• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Indeks Equitabilitas/Keseragaman (E)

4.5 Indeks Diversitas/Keanekaragaman (H”) dan Indeks Equitabilitas/

Keseragaman (E) Serangga Pada Lahan Pertanian Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) di Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara.

Perhitungan analisis data dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil analisis data didapatkan nilai indeks diversitas /keanekaragaman (H’) dan nilai indeks Equitabilitas/ Keseragaman (E) serangga seperti terlihat pada Tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5 Nilai indeks diversitas /keanekaragaman (H’) dan nilai indeks Equitabilitas/ Keseragaman (E’) pada Lahan Pertanian Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) di Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara.

Plot Nilai Indek

H’ E

CPP 3,136 0,548

CTP 3,278 0,511

CP 1,667 0,631

Keterangan: CPP = Cabai, Padi dan pestisida CTP = Cabai Tanpa Pestisida CP = Cabai, Pestisida

Hasil analisis nilai keanekaragaman dapat dilihat bahwa, nilai indeks keanekaragaman (H’) serangga tertinggi terdapat pada plot CTP dengan nilai indeks keanekaragaman 3,278. Nilai indeks keanekaragaman (H’) terendah terdapat pada plot CP yaitu 1,667. Nilai indeks keseragaman (E) serangga tertinggi terdapat pada plot CP yaitu 0,631 sedangkan nilai indeks keseragaman (E) terendah yaitu pada plot CTP yaitu 0,511. Hal ini sesuai dengan kriteria Indeks keanekaragaman menurut Pradana et al., (2014) menyatakan bahwa katagori tingkat keanekaragaman serangga apabila indeks keanekaragaman (H’) lebih kecil dari 1,00 maka keanekaragaman tergolong rendah, maka kondisi lingkungan kurang baik. Sedangkan jika indeks keanekaragaman (H’) 1,00-3,00 maka keanekaragaman sedang, dan juka indeks

keanekaragaman (H’)>3 maka keanekaragaman tinggi maka kondisi lingkungan baik.

Tabel 4.5 Memperlihatkan bahwa nilai indeks keanekaragaman (H’) pada plot CTP lebih tinggi dibandingkan dengan plot CPP hal ini dikarenakan perlakuan yang digunakan pada penelitian ini berbeda. Dimana pada plot CPP tanaman cabai letaknya berdekatan dengan tanaman padi dan masih menggunakan pestisida, sedangkan pada plot CTP tanaman cabai tanpa menggunakan pestisida. Sehingga penggunaan pestisida akan berpengaruh terhadap keanekaragaman seranngga.

Menurut Sari et al., (2017), bahwa keragaman jenis serangga suatu areal juga dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu pemberian pestisida kimia yang intensif oleh petani sehingga kondisi ini tentu akan mempengaruhi keanekaragaman serangga herbivora yang hidup didalamnya. Sedangkan pada plot CPP bila dibandingkan dengan plot CP perbedaan tingkat keanekaragaman serangga terlihat sangat nyata bahwa pada plot CPP indeks keanekaragaman sangat tinggi dan plot CP indeks keaneragaman terendah, walaupun pada plot CPP dan plot CP sama sama masih menggunakan pestisida dikarenakan pada plot CP lokasi lingkungan cendrung monocultur yaitu tidak terdapat vegetasi lain selain tanaman cabai sehingga serangga yang ditemukan tidak beragam. Menurut Putra (1994), bahwa serangga dapat ditemukan dari semua jenis ekosistem. Semakin banyak tempat dan berbagai jenis ekosistem maka terdapat pula jenis serangga yang beragam.

Jenis tanaman yang ada dalam suatu areal juga menentukan tingkat kehadiran serangga dan perkembangan serangga. Selain itu sangat memungkinkan terjadinya perpindahan tingkat perkembangan serangga dari satu areal ke areal yang lainnya, karena jenis tanaman lainnya akan menyediakan sumber makanan sehingga siklus hidup serangga tetap berlangsung karena didukung oleh kondisi lingkungan yang berbeda. Menurut Rizali et al., (2002), bahwa populasi setiap organisme pada suatu ekosistem tidak pernah sama dari waktu ke waktu, tetapi akan naik turun. Demikian pula ekosistem yang terbentuk dari lingkungan fisiknya senantiasa berubah dan bertumbuh sepanjang waktu. Ditambah lagi dengan pendapat Oka (1995), bahwa tingkat keanekaragaman pertanaman mempengaruhi timbulnya masalah hama.

Tabel 4.4 Memperlihatkan bahwa nilai indeks keseragaman pada area penelitian ini tergolong tinggi dikarenakan nilai yang didapatkan mendekati 1.

Menurut Krebs (1985), nilai keseragaman (E) berkisar antara 0-1. Menurut Odum (1996), nilai E mendekati 0 maka keseragaman semakin rendah dan jika nilai E mendekati 1 maka keseragaman semakin tinggi. Nilai indeks keseragaman pada masing-masing plot tergolong tinggi karena hanya terdiri dari 1 katagori. Hal ini cendrung menunjukkan komunitas dari suatu ekosistem stabil. Menurut pendapat Amin (2008), Indeks keseragaman yang mendekati 0 menunjukkan komunitas nya tidak stabil sedangkan jika nilai keseragaman mendekati 1 maka komunitas dalam keadaan suatu lahan tersebut stabil, jumlah individu antar spesies sama.

Nilai indeks keseragaman dari tanaman cabai ini tergolong mirip karena jumlah individu masing-masing spesiesnya tidak terlalu jauh. Secara ekologi tidak ada spesies yang dominan dan secara ekosistem belum stabil. Hal ini menunjukkan bahwa serangga yang ada pada area penelitian ini keberadaan serangga belum didukung dengan lingkungan yang sesuai. Secara ekologi keanekaragaman dan keseragaman serangga yang ditemukan pada lokasi penelitian ini disebabkan karena factor abiotik dan biotik. Dimana faktor biotik dipengaruhi oleh jenis vegetasi yang tumbuh dan ketersediaan sumber makanan. Adapun jenis vegetasi lain selain tanaman cabai di lokasi penelitian ini terdapat pula tanaman padi yang berada bersebelahan dengan tanaman cabai. Setiap jenis tumbuhan memiliki kriteria yang berbeda terhadap daya dukung untuk keberlangsungan hidup bagi serangga. Dimana jika sumber pakan tersedia dalam jumlah banyak maka populasi serangga akan meningkat sebaliknya jika jumlah pakan sedikit maka populasi serangga akan menurun. Pernyataan tersebut diperukuat oleh Normasari (2012), bahwa faktor yang mempengaruhi terhadap keragaman dan keseragaman adalah keberadaan sumber pakan. Dimana sumber pakan yang melimpah akan menjadi tempat hidup dan mencari pakan bagi berbagai spesies sehingga kelimpahan jenisnya lebih tinggi dibandingkan daerah sumber pakannya kurang

Kehidupan serangga sangat bergantung dengan habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis serangga disuatu area sangat ditentukan oleh keadaan area tersebut. Keberadaan dan populasi suatu jenis serangga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti faktor biotik dan abiotik seperti suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Nilai faktor fisik pada lokasi penelitian dapat dilihat pada lampiran 3. Berdasarkan pengukuran pada lokasi penelitian, suhu

pada lokasi adalah 280C yang termasuk kedalam suhu optimum sehingga serangga masih bisa berkembang. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Handayani (2015), bahwa serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana serangga dapat hidup, dan sebaliknya serangga akan mati jika melewati kisaran toleran tersebut dimana pada umumnya kisaran suhu mininimum 150C, suhu optimum 250C, suhu maksimum 450C.

Kelembaban udara juga sangat mempengaruhi kehidupan serangga baik secara langsung atau tidak langsung untuk melakukan proses fisiologis dalam tubuh.

Serangga juga akan membutuhkan air dari habitatnya dan sebaliknya serangga akan mengeluarkan air dari tubuhnya melalui proses eksresi. Berdasarkan pengukuran pada lokasi penelitian, kelembaban udara adalah 95% sehingga dapat menjadi pendukung kehidupan bagi serangga. Pernyataan tersebut dapat diperkuat oleh Sodiq (1993), bahwa Pada umunya serangga sangat rentan kekeringan dalam proses ovivosisi dan kemunculan imago juga dipengaruhi oleh kelembaban tanah yang optimal nagi kehidupan pupa adalah antara 80-90%. Namun apabila kelembaban melewati kisaran yang toleran maka serangga akan melangsungkan kehidupan dengan lambat. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Nainggolan (2001), bahwa fluktuasi kelembaban berperan sangat besar dalam mengatur aktivitas organisme dan sering menjadi factor pembatas terhadap dinamika populasi dan penyebaran serangga. Selain itu factor fisik intensitas cahaya juga berperan bagi kehidupan serangga karena serangga memiliki sifat ketertarikan terhadap cahaya. Pernyataan tersebut diperkuat oleh bahwa serangga juga tertarik pada gelombang cahaya tertentu. Serangga ada yang menerima intensitas cahaya yang tinggi dan aktif pada siang hari (diurnal) dan serangga ada yang aktif menerima intensitas cahaya rendah pada malam hari (nokturnal).

5.1 Kesimpulan

Hasil penelitian keanekaragaman serangga pada lahan pertanian tanaman cabai (Capsicum annum L.) di Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Serangga pada lahan pertanian tanaman cabai (Capsicum annum L.) di Desa Gambus Laut, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara terdiri atas tujuh ordo, 20 famili dan 29 spesies. Plot CPP terdiri dari 25 spesies, CTP terdiri atas 29 spesies, dan CP terdiri dari 16 spesies.

b. Serangga pada lahan pertanian tanaman cabai (Capsicum annum L.) berperan sebagai hama, predator, polinator.

c. Indeks keanekaragaman (H’) serangga tergolong tinggi pada plot CTP (3,278), dan rendah pada plot CP (1,667). Nilai Indeks keseragaman (E) serangga termasuk dalam kategori keseragaman tinggi dengan nilai tertinggi adalah (0,6316 ) yaitu pada plot CP.

d. Produksi tanaman cabai tertinggi yaitu pada plot tiga pada perlakuan pestisida CP yaitu tujuh ton. Produksi cabai paling terendah pada plot dua tanaman cabai tanpa perlakuan pestisida CTP yaitu tiga ton.

e. Kehadiran Serangga lebih banyak ditemukan pada tanaman cabai fase generatif yaitu mulai dari umur tanaman cabai berumur 5-9 minggu sebanyak 28 spesies 747 individu. Sedangkan pada fase vegetatif mulai dari umur 1-3 minggu setelah tanam spesies yang ditemukan sangat rendah yaitu 15 spesies sebanyak 265 individu.

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keanekaragaman serangga pada pertanaman cabai monokultur dan multikultur. Agar dapat diketahui apakah berpengaruh nyata terhadap keanekaragamannya serangga.

Andrian FR, Maretta G, 2017. Keanekaragaman Serangga Polinator Pada Bunga Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) dikecamatan Gisting Kabupaten tanggamus.Jurnal Tadris PendidikanVol 8(1):106-113.

Ashman TI. 2000, Pollinator selectivity and its implications for the evolution of dioecy and sexual dimorphisme.Ecology 81: 2577-2591.

Anonim, 1992. Khasanah Pengetahuan Serangga. Tira Pustaka:Jakarta

Amin M, Utojo, 2008. Komposisi dan Keragaman Jenis Plankton Di Perairan Teluk Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.Torani. 18(2): 129-135.

Andini M, 2015. Si Kutu Putih, Hama Kecil Berdampak Besar Pada Tanaman Pepaya.

Borror DJ, Triplehorn CA, dan Johnson NF.1996. Pengenalan Pelajaran Serangga.

Edisi keenam (Terjemahan). Gadjah Mada Universitas Press. Yogyakarta.

Balai Proteksi Tanaman Pangan Dan Hortikultura. 2017. Data Serangan Hama dan Penyakit. Provinsi Kalimantan Selatan.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.2014.Hama dan Penyakit Pda Tanaman Cabai Serta Pengendaliannya. (BPTP) Jambi.

Campbell RD, Bischoff M, Lord LM dan Robertson AW, 2010, Flower color Influences Insect Visitation In Alpine New Zealand. Ecology 91(9):2638-2649.

Cahyono BD, Ahmad H, Tolangara RA, 2017. Hama Pada Caba Merah Techno:

Jurnal Penelitian Vol 06(2):14-21.

Christian W, Gottsberger G, 2000. Diversity preys in Crop Pollination. Crop Science 40 (5) : 1209-1222

Dahana K dan Warisno, 2010. Peluang Usaha dan Budidaya.Copyright: Jakarta Fakhrah 2016.Inventarisasi insekta permukaan tanah di gampong krueng simpo kecamatan jail, kabuparten bruen. Jurnal pendidikan almuslim vol 1V(1).

Direktorat Jendral Perkebunan Kementrian Pertanian RI. 2016. Kutu Putih.

(http://sinta.ditjenbun.pertanian.go.id/kutu-putih/)

Endah, H. 2003. Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman. Agromedia Pustaka:

Jakarta.

Fakhrah 2016, IInventarisasi Insecta Permukaan Tanah Di Gampung Krueng Simpo Kecamatan Juli Kabupaten Bruen. Jurnal Pendidikan Almuslim IV(1).

FAO] Food and Agriculture Organization. 2008. Fisheries and Aquaculture Circular No. 1034: A Review On Culture, Production and Use of SpirulinaasFood For Humans and Feeds For Domestic Animals and Fish. Rome : ISBN 978-92-5-106106-0

Gerling D, Alomar O, & Arno J. 2001.Biological control Of Bemmisia tabacii using Predators and Parasitoids. Acarop Prot.20:779-799.

Hendrival. H, Hidayat.P. dan Nurmansyah, A (2015). Keanekaragaman dan Kelimpahan Musuh Alami Bemmisia tabaci (Gennadius) (Hemiptera:

Aleyrodidae). Pada Pertanaman Cabai merah di Kecamatan Pakem, Kabupaten Slamen, Daerah Istimewa Yogyakarta.Jurnal Entomology Indonesia. 8(2), 19 doi:10.5994/ja-8.2:96-109

Hadi M, UdiT, Rully R, 2009. Biologi insecta entomologi.Graha ilmu .yogyakarta.

Hadi M dan Aminah,2012. Keseragaman Serangga dan Peranannya di Ekosistem Sawah . Jurnal Sains dan Matematika 2(3):54-57.

Hanks, L,M, 1999, Influence Of The Larval Host Plant On Reproductive Strategies Of Cerambycid beetles. Annu Rev Entomol, Vol 44: 483-505.

Henuhili V, Aminatun T, 2013. Konservasi Musuh alami Sebagai Pengendali Hayati Hama Dengan Pengelolaan Ekosistem Sawah, Jurnal penelitian Saintek vol 18(2):29-39.

Hasyim A, Lukman L, 2015. Technological Innovation Of Sustainable Pest and Disease Managemant on Chili Peppers: An Alternative Effort To Estabilish Harmonious Ecosystems. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian. Vol 8(1):

1-10

Handayani L. 2015. Efektivitas Tiga Jenis Aktraktan Terhadap Lalat Buah (Diptera:

Tephritidae) Pada Tanaman Jeruk Pamelo dan Belimbing Di Kabupaten Magetan . (Skripsi)

Irsan C, Sosromarsono S, Buchori B, Triwidodo H. 1998. Kutu Daun (Homoptera:

Aphidoidea) yang Ditemukan Hidup pada Solanaceae di Jawa Barat. Bull. J.

Hama dan Penyakit Tumbuhan. Vol. 10(2):1-4.

Ikhsan Z, Hidrayani, Yaherwandi, Hamid H. 2018. Inventarisasi Serangga Pada Berbagai Jenis Vegetasi Lahan Bera Padi Pasang Surut Di Kabupaten Indra giri. Hilir Vol: VII(7): 129-139.

Imtiyaz H, Prasetio H, B. Hidayat N, 2017. Sistem Pendukung Keputusan Budaya Tanaman Cabai Berdasarkan Prediksi Curah Hujan. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer. Vol 1(9):733-738.

Klawden MJ, 2007. Physiologi System in Insects Second Edition. Academic Press, Burlingto.

Lanny L, 2012. Health Secret Of Pepper (Cabai). Elex Media Komputindo.Jakarta.

Lisdayani.2018. Pengelolaan Hama Kutu Kebul (Bemmisia tabacii Gen) Pada Pertanaman Cabai Merah (Capsicum annum L) Dengan Menggunakan Tanaman Refugia. {TESIS} Universitas Sumatera utara. Halaman 3-100.

Laba.I.W. 2010. Analisis Empiris Penggunaan Insectisida Menuju Pertanian Berkelanjutan Pengembangan Inovasi Pertanian vol 3(2) :120-137.

Maisyaroh W, 20141. Pemanfaatan Tumbuhan Liar Dalam Pengendalian Hayati, UB Press. Malang.

Nurfalach, 2010. Budidaya Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L)

[SKRIPSI].Agribisnis Minat Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sebelah Maret :Surakarta.

Natawigena ,H. 1990. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kehidupan Serangga Direktorat Perlindungan dan Tanaman. Jakarta 24 Halaman

Nawaningsih , A.A. Imdad, P.H. Wahyudi. A. 2003. Cabai Hot Beuty Penebar Swadaya. Jakarta. 84 halaman.

Nainggolan, D .2001.Aspek Ekologis Kultivar Buah Merah Panjang (Pandanus Conoideus Lamk) Di Daerah Dataran Rendah Manokwari. Jurusan Kehutanan Fkultas Pertanian Universitas Cendrawasih.

Normasari R. 2012 Keragaman Arhropoda Pada Lima Habitat Dengan Vegetasi Beragam . Jurnal Ilmiah Unklab Vol 16 (1) halaman 41-50

Meng, L.Z., Martin, K., Weigel, A, Yang, X.D, 2013. Tree Diversity mediates the Distribution of Longhorn beetles (Coleoptera: Distenidae and Carambidae) In

a Changing Tropical Landscape (Southern Yunnan, SW China) Plos One, Vol 8(9):1-10.

Ohsawa, M., 2010,Beetle families as indicators of coleopteran diversity in forests: a study using malaise traps in the central mountainous region of Japan. Insect Conserv. Vol 14:479-484.

Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga Penerjemah Ir. Tjahjono

Oka, I, N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indo UGM-Press: Yogyakarta

Oktavia DN, Moelyaningrum DA, Putri SR. 2015. Penggunaan Pestisida dan Kandungan Residu Pada Tanah dan Buah Semangka (Citrus vulgaris, Schard).Jurnal ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa. Hal 1-9

Putri PY, 2011. Identifikasi Serangga-serangga Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.)Di Desa Santosa Kecamatan Sukarami Kota Palembang. Sainmatika 8(1):43-48.

Putra, N.S. 1994. Serangga Di sekitar Kita. Kansius:Yogyakarta.

Pitojo S, 2003. Benih Cabai. Kansius:Yogyakarta.

Pedigo L P. 1991. Entomology and Pest Management. New York : Macmillan Publishing Company.

Pracaya 2005.Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pradana R.A.I. Mudjiono G, dan Karindah S (2014). Keanekaragaman Serangga dan Laba- laba Pada Pertanaman Padi Organik dan Konvensional. Jurnal HPT 2(2).ISSN:2338-4336

Prajnanta, F, 2011. Mengatasi Permasalahan Bertanam Cabai. Jakarta: Penebar swadaya.

Rostini N, Hermawati S, Artianingsih S, 2011. 6 jurusan Bertanam Cabai Bebas Hama Dan Penyakit. Penerbit PT agromedia Pustaka:Jakarta.

Raje, K.r., Moniem, H.E.M.A, Farlee L, Ferris, V.R, Holland, J.D, 2012. Abundance Of Pest and Benign Cerambycidae Both Increase With Decreasing Forest Productivity, Agriforest Entomol. Vol 14 : 165-169.

Swastika S, Pratama D, Hidayat T, Andri BK, 2017. Teknologi Budidaya Cabai Merah. Riau:UR Press. 25-27.

Suin NM, 2002.Metode Ekolog. Universitas Andala: Padang.

Swastika S, Pratama D, Hidayat T, Andi BK, 2017. Teknologi Budidaya Cabai Mwrah. Anggota IKAPI Unri Press ;Riau Indonesia.

Soesilohadi, RCH., H. Basuki, dan G.N. Susanto. 2007. Fluktuasi Populasi Kumbang Coccinelid (Coleoptera: Coccinelidae) Dan Kutu Daun, Myzus percicae Sulzer (Homoptera: Aphididae) Pada Pertanian Cabai di Ngipiksari, Kaliurang, Yogyakarta. Laporan Penelitian. Fakultas Biologi UGM.’

Sanjaya Y, Anna LH, Dibiyantoro, 2012. Keanekaragaman Serangga Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) Yang Diberi Pestisida Sintetis Versus Biopestisida Racun Laba-laba (Nephila sp.), Jurnal HPT Tropika 12(2):192-199.

Subyanto,Sulthoni A, 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kansius Yogyakarta.

Sianipar SM, Djaya L, Santoso E, Soesilahadi HR, 2015. Indeks Keragaman Serangga Hama Pada Tanaman Padi (Oryza sativa) Di lahan Persawahan Padi Dataran Tinggi, Desa Suka Wening, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Jurnal Biomassa 12(1):9-15.

Soesanty, F., IM Triswandi, 2011. Pengelolaan Serangga-Serangga yang berasosiasi dengan Tanaman Jambu Mete . Buletin 2(2):221-230.

Sari R, Dahelmi, Mairawita, 2016. Kupu-kupu Pengunjung Pada Bunga Semangka (Citrullus lanatus)(THUNB)Matsum dan Nakai Di Katapiang Ujung Dan Karambia Ampek, Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Bioconcetta 2:35-42.

Sari P, Syharibulan, Sjam S, Santosa S. 2017.Analisis Keragaman Jenis Serangga Herbivora Di Areal Persawahan Kelurahan Tamalanrea Kota Makasar. Jurnal biologi makassar vol 2(1):35-45

Sopialena 2018.Pengendalian Hayati dengan Memberdayajan Potensi Mikroba.

Universitas Press: Samarinda

Sudarajat 2009., Eksplorasi Musuh Alami Kutu Kebul (Bimmisia tabacii) Dijawa Barat (Pangalengan , Ciwidey, Tembang dan Krawang) Pada Tanaman Sayuran. Disertasi S3, Universitas Padjajaran, Bandung.

Saragih A, 2008. Indeks Keragaman Jenis Serangga Pada Tanaman Strobery (Fragaria sp)di Lapangan . Universitas Sumatera Utara. Medan (Skripsi).

Sudiono & Pumono 2010. Penggunaan Predator Unuk Mengendalikan Kutu Kebul (Bimmisia tabacii) Vektor penyakit Kuning Pada Tanaman Cabai Di Kabupaten Tanggamus. J, Hpt Tropika Vo; 10(2): 184-189.

Supono.2008. Analisis Diatom Epipelic Sebagai Indikator Kualitas Lingkungan Tambak Untuk Budidaya Udang Tesis. Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

Semarang.

Sodiq, M.1993. Aspek Biologi dan Sebaran Populasi Lalat Buah Pada Tanaman Mangga dalam Kaitannya dengan Pengembangan Model Pengendalian Hama Terpadu. Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga

Suwandi, N. 2009.Standart Operating procedure (SOP) Budidaya Cabai Merah Gunung Kidul. [Pdf] Dinas Pertanian Provinsi Yogyakarta. Tersedia di ,http;//distan.jogjaprov.go.id/images/stories/teknologi/holtikultura/sopcabeme rahgk.pdf.{Diakses 5 januari 2016}

Tjahjadi, Nur.1991. Bertanam Cabai. Penerbit Kansius: Yogyakarta.

Untung K, 2006, Pengantar pengelolaan Hama terpadu. Edisi ke dua. Yogyakarta:

gadjahmada University Press.

Veronica V, 2019. Identifikasi Serangga Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.) Di Kawasan Holtikultura Desa Sebah Balau Kecamatan Tanjung Bintang LampungSelatan{SKRIPSI}.UniversitasIslam Negeri Raden Intan Lampung.

Widhiono I, Sudiani E, 2015, Keragaman Serangga Penyerbuk dan Hubungannya dengan Warna Bunga Pada Tanaman Pertanian di Lereng Utara Gunung Slamet , Jawa Tengah. Biospecies Vol 8(2):43-50.

Winfree,William S NM, Caines H, Ascer JS Dan Kremen C. 2008. Wild bee Pollinators Provide The Majority Of Crop Visitation a Cross And Use Gradients In New Jersey. J. APP E col 45: 293-802.

Widaningsih D. 2014. Dampak Pemakaian Pestisida Pada Serangga Di Ekosistem Pertanian (Lahan Pertanian Sawah , Desa Telaga Sari Kecamatan Telaga sari Kabupaten Karawang, Jawa Barat) Perpustakaan Universitas Indonesia UI Tesis (Membership).

Weni, Y. Dahlelmi, dan Syamsuardi, 2013. Jenis-jenis Srangga Pengunjung Bunga Nerium Oleanden (Apocinaceae) Di kecamatan Pauh, Padang, Jurnal Biologi Universitas Andalas Vol 2(2):96-102.

Yetti I, Muna N, Yanti VN, Syukriah, 2016. Keanekaragaman Serangga Pada perdu Di Kawasan Rinon Pulo Breuh Kabupaten Aceh Besar: Seminar Nasional Biotik.

Yatno, Pasaru F, Wahid A, 2013. Keanekaragaman Arthropoda Pertanaman Kakao (Theobroma cacao L.) Di Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi. Jurnal Agrotekbis 1(5):421-428.

Yuanturi C MG, Widiarnako B, Sanoko RH 2013. Tingat Pengetahuan PETANI dalam Menggunakan Pestisida ( Studi Kasur di Desa Curut Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobongan) Prossidng Seminar Nasional Pengelolaan Sumber daya Alam dan Lingkungan halaman:142-146

Zakiyah N, Setiani O, Dewanti Y,A,N, 2017. Hubungan Paparan Pestisida Dengan Gangguan Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun Di Desa Girirejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 5(3): 402-409

Lampiran 1. Foto Areal Penelitian

Dokumen terkait