• Tidak ada hasil yang ditemukan

Impression Management (Pengelolaan Kesan) Mahasiswi Penerima Beasiswa BMI dalam Menampilkan Identitas Diri Beasiswa BMI dalam Menampilkan Identitas Diri

Universitas X Kota Medan

4.5. Impression Management (Pengelolaan Kesan) Mahasiswi Penerima Beasiswa BMI dalam Menampilkan Identitas Diri Beasiswa BMI dalam Menampilkan Identitas Diri

Impression management (pengelolahan kesan) didefinisikan sebagai aktivitas seseorang agar terlihat baik bagi orang lain serta dirinya sendiri (West and Turner, 2008, p. 146). Sedangkan Erving Goffman (1959) menyatakan bahwa Impression management is a process by wich people control how others perceive them (Anderson and Taylor, 2011). Definisi di atas dapat diartikan bahwa impression management adalah proses yang dilakukan seseorang untuk mengontrol bagaimana orang lain akan memandang dia. Impression management dapat dilihat sebagai jenis dari permainan tipuan. Kita akan selalu berusaha untuk memanipulasi kesan orang lain terhadap kita.

90 4.6. Tabel Pernyataan (Pengelolahan Kesan) Mahasiswi BMI

Penampilan Sebagai Eksitensi Diri di Luar Asrama Putri

No Nama Hasil Wawancara

1. A.R “Bagi informan penampilan adalah no satu menggunakan style kekinian seperti sepatu boots, yang dia pakai ke kampus maupun hangout dan informannya juga ingin terlihat mengesankan di depan teman-teman cowonya, dan orang lain tidak mearasa bosan dengan penampilannya”

2. D.A.A “penampilan sangat penting beb, apalagi ya kan jaman sekarang gak mandang umur, anak SMA aja penampilannya udah kaya anak kuliahan, apalagi kek kita gak mungkin kalah kan dari anak SMA an, kalo menurutku orang menilai kita dari segi penampilan gak mandang cantik atau jelek tapi kalo penampilannya nya keren, fashionabel, pasti jeleknya hilang wkwkwk..”

3. M.D “Menurut saya dari penampilan bisa menunjukkan kepribadian seseorang, misalnya dengan saya berbusana girly maka orang tersebut memiliki pribadi yang lembut dan manja layaknya sifat wanita pada umumnya. Tidak hanya kepribadian, dengan menampilkan busana juga bisa menunjukan status sosial kita, yaitu dari merk busana yang dikenakan dari designer ternama atau cuman copyan busana branded”.

4. N.S “Seperti yang saya katakan sebelumnya kak, penemapilan itu no satu dan memang harus, kita bisa lihat fashion berkembang dengan pesat, dan hal ini menurut saya sangat positif karena kita tidak akan tertingal dengan negara lain tentunya penampilan ini bisa menjadi tolak ukur dari mana kita berasal.”

5. D.W “Penampilan itu sangat penting terutama saya sebagai mahasiswa BMI, misalkan dikampus untuk menunjang publik speaking saya, saat tampil di depan teman, Dosen ya saya harus bernampilan rapi, dan staylist. Meskipun terkadang mungkin diluar kampus maupun asrama, sebagaian teman saya mungkin tidak

91 mengetahui saya penerima beasiswa BMI.

Namun menurut saya, saya harus menunjukkan kepada teman yang mengetahui saya anak BMI, bahwasanya saya layak menerima beasiswa tersebut. Dengan nilai akademik yang bagus, publik speaking yang baik diantara teman saya. harus modis juga sebagai mahasiswa terlebih lagi kuliah Di Universitas X Kota Medan, Universitas Terfavorite, ya sebagai mahasiswa yang kuliah di situ harus jaga penampilan juga, harus belends dong ya, biar sama-sama Wawww gitu.”

7. L.S “Prioritas banget sih kalo masalah penampilan, karna setiap orang berbeda-beda penampilan, penampilan itu gak harus mahal, ya sebisa nya kita lah memanfaat yang ada. “Saya menyimpan busana-busana yang saya miliki dengan rapi karena apabila tren fashion tersebut kembali booming maka saya sudah memilkinya tinggal dipadupadankan gitu.”

8. D.S kalo menurut aku penampilan itu lebih utama, otak belakangan cuy,,,terlebih lagi aku jurusan hukum kawan-kawan ku semua fashionable ya jadi aku harus lebih fhasionabel lagi dari mereka. Terlebih lagi di fakultasku anak jalur mandiri semua, yang tiap pergi ngampus ngendarain mobil. Ya jadi aku dalam penampilan harus lebih waaw dari mereka dengan menutupi kekuranganku yg gak ada kendaraan hehehe..”

9. A.S “Penampilan itu no satu beb, karna mempengaruhi rasa kepercayaan diri, karna menurut aku klo aku, berpenampilan menarik, staylist, rapi, orang pasti banyak yang mau berkawan samaku,

10. M.A Penampilan itu penting banget, mending gak makan dari pada ketinggalan gaya gitu, masalahnya sekarang kita dituntut untuk lebih fashionable, di asrama aja aku tiap hari slalu make Bulu mata, heheh,, daster ala korea ku

92 Jawaban yang di sampaikan informan di atas menunjukkan bahwa dalam menampilkan fashion merupakan pesan artifaktual yang ditampakkan melalui penampilan tubuh yang dijadikan sebagai identitas diri dan menurut para informan penampilan merupakan hal yang terpenting, suatu keharusan yang didahulukan.

Pakaian akan tampak begitu orang saling berhadapan. Bahkan ketika keduanya belum saling menyapa sekalipun. Menurut Kefgan dan Touchie, “pakaian menyampaikan pesan, pakaian terlihat sebelum suara terdengar…pakaian selalu berhubungan dengan perilaku tertentu”. Begitu juga dengan para informan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dimana mereka menggangap orang menilai mereka dari penampilan fisiknya, terutama yang diperlihatkan dari bagaimana cara dia berbusana.

Dalam abad gaya hidup, penampilan adalah segalanya. Perhatian terhadap urusan penampilan sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam sejarah. Urusan penampilan atau presentasi diri ini sudah lama menjadi perbincangan sosiologi dan kritikus budaya. Erving Goffman, misalnya dalam The Presentation of Self Everyday Life (1959). Ia mengemukakan bahwa kehidupan sosial terutama terdiri dari penampilan teatrikal yang diritualkan, yang kemudian lebih dikenal dengan pendekatan dramaturgi (dramatugical approach). Manusia seolah-olah sedang bertindak di atas sebuah panggung. Bagi Goffman, berbagai penggunaan ruang, barang-barang, bahasa tubuh, ritual interaksi sosial tampil untuk memfasilitasi kehidupan sosial sehari-hari (Ritzer, 2005). Dalam abad gaya hidup, penampilan koleksi, apalagi klo kluar ya kan, lebih okelah lagi lah.”

93 diri itu justru mengalami estetisasi, “estetisasi kehidupan sehari-hari”, bahkan tubuh/diri (body/self) pun justru mengalami.

4.7 Tabel Cara mahasiswi/Aktor Membentuk Kesan Dari Penggunaan Atribut, Simbol, Sikap, Antusiasme Terhadap Gaya Hidup dalam Hal Pemenuhan Kebutuhan Hiburan.

NO Cara Membentuk Kesan Kesan yang Hendak di Capai/diharapkan 1. Memamerkan simbol/atribut yang dibawa.

Memamerkan simbol/atribut disini adalah melihat-lihatkan atribut yang mereka bawa kepada teman-teman yang lain.

3. Tukar-menukar barang atau busana seperti tas dan assesories pemanfaatan teknologi tinggi sebagai cara pembuktian kepada khalayak umum terhadap kepemilikan teknologi canggih lainnya. Dalam penelitian ini sama hanlnya dengan interaksi antara aktor dengan penonton. Sehingga penonton akan mudah memberikan kesan.

Gaya hidup Shopping/ngemall, nongkrong dikafe hangout, yang dilakukan secara berulang ulang dua sampai tiga kali dalam seminggu dengan memposting setiap kegiatan atau aktivitas mahsiswi penerima beasiswa BMI. Dengan cara tersebut teman-temannya akan mengetahui bahwa dia juga memiliki

Cara mahasiswi penerima beasiswa BMI/ aktor membentuk kesan Sebuah produk mampu “Memberi Tahu” orang lain tentang pemiliknya. Orang lain dalam

94 hal ini sebagai penonton akan dengan mudah melihat apa yang dimiliki atau dikonsumsi sebagai sebuah penilaian terhadap seseorang. Sebuah kontinuitas dalam berpakaian sehari-hari yang membentuk kesan serta pemanfaatan layanan teknologi tinggi dan dipakai bukan semata-mata sebagai kebutuhan komunikasi praktis tetapi juga bisa menyampaikan pesan tentang citra diri pemiliknya. Kesan gaul, modern, fun, serta sikap antusiasme yang ditunjukkan dalam hal pemenuhan kebutuhan hiburan.

Setiap orang/aktor cenderung memiliki cara sendiri-sendiri dalam membentuk kesan agar bisa diterima oleh orang lain /penonton. Meskipun dalam membentuk kesan tersebut seseorang harus menyembunyikan sesuatu dalam perbuatan mereka. Salah satunya khususnya mahasiswi penerima beasiswa BMI adalah aktor merasa perlu menyembunyikan dari audiens bahwa aktivitas gaya hidup yang mereka jalani merupakan gaya hidup konsumtif yang mengarah kepada gaya hidup yang tidak produktif, apabila dalam memenuhi gaya hidup konsumtif yang terpaksa demi untuk mendapatkan pengakuan citra dirinya dan dihargai oleh orang lain/penonton.

4.6. Bentuk Panggung Belakang (Back Stage) Lingkungan Pergaulan