• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. ALTERNATIF KEBIJAKAN YANG SESUAI UNTUK PENINGKATAN

5.1. Kota Bogor

5.1.5. Implikasi Terhadap Kebijakan di Kota Bogor

a. Guru menurut responden merupakan alternatif yang dipilih sebagai pelaku utama yang sangat berperan dalam peningkatan pendidikan guru SD, dan diikuti oleh Dinas Pendidikan, sebagai payung dari pelaku pendidikan yang bertanggung jawab terhadap pembangunan pendidikan di daerahnya.

b. Dalam pembangunan pendidikan perlu memperhatikan masalah dana, karena rata-rata responden menilai bahwa kendala utama yang dihadapi dalam meningkatkan pendidikan guru SD adalah dana. Kendala dana dapat ditanggulangi dengan memilih PT yang sesuai dan murah yaitu PJJ. Selain itu kendala dana ini masih dapat diatasi dengan adanya dana yang berasal dari Depdiknas (PMPTK), dimana penyalurannya saat ini melalui dana dekonsentrasi yang dikelola oleh provinsi dan disalurkan ke Kabupaten untuk memilih PT yang sesuai bagi guru di Kabupaten tersebut.

Aturan pelaksanaan dana dekonsentrasi ini memang belum begitu jelas, namun dengan dikeluarkannya kebijakan baru dimana guru membayar secara swadana terlebih dahulu, dan dibayar kemudian bila dana dekonsentrasi tersebut cair, dapat membantu dan mempermudah pelaksanaan peningkatan pendidikan bagi guru SD di Kota Bogor.

Pembagian kuota jumlah guru bagi PT yang ada juga tidak terlalu bermasalah, karena PT tatap muka yang menyelenggarakan program PGSD tidak terlalu banyak. Bila PT tersebut tidak terlalu berminat karena biaya yang diberikan memang murah, sedang daya tampung PT tersebut

terbatas, tentu bukan hal yang mudah untuk mengelola penyelenggaraan pendidikan guru, hal ini akan berbeda bila dilakukan oleh PTJJ yang memiliki daya tampung massal.

c. Kota Bogor meskipun terletak di pusat perkotaan, namun ternyata rata-rata responden masih memilih sistem PJJ sebagai alternatif terbaik untuk meningkatkan pendidikan guru SD.

5.2. KABUPATEN BOGOR

Dari hasil pengolahan data diperoleh besarnya nilai (bobot) komponen yang dipilih sebagai alternatif yang diberikan untuk peningkatan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor seperti pada Gambar 11.

Gambar 11. Bobot Komponen Alternatif Sistem Pendidikan yang Dipilih untuk Peningkatan Pendidikan Guru SD di Kabupaten Bogor

5.2.1. Faktor Pendorong Utama Peningkatan Pendidikan Guru SD

Hasil analisis untuk mengetahui bobot dan tingkat penting elemen yang dipilih sebagai faktor pendorong utama ditingkatkannya pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor terlihat pada Tabel 14. Bobot yang ditunjukkan dalam tabel diperoleh dari pengolahan terhadap seberapa penting elemen yang dipilih oleh responden dapat mewakili alternatif faktor pendorong utama diperlukannya peningkatan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor.

Tabel 14. Bobot dan Tingkat Penting Alternatif yang Dipilih untuk Faktor Pendorong Utama Peningkatan Pendidikan Guru SD di Kabupaten Bogor

Elemen Alternatif UU Guru dan Dosen Jumlah Guru yang belum S1 besar

RESPONDEN Bobot Tingkat penting Bobot Tingkat penting

DPRD 0,25 2 0,75 1

DISDIK 0,75 1 0,25 2

Kep Sekolah 0,75 1 0,25 2

Guru 0,75 1 0,25 2

Rata-rata 0,63 1 0,37 2

Hasil yang diperoleh dengan bobot rata-rata 0,63, responden memilih UU Guru dan Dosen sebagaialternatif yang paling penting yang mendorong perlunya peningkatan pendidikan guru SD. Jumlah guru SD yang sangat besar yang ada di Kabupaten Bogor ternyata hanya dipilih sebagai alternatif pilihan penting kedua. Hal ini disebabkan oleh karena UU Guru dan Dosen merupakan kekuatan pendorong yang secara hukum UU memiliki kekuatan tertinggi, dan diharap dapat mengubah nasib guru menjadi lebih baik.

Hanya DPRD memilih besarnya jumlah guru SD yang pendidikannya belum S1 merupakan alternatif terpenting yang mendorong peningkatan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor atau dalam rata-rata ini merupakan pilihan kedua.

Alasannya adalah berdasarkan pada kenyataan bahwa Kabupaten Bogor termasuk daerah yang memiliki guru dengan pendidikan akhir belum S1 sangat banyak (82,58 persen). Kabupaten Bogor memang memiliki banyak sekali masalah meskipun termasuk daerah kaya karena memiliki PAD terbesar se Jawa Barat. Salah satu masalah yang ada dalam bidang pendidikan adalah besarnya jumlah guru yang belum S1 dengan pendistribusian atau ketersebarannya yang mencapai wilayah sangat luas. Menurut DPRD adanya UU Guru dan Dosen akan secara otomatis memicu usaha untuk meningkatkan pendidikan guru SD, namun yang menjadi perhatian untuk dapat dijadikan alternatif pendorong terpenting bagi peningkatan pendidikan guru adalah jumlah guru SD yang belum S1 sangat besar

Menurut DPRD besarnya jumlah guru SD yang belum S1, merupakan hal yang perlu diprioritaskan untuk segera ditanggulangi. Hal ini dibuktikan bahwa perlu waktu bertahun-tahun untuk memperjuangkan munculnya dana bagi peningkatan pendidikan guru SD ini, dan akhirnya pada tahun 2007 DPRD berhasil menyetujui anggaran khusus yang digunakan untuk memberi bea siswa bagi 1160 orang guru SD untuk mengikuti pendidikan S1 di UT. Anggaran ini direncanakan untuk selalu diadakan di tahun-tahun mendatang, sehingga jumlah guru SD yang belum S1 dapat ditiadakan sebelum 10 tahun yang akan datang.

5.2.2. Pelaku yang Berperan dalam Peningkatan Pendidikan Guru SD

Tabel 15 menunjukkan bobot dan tingkat peran yang dipilih oleh responden terhadap elemen yang dianggap mewakili alternatif pelaku yang paling berperan dalam peningkatan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor. Menurut respnden alternatif pelaku yang paling berperan dalam peningkatan pendidikan guru SD adalah Dinas Pendidikan (bobot 0,45).

Sedangkan guru merupakan alternatif pelaku kedua yang paling berperan dalam peningkatan pendidikan dirinya.

Tabel 15. Bobot dan Alternatif yang Dipilih untuk Pelaku yang Paling Berperan dalam Peningkatan Pendidikan Guru SD di Kabupaten Bogor

Elemen

Alternatif DPRD Disdik Kep Sek Guru

RESPONDEN Bobot Tingkat

Peran Bobot Tingkat Peran Bobot Tingkat Peran Bobot Tingkat Peran DPRD 0,06 4 0,12 3 0,26 2 0,56 1 DISDIK 0,26 2 0,56 1 0,06 4 0,12 3 Kep Sekolah 0,06 4 0,56 1 0,26 2 0,12 3 Guru 0,26 2 0,56 1 0,12 3 0,06 4 Rata-rata 0,16 4 0,45 1 0,17 3 0,22 2

Adanya perbedaan alternatif pertama dan kedua ini disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada tahun 2007, di mana perjuangan pemda dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan dapat merealisasikan turunnya bea siswa bagi guru SD yang sudah lama diperjuangkan. Pada tahun 2007, sebanyak kira-kira 1.060 guru SD yang tersebar di Kabupaten Bogor memperoleh bea siswa untuk meningkatkan pendidikannya menjadi S1. Hal ini menunjukkan bahwa Dinas Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan pendidikan guru di Kabupaten Bogor.

Tabel 15 juga memperlihatkan bahwa nilai rata-rata tertinggi untuk pelaku yang paling berperan dalam peningkatan pendidikan adalah pemerintah daerah dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan (bobot 0,45). Pilihan kedua dengan bobot 0,22 adalah guru, ketiga Kepala Sekolah (0,17), dan keempat adalah DPRD (0,16). Hal ini sesuai dengan tugas dan wewenang Dinas Pendidikan untuk meningkatkan kompetensi guru SD yang ada di wilayah Kabupaten Bogor, dalam

kondisi dan situasi apa pun yang dihadapi oleh Dinas Pendidikan nasib pendidikan para guru harus bisa dijadikan prioritas dalam pengembangannya.

5.2.3. Kendala yang Dihadapi dalam Peningkatan Pendidikan Guru SD

Tabel 16 memperlihatkan bobot dan tingkat kendala yang dihadapi responden dalam memilih elemen alternatif yang dianggap paling menjadi kendala dalam peningkatan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor.

Tabel 16. Bobot dan Alternatif Tingkat Kendala yang Dihadapi dalam PeningkatanPendidikan Guru SD di Kabupaten Bogor

Elemen Alternatif Sulit Lulus Dana Lokasi Tugas RESPONDEN Bobot Tingkat

kendala Bobot Tingkat kendala Bobot Tingkat kendala DPRD 0,26 2 0,64 1 0,10 3 DISDIK 0,26 2 0,64 1

0,10

3 Kep Sekolah 0,64 1 0,10 3 0,26 2 Guru 0,10 3 0,26 2 0,64 1 Rata-rata 0,31 2 0,41 1 0,28 3

Bobot rata-rata yang tertinggi untuk alternatif yang dipilih sebagai elemen yang paling menjadi kendala yang dihadapi dalam peningkatan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor adalah dana (bobot 0,41), sulit lulus (0,31) dan kendala yang terakhir adalah lokasi tugas (0,28).

Kendala dana dapat dijelaskan sebagai berikut. Bila dilihat dari tahun 1997 sampai 2006, pemerintah Kabupaten Bogor tidak pernah merencanakan anggaran untuk memberi bea siswa kepada guru, karena ketiadaan dana, prioritas untuk pengembangan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor masih terfokus pada pengentasan Wajar Dikdas, renovasi gedung sekolah, dan peningkatan nilai IPM yang masih tertinggal dibandingkan dengan kabupaten lain di Jawa Barat (Depdiknas, 2006). Meskipun pada tahun 2007 kendala dana ini

sudah mulai bisa diatasi dengan adanya kucuran dana bagi guru untuk melanjutkan pendidikannya ke S1, namun masih ada keraguan akan kesinambungan kucuran dana untuk bea siswa berlanjut pada tahun-tahun yang akan datang.

Kendala sulit lulus dapat dijelaskan dengan melihat bahwa guru yang dahulu diberi beasiswa oleh PMPTK tidak selalu lancar dalam menyelesaikan kuliahnya (sulit lulus) dan responden juga memperoleh informasi yang salah bahwa mahasiswa akan sulit lulus bila kuliahnya dengan menggunakan PJJ. Hal ini adalah akibat dari Kepala Sekolah yang kurang memahami konsep belajar dengan sistem PJJ, yang sangat memerlukan kemandirian dalam belajar. Bila cara belajar yang selama ini tidak mengajarkan kemandirian siswa/mahasiswa, karena selalu diajarkan cara belajar yang ’hanya menerima apa yang diajarkan guru/dosen’ maka hasilnya adalah siswa yang tidak mandiri, harus selalu dibimbing untuk mendapatkan sesuatu. Padahal pada cara belajar dengan PJJ, mahasiswa harus benar-benar mandiri, karena hanya sedikit bimbingan yang akan diterima dari Tutor dan hanya pada saat tutorial .

Pilihan lokasi tugas sebagai kendala terakhir dalam peningkatan pendidikan guru dapat dijelaskan dengan melihat bahwa meskipun di Kabupaten Bogor tidak ada PTS apalagi PTN yang menyediakan program studi yang sesuai bagi guru SD, namun di daerah yang bersebelahan dengan Kabupaten Bogor, seperti misalnya di Depok, Sukabumi, Cianjur, dan Jakarta banyak PTS tanpa izin yang menawarkan program Kependidikan (Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan atau STIKP) dan diselenggarakan oleh yayasan di bawah naungan PGRI. PTS ini menawarkan kemudahan untuk lulus dengan cepat dan karena ada embel-embel PGRI, para guru SD banyak yang tertipu karena ijazahnya tidak diakui oleh pemerintah.

5.2.4. Alternatif Sistem Pendidikan yang Digunakan untuk Peningkatan Pendidikan Guru SD

Dari Tabel 17 digambarkan bobot dan prioritas responden dalam memilih elemen yang dianggap mewakili alternatif perguruan tinggi yang sebaiknya digunakan untuk peningkatan pendidikan guru SD di Kabupaten Bogor.

Tabel 17. Bobot dan Prioritas Alternatif Sistem Pendidikan yang Digunakan dalam Peningkatan Pendidikan Guru SD di Kabupaten Bogor

Elemen Alternatif PJJ UT PTN PTS Setempat

RESPONDEN Bobot Prioritas Bobot Prioritas Bobot Prioritas

DPRD 0,26 2 0,10 3 0,64 1

DISDIK 0,64 1 0,10 3 0,26 2

Kep Sekolah 0,64 1 0,26 2 0,10 3

Guru 0,10 3 0,26 2 0,64 1

Rata-rata 0,41 1 0,18 2 0,41 1

Rata-rata nilai yang diperoleh untuk kebijakan dalam memilih PT dalam upaya meningkatkan pendidikan guru SD, ternyata nilai alternatif pertama dan kedua yang digunakan untuk peningkatan pendidikan guru SD bobotnya sama yaitu 0,41 dan alternatif ini dipilih untuk PJJ dan PTS setempat. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun Kabupaten Bogor memiliki wilayah yang sangat luas, namun ternyata kondisi geografis ini tidak menjadi kendala utama, hal ini disebabkan karena di kota-kota yang bersebelahan dengan Kabupaten Bogor (Depok, Cianjur, Sukabumi, dan Jakarta) memberikan kemudahan dengan adanya PTS swasta yang tanpa izin menawarkan kemudahan untuk lulus meskipun tidak menyediakan program yang khusus diperlukan oleh guru SD.

Alasana memilih PTS sebagai alternatif pertama adalah berdasarkan pengalaman pribadi responden bahwa belajar di sebuah PTS diperoleh beberapa keuntungan selain mendapat keleluasaan diperoleh juga beberapa

kemudahan dalam belajar bagi mahasiswanya yang kuliah sambil bekerja. Di samping itu pengalaman guru yang telah menyelesaikan S1-nya di PTS yang ada di Bogor, meskipun tidak mengikuti program khusus untuk PGSD namun ternyata tidak mengalami kesulitan dalam penempatannya karena peraturan dalam UU Guru dan Dosen belum dilaksanakan sepenuhnya (belum ada PP yang mengaturnya).

Sedangkan alasan memilih PJJ sebagai alternatif pertama adalah, disebabkan pada aturan bahwa untuk peningkatan pendidikan guru SD, diperlukan program khusus yang pelaksanaannya diatur oleh adanya izin dari DIKTI dan penyelenggaranya pun disyaratkan dengan adanya izin yang dikeluarkan oleh Depdiknas. Salah satu perguruan tinggi yang sudah memiliki izin tersebut adalah UT yang penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan sistem PJJ. Status PJJ UT adalah PT Negeri dan sistem PJJ ini menurut Dinas dan Kepala Sekolah sangat membantu dalam meningkatkan pendidikan guru SD, karena meskipun guru SD sedang mengikuti pendidikan mereka tetap menjalankan tugasnya sebagi guru, karena waktu tutorial dan ujiannya dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu.

Di Kabupaten Bogor tidak ada PTS yang menyelenggarakan program PGSD, sedangkan di Kota Bogor (merupakan wilayah yang paling dekat) terdapat PTS yang sudah menyelenggarakan program kependidikan untuk guru (Fakultas Keguruan di UNPAK dan Ibnu Khaldun), meskipun yang secara khusus untuk guru SD (program PGSD) masih belum ada.

Sementara PTN (nilai 0,32) merupakan alternatif terakhir yang dipilih responden dalam menentukan perguruan tinggi yang paling sesuai dengan situasi guru bila ingin meningkatkan pendidikannya. Hal ini disebabkan oleh pengalaman Kabupaten Bogor yang memberikan dana terbatas untuk guru

mengikuti studi di UNJ (PTN sesuai yang terdekat terdapat di Jakarta ), namun tidak seorang pun yang dapat menyelesaikan studinya karena kendala jarak dan dana. Kondisi ini menggambarkan bahwa diperlukan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang dapat memfasilitasi kebutuhan guru akan ilmu yang akan digunakan dalam mengajar dan diperlukan legalitas dalam penyelenggaraannya.

Dokumen terkait