• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. PERSEPSI DAN NILAI KERUGIAN MASYARAKAT

7.3 Kebijakan Pengelolaan Jalan Raya

7.3.2 Implikasi Nilai Kerugian

Nilai kerugian yang dihitung berdasarkan nilai keterlambatan angkutan umum, biaya kesehatan, serta nilai kerugian akibat kebisingan yang dirasakan masyarakat Kecamatan Kasomalang di sekitar jalan raya menuntut adanya pengelolaan jalan raya yang lebih baik lagi, baik secara teknis maupun manajemen.Rekayasa dan manajemen lalu lintas membutuhkan biaya yang lebih

66 rendah dibandingkan dengan pembangunan jalan atau jalur alternatif baru, seperti contoh yang diperuntukkan untuk jalur truk barang dan atau bus. Salah satu upaya dalam manajemen lalu lintas yang direkomendasikan yaitu pembatasan lalu lintas.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu antara lain:

1. Pengaturan parkir tetap menjadi metode utama yang mengalokasikan ruang menurut kawasannya. Pengaturan parkir dapat dilaksanakan pada setiap tingkat yang ditentukan oleh pemerintah, yang memungkinkan semua tempat di jalan dan di luar jalan dikendalikan. Penawaran ruang dan harga yang dikenakan tergantung pada lama kebutuhan (permintaan).

2. Hambatan fisik yang dapat dilakukan yaitu dengan menentukan batas-batas ruang jalan dengan mengurangi kapasitas. Biasanya dengan sistem sinyal yang memungkinkan prioritas diberikan pada jenis-jenis kendaraan tertentu yang dipilih. Seperti contoh truk-truk besar dilarang melalui Jalan Raya Kasomalang pada jam-jam sibuk pagi dan sore yaitu pada saat para pegawai berangkat dan pulang kerja dan atau para pelajar berangkat dan pulang sekolah. Metode lain diantaranya adalah penyempitan jalan, larangan membelok, jalan ditutup dan hanya untuk pejalan kaki, jalan khusus sepeda dan jalan khusus bis.

3. Pemberian lisensi (izin) pelengkap yang dibutuhkan oleh kendaraan yang memakai suatu kawasan yang dikendalikan contohnya Jalan Raya Kasomalang.

Kategori khusus dapat diberikan di dalam sistem kendali ini, misalnya penduduk, dokter dan penjaga toko.

4. Pemungutan biaya masuk kawasan yaitu suatu harga dibayar pada pintu masuk kawasan, tetapi kendaraan di dalam kawasan ini tidak dikendalikan.

67 5. Pemungutan pajak jalan kawasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, bervariasi mulai dari sistem meteran sampai dengan sistem beritingkat yang kompleks, ongkosnya diukur oleh meteran secara otomatis. Sistem yang disenangi adalah sistem yang mewajibkan tiap kendaraan mempunyai identitas jelas lalu dipancarkan ke detektor jalan, yang berada pada interval-interval jaringan jalan. Jumlah perjalanan lewat detektor dicatat dan pemiliknya dikirimkan rekening secara periodik dengan besar tagihan sesuai jumlah pemakaian sistem jalan tersebut.

6. Pengawasan dan kontrol emisi gas buang dan kebisingan suara dari kendaraan bermotor secara rutin, sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif yang dirasakan masyarakat sekitar akibat polusi udara dan kebisingan di jalan raya, yaitu dengan penanaman pagar tanaman rapat. Sebagai filter suara, pagar hidup yang cukup rimbun dan tinggi dapat meredam kebisingan dari lalu lalang kendaraan bermotor. Daun-daun tanaman dapat menangkap polutan–polutan di sekitarnya.

Metode pada nomor satu dan dua merupakan tindakan non-fiskal, sedangkan metode pada nomor tiga hingga lima dapat dianggap sebagai tindakan fiskal. Strategi pengendalian lalu lintas harus mendorong suatu pendekatan yang lebih positif. Menciptakan alternatif yang cocok dengan perubahan jangka panjang pada tata letak kota atau Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).

Mendorong beberapa jenis perjalanan dan menghambat jenis-jenis perjalanan lainnya. Namun pembatasan dalam isolasi ini juga tidak luput dari timbulnya masalah seperti problema administratif dan masalah penerapan aturan (Hobbs, 1995).

68 Pelaksanaan dari kebijakan transportasi tersebut dilakukan secara terpadu oleh unsur-unsur pelaksana di daerah, seperti Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Dinas Pehubungan), Dinas Bina Marga, Polisi Lalu Lintas, dan instansi lain yang terkait, serta pihak swasta (perusahaan perangkutan).

Pemeliharaan jalan dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat.

Manajemen perencanaan infrastruktur jalan dilakukan dengan transparansi pengelolaan keuangan di tingkat masyarakat adat dan komunikasi yang intensif antara pimpinan masyarakat di tingkat atas dengan masyarakatnya. Agar peran serta tersebut optimal, diperlukan dukungan Pemda dalam bentuk bimbingan teknik dan manajemen pemeliharaan. Keterlibatan masyarakat dalam hal ini perlu didukung oleh Pemerintah Daerah dalam kebijakan yang jelas serta penguatan terhadap lembaga formal (Dinas di Pemerintahan, Kecamatan) dan lembaga non formal (RT/RW) (Narsatya, 2001).

69 VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Menurut persepsi masyarakat, terjadi perubahan kualitas lingkungan akibat peningkatan volume lalu lintas di Jalan Raya Kasomalang. Perubahan tersebut berupa meningkatnya proporsi jalan raya yang mengalami kerusakan yaitu sebesar 58,21 persen serta terjadinya peningkatan debu jalan dan kebisingan.

Selain itu, dirasakan penambahan waktu untuk menempuh Jalan Raya Kasomalang sebesar 18,37 menit.

2. Masyarakat merasakan adanya dampak negatif akibat peningkatan volume lalu lintas. Dampak negatif yang dirasakan meliputi kerusakan jalan, kemacetan, kecelakaan, peningkatan debu jalan dan kebisingan. Menurut responden masyarakat sekitar jalan raya, dampak negatif yang paling mengganggu adalah kebisingan yaitu sebesar 40 persen. Sebesar 70 persen responden penumpang angkutan umum menyatakan bahwa dampak negatif yang paling mengganggu adalah kerusakan jalan. Sementara itu, 60 persen responden pengemudi angkutan umum dan 50 persen responden pengendara kendaraan pribadi menyatakan bahwa dampak negatif yang paling mengganggu adalah kemacetan.

3. Total nilai kerugian yang dialami oleh angkutan umum akibat kemacetan di Jalan Raya Kasomalang yaitu sebesar Rp 183.333.533,65 per tahun. Total nilai kerugian masyarakat sekitar jalan raya akibat peningkatan debu jalan yaitu sebesar Rp 20.682.000,00 per tahun. Total nilai kerugian akibat kebisingan

70 yaitu sebesar Rp 733.923.750,00 per tahun. Nilai kerugian parsial akibat peningkatan volume lalu lintas tersebut, menuntut adanya pengelolaan jalan raya yang lebih baik lagi baik secara teknis maupun manajemen.

4. Penerapan kebijakan pemerintah terkait pengelolaan jalan di Jalan Raya Kasomalang belum berjalan dengan baik. Hal ini dilihat dari kondisi fisik dan penggunaan jalan, pengawasan serta pengendalian lalu lintas yang belum memperhatikan aspek perlindungan lingkungan maupun masyarakat, sebagaimana yang telah diatur dalam aturan perundangan mengenai pengelolaan jalan.

8.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, saran yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

1. Dibutuhkan konsistensi Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai penanggung jawab pembiayaan pembangunan, pemeliharaan rutin dan perbaikan jalan.

Bertujuan agar infrastruktur daerah khususnya jalan raya dapat disesuaikan dengan perkembangan aktivitas transportasi masyarakat dan perubahan jangka panjang pada tata letak kota.

2. Diperlukan pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten Subang terhadap para pengguna jalan dalam hal persyaratan teknis serta laik jalan, pengendalian penggunaan jalan sesuai kapasitas ruas jalan (menerapkan strategi pengendalian lalu lintas berupa tindakan non-fiskal dan atau fiskal), serta penerapan sanksi pidana secara tepat dan tegas bagi yang melanggar peraturan perundangan. Pengawasan berat muatan kendaraan dapat dilakukan dengan pembangunan jembatan timbang dan fasilitas pendukungnya.

71 DAFTAR PUSTAKA

Amanda, Sylvia. 2009. Analisis Willingness To Pay Pengunjung Obyek Wisata Danau Situgede Dalam Upaya Pelestarian Lingkungan. Skripsi. Fakultas Ekonomi. IPB. Bogor.

Anwar S.H, Aditya. 2008. Nilai Ekonomi Akibat Kerusakan Jalan Berdasarkan Pendekatan Willingness to pay dan Willingness to Accept di Jalan Lintas Timur Sumatera.

BPS Subang. 2009. Tranportasi dan Akomodasi. Subang dalam Angka.

http://www.subang.go.id/serba_serbi.php?pageNum_serba_serbi=2&total Rows_ serba_serbi=118 (10 Oktober 2011)

Daraba, Darda. 2001. Eksternalitas dan Kebijakan Publik. Program Pasca Sarjana.

Institut Pertanian Bogor. http://www.rudyct.com/PPS702 ipb/02201/darda_d.htm (9 Oktober 2011)

Desa Kasomalang Kulon. 2010. Profil Desa Kasomalang Kulon. Desa Kasomalang Kulon. Subang.

Desa Kasomalang Wetan. 2010. Profil Desa Kasomalang Wetan. Desa Kasomalang Wetan. Subang.

Desa Sindangsari. 2010. Profil Desa Sindangsari. Desa Sindangsari. Subang.

Fauzi, A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Hanley, N dan C. L. Spash. 1993. Cost-Benefit Analysis and Environmental.

Edward Elgar Publishing England.

Heston. YP, Hermawan K. 2008. Valuasi Ekonomi Akibat Kerusakan Jalan Nasional di Pantai Utara Jawa. Studi Masukan Kebijakan Penanganan Jalan Nasional

Hobbs, F.D. 1995. Perencanaan dan Teknik Lalu Lintas. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

KLH. 2007. Panduan Valuasi Ekonomi Sumbedaya Alam dan Lingkungan. KLH.

Jakarta.

Mangkoesoebroto, G. 1993. Ekonomi Publik. BPFE. Yogyakarta.

Persyaratan Umum Sistem Jaringan Dan Geometrik Jalan Perumahan. Badan Standardisasi Nasional. SNI 03-6967-2003

72 Poernomosidhi, P.I.F. (1995). “Review on Road Environment Condition and Research on Traffic Noise and Air Pollution in Indonesia”, Paper for the Technical Visit to Publik Work Research Institute, Tsukuba, Japan, 25th Sept.– 6th Oct. 1995.

PT. Tirta Investama. 2009. Analisis Dampak Lingkungan. PT. Tirta Investama.

Jakarta.

. 2010. Analisis Dampak Lalu Lintas. PT. Tirta Investama.

Jakarta.

Radar Karawang. 2010. Massa Demo Pabrik Air Mineral.

http://radarkarawangnews.blogspot.com/2010/03/massa-demo-pabrik-air-mineral.html (30 Maret 2011)

Sasana, Hadi. 2004. Kegagalan Pemerintah dalam Pembangunan. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Sukarto, Haryono. 2006, Transportasi Perkotaan Lingkungan. Teknik Sipil- Universitas Pelita Harapan. Tangerang, Banten .

Taihuttu, Hermina N. 2001. Studi Kemampuan Tanaman Jalur Hijau Jalan sebagai Penyerap Partikulat Hasil Emisi Kendaraan Bermotor. Tesis. Program Pasca Sarjana. IPB. Bogor.

Tamin, Ofyar Z. 1997. Upaya-upaya untuk Mengatasi Masalah Transportasi Perkotaan. Rekayasa Transportasi Jurusan Teknik Sipil. ITB. Bandung.

Yakin,A. 1997. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan : Teori dan Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan. Akademika Presindo. Jakarta.

Yohana. 2010. Eksternalitas dan Kebijakan Publik. Indonesian Food Wednesday http://ana-ekonomi.blogspot.com/2010/07/eksternalitas-dan-kebijakan-publik.html (23 Maret 2011)

Yunasril. 1995. Keterkaitan Jumlah dan Jenis Kendaraan Bermotor dengan Taraf Kebisingan di Kotamadya Padang - Sumatera Barat. Tesis. Program Pasca Sarjana. IPB. Bogor.

Undang-undang No. 13 tahun 1980 tentang Jalan.

Undang-undang No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Undang-undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan.

73 LAMPIRAN

74 Lampiran 1. Pertumbuhan Jumlah Industri di Kabupaten Subang

Banyaknya Perusahaan Industri Besar Dan Sedang Menurut Kelompok Industri Tahun 2005 – 2009

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang, 2010

75 Lampiran 2. Transportasi Kabupaten Subang Tahun 2005-2009

Jumlah Kendaraan di Kabupaten Subang Tahun 2005-2009

Uraian Jumlah Kendaraan (unit)

2005 2006 2007 2008 2009

Angkot 753 761 664 771 778

Bus Mini 504 500 494 541 547

Bis 49 58 48 52 51

Bis Mikro 16 16 16 22 15

Pick up 1666 1894 1730 2449 2486

Truk 1732 1566 1749 2164 2113

Lainnya 102 100 241 275 255

Jumlah 4822 4895 4942 6274 6245

Sumber: Dinas Perhubungan Kabupaten Subang, 2009

76 Lampiran 3. Kondisi Jalan Kabupaten Subang

Panjang Jalan Kabupetan Subang Menurut Keadaan Jalan Tahun 2005- 2009

Sumber: Dinas Bina Marga Kabupaten Subang, 2009

77

Lampiran 4. Klasifikasi Jalan

Klasifikasi Jalan Menurut UU No 38 Tahun 2004 Tentang Jalan Berdasarkan Sistem Jaringan

Jalan

Deskripsi

Jalan Primer Sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan. (Pasal 7ayat 2)

Jalan Sekunder Sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. (Pasal 7 ayat 3)

Berdasarkan Fungsi Jalan Deskripsi

Jalan Arteri Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk (akses) dibatasi secara berdaya guna. (Pasal 8 ayat 2)

Jalan Kolektor Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. (Pasal 2 ayat 3)

Jalan Lokal Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. (Pasal 8 ayat 4)

Jalan Lingkungan Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah. (Pasal 8 ayat 5)

Bersarkan Status Jalan Deskripsi

Jalan Nasional Jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol. (Pasal 9 ayat 2)

Jalan Provinsi Jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi. (Pasal 9 ayat 3)

Jalan Kabupeten Jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota Kecamatan, antaribukota Kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten. (Pasal 9 ayat 4)

Jalan Kota Jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota. (Pasal 9 ayat 5) Jalan Desa Jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan. (Pasal 9 ayat 6)

Klasifikasi Jalan Menurut UU No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Berdasarkan MST Deskripsi

Kelas I Dimensi kendaraan: Lebar; 2500 mm, Panjang; 18000 mm, MST; > 10 ton (Pasal 19 ayat 2a) Kelas II Dimensi kendaraan: Lebar; 2500 mm, Panjang; 18000 mm, MST; 10 ton (Pasal 19 ayat 2b) Kelas III A Dimensi kendaraan: Lebar; 2500 mm, Panjang; 18000 mm, MST; 8 ton (Pasal 19 ayat 2c) Kelas III B Dimensi kendaraan: Lebar; 2500 mm, Panjang; 12000 mm, MST; 8 ton (Pasal 19 ayat 2c) Kelas III C Dimensi kendaraan: Lebar; 2100 mm, Panjang; 9000 mm, MST; 8ton (Pasal 19 ayat 2c) Sumber : Studi Literatur, 2011

77

78

Lampiran 5 Matriks Realisasi dan Kendala Penerapan Peraturan Perundangan dalam Pengelolaan Jalan

Sumber: Studi literatur dan wawancara instansi terkait, 2011

No Bentuk

Peraturan

Pasal Isi/ Aturan Realisasi Kendala

1 PP Kabupaten

Kawasan rawan bencana, terdiri atas : (a) kawasan rawan gerakan tanah;

(b) kawasan rawan gerakan tanah;

(c) kawasan rawan bencana letusan gunung berapi;

(d) kawasan rawan banjir.

Saat ini Desa Pasanggrahan menjadi lokasi pengambilan air tanah dan air permukaan oleh perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) sebagai input utama. Desa Kasomalang Wetan merupakan salah satu kawasan permukiman yang dilalui Jalan Provinsi (Jalan Raya Kasomalang) dan merupakan jalur mobilisasi truk-truk angkutan barang, termasuk truk AMDK.

Kurang adanya antisipasi dari pemerintah Kabupaten Subang atas peningkatan lalu lintas di Jalan Raya Kasomalang.

Saat ini penyesuaian pelayanan jalan seperti yang disebutkan dalam analisis sebelumnya juga belum maksimal dilakukan.

Pasal 39 Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam huruf e Pasal 34

Peraturan Daerah ini meliputi : A. kawasan rawan gerakan tanah terletak di :

d. Kecamatan Jalancagak : Desa Palasari, Ciater, Nagrak, Cibitung,

Sanca, Cimanglid, Kumpay, Kasomalang Wetan, Bunihayu dan Tambakmekar.

2 UU No. 14

Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi :

b.pemeriksaan tanda bukti lulus uji, surat tanda bukti pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor, dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Pasal 14, Pasal 18, dan lain-lain yang diperlukan.

Persyaratan laik jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh kinerja minimal Kendaraan Bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas:

a. emisi gas buang;

b. kebisingan suara;

Kendaraan umum (elf) yang beroperasi keseluruhan adalah kendaraan tua. Sehingga tidak memberikan kenyamanan bagi penumpang juga berefek negatif bagi lingkungan.

Pemeriksaan selama ini telah dilakukan dan menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan bagian angkutan. dan belum ada tindak lanjut dari instansi yang bertanggungjawab Truk dan bus luar kota sebagian besar berasal dari luar daerah Subang, sehingga Dishub Subang tidak dapat mengontrol kelaikan angkutan.

Pembatasan Lalu Lintas dapat dilakukan dengan pengenaan retribusi pengendalian Lalu Lintas yang diperuntukkan bagi peningkatan kinerja Lalu Lintas dan peningkatan pelayanan angkutan umum sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Penarikan dana dari angkutan umum maupun kendaraan angkutan barang sifatnya tidak resmi dengan bukti tertulis. Pelaksanaannya juga belum tertib.

Penarikan dana dari angkutan umum dan barang juga salah satunya dilakukan di Pasar Kasomalang dan diperuntukkan untuk administrasi Desa Kasomalng Wetan.

Aturan atau kebijakan yang kurang tegas dari Pemerintah Kabupaten Subang, dalam hal ini instansi yang bertanggung jawab dalam pengawasan jalan.

Kinerja petugas LLAJ kurang dimaksimalkan.

Pengawasan muatan angkutan barang dilakukan dengan menggunakan alat penimbangan.

Pengontrolan dilakukan hanya sebatas pemeriksaan masa berlaku buku kear dan pemeriksaan kesesuaian angkutan dengan kelas jalan

Selama ini tidak terdapat aktivitas pengontrolan berat muatan pada lokasi tertentu di Kabupaten Subang, kegiatan

a.memberi masukan kepada penyelenggara jalan dalam rangka pengaturan, pembinaan

pembangunan, dan pengawasan jalan;

b.berperan serta dalam penyelengaraan jalan;

c.memperoleh manfaat atas penyelenggaraan jalan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan;

d.memperoleh informasi mengenai penyelenggaraan jalan;

e.memperoleh ganti kerugian yang layak akibat kesalahan dalam pembangunan jalan; dan

f. mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap kerugian akibat pembangunan jalan.

Selama ini belum ada aktivitas formal seperti yang disebutkan pada pasal tersebut.

Organisasi Pemuda di Kabupaten Subang seringkali mengadukan kondisi di Jalan Raya Kasomalang yang cepat rusak dan seringnya kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Sifatnya mengkritisi pemda setempat yang kurang tegas dalam pengaturan penggunaan jalan, terlebih oleh pihak swasta yang menggunakantruk-truk besar dan rutin menggunakan jalan tersebut.

Namun belum ada aktivitas masyarakat untuk ikut dalam penyelenggaraan jalan,

Sistem manajeman pengawasan lalu lintas yang masih kurang

maksimal dan tidak

memberdayakan petugas LLAJ di ruas jalan tersebut.

Standar pelayanan yang baik saat ini belum tercapai, salah satunya karena belum adanya pengelolaan jalan yang baik dari Pemda Kabupaten maupun Provinsi dikarenakan masalah pembiayaan dan koordinasi.

Jalan umum dikelompokkan menurut sistem, fungsi, status, dan kelas.

Setiap Jalan yang digunakan untuk Lalu Lintas umum wajib dilengkapi dengan perlengkapan Jalan berupa:

a. rambu lalu lintas;

b. marka jalan;

c. alat pemberi isyarat lalu lintas;

d. alat penerangan Jalan;

e. alat pengendali dan pengaman pengguna jalan;

f. alat pengawasan dan pengamanan jalan;

g. fasilitas untuk sepeda, pejalan kaki, dan penyandang cacat.

h. fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di jalan dan di luar badan jalan.

Saat ini pengklisifikasian jalan berdasarkan fungsi dan kelasnya apabila dibandingkan dengan ketentuan pada perundangan, masih belum terlaksana dengan baik

Saat ini rambu lalu lintas memang sangat sedikit,hanya ada rambu petunjuk jalan menikung, sedangkan rambu peringatan, rambu larangan, rambu perintah tidak ada.

Marka jalan sudah terhapus,

Tidak memiliki alat pengendali dan pengaman pemakai jalan:

- Pengendali :alat pembatas kecepatan, alat pembatas tinggi dan lebar kendaraan

- Pengaman : cermin tikungan, delineator, pulau lalu lintas, pita penggaduh

namun sudah ada lampu peringatan baik pada jalur menuju Sumedang dan Jalan Cagak, dan pagar pengaman di area sungai Cipunagara kurang memadai.

Seperti contoh Jalan Raya Kasomalang yang menurut fungsinya sebagai jalan kolektor sekunder dan merupakan jalan Kelas III jika berdasarkan muatan sumbu terberatnya.

Namun penggunaan jalan tidak sesuai dengan ketentuan.

Menurut keterangan instansi terkait,Pemda sudah mengajukan proposal permohonan ke PU Provinsi untuk pengadaan fasilitas jalan, namun karena alasan birokrasi, sampai saat ini belum ditindaklanjuti.

79 Lampiran 6. Kueisioner Penelitian

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN Jl. Kamper Wing 5 Level 5 Kampus IPB Dramaga Bogor 16680 Telp. (0260) 421 762, (0251) 621 834, Fax. (0251) 421 762

KUESIONER PENELITIAN

Kelompok Responden : (Pengemudi angkutan umum/ pengendara

kendaraan pribadi/ penumpang angkutan umum/

masyarakat sekitar)*

Tanggal Wawancara :………..2011 1. Usia :...tahun

2. Jumlah Tanggungan :………orang

3. Pekerjaan : (1) Petani (2) Pedagang (3) PNS (4) Buruh Pabrik AMDK (5) Lainnya………..

4. Pendapatan/ bulan :………..

(* Pilih salah satu)

A. PERSEPSI RESPONDEN TERHADAP PENINGKATAN VOLUME LALU LINTAS

1. Apakah menurut Anda jumlah kendaraan yang berlalu lalang di Jalan Raya Kasomalang terjadi peningkatan sejak tahun 2000?

a. Ya b. Tidak

2. Terganggukah Anda dengan adanya peningkatan jumlah kendaraan yang berlalu lalang di Jalan Raya Kasomalang

a. Ya,

Kuesioner ini digunakan sebagai bahan SKRIPSI yang berjudul “Estimasi Nilai Kerugian Masyarakat Akibat Peningkatan Volume Lalu Lintas Dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pengelolaan Jalan (Studi Kasus Jalan Raya Kasomalang, Subang, Jawa Barat)” yang dilakukan oleh Saya PUTRI AYU KWARTA WIJAYANTI (H44070053).

Saya mohon partisipasi Bapak/ Ibu/ Saudara/i untuk berkenan mengisi kuesioner ini dengan teliti dan lengkap sehingga dapat memberikan data yang objektif. Informasi yang Bapak/ Ibu/

Saudara/i berikan dijamin kerahasiaannya dan tidak untuk dipublikasikan. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/ Ibu/ Saudara/i Saya ucapkan terima kasih.

80 b. Tidak, alasan………...

3. Menurut Anda dampak apakah yang terjadi atau yang Anda rasakan dari adanya peningkatan volume lalu lintas?

a. Kerusakan jalan (Sebutkan di area mana saja!) b. Kemacetan (Sering terjadi di area mana saja?) c. Kondisi udara yang semakin tidak nyaman d. Kecelakaan (Sering terjadi di area mana saja?) e. Kebisingan

f. Lainnya………

4.Sebutkan dari dampak negatif di atas yang menurut Anda paling mengganggu!

………..

5. Coba Anda bandingkan kondisi lingkungan antara sebelum dan sesudah terjadi peningkatan volume lalu lintas (dengan asumsi peningkatan volume lalu lintas terjadi sejak tahun 2000)

*Pertanyaan ditujukan untuk seluruh responden

Jenis Sebelum (%) Sesudah (%)

1 Kondisi jalan 2 Waktu tempuh jalan 3 Debu

4 Kebisingan

6. Menurut Anda apakah kapasitas infrastuktur Jalan Raya Kasomalang cukup untuk pelayanan lalu lintas kendaraan?

a. Cukup

b. Tidak, Jelaskan………...

7. Bagaimana menurut Anda jika jumlah kendaraan yang melalui Jalan Raya Kasomalang terus meningkat tanpa adanya peningkatan infrastruktur dan pengelolaan jalan yang lebih baik?

...

B. PENGELOLAAN (KONTROL DAN ATAU PENANGGULANGAN) 8. Menurut Anda, adakah selama ini upaya penanggulangan dampak seperti pada

pertanyaan No. 3 dari pihak Pemda?

a. Perbaikan jalan/ penambahan lebar jalan b. Pendirian pos pelayanan kesehatan

c. Lainnya………..

9. Menurut Anda, adakah selama ini upaya penanggulangan dampak seperti pada pertanyaan No. 3 dari pihak perusahaan swasta yang rutin menggunakan jalan?

a. Perbaikan jalan/ penambahan lebar jalan

81 b. Pendirian pos pelayanan kesehatan

c. Lainnya………...

10. Apakah Anda pernah mendengar, upaya yang diterapkan pemerintah setempat selama ini untuk mengontrol jumlah kendaraanm, tonase dan emisi kendaraan?

(Penarikan retribusi, pembatasan jumlah kendaraan,penggunaan jembatan

(Penarikan retribusi, pembatasan jumlah kendaraan,penggunaan jembatan