• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI SERTA KRITIK YANG MENYERTAINYA

Dalam dokumen Metodologi Ilmu Pemerintahan (Halaman 131-136)

DARI TRADISIONALIS KE BEHAVIORALIS Muhtar Haboddin 

IMPLIKASI SERTA KRITIK YANG MENYERTAINYA

Perkembangan pendekatan behavioralis semakin pesat seiring dengan pencapaian statusnya sebagai suatu pendekatan dalam studi politik. Ada banyak tokoh yang terkenal dibidang ini. Sebutlah nama penganut behavioralis, seperti, V.O Key, David B Trauman, Gabrial Almond, Robert Dahl, Laswell, Herbert A Simon, David Easton dan Hans Morgenthau108 tidak hanya itu. Pamor mendekatan behavioralism semakin berkibar dijagat peta

107 Afan Gaffar op.cit. hal. 387. 108

Metodologi Ilmu Pemerintahan | 123

pemikiran politik dengan banyak para kaum behavioralis yang menempati posisi kunci dalam American Political Science Association (APSA), seperti David Trauman (1964), Gabrial Almond (1965-1966) dan Robert Dahl (1966-1967).

Posisi semacam itu tidak hanya memberikan keuntungan. Tetapi juga ada yang menjulukinya dengan sebutan era yang dipandang oleh sebagian ahli politik sebagai salah satu revolusi di bidang studi politik yang mempunyai implikasi yang cukup besar. Afan Gaffar secara tegas mengatakan bahwa behavioralisme mampu membawa perubahan yang besar dan sangat radikal terhadap ilmu politik. adapun beberapa implikasi yang dimunculkan oleh behavioralisme terhadap ilmu politik adalah;

Pertama, perbendaharaan istilah politik berkembang dengan pesat. Istilah-istilah seperti input-komversi-output merupakan sesuatu yang menarik dan baru bagi ilmuwan politik pada tahun 1950-an, demikian juga dengan demand-support- interest aggregation, interest articulation, political sosializiation, political communication, political recruitment, rule making, rule application, rule adjudication, system analisis, system theory dan seterusnya;

Kedua, sejumlah teori baru berhasil dikembangkan. Sebagai contoh yang sangat konkrit adalah theory of the political system yang dikemukakan oleh David Easton, dan juga Gabrial Almond. Demikian pula teori-teori yang menyangkut elemen sistem politik seperti misalnya, sosialisasi politik, komunikasi politik, kelompok kepentingan, dan sebagainya. Belum lagi yang menyangkut teori tentang teori perilaku politik secara individual maupun kelompok;

Ketiga, penyempurnaan metodologi. Dengan behavioralisme kalangan ilmuwan politik semakin memiliki kepercayaan diri yang sangat kuat dengan mencoba mengembangkan metodologi yang

Metodologi Ilmu Pemerintahan | 124

lebih canggih. Pengukuran-pengukuran yang merupakan salah satu syarat mutlak bagi kuantifikasi semakin disempurnakan dengan menggunakan metode kerja dari ilmu-ilmu lainya;

Keempat, ilmu politik mengalami perkembangan dengan pesat. Ilmu politik yang pada mulanya masih merupakan gejala Amerika dan Eropa kemudian berkembang masih dengan pesat melawati batas kedua benua tersebut. Di beberapa Universitas Asia, Afrika dan Amerika Latin muncul pengkajian ilmu politik yang dilakukan dengan cara yang sistematis dan dengan penelitian yang sangat luas109.

Selain Afan, Meriam juga mencatat betapa besar sumbangsih pendekatan behavioralis terhadap perkembangan studi ilmu perbandingan politik di Amerika Serikat.

Sebesar apa pun dampak dan sumbangan yang diberikan behavioralisme terhadap perkembangan ilmu politik bukan berarti tanpa kritik. Sejumlah kalangan ilmuwan politik sendiri menyodorkan keberatan terhadap pendekatan behavioralisme itu sendiri. Somit dan Tannehaus (1967) mengidentifikasi beberapa keberatan-keberatannya tersebut, antara lain:

1. ilmu politik tidak dapat, dan tidak akan dapat menjadi sains dalam artian yang sebenarnya;

2. perilaku manusia yang nampak hanya memperlihatkan sebagian dari gejala. Orang-orang anti behavioralisme percaya bahwa bagia yang terbesar dari kehidupan manusia adalah yang tidak tampak;

3. apapun manfaat dari kuantifikasi, akan tetapi kuantifikasi itu tidak akan mencapai hasil yang sesungguhnya;

109

Metodologi Ilmu Pemerintahan | 125

4. memang benar bahwa setiap peneltian haris didukung oleh teori. Akan tetapi kalangan behavioralis di dalam kenyataan teori dan konsep yang mereka gunakan jauh melebihi perkembangan data itu sendiri;

5. di dalam banyak hal sejumlah persoalan politik melibatkan masalah moral dan etika. Dengan demikian, persoalan bahwa ilmu politik haruslah bebas nilai sangat sulit untuk dapat di pertanggungjawabkan;

6. pendekatan yang bersifat interdispliner memang sangat diperlukan. Akan tetapi hendaknya diperhatikan bahwa jangan sampai karena pendekatan yang seperti itu maka mengakibatkan setiap disiplin akan kehilangan identitas dan jati dirinya110.

Keberatan semacam itu terus bermunculan, dari berbagai pihak, yaitu dari kaum tradisional, dari para post behavioralis dan dari para neo Marxis. Ilmuwan tradisional menyerang behavioralisme dengan argumen bahwa behaviralisme terlalu sterial, karena menolak untuk memasukkan nilai-nilai dan norma- norma dalam penelitian. Mereka tidak berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang mengandung nilai, semisal apakah sistem politik demokrasi baik atau tidak? Juga lontaran kritik bahwa pendekatan behavioralis tidak mempunyai relevansi politik dan buta terhadap masalah-masalah sosial111.

Lebih lanjut disebutkan bahwa pendekatan behavioralis juga menimbulkan kecaman atas tindakannya yang memisahkan antara ilmu politik dengan filsafat politik; bahwa ia mengingkari kemungkinan suatu ilmu politik praktis; bahwa ia menggantikan bahasa politik yang biasa dengan suatu kamus teknis; dan bahwa ia

110 Afan Gaffar,. Ibid. hlm. 488-389. 111

Metodologi Ilmu Pemerintahan | 126

mempunyai kriteria untuk hal-hal yang eksak, tetapi tidak untuk relevansi112.

Sekalipun behavioralismne banyak dihujani kritik karena limitasi yang melekat pada dirinya. Bagi Afan tidak jadi soal. Pasalnya pendekatan behavioralisme telah mampu mewujudkan sebuah sejarah baru dalam ilmu politik dengan prestasi yang sangat mengangumkan dan sampai sekarang pun juga masih belum bisa dilepaskan dari jejaknya dalam ilmu politik.

Behavioralisme sebagai sebuah pendekatan telah berhasil mengundang segenap perhatian para ilmuwan sosial dan politik serta khalayak ramai. Baik yang mendukung maupun menolaknya. Sebab ilmu pengetahuan hanya bisa hidup bila suatu penemuan ditolak, lantas dicari gantinya. Ilmu hanya bisa dikembangkan kalau suatu penemuan diterima dan dipakai sampai suatu saat ia lekang terkuras zaman, dan hilang kemampuannya menjelaskan fenomena. Karena itu, sikap—tolak—terima rasional oleh the scientif community adalah suatu gerak maju di dalam kultur keilmuan suatu bangsa113.

112 A Hoogerworf., op.cit. hlm. 26. Serangan terus berlanjut terhadap

pendekatan pendekatan Behavioralis dengan mengatakan: (1) Bahwa ilmu politik sangat kompleks, untuk memungkinkan konstruksi generalisasi ilmiah yang mengindikasikan penyebab dan akibat; (2) mereka menyatakan bahwa manusia bertindak atas dasar kemauan bebas, dan karenanya tidaklah mungkin untuk mengindentifikasi penyebab-penyebab perilaku itu; (3). Mereka menunjukkan fakta bahwa manusia berperilaku berbeda bila mereka itu mengetahui akan menjadi pusat studi, oleh karena itu apa yang diobservasi oleh ilmuwan tidaklah nyata-nyata merupakan cerminan yang akurat dari perilaku manusia; Mary Greisez Kweit dan Robert W Kweit, op.cit. hlm. 17.

113 Vedi Haiz Politik, Budaya dan Perubahan Sosial, (Jakarta: Gramedia dan

Metodologi Ilmu Pemerintahan | 127

Dalam dokumen Metodologi Ilmu Pemerintahan (Halaman 131-136)