• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.1 Implikatur Percakapan Khusus (IPK)

Menurut Yule (2006: 74) implikatur percakapan khusus yaitu percakapan yang terjadi dalam konteks yang sangat khusus dimana pembaca mengasumsikan informasi secara lokal. Implikatur percakapan khusus membutuhkan konteks dan latar belakang pengetahuan khusus untuk membuat kesimpulan yang diperlukan. Perhatikanlah beberapa dialog berikut ini yang mengandung implikatur percakapan khusus (IPK).

1) Dawus : “Saya Dawus. Saya yang ditugasi mengawal dan menjaga bapak.” Brojo : “Kerja saja baik-baik.”

Dawus : “Ya, Pak.” (hal 89)

(Konteksnya Dawus adalah penjaga baru dalam lapas. Sebagai penjaga baru ia mengenalkan diri kepada Brojo. Brojo menggantikan Projo termasuk sifatnya yang dikenal tanpa basa-basi.)

2) Projo : “Rasanya aku bisa mati, Ga…” Gaga : “Kita masih ada acara..” Projo : “Aku tahu…” (hal 103)

(Konteksnya Projo baru selesai melakukan penyamaran yang pertama. Penyamaran terhadap istrinya. Gaga adalah asisten pribadi projo.)

3) Projo : “Saya menunggu seseorang..” kata Projo menjelaskan, setelah menurunkan kaca jendela dan kemudian menaikkan kembali.

Petugas : “Maaf…” (hal 107)

(Konteks Projo seakan-akan ingin turun dari mobilnya dan petugas siap membukakan pintu mobil. Percakapan antara Projo dengan petugas rumah makan itu berlangsung di tempat parkir.)

4) Petugas : “Makanan apa yang diberikan?”

Projo : “Saya kira makanan yang dibawa istri saya masih belum saya sentuh, belum saya lihat.” (hal 112)

(Konteksnya Projo masih kaget dengan penangkapan terhadap dirinya.) 5) Projo : “Aku bisa gila mendengar tuntutan itu.”

Ong : “Kami sedang berusaha yang lain. Kami tak mungkin tinggal diam.” ( hal 114)

(Konteksnya Projo dan Ong sedang di penjara. Projo sedang dibesuk teman dekatnya yaitu Ong.)

Implikatur percakapan khusus yaitu implikatur yang membutuhkan konteks dalam menginterpretasikan makna percakapannya. Percakapan 1)-5) merupakan contoh percakapan yang mengandung implikatur percakapan khusus. Data 1), merupakan percakapan antara tokoh Brojo dengan Dawus. Konteks percakapan adalah Dawus adalah penjaga baru dalam lembaga pemasyarakatan. Sebagai penjaga baru, ia mengenalkan diri kepada lawan tutur yaitu Brojo. Penutur (Dawus) mengatakan “Saya Dawus. Saya yang ditugasi mengawal dan menjaga Bapak”. Pernyataan penutur tersebut seharusnya dijawab “Ya” oleh Brojo sebagai mitra tutur, tetapi Brojo justru menjawab “Kerja saja baik-baik”. Percakapan Dawus dengan Brojo secara lahiriah tidak berhubungan. Bahkan secara konvensional struktural, kedua kalimat tidak berkaitan. Namun, bagi seseorang yang mengetahui situasi atau konteks tuturan menjadi tahu bahwa implikaturnya Brojo sudah mengetahui bahwa ia adalah penjaga barunya. Jadi Brojo tidak menghendaki petugas mengenalkan diri. Implikatur itu didasarkan

juga pada karakter tokoh Brojo yang sedang memerankan Projo. Karakter Projo dikenal dengan orang yang tegas tanpa basa-basi. Tanpa konteks pertuturan itu dapat juga diinterpretasikan bahwa kerja Dawus selama ini kurang baik. Bisa juga pertuturan diinterpretasikan bahwa Dawus orang yang cerewet, dan sebagainya.

Pada data 2) merupakan percakapan antara tokoh Projo dengan Gaga. Konteksnya Projo baru selesai melakukan penyamaran yang pertama. Kedua kalimat secara konvensional tidak memiliki kaitan. Ungkapan Projo yang pertama “Rasanya aku bisa mati, Ga…” tetapi ungkapan balasan Gaga justru “Kita masih ada acara..”. Secara lahiriah kedua pernyataan jelas berbeda. Adanya konteks yang melatarbelakangi ungkapan itu menjadi jelas bahwa percakapan itu mengandung implikatur, Projo memang lelah tetapi meskipun lelah masih ada yang harus dikerjakan. Implikatur suatu percakapan memang tidak menutup kemungkinan lebih dari satu. Percakapan itu dapat diinterpretasikan bahwa Gaga cemas karena Projo sakit. Selain itu,percakapan itu juga dapat diinterpretasikan bahwa Gaga orang yang tegas karena ia tak kenal kompromi. Tetapi implikatur itu juga didasarkan pada tugas Gaga sebagai asisten Projo. Gaga selalu mengingatkan segala sesuatu dan mengerjakannya segala yang diperintahkan majikan, yaitu Projo.

Begitu juga dengan data 3), percakapan antara Projo dengan petugas rumah makan itu berlangsung dengan latar tempat yaitu di tempat parkir. Projo datang dengan mobilnya dan seperti pada umumnya petugas siap membukakan pintu mobil pada setiap tamu Projo hanya mengatakan “Saya menuggu seseorang..”. Petugas langsung menangkap maksudnya bahwa ia bermaksud tidak

akan turun dari mobil. Jadi petugas itu cukup menjawab “Maaf”. Implikaturnya bahwa Projo sebagai tamu tidak jadi masuk ke rumah makan, jadi tidak perlu dibukakan pintu mobilnya. Tanpa ada konteks, makna percakapan itu akan kabur. Pembaca pun akan disusahkan untuk mengasumsikan makna percakapan tersebut. Pembaca dapat menginterpretasikan bahwa petugas salah menegur orang atau petugas menyuruh mitra tutur (Projo) untuk pergi tetapi mitra tutur tidak mau.

Data 4) justru akan semakin lucu jika pembaca mengasumsikan maknapercakapannya tanpa mengetahui konteksnya. Percakapan antara Aparat dengan Projo cukup sederhana. Aparat menanyakan “Makanan apa yang diberikan?” Projo menjawab “Saya kira makanan yang dibawa istri saya masih belum saya sentuh, belum saya lihat”. Tanpa konteks percakapan, pembaca mungkin akan mengasumsikan bahwa petugas akan meminta makanan milik Projo. Padahal dengan konteks Projo masih kaget dengan penangkapan terhadap dirinya, dan Projo dikenal dengan orang yang santai tetapi lain ketika tersangkut perkara dan harus mendekam di penjara. Segalanya tentang Projo berubah. Dengan begitu implikaturnya menjadi berbeda yaitu bahwa Projo tidak mau makan. Begitu juga dengan percakapan pada data 5).

Percakapan pada data 5) antara Ong dengan Projo di atas konteksnya mereka sedang di penjara. Projo sedang dibesuk teman dekatnya yaitu Ong. Ong adalah salah satu teman dekat sebelum Projo masuk Penjara. Dengan konteks itu, pembaca langsung dapat mengasumsikan makna percakapan itu bahwa Projo minta diusahakan agar diringankan atau malah dibebaskan dari tuntutan. Namun, pembaca akan sedikit kesulitan jika percakapan tadi tanpa konteks. Tidak

dipungkiri bahwa percakapan tersebut dapat terdeteksi maknanya. Namun, konteks dalam implikatur percakapan khusus ini sangat diperlukan.

Selain membutuhkan konteks, ciri lain implikatur percakapan khusus juga sengaja melanggar maksim. Menurut Cummings (2007: 18) sejumlah implikatur percakapan yang dihasilkan dengan sengaja melanggar atau menggunakan maksim telah memperoleh nama-nama khusus dan sejauh ini telah dibahas dalam lingkaran sastra seperti yang ada dalam berbagai lingkaran linguistik.

Percakapan dalam data 1) mengandung pelanggaran terhadap maksim hubungan. Ungkapan “Kerja saja baik-baik” oleh mitra tutur yaitu tokoh Brojo dianggap tidak memiliki keterkaitan terhadap pernyataan penutur sebelumnya yaitu tokoh Dawus “Saya Dawus. Saya yang ditugasi mengawal dan menjaga bapak”. Hal ini akan sejalan dengan yang digariskan maksim hubungan bila pernyataan penutur yaitu Brojo ditanggapi oleh Dawus “Ya”.

Percakapan dalam data 2) mengandung pelanggaran terhadap maksim hubungan. Ungkapan “Kita masih ada acara” oleh mira tutur yaitu Gaga dianggap tidak memiliki keterkaitan terhadap pernyataan penutur sebelumnya yaitu tokoh Projo “Rasanya aku bisa mati Ga”. Hal ini akan sejalan dengan yang digariskan maksim hubungan bila pernyataan penutur yaitu Projo ditanggapi oleh mitra tutur yaitu Gaga “kenapa?” atau “terus bagaimana?”.

Percakapan dalam data 3) mengandung pelanggaran terhadap maksim hubungan. Ungkapan “Maaf” oleh mitra tutur yaitu petugas dianggap tidak memiliki keterkaitan dengan pernyataan penutur sebelumnya yaitu Projo “Saya menunggu seseorang”. Hal ini akan sejalan dengan yang digariskan maksim

hubungan bila pernyataan penutur yaitu Projo ditanggapi mitra tutur yaitu petugas dengan “kenapa?” atau “menunggu siapa?”.

Percakapan dalam data 4) mengandung pelanggaran terhadap maksim hubungan. Ungkapan “Saya kira makanan yang dibawa istri saya masih belum saya sentuh, belum saya lihat.” oleh mitra tutur yaitu Projo dianggap tidak memiliki keterkaitan dengan pernyataan penutur yaitu petugas sebelumnya “Makanan apa yang diberikan?”. Hal ini akan sejalan dengan yang digariskan maksim hubungan bila pernyataan penutur yaitu petugas ditanggapi oleh mitra tutur yaitu Brojo dengan “ikan asin”, “telur” dan sebagainya.

Begitu juga dalam percakapan data 5), percakapan ini mengandug pelanggaran terhadap maksim hubungan. Ungkapan “Kami sedang berusaha lain. Kami tak mungkin tinggal diam.” dianggap tidak memiliki keterkaitan dengan pernyataan sebelumnya “Aku bisa mendengar tuntutan itu.”. Hal ini akan sejalan dengan yang digariskan maksim hubungan bila pernyataan Penutur yaitu Projo ditanggapi oleh mitra tutur yaitu Ong dengan “kenapa?” atau “sebaiknya bagaimana?”.

Atas dasar deskripsi di atas, ciri-ciri implikatur percakapan khusus adalah: 1) untuk mengnterpretasikan maknanya dibutuhkan konteks tuturan, dan 2) implikatur percakapan khusus melanggar maksim hubungan.

Implikatur percakapan adalah hubungan atau keterkaitan antara tuturan penutur dengan mitra tutur yang maknanya tidak terungkap secara literal pada tuturan itu sendiri (Purwo, 1990: 20). Menurut Leech (1993: 21) sebuah tuturan dapat merupakan contoh kalimat atau tanda kalimat, tetapi bukan sebuah kalimat.

Istilah deklaratif, interogatif, dan imperatif lazim digunakan secara khas (typical) untuk kategori-kategori sintaksis, dan istilah-istilah ini akan tetap digunakan Leech (178) untuk mengacu pada jenis-jenis kalimat dasar. Kalimat-kalimat ini biasanya dibedakan dengan kategori-kategori semantik dan kategori-kategori tindak ujar dan dikenal juga sebagai ‘pernyataan’, ‘pertanyaan’, dan ‘perintah’.

Sintaksis : deklaratif interogatif imperatif Semantik : proposisi pertanyaan perintah Pragmatik : pernyataan bertanya impositif

Menurut Rahardi (2005: 74) berdasarkan nilai komunikatifnya kalimat dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni kalimat berita (deklaratif), kalimat perintah (imperatif), kalimat tanya (interogatif), kalimat seruan (eksklamatif), dan kalimat penegas (empatik). Kalimat deklaratif dalam bahasa Indonesia mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada mitra tutur. Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengandung maksud menanyakan sesuatu kepada si mitra tutur. Kalimat imperatif mengandung maksud memerintah atau meminta agar mitra tutur melakukan suatu sebagaimana diinginkan si penutur. Kalimat eksklamatif adalah kalimat yang dimaksudkan untuk menyatakan rasa kagum. Kalimat empatik adalah kalimat yang di dalamnya terkandung maksud memberikan penekanan khusus.

Selain memiliki ciri yang telah tersebut di atas, implikatur percakapan khusus memiliki nilai komunikatif dalam kategori deklaratif, interogatif, dan imperatif. Berikut deskripsi masing-masing kategori.

a. Deklaratif

6) Dewi : “Permulaan yang bagus, Il. Tapi… di mana anak-anakmu?” Iil : “Saya sudah biasa sendirian. Dengan pembantu. Dengan

sopir. Dengan kesunyian rumah menyakitkan ini.” (hal 149) (konteks tuturan, Dewi dan Iil sedang bersantai dengan membicarakan hal

pribadi masing-masing. Sejak suami Iil di tahan, anak-anak Iil tinggal bersama neneknya.)

7) Zul : “Jo…kita harus bertemu…” Projo : “Sekarang sudah.” (hal 330)

(konteks tuturan, Projo sedang marah dengan Zul. Pembicaraan mereka melalui telepon.)

Data 6) termasuk dalam implikatur percakapan khusus. Implikatur percakapan itu ialah anak-anak Iil tidak lagi bersamanya. Implikatur itu muncul dengan konteks sejak suaminya ditahan, anak-anak Iil memilih tinggal bersama neneknya. Implikatur itu muncul pada jawaban Iil. Implikatur itu dikemas dalam sebuah kalimat berita. Fungsi implikatur itu untuk memberitahukan Dewi bahwa Iil tidak lagi bersama Iil.

Data 7) termasuk dalam kategori implikatur percakapan khusus. Percakapan antara Projo dengan Zul. Konteksnya Projo sedang marah kepada Zul karena Zul diketahui mendekati istri Projo. Pembicaraan melalui telepon. Implikaturnya Projo tidak mau menemui karena jengkel dengan Zul. Implikatur muncul dari tuturan Projo. Tampak jelas bahwa fungsi tuturan itu untuk memberitahu dengan penolakan yaitu menolak menemui dirinya (Zul).

b. Interogatif

8) Petugas : “Makanan apa yang diberikan?”

Projo : “Saya kira makanan yang dibawa istri saya masih belum saya sentuh, belum saya lihat.” (hal 112)

(konteks tuturan, Projo masih kaget dengan penangkapan terhadap dirinya.)

9) Brojo : “Ada… sesuatu yang khusus?”

Iil : “Don, saya tak tahu harus mulai dari mana.” (hal 277)

(konteks tuturan, Brojo gugup karena belum pernah bertemu Iil yang merupakan istri dari Pak Sardono yang ia gantikan di penjara)

10)Dewi : “Iil?’

Iil : “Lebih baik.” (hal 290)

(konteks tuturan, Iil sedang sesak nafas dan diobati oleh Dewi)

Data 8) termasuk dalam kategori implikatur percakapan khusus. Percakapan antara Aparat dengan Projo cukup sederhana. Implikatur yang muncul ialah Projo tidak mau makan. Dalam tuturan, aparat menanyakan “Makanan apa yang diberikan?” Tuturan memang berupa kalimat pertanyaan tetapi yang dimaksudkan berbeda dengan yang ditanyakan. Secara lahiriah tuturan seharusnya dijawab ‘nasi dengan daging’ atau ‘nasi dengan ikan’ dan sebagainya. Tetapi tuturan justru dijawab dengan “Saya kira makanan yang dibawa istri saya masih belum saya sentuh, belum saya lihat.” Hal itu disebabkan mitra tutur menangkap maksud tuturan penutur (petugas) bahwa ia menanyakan kenapa tidak mau makan?

Data 9) yaitu percakapan antara tokoh Brojo pengganti peran Pak Sardono (Projo) dengan Iil. Percakapan itu konteksnya Brojo gugup karena belum pernah bertemu Iil yang merupakan istri dari Pak Sardono yang digantikannya di penjara. Implikaturnya tidak biasanya Iil datang membesuk. Implikatur itu muncul dari tuturan Brojo. Tuturan Brojo memang berupa pertanyaan. Tetapi pertanyaan yang dimaksud berbeda yang ditanyakan. Tuturan yang secara lahiriah menanyakan ‘ada perlu apa?’ tetapi tuturan itu sebenarnya menanyakan ‘kenapa kamu (Iil) datang kemari?’.

Data 10 merupakan percakapan antara tokoh Iil dengan Dewi. Konteks tuturan, Iil sedang sakit asma karena kaget adanya Brojo pengganti peran suaminya yang mengatakan “Aku… saya… bukan suami kamu…”. Iil sesak nafas dan diolesi minyak angin oleh Dewi (Projo). Dewi terus mengajak Iil berbicara. Dewi bertanya, “Iil?” dijawab, “lebih baik”. Dengan konteks itu percakapannya bahwa Dewi menanyakan kondisi Iil apakah sakitnya sudah membaik. Konteks tuturan itu dikemas dalam kalimat tanya tetapi fungsi implikaturnya tetap menanyakan. Meskipun hal yang ditanyakan berbeda.

c. Imperatif

11)Dawus : “Saya Dawus. Saya yang ditugasi mengawal dan menjaga bapak.”

Brojo : “Kerja saja baik-baik.” Dawus : “Ya, Pak.” (hal 89)

(konteks tuturan, Dawus adalah penjaga baru untuk Brojo. Brojo sedang berusaha memerankan sifat Projo yang dikenal tanpa basa-basi)

12)Projo : “Aku bisa gila mendengar tuntutan itu.”

Ong : “Kami sedang berusaha yang lain. Kami tak mungkin tinggal diam.”

(konteks tuturan, Projo baru saja ditangkap dan ditahan di penjara. Ong adalah teman dekatnya.)

13)Projo : “Ada lagi yang ditunggu?”

Gaga : “Saya kerjakan sekarang.” (hal 221)

(konteks tuturan, Gaga adalah asisten Projo yang sangat dekat. Gaga diperintahkan untuk menculik pak Syam.)

Data 11) termasuk dalam implikatur percakapan khusus. Percakapan antartokoh Brojo dengan Dawus dengan konteks Dawus adalah penjaga baru dan ia mengenalkan diri kepada Brojo. Brojo sudah mengetahui bahwa akan ada penjaga baru untuk dirinya. Implikaturnya ialah Brojo tidak menghendaki petugas

mengenalkan diri. Implikatur itu berfungsi untuk meminta agar petugas tidak mengenalkan diri.

Percakapan pada data 12) merupakan implikatur percakapan khusus. Percakapan antartokoh Projo dengan Ong dengan konteks pertuturan Projo baru saja ditangkap dan ditahan, Ong merupakan sahabat terdekat sebelum projo masuk penjara. Implikaturnya bahwa Projo meminta kepada Ong agar mengusahakan keringanan atau malah pembebasan dari dari tuntutan. Meskipun implikatur itu muncul dalam tuturan Brojo yang berupa kalimat deklaratif tetapi fungsi implikatur itu berfungsi untuk meminta.

Data 13) termasuk dalam kategori implikatur percakapan khusus. Percakapan antartokoh Projo dengan Gaga dengan konteks Gaga diperintahkan untuk menculik Pak Syam. Implikaturnya Gaga diminta untuk segera pergi. Implikatur itu terkemas dalam tuturan Projo yang berupa kalimat interogatif atau kalimat tanya. Meskipun wujudnya berupa kalimat tanya, implikaturnya bahwa Projo meminta mitra tutur yaitu Gaga untuk segera pergi melaksanakan tugas yang diberikan. Jadi, fungsi implikatur dalam tuturan itu untuk menyuruh/ memerintah.

Dokumen terkait