HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Income Over Feed Cost
Income over feed cost adalah selisih antara pendapatan dengan total biaya ransum yang dikeluarkan sehingga diperoleh rataan nilai IOFC seperti pada Tabel 18.
Tabel 18. Income over feed cost selama penelitian (Rp)
Ulangan Perlakuan 1 2 3 4 5 6 Total Rataan P1 483.232 458.755 234.620 18.775 223.338 775.872 2.194.592 365.765,3 P2 197.879 114.135 339.213 554.227 776.848 221.651 2.203.953 367.325,5 P3 336.679 169.230 341.618 300.141 239.284 162.787 1.549.739 258.289,8 Total 1.017.790 742.120 915.451 873.143 1.239.470 1.160.310 5.948.284 991.380,7 Rataan 339.263,3 247.373 305.150,3 291.047 413.156,7 386.770 1.982.761 330.460,2
Pembahasan
Total biaya produksi
Untuk melihat pengaruh pemberian dari ketiga perlakuan tersebut terhadap total biaya produksi pemeliharaan sapi jantan selama 3 bulan penelitian dilakukan analisis keragaman seperti terlihat pada Tabel 19.
Tabel 19. . Daftar sidik ragam total biaya produksi selama penelitian
SK DB JK KT F hitung F0.05 F0.01 Perlakuan 2 249.393.763.730,8 124.696.881.865, 4 0,3tn 3,6 6 6,36 Galat 15 6.552.310.488.623,7 436.820.699.241, 6 Total 17
Keterangan : tn = tidak nyata kk = 14,20 %
Hasil analisis keragaman pada Tabel 19 menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti pemberian ransum berbasis pelepah daun sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi Phanerochaete chrysosporium memberikan pengaruh tidak nyata terhadap total biaya produksi.
Dari tabel 12 dapat kita lihat adanya perbedaan biaya produksi pemeliharaan selama penelitian menunjukkan perbedaan, namun perbedaan itu sangat kecil, dimana rataan biaya produksi tertinggi pada perlakuan P2 sebesar Rp 4.774.296,8 selama penelitian dan terendah terdapat pada perlakuan P3 4.494.039,5 selama penelitian. Secara matematik berbeda, disebabkan karena perbedaan harga bakalan yang berbeda untuk setiap perlakuan demikian juga harga ransum perkilogramnya setiap perlakuan. Hal ini didukung Nuraini (2003) yang menyatakan bahwa biaya produksi tidak dapat dipisahkan dari proses produksi sebab biaya produksi merupakan masukan atau input dikalikan dengan harganya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ongkos produksi adalah semua
pengeluaran atau semua beban yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk menghasilkan suatu jenis barang atau jasa yang siap untuk dipakai konsumen.
Total Hasil Produksi
Untuk melihat pengaruh pemberian ransum dari ketiga perlakuan terhadap total hasil produksi pemeliharaan sapi selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman seperti pada Tabel 20.
Tabel 20. Daftar sidik ragam total hasil produksi
SK DB JK KT F hitung F0.05 F0.01 Perlakuan 2 177.777.777,8 195.088.888.888, 9 0,4tn 3,66 6,36 Galat 15 8.210.200.000.000 547.346.666.666, 7 Total 17
Keterangan : tn = tidak nyata kk =15,34%
Hasil analisis keragaman pada Tabel 20 menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti bahwa pemberian ransum berbasis pelepah
daun sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi Phanerochaete chrysosporium memberikan pengaruh tidak nyata terhadap total
hasil produksi.
Pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa rataan hasil produksi menunjukkan perbedaan yang sangat kecil atau hampir sama. Hal ini terjadi karena pertambahan bobot badan sapi tidak menunjukkkan perbedaan yang nyata pula, sehingga harga jual sapi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hal ini didukung oleh Napitupulu dan Prawitra (1990) yang menyatakan bahwa pendapatan adalah penciptaan barang-barang yang efektif sesuatu periode yang berkaitan dengan penerimaan penilaian kuantitas menghasilkan penerimaan penjualan.
Analisis Laba Rugi
Untuk melihat pengaruh pemberian ransum dari ketiga perlakuan terhadap laba rugi pemeliharaan sapi selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman seperti pada Tabel 21.
Tabel 21. Daftar sidik ragam laba rugi
SK DB JK KT F hitung F0.05 F0.01 Perlakuan 2 8.968.5713.406,3 44.842.856.703, 2 1.2tn 3,66 6,36 Galat 15 561.740.804.551,7 37.449.386.970, 1 Total 17
Keterangan : tn = tidak nyata
Analisis keragaman uji ransum berbasis pelepah daun sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi Phanerochaete chrysosporium menunjukkan pengaruh tidak nyata. Dari Tabel 14 dapat kita lihat bahwa rataan laba rugi menunjukkan perbedaan yang tidak nyata, rataan tertinggi terdapat pada perlakuan P2 sebesar Rp 282.948,5 selama penelitian dan rataan terkecil terdapat pada perlakuan P3 sebesar Rp 119.293,8 selama penelitian. Hal ini terjadi karena selisih setiap total biaya produksi dengan total hasil produksi adalah rendah dan hampir sama pada setiap perlakuan. Hal ini didukung oleh Sodiq dan Abidin (2002) yang menyatakan pencatatan biaya mutlak dilakukan, tujuannya agar peternak atau pengusaha dapat mengadakan evaluasi terhadap bidang usahanya, sehingga potensi kejadian tidak diinginkan seperti terjadinya kerugian besar bisa dilakukan, selain itu mengenai efisiensi usaha bisa terus dilakukan sehingga usaha bisa berjalan lebih efisien dari waktu ke waktu.
B/C Ratio
Untuk melihat pengaruh uji ransum dari ketiga perlakuan terhadap B/C ratio pemeliharaan sapi selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman seperti pada Tabel 22.
Tabel 22. Daftar sidik ragam B/C Ratio
SK DB JK KT F hitung F0.05 F0.01
Perlakuan 2 0,00154 0,00077 0,258tn 3,66 6,36
Galat 15 0,04495 0,00300
Total 17
Keterangan : tn = tidak nyata kk = 5,31%
Hasil analisis keragaman pada Tabel 22 menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti uji ransum berbasis pelepah daun sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi Phanerochaete chrysosporium memberikan pengaruh tidak nyata terhadap B/C ratio.
Pada Tabel 15 dapat kita lihat bahwa rataan B/C ratio menunjukkan perbedaan yang tidak nyata, dimana B/C ratio tertinggi terdapat pada P1 sebesar 1,04 diikuti P2 sebesar 1,03 dan ratan terendah terdapat pada P3 sebesar 1,02. Hal ini terjadi karena perbandingan antara hasil produksi yang tidak berpengaruh nyata dengan biaya produksi yang tidak berpengaruh nyata juga. Hal ini didukung oleh karo-karo et al.,(1995) yang menyatakan bahwa efisiensi usaha tani ditentukan dengan menggunakan konsep BCR (benefit cost ratio) yaitu imbangan antara total penghasilan (out put) dengan total biaya (input). Nilai BCR >1 menyatakan usaha tersebut menguntungkan. Semakin besar nilai BCR maka usaha dinyatakan semakin efisien.
BEP Harga Produksi
Untuk melihat pengaruh uji ransum dari ketiga perlakuan terhadap BEP harga produksi pemeliharaan sapi selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman seperti pada Tabel 23.
Tabel 23. Daftar sidik ragam BEP harga produksi
SK DB JK KT F hitung F0.05 F0.01
Perlakuan 2 355.555,1 177.777,6 0,159tn 3,66 6,36
Galat 15 16.824.200,5 1.121.613,4
Total 17
Keterangan : tn = tidak nyata kk = 3,28 %
Hasil analisis keragaman pada Tabel 23 menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti uji ransum berbasis pelepah daun sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi Phanerochaete chrysosporium memberikan pengaruh tidak nyata terhadap BEP harga produksi. Hal ini terjadi karena rataan total biaya produksi menunjukka perbedaan yang tidak nyata dan pertambahan bobot badan yang tidak nyata, sehingga dengan demikian menunjukkan perbedaan yang tidak nyata.
Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa titik modal/titik impas akan tercapai jika harga bobot hidup P1 sebesar Rp 19.162,2, P2 sebesar Rp 19.452,2 dan P3 sebesar Rp 19.467,8, agar modal/biaya yang dikeluarkan kembali. Hal ini sesuai dengan pendapat Rony (1990) yang menyatakan bahwa titik impas adalah sarana untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan atau kerugian. Titik impas bermanfaat dalam memproyeksi penjualan yang diingini dalam rangka merealisir proyeksi laba atau mengkalkulasi kerugian seminimal mungkin.
BEP Volume Produksi
Untuk melihat pengaruh uji ransum dari ketiga perlakuan terhadap BEP volume produksi pemeliharaan sapi selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman seperti pada Tabel 24.
Tabel 24. Daftar sidik ragam BEP volume produksi
SK DB JK KT F hitung F0.05 F0.01
Perlakuan 2 640,1 320,05 0,293tn 3,66 6,36
Galat 15 1.640,7 1.093,44
Total 17
Keterangan : tn = tidak nyata kk = 14,26%
Hasil analisis keragaman pada Tabel 24 menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti uji ransum berbasis pelepah daun sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi Phanerochaete chrysosporium memberikan pengaruh tidak nyata terhadap BEP volume produksi.
Break even point volume produksi memberikan gambaran tentang total produksi yang harus dicapai dalam usaha dengan harga sapi yang telah ditentukan agar modal/biaya yang dikeluarkan dapat kembali. Dari Tabel 17 dapat kita lihat bahwa titik modal akan tercapai jika berat sapi yang dihasilkan untuk P1 sebesar 234,2 kg selama penelitian, P2 sebesar 238,2 kg selama penelitian dan P3 sebesar
224 kg selama penelitian. Hal ini didukung oleh pendapat Napitupulu dan Pawitra (1990) yang mengatakan bahwa BEP dimaksudkan untuk
menentukan penjualan atau penerimaan, dimana biaya total dapat ditutup atau bahkan memperoleh suatu laba minimum
Income Over Feed Cost
Untuk melihat pengaruh uji ransum dari ketiga perlakuan terhadap income over cost pemeliharaan sapi selama penelitian, maka dilakukan analisis keragaman seperti pada Tabel 25.
Tabel 25. Daftar sidik ragam Income over feed cost (IOFC)
SK DB JK KT F hitung F0.05 F0.01 Perlakua n 2 4.688.438.765,5 23.442.193.825,72 0,504tn 3,66 6,36 Galat 15 698.243.307.809, 7 46.549.553.853,98 Total 17
Keterangan : tn = tidak nyata kk = 65,28 %
Hasil analisis keragaman pada Tabel 25 menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari Ftabel 0.05. Hal ini berarti uji ransum berbasis pelepah daun sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi Phanerochaete chrysosporium memberikan pengaruh tidak nyata terhadap IOFC. Hal ini dipengaruhi dari selisih pendapatan yang dihasilkan pertambahan bobot badan dikali harga jual dengan biaya ransum (total konsumsi dikali harga ransum) yang dikeluarkan selama penelitian, disamping itu juga karena biaya ransum yang tidak terlalu murah. Menurut Prawirokusumo (1990) income over feed cost dipengaruhi oleh besarnya pendapatan dan biaya pakan yang dikeluarkan selama berusaha.