BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.2 LandasanTeori
2.2.2 Implikatur
Penutur dan mitra tutur dapat secara lancer berkomunikasi karena mereka memiliki kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dipertuturkan. Menurut Gunpers (dalam Lubis, 191:68), inferensi (implikatur) merupakan proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Mengacu pada pernyataan bahwa selalu benar apa yang dimaksud oleh si pembicara tidak sama dengan apa yang ditanggap oleh si pendengar.Olehkarenaitu, terkadang jawaban si pendengar tidak dapat dimengerti atau sering juga terjadi si pembicara mengulangi kembali ucapanya, mungkin dengan cara atau kalimat yang lain supaya dapat ditanggapi oleh si pendengar.
Di dalam pertuturan yang sesungguhnya, penutur dan mitra tutur dapat secara lancar berkomunikasi karena mereka berdua memiliki semacam kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dipertuturkan itu. Di antara penutur dan mitra tutur dan mitra tutur terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis bahwa apa yang sedang dipertuturkan itu saling dimengerti. H.paul Grice 1975 (dalam Kunjana, 2007: 43) di dalam artikelnya yang berjudul ―Logic and Conversation‖ menyatakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut. Proposisi yang diimplikasikan itu dapat disebut dengan implikatur percakapan. Gunpers (dalam Lubis,191;68) mengatakan implikatur adalah proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Menurut Grice (Soemarno, 1988:17), ada kaidah yang mencakup peraturan bagaimana percakapan yang dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Kaidah tersebut terdiri atas dua jenis yaitu, (1) prinsip kooperatif yang menyatakan ‖katakan apa yang diperlukan saat terjadinya percakapan dengan
memegang tujuan percakapn dari percakapn itu‖, (2) empat maksim percakapan yang terdiri atas maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevan, dan maksim pelaksanaan.
Dibawah ini akan dijelaskan satu persatu prinsip kerja sama, rumusan Grice (dalam Purba, 2002:49-54), antara lain:
1.Maksim Kuantitas
Setiap peserta percakapan atau pembicaraan memberikan kontribusi yang secukupnya atau dengan kata lain seperlunya saja.
(1) Sumbangan Anda seinformatif yang dibutuhkan, dan
(2) Jangan memberikan sumbangan atau keterangan lebih informative daripada yang diperlukan.
Contoh maksim kuantitas sebagai berikut:
1. A: Apakah Anda sudah makan siang?
B: Ya, sudah.
Dalam dialog (1) antara A dan B terdapat kerja sama yang baik karena B benar-benar memberikan kontribusi secara kuantitas memadai dan mencukupi.
(2) A: Apakah Anda sudah makan siang?
B: Belum. Istri dan anak-anak saya belum mengantar makan siang berhubung saya dan istri saya bangun kesiangan sehingga tidak sempat masak.
Dalam dialog ke dua antara A dan B tidak terdapat kerja sama yang baik karena B memberikan kontribusi yang berlebihan.Kontribusi B yang berupa informasi yang berupa informasi istri dan anak-anak belum mengantar makan siang berhubung bangun kesiangan, dan tidak sempat masak belum diperlukan oleh A.
2. Maksim Kualitas
Setiap peserta pembicaraan harus mengatakan hal yang sebenarnya. Kontribusi peserta pembicaraan harus didasarkan bukti ataupun fakta yang memadai.
(1) Jangan Anda katakan apa yang Anda anggap salah, dan
(2) Jangan katakana apa yang Anda tidak dapat mendukung dengan bukti yang cukup!
Contoh maksim kualitas sebagai berikut:
(1). Riska: Sari, Ika kuliah dimana. Ya?
Sari: Dia tidak kuliah di UNPAD seperti kau, tapi di USU.
Dalam dialog (1) Sari memberikan kontribusi yang melanggar maksim kualitas. Hal ini menimbulkan Riska berpikiran agak lama untuk mengetahui mengapa Sari memberikan kontribusi seperti itu yang ia anggap salah. Riska tidak mengharapkan Sari memberikan kontribusi seperti itu. Dengan bukti-bukti yang memadai akhirnya Riska mengetahui bahwa Sari salah karena membandingkan Riska yang kuliah di USU sedangkan Ika di UNPAD. Dari jawaban Sari dapat diketahui bahwa kuliah di USU lebih baik daripada di UNPAD. Dengan demikian, jawaban Sari itu merupakan suatu ejekan bagi Riska.
(3) Riska: Sari, Ika kuliah di mana, ya?
Sari: Dia kuliah di UNPAD, Universitas Negeri Padang.
Dalam dialog (2) jawaban Sari dianggap sudah menyatakan atau memberikan kontribusi yang sebenarnya. Dengan demikian, jawaban Sari sudah benar.
3. Maksim Hubungan atau Relevansi
Setiap peserta pembicaraan harus memberikan kontribusi yang berhubungan atau relevan dengan masalah pembicaraan.
(1). Perkataan Anda harus relevan atau berhubungan atau sesuai, dan (2). Berikan informasi yang relevan saja!
Contoh maksim relevansi
(1) Andi: Dimana kotak pensilku?
Anre: Di kamar belajarmu.
Dalam dialog (1), informasi yang disampaikan Anre ada relevansinya dengan pertanyaan Andi. Jawaban Anre, ―Di kamar belajarmu‖ ada relevansinya dengan pertanyaan Andi, ―Dimana kotak pensilku?‖.
(2) Andi: Dimana kotak pensilku?
Anre: Anak-anak masuk ke dalam kamar belajarmu siang tadi.
Dalam dialog (2), informasi yang disampaikan Anre ada relevansinya dengan pertanyaan Andi dengan nalar sebagaiberikut. Walaupun Andi tidak mengetahui jawaban itu dapat membantu Andi mendapatkan jawaban yang benar karena jawaban yang benar firman mengandung implikasi bahwa mungkin anak-anaklah
yang memakai pensil atau pulpennya tersebut, atau mereka setidak-tidaknya tahu dimana pensil atau pulpen itu,
4. Maksim Cara atau Maksim Pelaksanaan
Setiap peserta pembicara berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa (ambigu), dan tidak berlebihan serta runtut.
(1) Hindari ketidakjelasan atau kekaburan (2) Hindari kesibukan
(3) Hindari kata-kata berlebihan yang tidak perlu (4) Anda harus berbicara teratur
Contoh maksim pelaksanaan:
(1) Ucok: Siapa teman Anda orang Korea itu?
Uji: K—I-M-E-O-KS-O-O Ucok: Bengong.
Dalam dialog (1), jawaban Uji merupakan jawaban yang kabur atau tidak jelas karena jawabannya dilakukan dengan mengeja. Nama orang itu KIMEOKSOO dalam bahasa Korea yang ditulis dengan huruf Hanggul, tetapi pengucapannya dieja sehingga mengaburkan bagi pendengarnya. Yaitu Ucok.
(2) Ucok: Itu dia, guru baru datang.
Uji: Dia guru baru?
Ucok: Bukan.
Dalam dialog (2), kalimat yang disampaikan Ucok, ―Guru baru datang‖
menimbulkan ketaksaan atau mengandung makna lebih dari satu, yaitu ―Guru, baru datang‖ dan ―Guru baru, datang.‖
(3) Orang tua murid: Atas perhatian, kebijaksanaan, dan kemurahan hati Bapak, saya ucapkan beribu banyak terima kasih.
Guru: Sama-sama.
Dalam dialog (3) dapat dilihat bahwa sebenarnya pernyataan yang disampaikan oleh orang tua murid itu berlebihan. Dia mengatakan ―Atas banyak terima kasih‖. Sebenarnya orang tua murid itu cukup dengan mengucapkan, ―Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terima kasih,‖ atau ―Atas kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih‖. Kalimat-kalimat itu lebih efektif daripada kalimat-kalimat yang diucapkan orang tua murid itu.
(4). Tini: Bagaimana rumah yang anda beli?
Tono: Alhamdulilah, cukup memuaskan bagi keluarga saya.
Dalam dialog (4), dapat dinilai betapa jenis dan runtut informasi yang disampaikan oleh Tono. Tono member informasi tentang rumah yang baru dibelinya dengan menggunakan bahasa yang efektif, bahasa yang digunakan bersesuaian dengan konsep yang ingin disampaikan, yaitu tentang rumah yang baru dibelinya sehingga menimbulkan kejelasan bagi Tini.