BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI HASIL PENELITIAN
5.2. Implikasi Hasil Penelitian
5.2.2. Implikasi Manajerial
Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi, maka terlihat bahwa
efisiensi operasi yang diproksikan dengan rasio BOPO mempunyai nilai beta
unstandardized coefficients yang paling besar dan signifikan terhadap return
on asset (ROA) dengan nilai koefisien sebesar – 3,404; kemudian rasio Net
Interest Margin (NIM) dengan nilai koefisien sebesar 0,391; dan Capital
Adequacy Ratio (CAR) dengan nilai koefisien sebesar 0,243; serta yang
terkecil adalah Loan to Deposit Ratio (LDR) dengan nilai koefisien sebesar
0,137. Penggunaan beta unstandardized coefficients untuk melihat besarnya
pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen
disebabkan karena: dengan menggunakan beta unstandardized coefficients,
hasil perhitungan yang didapatkan akan memperoleh nilai konstanta; yakni
nilai variabel dependen ketika semua variabel dependen dalam keadaan tidak
mengalami perubahan atau statis (Ghozali, 2005). Hasil temuan ini
menunjukkan pula hal-hal yang perlu diperhatikan, baik oleh pihak
manajemen perusahaan (emiten) dalam pengelolaan perusahaan, dan oleh
para investor dalam menentukan strategi investasinya, serta pihak regulator
(Bank Indonesia) untuk mereview kembali apakah kebijakan yang telah
ditetapkan berhasil membawa perbankan (khususnya perbankan yang tercatat
di BEJ) kearah yang lebih sehat dengan melihat kinerja keuangannya. Adapun
implikasi manajerial dari hasil temuan penelitian ini untuk setiap variabelnya
1. Efisiensi operasi suatu perusahaan (dalam hal ini Perbankan yang
tercatat di BEJ) merupakan faktor yang sangat penting bagi
kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Sesuai dengan fungsinya
sebagai pihak intermediasi, efisiensi suatu bank sangat mempengaruhi
besar kecilnya return yang akan didapat. Semakin efisien kegiatan
operasi yang dilakukan bank tersebut, maka laba yang diperoleh bank
tersebut akan semakin besar. Rasio yang digunakan untuk mengukur
tingkat rasio efisiensi operasi sebuah bank adalah rasio BOPO yaitu
perbandingan antara total biaya operasi dengan pendapatan operasinya.
Pada penelitian ini, efisiensi operasi mempunyai pengaruh yang paling
besar terhadap rasio perolehan laba dibanding dengan variabel-variabel
lain. Terbukti dengan nilai koefisien BOPO sebesar -3,404
menunjukkan adanya pengaruh negatif dan paling dominan terhadap
return on asset (ROA). Jadi semakin besar rasio BOPO suatu bank,
maka semakin kecil tingkat rasio ROA atau dapat dikatakan kinerja
keuangan bank tersebut akan turun. Dengan demikian bagi emiten,
pergerakan rasio BOPO haruslah menjadi perhatian khusus agar
perusahaannya selalu berada pada tingkat efisiensi yang bisa
menghasilkan laba yang maksimal, sehingga kinerja yang dicapai akan
selalu meningkat. Kemudian bagi investor, rasio ini perlu diperhatikan
sebagai salah satu bahan pertimbangannya dalam menentukan strategi
investasinya. Sementara dari pihak regulator (Bank Indonesia)
bank yang berada dalam pengawasannya agar kinerja keuangan yang
dicapai bank-bank tersebut dapat selalu meningkat.
2. Hasil berikutnya menunjukkan bahwa setelah tingkat efisiensi operasi
bank, variable yang memiliki pengaruh terhadap return on asset adalah
net interest margin (NIM). Hal ini terlihat dari nilai beta unstandardized
coefficients rasio NIM sebesar 0,391. Nilai koefisien ini menunjukkan
bahwa rasio NIM mempunyai pengaruh positif terhadap return on asset
(ROA). Jadi semakin tinggi rasio NIM maka akan menyebabkan
semakin tingginya rasio ROA. Bagi pihak emiten (pihak manajemen
bank), rasio NIM menunjukkan berapa besar bunga bersih yang
diperoleh bank tersebut, dimana bunga merupakan hasil dari kegiatan
utama bank yaitu sebagai pihak penyalur dana kepada pihak yang
membutuhkan. Karena kegiatan usaha pokoknya tersebut, maka rasio
NIM ini merupakan faktor yang penting bagi kelangsungan hidup bank
tersebut. Sehingga sebaiknya pihak emiten (manajemen perusahaan)
harus selalu menjaga agar rasio NIM berada pada posisi yang tinggi,
sehingga laba yang diperoleh juga akan tinggi. Dengan tingginya laba
yang diperoleh, maka kinerja keuangan bank tersebut juga akan
meningkat. Kemudian bagi pihak investor, rasio NIM dapat digunakan
sebagai salah satu acuan untuk menentukan strategi investasi. Semakin
tinggi rasio NIM maka semakin tinggi pula kemampuan bank tersebut
memperoleh pendapatan bunga bersihnya, sehingga banyak investor
regulator (Bank Indonesia) diharapkan memacu bank-bank (khususnya
perbankan yang tercatat di BEJ) untuk lebih giat melakukan ekspansi
kredit, sehingga pendapatan bunga bersih yang diperoleh bank akan
semakin tinggi. Dengan tingginya pendapatan bunga, maka dapat
dipastikan kinerja keuangan bank tersebut akan meningkat.
3. Hasil berikutnya Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh
yang cukup besar terhadap return on asset (ROA). Besarnya nilai
unstandardized coefficients untuk rasio CAR adalah 0,243. Nilai
koefisien ini menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh positif
dan signifikan terhadap ROA. Hal ini berarti tingkat kecukupan modal
suatu bank merupakan faktor penting yang harus dipenuhi. Dengan
tercukupinya modal suatu bank (standart yang ditetapkan BI minimal
8%), maka diharapkan kerugian-kerugian yang dialami dapat terserap
oleh modal yang dimiliki bank tersebut. Sehingga dengan terserapnya
kerugian-kerugian tersebut, maka kegiatan usaha bank tidak akan
mengalami gejolak yang berarti. Bagi pihak emiten (manajemen
perusahaan) merujuk pada penelitian ini, diharapkan selalu menjaga
tingkat kecukupan modalnya, sehingga pada akhirnya dengan
tercukupinya tingkat kecukupan modal, kinerja keuangan bank tersebut
akan meningkat. Kemudian bagi investor, rasio CAR dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan strategi investasinya.
Karena semakin besar rasio CAR suatu bank, maka semakin tinggi juga
tersebut. Sementara bagi regulator (Bank Indonesia), diharapkan selalu
memantau tingkat kecukupan modal bank (khususnya perbankan yang
tercatat di BEJ). Dengan tingginya tingkat kecukupan modal, maka
kerugian yang dialami bank dalam menjalankan kegiatan usahanya akan
semakin kecil, sehingga dengan kecilnya kerugian, keuntungan yang
didapat akan semakin tinggi. Dengan semakin tingginya keuntungan,
maka kinerja keuangan bank tersebut semakin meningkat.
4. Nilai beta unstandardized coefficients yang paling kecil dari keempat
variable yang signifikan adalah Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu
dengan nilai sebesar 0,137. Hal ini berarti LDR mempunyai pengaruh
yang positif terhadap ROA. Hal ini juga menunjukkan tingkat
likuiditas suatu bank mempunyai pengaruh yang cukup signifikan
terhadap besar kecilnya perolehan laba bank. Jika bank dalam
menyalurkan kredit dari dana pihak ketiganya tinggi, maka dapat
dikatakan tingkat likuiditasnya juga tinggi karena dana dari pihak ketiga
dapat dimaksimalkan dalam bentuk kredit. Dengan tingginya
penyaluran kredit yang diberikan, maka pendapatan bunga dari kredit
tersebut juga akan meningkat, yang berdampak pada tingginya
perolehan laba bank. Sehingga dapat dikatakan kinerja keuangan bank
tersebut meningkat. Dilihat dari pihak emiten (manajemen perusahaan),
LDR merupakan faktor yang cukup penting dalam menjalankan
kegiatan usahanya, sehingga adalah merupakan suatu keharusan untuk
ditetapkan Bank Indonesia, yaitu 80%-110%). Dengan optimalnya LDR
maka dalam kegiatan usahanya, bank akan selalu memperoleh
keuntungan. Kemudian bagi pihak investor, LDR dapat dijadikan acuan
untuk menentukan strategi investasinya. Semakin likuid suatu bank,
maka dapat disimpulkan kelangsungan hidup bank tersebut akan
berlangsung lama, dengan demikian investor akan tertarik untuk
berinvestasi di bank tersebut karena yakin bahwa investasi yang
ditanamkan akan selalu menghasilkan keuntungan bagi dirinya.
Sementara dari pihak regulator (Bank Indonesia) merupakan salah satu
faktor yang menentukan bahwa bank tersebut sehat atau tidak, sehingga
diharapkan BI selalu memantau LDR perbankan yang tercatat di BEJ
agar kinerja keuangan yang dicapai bank-bank tersebut dapat
meningkat.
5. Non Performing Loan (NPL) pada penelitian ini tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Hal ini berarti selama periode
penelitian, fungsi intermediasi bank tidak berjalan dengan baik.
Dibuktikan dengan masih stagnannya perekonomian disektor riil. Hal
ini juga disebabkan penyaluran kredit ke pihak debitur yang masih kecil, oleh karena kekhawatiran dari pihak bank jika kredit yang
diberikan menjadi bermasalah. Sehingga pada prakteknya, bank-bank
beralih pada sektor yang beresiko kecil seperti penempatan dana ke