pada tingginya

perolehan laba bank. Sehingga dapat dikatakan kinerja keuangan bank

tersebut meningkat. Dilihat dari pihak emiten (manajemen perusahaan),

LDR merupakan faktor yang cukup penting dalam menjalankan

kegiatan usahanya, sehingga adalah merupakan suatu keharusan untuk

ditetapkan Bank Indonesia, yaitu 80%-110%). Dengan optimalnya LDR

maka dalam kegiatan usahanya, bank akan selalu memperoleh

keuntungan. Kemudian bagi pihak investor, LDR dapat dijadikan acuan

untuk menentukan strategi investasinya. Semakin likuid suatu bank,

maka dapat disimpulkan kelangsungan hidup bank tersebut akan

berlangsung lama, dengan demikian investor akan tertarik untuk

berinvestasi di bank tersebut karena yakin bahwa investasi yang

ditanamkan akan selalu menghasilkan keuntungan bagi dirinya.

Sementara dari pihak regulator (Bank Indonesia) merupakan salah satu

faktor yang menentukan bahwa bank tersebut sehat atau tidak, sehingga

diharapkan BI selalu memantau LDR perbankan yang tercatat di BEJ

agar kinerja keuangan yang dicapai bank-bank tersebut dapat

meningkat.

5. Non Performing Loan (NPL) pada penelitian ini tidak mempunyai

pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hal ini berarti selama periode

penelitian, fungsi intermediasi bank tidak berjalan dengan baik.

Dibuktikan dengan masih stagnannya perekonomian disektor riil. Hal

ini juga disebabkan penyaluran kredit ke pihak debitur yang masih kecil, oleh karena kekhawatiran dari pihak bank jika kredit yang

diberikan menjadi bermasalah. Sehingga pada prakteknya, bank-bank

beralih pada sektor yang beresiko kecil seperti penempatan dana ke

Dalam dokumen ANALISIS PENGARUH RASIO CAR BOPO NPL NIM (2) (Halaman 113-119)

Dokumen terkait