KETERAMPILAN PENILAIAN STATUS GIZI
INDEKS ANTROPOMETRI
A. Trisep B. Bisep C. Subskapula
Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3
Gambar 1. Cara pengukuran skinfold
INDEKS ANTROPOMETRI
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Beberapa indeks telah diperkenalkan seperti pada hasil seminar antropometri 1975. Di Indonesia ukuran baku hasil pengukuran dalam negeri belum ada, maka untuk berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) digunakan baku HARVARD yang disesuaikan untuk Indonesia (100% baku Indonesia = 50 persentile baku Harvard) dan untuk lingkar lengan atas (LLA) digunakan baku WOLANSKI.
Berdasarkan ukuran baku tersebut, penggolongan status gizi menurut indeks antropometri adalah seperti tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Penggolongan keadaan gizi menurut Indeks Antropometri Status Gizi Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks
BB/U TB/U BB/TB LLA/U LLA/TB Gizi baik > 80% > 85% > 90% > 85% > 85% Gizi Kurang 61-80% 71-85% 81-90% 71-85% 76-85% Gizi buruk ≤ 60% ≤ 70% ≤ 80% ≤ 70% ≤ 75%
Sumber: Puslitbang Gizi. 1980. Pedoman Ringkas Cara Pengukuran Antropometri dan Penentuan Gizi. Bogor
Dalam pengukuran indeks antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan mempengaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Masih banyak diantara pakar yang berkecimpung dibidang gizi belum mengerti makna dari beberapa indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Perbedaan penggunaan indeks tersebut akan memberikan gambaran prevalensi status gizi yang berbeda. Sering muncul pertanyaan, kapan kita menggunakan indeks tersebut dan mana yang lebih sensitif. Oleh karena itu dibawah ini akan diuraikan tentang berbagai indeks antropometri.
Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena serangan penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil.
Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal, terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutritional status).
1. Kelebihan Indeks BB/U
Indeks BB/U mempunyai beberapa kelebihan antara lain:
- Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum - Baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis
- Berat badan dapat berfluktuasi
- Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil - Dapat mendeteksi kegemukan (over weight)
2. Kelemahan Indeks BB/U
Disamping mempunyai kelebihan, indeks BB/U juga mempunyai beberapa kekurangan, antara lain:
- Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat edema maupun asites.
- Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan tradisional, umur sering sulit ditaksir secara tepat karena pencatatan umur yang belum baik.
- Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak dibawah usia lima tahun - Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau gerakan
anak pada saat penimbangan
- Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat. Dalam hal ini orang tua tidak mau menimbang anaknya, karena di anggap sebagai barang dagangan, dan sebagainya.
Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama.
Berdasarkan karakteristik tersebut diatas, maka indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu. Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwa indeks TB/U di samping memberikan gambaran status gizi masa lampau, juga erat kaitannya dengan status sosial ekonomi.
1. Keuntungan Indeks TB/U
Keuntungan dari indeks TB/U, antara lain: - Baik untuk menilai status gizi masa lampau
2. Kelemahan Indeks TB/U
Adapun kelemahan indeks TB/U adalah:
- Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun
- Pengukuran relatif sulit dilakukan, karena anak harus berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk melakukannya
- Ketepatan umur sulit didapat
Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam keadaaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jelliffe pada tahun 1966 telah memperkenalkan indeks ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat kini(sekarang), Indeks BB/TB adalah merupakan indeks yang independen terhadap umur.
Berdasarkan sifat-sifat tersebut, indeks BB/TB mempunyai beberapa keuntungan dan kelemahan, seperti yang diuraikan di bawah ini.
1. Keuntungan indeks BB/TB
Adapun keuntungan indeks ini adalah: - Tidak memerlukan data umur
- Dapat membedakan proporsi tubuh (gemuk, normal dan kurus).
2. Kelemahan indeks BB/TB
Kelemahan indeks ini adalah :
- Tidak dapat memberikan gambaran, apakah anak tersebut pendek, cukup tinggi badan, atau kelebihan tinggi badan menurut umurnya, karena faktor umur tidak dipertimbangkan.
- Dalam praktek sering mengalami kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang/tinggi badan pada kelompok balita.
- Membutuhkan dua macam alat ukur - Pengukuran relatif lebih lama
- Membutuhkan dua orang untuk melakukannya
- Sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran, terutama bila dilakukan oleh kelompok non-profesional.
Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)
Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan jaringan lemak bwah kulit. Lingkar lengan atas berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB. Lingkar lengan atas merupakan parameter antropmetri yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh tenaga yang bukan profesional. Kader Posyandu dapat melakukan pengukuran ini.
Lingkar lengan atas sebagaimana dengan berat badan merupakan parameter yang labil, dapat berubah-ubah dengan cepat. Oleh karena itu, lingkar lengan atas merupakan indeks status gizi saat ini. Perkembangan lingkar lengan atas yang besarnya hanya terlihat pada tahun pertama kehidupan (5,4 cm), sedangkan pada umur 2 tahun sampai 5 tahun sangat kecil yaitu kurang lebih 1,5 cm per tahun dan kurang sensitif untuk usia lanjutnya (Jeffille, 1966).
Indeks lingkar lengan atas sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak. Pada usia 2 sampai 5 tahun perubahannya tidak nampak secara nyata, oleh karena itu lingkar lengan atas banyak digunakan untuk tujuan screening individu, tetapi dapat juga digunakan untuk pengukuran status gizi.
Penggunaan lingkar lengan atas sebagai indikator status gizi, disamping digunakan secara tunggal, juga dalam bentuk kombinasi dengan parameter lainnya LLA/U dan LLA menurut tinggi badan yang sering disebut Quick Stick.
1. Keuntungan indeks LLA/U
Ada beberapa keuntungan indeks LLA/U, yaitu: - Indikator yang baik untuk mengukur KEP berat
- Alat ukur murah, sangat ringan, dan dapat dibuat sendiri
- Alat dapat diberi kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi, sehingga dapat digunakan oleh yang tidak dapat membaca dan menulis.
2. Kelemahan indeks LLA/U
Adapun kelemahan indeks LLA/U adalah:
- Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat - Sulit untuk menentukan ambang batas
- Sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak terutama anak usia 2 sampai 5 tahun yang perubahannya tidak nampak nyata.
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkeseinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal.
Di Indonesia khususnya, cara pemantauan dan batasan berat badan normal orang dewasa belum jelas mengacu pada patokan tertentu. Sejak tahun 1958 digunakan cara perhitungan berat badan normal berdasarkan rumus:
Ketentuan ini berlaku umum laki-laki dan perempuan.
Berat badan yang berada di bawah batas minimum dinyatakan sebagai under weight atau ”kekurusan”, dan berat badan yang berada di atas maksimum dinyatakan ”over weight” atau kegemukan. Orang-orang yang berada di bawah ukuran berat normal mempunyai risiko terhadap penyakit infeksi, sementara berada di atas ukuran normal mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit degeneratif.
Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai body mass index (BMI). Di Indonesia istilah body mass index diterjemahkan menjadi Indeks Masa Tubuh (IMT). IMT merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasanya khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang.
Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18 tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Disamping itu pula IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti ada edema, asites dan hepatomegali.
Berat badan normal = (Tinggi badan - 100) - 10% (tinggi badan - 100) Atau
0,9 x (tinggi badan - 100) Dengan batasan:
Nilai minimum: 0,8 x (tinggi badan - 100 ) dan Nilai maksimum : 1 1,1 x (tinggi badan - 100 )
Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berkut:
Berat badan (kg) IMT =
Tinggi badan (m) x tinggi badan (m)
atau
Berat badan (dalam kilogram) dibagi kuadrat tinggi badan (dalam meter)
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang membedakan ambang batas untuk laki-laki dan perempuan. Batas ambang normal laki-laki adalah 20,1 - 25,0 dan untuk perempuan adalah 18,7-23,8. Untuk kepentingan pemantauan tingkat defisiensi energi dan tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas perempuan untuk kategori gemuk tingkat berat.
Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang. Akhirnya diambil kesimpulan ambang batas IMT untuk Indonesia adalah seperti Tabel 2.
Cara menghitung IMT
1. Eva dengan tinggi badan 147 cm dengan berat badan 39 Kg. 39 39
IMT Eva = = = 18,05 (1,47) x (1,47) 2,16
Tabel 2. Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia
Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0 Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 - 18,5
Normal >18,5 - 25,0
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan > 25,0 - 27,0 Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0
Sumber: Depkes, 1994. Pedoman Praktis Pemantauan Status Gizi Orang Dewasa, Jakarta.hlm. 4
Dalam hal ini Eva termasuk kategori kekurangan berat badan atau Kurang Energi Kronis (KEK) ringan. Oleh karena itu, Eva harus menaikkan berat badannya sehingga mencapai 40 Kg sampai dengan 54 Kg.
2. Dwita dengan berat badan 72 Kg dan tinggi 160 cm. 72 72
IMT Dwita = = = 28,12 (1,6)x(1,6) 2,56
Dalam hal ini Dwita termasuk/kelebihan berat badan tingkat berat. Oleh karena itu, Dwita harus dapat menurunkan berat badannya agar mencapai 48 kg sampai dengan 64 kg.
Berat badan normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keuntungan apabila berat badan normal adalah penampilan baik, lincah dan risiko sakit rendah. Berat badan yang kurang dan berlebihan akan
menimbulkann risiko terhadap berbagai macam penyakit. Kerugian dari keadaan berat badan kurang dan kelebihan dapat dilihat pada Tabel 3.
Suyono S dan Samsuridjal DJ. Pada Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1993 mengungkapkan tingkat risiko berbagai kategori dari IMT. Risiko penyakit jantung dengan kelompok IMT dapat dilihat pada Tabel 3-5.
Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian lengan atas (triceps dan biceps), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), ditengah garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), suprailiaka, paha, tempurung lutut (suprapatellar), dan pertengahan tungkai bawah (medical calf).
Lemak tubuh dapat diukur secara absolut dinyatakan dalam Kilogram maupun secara relatif dinyatakan dalam persen terhadap berat tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi tergantung jenis kelamin dan umur. Umumnya lemak bawah kulit untuk pria 3,1 Kg dan wanita 5,1 Kg.
Rasio Lingkar Pinggang dengan Pinggul
Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme termasuk daya tahan terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibandingkan dengan banyaknya lemak bawah kulit atau pada kaki dan tangan. Perubahan metabolisme ini memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh. Untuk melihat hal tersebut, ukuran yang telah umum digunakan adalah rasio pinggang dengan pinggul.
Pengukuran lingkar pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan posisi pengukuran harus tepat. Perbedaan posisi pengukuran akan memberikan hasil hasil yang berbeda. Seidell, dkk (1987) memberikan petunjuk bahwa rasio lingkaran pinggang dan pinggul untuk perempuan adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki.
Pada studi prospektif menunjukkan bahwa rasio pinggang dan pinggul berhubungan erat dengan penyakit kardiovaskuler. Rata-rata rasio lingkar pinggang dan pinggul penderita penyakit kardiovaskuler dengan orang yang sehat adalah 0,938 dan 0,925.