• Tidak ada hasil yang ditemukan

Posisi Pembangunan Manusia

4.6. INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

Perbandingan antar indikator/komponen-komponen merupakan suatu tinjauan parsial, artinya tingkat keberhasilan pembangunan baru diukur dari satu komponen saja dan merupakan ukuran posisi. Akan tetapi dengan adanya indikator tunggal IPM (Indeks Pembangunan Manusia) merupakan sebuah jawaban untuk menilai tingkat kinerja pembangunan manusia secara komprehensif dari tingkat pencapaian pembangunan manusia di daerah. Indikator ini juga secara mudah dapat memberikan posisi kinerja pembangunan (output pembangunan) yang dicapai oleh suatu daerah/wilayah. Makin tinggi nilai IPM suatu daerah, maka makin tinggi pula tingkat kinerja pembangunan yang telah dicapai di wilayah tersebut.

2004 2007

Gambar 4.6 Nilai Indeks Komponen IPM Kabupaten Belitung Timur 2004 dan 2009

Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Belitung Timur pada tahun 2004 sekitar 68,44 kemudian mengalami peningkatan menjadi 71,64 pada tahun 2009. Dengan posisi rangking IPM Kabupaten Belitung Timur pada tahun 2004 dan 2009 berada pada peringkat ke-4 dari 7 kabupaten/kota, atau peringkat pertama dari 4 kabupaten pemekaran se-Kepulauan Bangka Belitung.

Tabel 4.2. Nilai Indeks Komponen IPM

Tahun Indeks Harapan Hidup Indeks Pendidikan Indeks Paritas Daya

Beli IPM

Berdasarkan kriteria BPS, BAPPENAS, UNDP, 2001 nilai IPM kurang dari 50 digolongkan sebagai IPM rendah, nilai IPM antara (50 ≤ IPM < 66) digolongkan sebagai IPM menengah kebawah, nilai IPM antara (66 ≤ IPM < 80) digolongkan sebagai IPM menengah keatas dan nilai IPM lebih dari 80 digolongkan IPM tinggi. Dengan demikian sesuai dengan kriteria tersebut, IPM Kabupaten Belitung Timur tergolong IPM menengah keatas, baik IPM pada tahun 2004 maupun IPM pada tahun 2009, atau tergolong pada kategori menengah ke atas menurut skala internasional.

Jika diukur dengan menggunakan jarak yang ditempuh menuju nilai ideal, maka reduksi shortfall selama periode 2008-2009 di Kabupaten Belitung Timur menunjukkan jarak relatif semakin mendekat (kategori menengah) terhadap nilai ideal, nilai positif dengan reduksi tahun terakhir 2008 ke 2009 sebesar 1,59 persen. Sebuah capaian angka akselerasi signifikan selama setahun jika dibandingkan terhadap seluruh kabupaten/kota di Provinsi ini reduksi shortfall/laju pertumbuhan IPM ini merupakan yang tertinggi, bahkan terhadap angka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekali pun.

68,44 68,76

2004 2005 2006 2007 2008 2009

Gambar 4.7

Perkembangan IPM Kabupaten Belitung Timur 2004-2009

Seperti disebutkan pada Bab II mengenai reduksi shortfall, bahwa Laju perubahan nilai reduksi shortfall yang lebih besar menandakan peningkatan IPM yang lebih cepat. Pengukuran ini didasarkan pada asumsi bahwa laju perubahan tidak bersifat linier, tetapi laju perubahan cenderung melambat pada tingkat IPM yang lebih tinggi. Hal ini terlihat jelas dari gambar 4.7 bahwa reduksi shortfall IPM kabupaten Belitung Timur cenderung melambat sejak tahun 2007.

Tabel 4.3. Reduksi Shortfall IPM Kabupaten Belitung Timur

Periode Reduksi Shortfall

2004-2005 1,01

2005-2006 2,34

2006-2007 3,57

2007-2008 2,04

2008-2009 1,59

Gambar 4.8

IPM menurut Kabupaten/Kota tahun 2004-2009

Pangkal Pinang Belitung

Bangka Belitung Timur

Bangka Tengah Bangka Barat Bangka Selatan Kep. Bangka Belitung

2009 2004

Jika perubahan posisi IPM periode 2004-2009 dilihat pada gambar 4.1, dengan sumbu vertikal adalah IPM tahun 2004 dan sumbu horizontal adalah nilai IPM 2009. Dan pada gambar tersebut terdapat sumbu yang menggambarkan nilai IPM Propinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2004 dan 2009, yang membentuk empat kuadrant. Maka, kuadrant I adalah yang berada di sebelah kanan dan atas sumbu IPM Kep. Bangka Belitung pada posisi ini hanya ada Kota Pangkal Pinang dan Kabupaten Belitung, merupakan IPM yang cukup ideal (baik), baik pada tahun 2004 dan 2009 masih berada diatas IPM propinsi. Sebaliknya pada posisi nilai IPM yang perlu benar-benar diperhatikan berada pada kuadrant III, yaitu sebelah bawah sumbu IPM Kep. Bangka Belitung 2004 dan sebelah kiri IPM Kep. Bangka Belitung 2009, yang terdiri dari kelima kabupaten lainnya. Pada posisi ini dapat berarti selama 2004-2009 IPM kelima kabupaten masih berada dibawah IPM Kep. Bangka Belitung. Kuadrant II berada di sebelah atas IPM Kep. Bangka Belitung 2004 dan sebelah kiri IPM Kep. Bangka Belitung 2009. Akan tetapi perlu diperhatikan sekedar sebagai cacatan teknis bahwa periode setahun 2004-2009 mungkin waktu terlalu singkat untuk meningkatkan IPM menjadi sangat signifikan, tetapi hal ini dijelaskan sebagai salah satu cara membandingan posisi IPM secara keseluruhan.

Jika diukur dengan skala dari ke 7 kabupaten/kota se-Kep.

Bangka Belitung seluruh kabupaten telah termasuk kelas pembangunan manusia menengah atas. Sedangkan jika dibandingkan secara nasional Kabupaten Belitung Timur masih menempati peringkat ke 205 dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Bab 5

Penutup

5

Bab 5

Penutup

5.1. KESIMPULAN

a. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator komposit merupakan salah satu ukuran yang dapat mencerminkan kinerja pembangunan manusia di suatu wilayah terutama upaya pemberdayaan dan kualitas sumber daya manusia dan partisipasinya dalam pembangunan.

b. Selama kurun waktu 2004-2009 terjadi peningkatan kinerja pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Belitung Timur.

Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan IPM dari 68,44 pada tahun 2004 menjadi 71,64 pada tahun 2009.

c. IPM Kabupaten Belitung Timur pada tahun 2004 dan 2009 tetap menduduki peringkat ke-4 dari 7 kabupaten/kota se-Kepulauan Bangka Belitung atau peringkat 1 dari ke-4 kabupaten pemekaran. Baik pada tahun 2004 dan 2009 IPM Kabupaten Belitung Timur berdasarkan kriteria BPS, BAPPENAS, dan UNDP digolongkan IPM menengah keatas.

d. Indeks Harapan Hidup Kabupaten Belitung Timur terjadi peningkatan selama kurun waktu 2004-2009 dari 70,83 pada tahun 2004 menjadi 72,67 pada tahun 2009. Yang ditandai

dengan meningkatnya angka harapan Hidup dari 67,5 menuju ke 68,60 tahun kurun waktu 2004-2009.

e. Indeks pendidikan Kabupaten Belitung Timur terjadi peningkatan selama kurun waktu 2004-2009 dari 78,53 pada tahun 2004 menjadi 81,02 tahun 2009. Diikuti oleh kedua indikator pembentuknya Angka Melek Huruf dari 94,8 persen menjadi 96,63 dan Rata-rata lama sekolah dari 6,9 tahun menjadi 7,47 tahun kurun waktu 2004-2009.

f. Dan meningkatnya indeks paritas daya beli penduduk Kabupaten Belitung Timur dari 55,95 pada tahun 2004 menjadi 61,24 pada tahun 2009. Yang ditandai dengan meningkatnya daya beli dari 602.100 rupiah tahun 2004 menjadi 624.980 rupiah di tahun 2009.

Dokumen terkait