BAB IV KEMAMPUAN DAN TEKINK
B. Independent-Travel
Seorang instruktur rehabilitas tunanetra harus dibekali pengetahui untuk melatih orang yang tunanetra, cara bepergian sendiri dengan selamat dan efisien dalam lingkungan yang sudah terbiasa (dikenal). Ini meliputi mengajar teknik bagaimana ia sampai ke tujuan selancar mungkin, tanpa menabrak benda yang ada di depannya, tersandung atau terluka.
Lebih khusus lagi, tunanetra akan mendapatkan teknik-teknik bagaimana mengikuti garis pembimbing, berjalan
lurus dan mengetahui segala sesuatu yang ada di depannya, dan untuk melindungi dirinya sendiri.
Teknik mengikuti garis pembimbing disebut trailing, untuk meluruskan arah digunakan teknik directiontaking atau squaring-aff. Sedang teknik untuk mendapatkan informasi benda-benda di depan dan untuk melindungi badan digunakan teknik upper and lower fore arm.
Teknik-teknik tersebut biasanya digunakan untuk mengadakan pengenalan terhadap ruangan dan obyek. Adapun tekniknya adalah sebagai berikut:
Dalam pengenalan ruangan dan obyek perlu sekali untuk menentukan / menetapkan titik tolak (vocal-point). Titik tolak yang dianggap paling tepat dalam sebuah ruangan ialah pintu, karena pintu tidak akan berubah tempat. Di samping menentukan titik tolak, tunanetra harus berdiri dengan sikap yang sesempurna mungkin untuk menetukan tujuan (arah) yang pasti. Untuk keperluan tersebut maka dilaksanakanlah teknik squaring-off, yaitu sikap berdiri lurus sesempurna mungkin, dengan menggerakkan tangan ke samping menjauhi tubuh hingga bagian belakang tangan menyentuh bagian tembok (daun pintu).
Pada saat tersebut pembimbing harus segera menerangkan ruangan itu, yaitu mengenai jenis ruangan: ruang depan, kamar tidur, kamar belajar dan lain-lain dan mengenai landmark (segala sesuatu yang bisa dijadikan tanda yang mempunyai sifat permanent) seperti : letak tombol lampu, semua perabot dan benda-benda yang diletakkan di atasnya seperti lampu, mesin ketik, dan lain-lain, jendela, kain jendela, kerai dan sebagainya.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang bentuk dan ukuran ruangan, serta benda-benda yang terdapat di dalam ruangan, maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Upper hand and fore arm (Tangan menyilang badan sejajar pundak).
Teknik ini memberi perlindungan pada dada dan kepala dari kemungkinan terbentur pada rintangan yang ada di depan. Penggunaan teknik ini adalah sebagaimana teknik independent lainnya, yaitu digunakan pada tempat yang sudah dikenal. Bila dianggap perlu dalam pelaksanaannya dapat dikombinasikan dengan teknik yang lain.
Adapun caranya ialah:
Tangan kanan atau kiri diangkat ke depan setinggi bahu/dada menyilang badan, sikut membentuk sudut kira-kira 120˚, telapak tangan menghadap ke dapan dengan ujung-ujung jari berlawanan dengan bahu dan gerakannya bervariasi vertikal ( ke atas-ke bawah).
2. Lower hand and fore arm (tangan menyilang badan ke arah depan).
Teknik ini memberi perlindungan pada badan bagian bawah, yaitu daerah perut dan selakangan, dari kemungkinan terbentur pada rintangan yang ada di depannya.
Adapun caranya ialah:
Tangan kanan atau kiri disilangkan di muka badan mengarah ke bawah (selangkangan) dengan telapak tangan menghadap ke badan, dan dengan variasi gerakkan vertikal.
Teknik ini dimaksudkan sebagai suatu teknik berjalan dengan cara meraba/merambat dinding, pinggir meja dan sebagainya sebagai pedoman arah.
Caranya adalah:
Lengan kanan atau kiri diluruskan mendekati tembok dengan jari-jari dibengkokkan lemas, dan jari kelingking serta jari manis menempel pada tembok. Badan, dada dan muka menghadap kearah depan, yang akan dijutu sebagai obyek. Gerakan dalam trailing adalah mengikuti arah jarum jam, sebagai pola latihan yang pertama dan untuk selanjutnya dapat dilaksanakan kea rah samping kiri ataupun kanan
4. Transfering open doorway (melalui pintu terbuka)
Teknik berjalan dengan melalui pintu terbuka, bertujuan agar berjalan tepat pada arah yang benar dan kepala terlindungi dari kemungkinan terbentur dengan daun pintu.
Adapun caranya adalah:
Salah satu tangan tetap melakukan cara berjalan dengan trailing, sedangkan tangan yang lainnya melakukan cara upper hand and fore arm.
5. Direction taking (menggunakan garis pengarah)
Teknik ini digunakan untuk menuju suatu sasaran dengan memanfaatkan/menggunakan garis pengarahan yang ada, misalnya pinggir meja, pinggir tempat tidur dan sebagainya, agar sampai ke tempat tujuan dengan tepat. Adapun cara yang digunakan disesuaikan dengan keadaan, bisa dengan Trailing Upper Hand atau Lower Hand dan Fore Arm, bahkan mungkin saja cara-cara tadi dikombinasikan.
Kita merapat ke dinding, sehingga kaki dan lengannya menyentuh dinding. Untuk mengetahui posisinya, tangan yang dekat ke dinding dapat diayun ke depan dan ke belakang. Kemudian kita dapat menjauh dari dinding dan terus berjalan menuju ke tempat tujuan sepanjang pengarah.
6. Search-Patterns (Pengenalan Ruangan)
Cara mengenal ruangan ini telah dibicarakan di muka. Sedangkan yang akan dibicarakan di sini ialah bagaimana kita dapat mengetahui keadaan suatu ruangan dengan mendetail dan menyeluruh, mengetahui berapa kira-kira luas ruangan tersebut, dan apa saja yang ada di ruangan itu,
Teknik yang digunakan ada dua cara, ialah: a. Perimeter method (mengelilingi ruangan)
Untuk mengetahui berapa kira-kira luas ruangan itu. Caranya ialah:
Pertama kita tentukan dulu titik tolak (vocal point), misalnya pintu, sehingga setiap gerakan bertitik tolak pada pintu tadi. Kita berdiri tegak pada vocal-point, dan selanjutnya dengan Trailing kita mengelilingi ruang mengikuti arah jarum jam sampai kembali lagi ke vocal-point.
b. Grid-system (menjelajahi ruangan)
Setelah mengelilingi ruangan, kemudian seluruh ruangan kita jelajahi dengan tujuan agar kita dapat mengetahui keadaan ruangan tersebut secara menyeluruh.
Caranya ialah:
1. Kita berjalan dari sudut menyilang ke sudut yang lain.
2. Berjalan menyeberang dari dinding yang satu ke dinding yang lain, sehingga seluruh ruangan kita jelajahi.
Teknik berjalan yang digunakan bisa dengan Upper Hand and Fore Arm atau kombinasi dari keduannya.
3. Apabila ruangan yang kita jelajahi luas, maka bisa kita lakukan sebagaian-sebagian.
7. Dropped-objects (mengambil benda yang jatuh)
Agar seorang tunanetra dapat menemukan kembali sesuatu yang terjatuh (tercecer), dalam pengambilannya ada dua cara. Yang terpenting dan yang harus diperhatikan sebelumnya ialah mendengarkan bunyi jatuhnya benda tadi sampai suara terakhir terdengar, kemudian mengajarkan badan kearah suara terakhir. Adapun dua cara yang dimaksudkan ialah:
a. Bungkukkan badan kearah benda dengan sikap tangan melindungi badan bagian atas, dengan teknik upper hand yang disesuaikan dengan situasi. Tangan yang lain meraba-raba ke tempat benda yang jatuh, mulai dari lingkungan kecil yang semakin seluas sehingga dapat mengetumukan benda/sesuatu yang jatuh tadi. b. Ambillah sesuatu yang terjatuh tadi dengan jalan
berjongkok lurus dengan menggunakan teknik dan cara-cara sebagaimana tersebut di atas.
Cara mengembil sesuatu yang terjatuh seperti ini dimaksudkan agar kepala terhidar dari benturan pada benda yang mungkin ada.
8. Sheking-Hand (jembatan tangan)
Pada kenyataannya sering terjadi kesulitan bila seorang tunanetra bermaksud melakukan jabatan tangan dengan
pihak lain, baik dengan sesama tunanetra maupun dengan orang awas, sebab ia tidak dapat melihat gerakan tangan dari pihak lainnya. Karena itu perlu adanya teknik tersendiri untuk mengatasi kesulitan tersebut.
Teknik untuk melakukan jabatan tangan ialah:
Pertama-tama sentuhlah belakang tangan tunanetra tadi dengan telapak tangan kita, selanjutnya baru berjabat tangan. Apabila yang berjabat tangan adalah sesama tunanetra, maka salah seorang atau keduanya harus mengambil inisiatif menggerakkan tangan kanan di bawah dada sendikit, dari arah kiri kearah kanan atau sebaliknya. Bila kedua punggung telapak tangan sudah bersentuhan, barulah berjabat tangan.