• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.4. Indeks status kesuburan

nilai TDS yang didapatkan yang dibandingkan dengan kedalaman rata-rata Danau Lido sebesar 9,71 m, maka didapatkan nilai MEI sebesar 14,80. Berdasarkan nilai MEI diketahui bahwa Danau Lido dapat menghasilkan produksi ikan sebesar 82,54 kg/ha/tahun.

4.1.4. Indeks status kesuburan

Tingkat kesuburan perairan Danau Lido dapat dihitung dengan menggunakan TSI dan TRIX dan Indeks Nygaard. TSI menggunakan tiga parameter yaitu kecerahan, fosfat total, dan klorofil-a. TRIX menggunakan empat parameter yaitu klorofil-a, nitrogen anorganik terlarut (DIN), fosfat total (P-PO4), dan oksigen saturasi. Tingkat kesuburan berdasarkan TSI, TRIX, dan Nygaard Danau Lido dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Indeks kesuburan Danau Lido Stasiun Indeks KJA non-KJA TSI 58,37 61,51 TRIX 4,62 5,38 Nygaard 8,5 8

Berdasarkan TSI, stasiun KJA dan non-KJA memiliki kesuburan eutrofik (Lampiran 9). Berdasarkan TRIX, stasiun KJA dan non-KJA memiliki tingkat kesuburan eutrof (Lampiran 10), dan berdasarkan indeks Nygaard juga menunjukkan bahwa stasiun KJA dan non-KJA memiliki tingkat kesuburan eutrof (Lampiran 11). Menurut Suryono et al. (2006) pada perairan yang memiliki tingkat kesuburan eutrof terjadi penurunan kecerahan, meningkatnya tanaman air, dan munculnya kondisi oksigen terlarut yang sangat rendah bahkan mencapai nol di daerah hipolimnion.

4.2. Pembahasan

Status kesuburan sebuah danau dapat dilihat dari morfometri danau, kualitas air, dan komposisi fitoplankton. Salah satu parameter morfometri, yaitu bentuk ketidakteraturan danau, dapat menunjukkan potensi produktivitas suatu perairan.

Bentuk ketidakteratutan danau ditunjukkan melalui nilai SDI. Menurut Cole (1983), nilai SDI lebih dari 2 (dua) menunjukkan bentuk danau yang tidak beraturan. Danau Lido memiliki nilai SDI sebesar 3,56, sehingga dikategorikan memiliki bentuk yang tidak beraturan. Bentuk yang tidak beraturan tersebut berpotensi dalam proses peningkatan nutrien. Menurut Cole (1983), tingkat kesuburan suatu perairan sangat berkaitan dengan semakin tidak beraturannya bentuk danau, karena semakin banyak bagian yang berteluk dan berhubungan dengan daratan, semakin besar kemungkinan masuknya nutrien dari daratan ke dalam perairan tersebut. Bentuk yang tidak beraturan akan memperbesar garis tepi yang berhubungan dengan daratan. Hal tersebut dapat menambah masukan pada Danau Lido yang berasal dari aktivitas di

catchment area sehingga meyebabkan potensi produktivitas yang tinggi.

Aktivitas di sekitar ataupun di dalam danau yang dapat menyebabkan meningkatnya beban masukan ke perairan Danau Lido adalah pertanian, hotel, dan pariwisata salah satunya rumah makan. Kegiatan tersebut dapat menambah masukan berupa materi tersuspensi dan terlarut. Beban masukan berupa partikel tersuspensi dari kegiatan pertanian dapat memperkecil daya tampung air dari Danau Lido karena sedimentasi. Daya tampung air yang semakin kecil menyebabkan volume air semakin kecil. Volume air yang semakin kecil menyebabkan kosentrasi nutrien yang masuk ke perairan dapat menjadi semakin besar karena faktor pengencerannya semakin kecil.

Kegiatan KJA yang terdapat di Danau Lido memberikan masukan berupa bahan organik dan anorganik yang dapat meningkatkan konsentrasi nutrien sehingga mempengaruhi tingkat kesuburan Danau Lido. Sekitar 5% dari luas permukaan Danau Lido digunakan untuk KJA. Terdapat 14 KJA aktif milik petani dan satu KJA aktif milik Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP).

Bahan organik dan anorganik yang masuk ke perairan Danau Lido mempengaruhi kekeruhan. Secara umum, kekeruhan meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman di kedua stasiun. Kekeruhan tersebut diakibatkan oleh partikel-partikel tersuspensi yang masuk ke dalam perairan. Partikel-partikel tersebut memiliki massa jenis yang lebih besar dari air sehingga akan menuju ke kedalaman yang lebih dalam dan mengendap di dasar perairan.

46

Kekeruhan di kedalaman permukaan dan Secchi disk di stasiun non-KJA relatif lebih tinggi daripada di stasiun KJA, sedangkan di kedalaman kompensasi terjadi hal yang sebaliknya. Hal tersebut diduga diakibatkan oleh perbedaan dalam proses penggendapan di kedua stasiun. Nilai yang lebih rendah di daerah KJA diakibatkan oleh relatif tenangnya daerah tersebut. Daerah yang relatif tenang memungkinkan adanya pengendapan partikel-partikel tersuspensi. Adanya tumbuhan air tenggelam juga dapat mempengaruhi terhadap kekeruhan yang berada di kolom perairan. Endapan tersebut tidak mudah untuk kembali ke kolom perairan karena terikat oleh tumbuhan air.

Kekeruhan mempengaruhi tingkat kecerahan. Nilai kecerahan pada stasiun KJA relatif lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun non-KJA. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh tingginya kekeruhan di stasiun non-KJA. Daerah non-KJA merupakan daerah yang memiliki arus yang membawa sejumlah partikel baik organik maupun anorganik. Partikel tersebut diduga berasal dari daerah pertanian dan perhotelan. Menurut Boyd (1982) kecerahan memiliki korelasi dengan kekeruhan yang dapat diakibatkan oleh bahan organik dan anorganik. Semakin tinggi kekeruhan, semakin rendah penetrasi cahaya yang masuk ke perairan, sehingga akan berpengaruh terhadap kecerahan suatu perairan.

Kecerahan perairan merupakan salah satu metode tertua untuk menduga suatu status kesuburan. Nilai yang didapatkan dapat menduga produktivitas primer. Kecerahan dapat bervariasi terhadap densitas dari populasi fitoplankton. Fitoplankton akan mengurangi kecerahan dari suatu perairan. Pada danau eutrof nilai kecerahan kurang dari 3 m (Henderson-Seller & Markland 1987). Danau lido memiliki rata-rata kecerahan di stasiun KJA sebesar 2,29 m dan di stasiun non-KJA sebesar 2,04 m.

Menurut Henderson-Seller and Markland (1987) DO berkurang dengan semakin meningkatnya suhu, bertambahnya kedalaman, dan berkurangnya tekanan atmosfer. Pada Gambar 11 terlihat DO cenderung menurun dengan meningkatnya kedalaman. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya intesitas cahaya matahari sehingga proses fotosintesis menurun. Selain itu, adanya proses dekomposisi bahan organik dapat menurunkan kandungan DO.

Pada stasiun KJA dan non-KJA didapatkan konsentrasi fosfat total yang cenderung meningkat pada setiap kedalaman. Peningkatan fosfat total karena sifatnya yang mudah mengendap. Organik fosfat merupakan penyusun fosfat total yang terbesar yaitu sekitar 70% dalam bentuk partikulat (Wetzel 2001). Partikulat memiliki massa jenis yang lebih besar dari air sehingga mudah mengendap. Selain itu, fosfat juga dapat berikatan dengan ion logam (FePO4) kemudian mengendap. Pada stasiun KJA, konsentrasi fosfat total di kedalaman kompensasi menurun. Hal ini diduga dapat disebabkan adanya tumbuhan air tenggelam yang memanfaatkan fosfat anorganik berupa ortofosfat.

Nilai konsentrasi fosfat total rata-rata relatif lebih besar pada stasiun non-KJA dibandingkan dengan KJA. Stasiun non-KJA merupakan lokasi yang dekat dengan aktivitas pertanian dan perhotelan. Limpasan nutrien dari daerah pertanian diduga merupakan salah satu sumber fosfat di perairan. Penggunaan pupuk secara ekstensif menghasilkan konsentrasi nutrien pada aliran buangan air yang berasal dari pertanian (Henderson-Sellers & Markland 1987). Pupuk yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian mengandung fosfat.

Selain itu, diduga detergen yang berasal dari limbah perhotelan akan menambah kandungan fosfat total di daerah non-KJA karena detergen mengandung polifosfat. Sumber fosfat total di stasiun KJA diduga berasal dari kegiatan budidaya ikan yang berupa sisa pakan. Fosfat yang terdapat dalam pakan dapat berupa partikel tersuspensi dan terlarut.

Menurut Vollenweider (1968) in Wetzel (2001), fosfat total pada danau eutrof berkisar antara 0,03-0,1 mg/l. Pada stasiun KJA dan non-KJA di dapatkan konsentrasi fosfat total yang termasuk dalam kisaran nilai tersebut, sehingga Danau Lido tergolong tingkat kesuburan eutrof. Konsentrasi fosfat total dapat berbeda pada perairan lain yang memiliki tingkat kesuburan yang sama.

Fosfat total akan terhidrolisis menjadi ortofosfat yang akan digunakan oleh fitoplankton. Ortofosfat merupakan bagian yang kecil dari fosfat total, yaitu sekitar 5% (Wetzel 2001). Pada stasiun KJA dan non-KJA konsentrasi ortofosfat cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman, tetapi pada stasiun KJA di kedalaman Secchi disk mengalami penurunan. Penurunan ini disebabkan adanya pemanfaatan sejumlah ortofosfat oleh fitoplankton dan tumbuhan air

48

tenggelam yang berada di stasiun KJA. Konsentrasi ortofosfat di stasiun KJA relatif lebih tinggi daripada stasiun non-KJA diduga karena sumber ortofosfat di stasiun KJA yang lebih besar. Sumber fosfat yang berasal di stasiun KJA yang berupa sisa pakan dan sisa metabolisme ikan.

Konsentrasi NO3-N di stasiun KJA dan non-KJA cenderung menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini dipengaruhi oleh konsentrasi DO yang tinggi dipermukaan. Menurut Goldman and Horne (1983) NO3-N meningkat di danau ketika konsentrasi DO meningkat dan amonia tersedia, sehingga akan terjadi proses nitrifikasi. Konsentrasi NO3-N di stasiun non-KJA mengalami peningkatan di kedalaman kompensasi diduga karena terbawa oleh aliran arus yang berasal dari kegiatan pertanian dan perhotelan.

Sebaran konsentrasi NO3-N pada stasiun non-KJA relatif lebih besar dibandingkan dengan stasiun KJA. Menurut Golman and Horne (1983) bahwa konsentrasi dan laju dari ketersediaan NO3-N berhubungan dengan penggunaan lahan yang mengelilingi. Stasiun non KJA merupakan stasiun yang dekat dengan daerah pertanian. Sisa pupuk yang mengandung nutrien nitrat dari daerah pertanian diduga mengalir ke perairan Danau Lido, sehingga akan mempengaruhi konsentrasi NO3-N di Danau Lido.

Konsentrasi NO2-N di stasiun KJA tertinggi pada kedalaman Secchi disk dan terendah pada kedalaman kompensasi. Pada kedalaman Secchi disk, konsentrasi DO menurun dibandingkan dengan kedalaman permukaan sehingga konsentrasi nitrit meningkat. Hal ini disebabkan adanya proses perubahan dari NO3-N menjadi NO2 -N. Pada kedalaman kompensasi, terlihat pada Gambar 14, bahwa konsentrasi NH

3-N yang tertinggi terdapat pada kedalaman kompensasi. Semakin berkurangnya konsentrasi DO maka semakin banyak NO2-N yang dirubah menjadi NH3-N. NO2 -N dikonversi menjadi amonia pada saat berkurangnya konsentrasi DO di perairan (Goldman & Horne 1983). Konsentrasi NO2-N pada stasiun non-KJA tertinggi di kedalaman kompensasi. Hal ini disebabkan semakin menurunnya konsentrasi DO di kedalaman kompensasi sehingga terjadi peningkatan konsentrasi nitrit.

Konsentrasi NH3-N yang tinggi di kedalaman kompensasi pada kedua stasiun karena adanya diduga adanya proses dekomposisi bahan organik yang menghasilkan NH3-N di perairan. Selain itu, semakin rendahnya konsentrasi oksigen

menyebabkan terjadinya konversi NO2-N menjadi NH3-N. Konsentrasi NH3-N lebih besar di stasiun KJA daripada stasiun non-KJA. Hal ini diduga disebabkan adanya dekomposisi sisa-sisa pakan dan hasil metabolisme kegiatan budidaya ikan yang menghasilkan amonia ke perairan. Menurut Goldman and Horne (1983), NH3-N dihasilkan dari proses dekomposisi.

Konsentrasi total nitrogen anorganik di stasiun KJA dan non-KJA sudah menunjukkan kondisi eutrof. Terlihat dari konsentrasi rata-rata yaitu sebesar 0,751 mg/l di stasiun KJA dan 0,636 di stasiun non-KJA. Menurut Wetzel (2001), konsentrasi nitrogen anorganik sebesar 0,5-1,5 mg/l menunjukkan kondisi kesuburan perairan eutrofik.

TDS biasanya dipengaruhi oleh bahan anorganik yang berupa ion-ion yang biasanya ditemukan di peraiaran. Nilai TDS di permukaan pada stasiun KJA lebih besar di permukaan. Terlihat bahwa konsentrasi ortofosfat pada stasiun KJA lebih besar daripada stasiun KJA. Pada kedalaman Secchi disk stasiun non-KJA memiliki konsentrasi nitrat yang lebih besar dibandingkan dengan stasiun KJA. Ion-ion tersebutlah yang diduga mempengaruhi nilai TDS.

Nilai alkalinitas pada kedua stasiun semakin besar dengan bertambahnya kedalaman di kedua stasiun Alkalinitas yang baik berkisar antara 30-500 mg/liter CaCO3 (Boyd 1982). Alkalinitas rata-rata pada kedua stasiun termasuk kategori yang baik. Alkalinitas yang baik dapat menjaga perubahan pH tidak terlalu besar (Cole 1983).

MEI merupakan rasio antara TDS dengan kedalaman rata-rata. Nilai MEI ini dapat menujukkan produksi suatu perairan. Danau Lido memiliki nilai MEI sebesar 14,80. Berdasarkan nilai tersebut, produksi perikanan Danau Lido sebesar 82,54 kg/ha/tahun.

Klorofil-a dapat dipakai untuk mengetahui biomassa fitoplankton. Kandungan klorofil-a dalam fitoplankton sekitar 0,5%-2% berat tubuh (Reynolds 1990). Kandungan klorofil-a dari tiap jenis fitoplankton berbeda-beda. Pada stasiun non-KJA konsentrasi klorofil-a meningkat seiring bertambahnya kedalaman, sedangkan pada stasiun KJA sebaliknya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan komposisi fitoplankton pada kedua stasiun tersebut. Pada stasiun non-KJA memiliki kelimpahan kelompok Chlorophyceae yang lebih tinggi dibandingkan dengan

50

stasiun KJA di setiap kedalaman. Adanya perbedaan rasio kelimpahan kelompok Chlorophyceae tiap kedalaman, menyebabkan perbedaan pola sebaran klorofil-a. Rasio antara kedua stasiun menunjukkan terjadinya peningkatan rasio kelimpahan kelompok Chlorophyceae setiap kedalaman di stasiun non-KJA. Klorofil-a merupakan pigmen utama untuk fotosintesis pada kelompok Chlorophyceae. Kelompok tersebut memiliki kandungan klorofil terbesar di antara kelompok alga lainnya (Reynolds 1990).

Kandungan klorofil-a sebagai gambaran biomassa fitoplankton dipengaruhi oleh konsentrasi fosfat total (Goldman & Horne 1983). Dengan demikian, kandungan klorofil-a dapat digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesuburan suatu perairan. Klorofil-a di stasiun KJA dan non-KJA memiliki nilai diantara 10-100 mg/m3. Menurut Henderson-Seller and Markland (1987), konsentrasi klorofil-a yang berkisar antara 10-100 mg/m3 tergolong pada perairan eutrof.

Pada stasiun KJA dan non-KJA dan di masing-masing kedalaman adanya kemiripan komposisi genera yang ditemukan. Hal ini disebabkan pada kedua stasiun memiliki karakteristik kondisi lingkungan yang hampir sama. Komposisi genera yang terbanyak pada kedua stasiun dan di tiap kedalamannya berasal dari kelompok Bacillariophyceae. Bacillariophyceae merupakan algae yang sangat penting dalam rantai makanan (Goldman & Horne 1983). Selain itu, kelompok Bacillariophyceae merupakan kelompok fitoplankton yang memiliki laju pertumbuhan tinggi, toleransi yang tinggi, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan mampu memanfaatkan nutrien dengan baik. Komposisi jenis Bacillariophyceae di Danau Lido jauh lebih beragam dibandingkan kelompok algae lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh rasio N:P yang tinggi yang mendukung terhadap perkembangan Bacillariophyceae (Lampiran 12).

Kelimpahan rata-rata fitoplankton pada kedua stasiun menunjukkan kelimpahan yang menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini disebabkan oleh adanya penurunan intensitas cahaya matahari. Cahaya merupakan sumber energi dan mengkontrol proses fotosintesis (Ruttner 1973). Penurunan intensitas cahaya akan mempengaruhi proses fotosintesis fitoplankton. Pada stasiun KJA dan non-KJA didapatkan kelimpahan yang terbesar pada kelompok Bacillariophyceae. Kelimpahan yang tinggi dari kelompok tersebut disebabkan oleh

konsentrasi nutrien yang mendukung pertumbuhannya. Kelimpahan tertinggi dijumpai pada genus Melosira sp. Tingginya kelimpahan Melosira sp. diduga juga didukung oleh rendahnya kompetisi dan pemangsaan. Melosira sp. merupakan diatom yang memiliki bentuk rantai yang terbesar dan tidak dimanfaatkan oleh sebagian besar zooplankton (Goldman & Horne 1983). Menurut Hutchinson (1967)

in Wetzel (2001), Melosira sp. merupakan salah satu indikator perairan yang

mengalami peningkatan bahan organik. Menurut Ryding and Rast (1989), Melosira sp. merupakan salah satu karakteristik jenis fitoplankton dari kelompok Bacillariophycceae yang dominan di perairan eutrof.

Fitoplankton dapat berkembang pada kisaran suhu 20o-30oC, sedangkan kisaran pH yang sesuai untuk pertumbuhan fitoplankton adalah 6,5-8 (Goldman & Horne 1983). Suhu dan pH rata-rata perairan Danau Lido masih layak bagi pertumbuhan fitoplankton.

Secara umum suhu perairan Danau Lido mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kedalaman. Menurut Wetzel (2001), Goldman dan Horne (1983), serta Welch (1980), semakin dalam perairan, suhu akan mengalami penurunan karena berkurangnya intesitas cahaya matahari yang diterima oleh kolom perairan yang lebih dalam.

Nilai pH di kedua stasiun cenderung menurun. Nilai pH yang semakin menurun terjadi karena adanya proses dekomposisi bahan organik oleh bakteri. Terlihat pada Gambar 5, bahwa semakin bertambahnya kedalaman semakin besar nilai kekeruhan yang mencerminkan bertambahnya bahan organik. Proses tersebut akan menghasilkan karbondioksida ke perairan. Menurut Wetzel (2001), perairan yang memiliki karbondioksida yang tinggi akan menyebabkan pH rendah karena akan membentuk asam karbonat. Nilai pH pada stasiun non-KJA lebih besar dibandingkan dengan stasiun KJA yang terlihat pada Gambar 8. Hal ini diduga disebabkan oleh proses fotosintesis di stasiun non-KJA lebih besar daripada di stasiun KJA. Proses fotosintesis menggunakan karbondioksida di perairan, sehingga asam bikarbonat di perairan berkurang.

Beberapa perairan memiliki karakteristik yang berbeda pada suatu tingkat kesuburan yang sama. Hasil penelitian di Situ Tegal Abidin (Kusnanto 2003) dan di Waduk Cirata (Insan 2009) menunjukkan bahwa perairan tersebut termasuk ke

52

dalam kategori eutrofik tetapi memiliki karakteristik perairan yang berbeda. Perbedaan kondisi tersebut disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Karakteristik serta status kesuburan beberapa perairan

Jenis Perairan Parameter

Situ Tegal Abidin

(Kusnanto 2003) Danau Lido

Waduk Cirata (Insan 2009) Fosfat total (mg/l) 0,098 0,08 0,2 NO3-N (mg/l) 0,409 0,34 - NO2-N (mg/l) 0,079 0,03 - NH3-N (mg/l) 0,434 0,33 - N total (mg/l) - - 2,01

Luas permukaan (ha) 9,8 19,8 6200 kedalaman rata-rata (m) 1,7 9,71 34,9 Status kesuburan eutrofik eutrofik eutrofik Keterangan - : tidak tercantum

Situ Tegal Abidin memiliki konsentrasi yang lebih tinggi pada fosfat total, nitrat, nitrit, dan amonia. Hal ini disebabkan oleh masukan bahan organik dan anorganik yang berasal dari kegiatan budidaya KJA, dan masukan yang berasal dari daerah sekitar perairan yaitu pertanian dan pemukiman penduduk. Perairan tersebut merupakan perairan dangkal dengan luas dan kedalaman maksimum yang lebih kecil dibandingkan dengan Danau Lido. Oleh karena itu, masukan tersebut akan cepat mempengaruhi kondisi kualitas air Situ Tegal Abidin, walaupun aktivitas pemanfaatan (KJA) di perairan tersebut lebih rendah dari perairan Danau Lido. Menurut Osborne (1996), perairan yang dangkal akan lebih produktif dibandingkan dengan perairan yang dalam, dan akan lebih cepat mencapai status kesuburan eutrof. Pada Waduk Cirata, konsentrasi fosfat total lebih besar dibandingkan kedua perairan lainnya. Hal tersebut terkait dengan tingginya pengaruh antropogenik pada perairan tersebut. Aktivitas KJA di Waduk Cirata pada tahun 2007 sudah mencapai 43.350 unit, sedangkan pada Situ Tegal Abidin hanya terdapat 6 buah unit dengan ukuran 4x6 m2, dan Danau Lido 14 unit. Selain akibat aktivitas KJA, Waduk Cirata juga dipengaruhi oleh buangan pertanian, domestik, dan masukan yang berasal

Waduk Saguling, sehingga beban yang diterima menjadi lebih besar. Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa morfometri suatu perairan dan tingkat pemanfaatannya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan suatu perairan

Berdasarkan indeks TSI, TRIX, dan Nygaard Danau Lido dikategorikan ke dalam tingkat kesuburan eutrofik. Hal ini didukung oleh parameter-parameter yang digunakan, seperti kandungan fosfat total, total nitrogen anorganik, dan klorofil-a, % O2 saturasi, tingkat kecerahan, serta komposisi fitoplankton. Indeks yang digunakan dalam pendugaan status kesuburan tersebut memiliki perbedaan parameter yang digunakan, sehingga masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Indeks TRIX, selain menggunakan konsentrasi fosfat total dan klorofil-a, juga memperhatikan konsentrasi total nitrogen anorganik, dan oksigen. Adanya penambahan parameter tersebut dapat lebih menggambarkan status kesuburan suatu perairan.

Berdasarkan penggunaan indeks Nygaard dapat diketahui komposisi jenis fitoplankton yang menjadi indikator kesuburan perairan. Namun dalam hal ini, dituntut pengetahuan mengenai klasifikasi taksonomi algae, karena masing-masing jenis yang ditemukan harus ditempatkan dalam takson yang tepat.

TSI menggunakan parameter kedalaman Secchi disk, fosfat total, dan klorofil-a. Oleh karena itu, di dalam aplikasinya, indeks tersebut lebih sederhana untuk digunakan dan hanya membutuhkan sedikit data.

Tingkat kesuburan eutrofik di Danau Lido diduga terjadi akibat dari tingginya pemanfaatan perairan, salah satunya adalah kegiatan budidaya ikan dengan sistem KJA. Kegiatan budidaya KJA yang sudah mulai dikembangkan pada tahun 1978 oleh Balai Budidaya Air Tawar Bogor, diikuti oleh penduduk sekitar dalam jumlah yang relatif sedikit. Pada tahun 1984, Danau Lido termasuk ke dalam tingkat kesuburan oligotrofik (Widjanarko 1984). Hal ini dapat terlihat pada organisme fitoplankton yang mendominasi yaitu Ceratium sp dan Peridinium sp. Semakin tingginya aktivitas KJA, perhotelan, pariwisata, dan aktivitas masyarakat sekitar menyebabkan perubahan status kesuburan menjadi eutrofik.

Berdasarkan fenomena tersebut diperlukan suatu pengelolaan di Danau Lido untuk mencegah peningkatan status kesuburan agar pemanfaatan di Danau Lido dapat berlangsung secara berkelanjutan. Pengelolaan perlu dilakukan untuk

54

mencegah peningkatan kesuburan di Danau Lido. Pengelolaan yang dilakukan, antara lain adalah pengurangan jumlah masukan nutrien yang berasal dari aktivitas

non point sources dan point sources, serta pencegahan terjadinya sedimentasi. Salah

satu cara yang dilakukan yaitu tetap mempertahankan keberadaan tanaman air yang sudah ada pada luas penutupan tertentu. Tumbuhan air memanfaatkan nutrien yang masuk ke danau lido dan mengikat partikel-partikel tersuspensi. Pembatasan luas area yang digunakan untuk tumbuhan air dilakukan untuk mencegah terjadinya ledakan populasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui penyekatan. Selain itu pohon-pohon di sekitar Danau lido juga tetap dipertahankan untuk menghambat masuknya partikel tersuspensi dan nutrien yang berasal dari catchment

area.

Pengaturan masukan nutrien dari aktivitas point sources dengan mengendalikan sumber masukannya. Pengurangan masukan nutrein dari kegiatan KJA dilakukan melalui pengaturan komposisi, frekuensi pemberian, dan tipe pakan untuk mengurangi jumlah fosfat total yang masuk ke perairan. Di samping itu perlu dilakukan pengaturan jumlah ikan budidaya sesuai daya dukung perairan.

Aktivitas hotel dan rumah makan yang berkontribusi terhadap peningkatan beban masukan secara langsung ke Danau Lido perlu mendapat perhatian khusus. Di antaranya adalah melalui penegakan aturan yang disusun oleh pengelola Danau Lido.

Kegiatan pertanian perlu dilakukan dengan lebih mengefisienkan penggunaan pupuk. Pupuk yang digunakan sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan bagi pertumbuhan yang mengacu pada sifat tanah serta pengaturan komposisi pemupukan sesuai dengan stadia pertumbuhan tanaman pada kegiatan pertanian.

Apabila keseluruhan hal tersebut dapat dilakukan maka diharapkan dapat memperlambat laju peningkatan kesuburan di Danau Lido, sehingga tidak terjadi perubahan status kesuburan yang lebih tinggi lagi. Dengan demikian, ekosistem Danau Lido dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan daya gunanya.

5.1. Kesimpulan

Ketiga indeks yang digunakan yaitu TSI, TRIX, dan indeks Nygaard dapat

Dokumen terkait