BAB X CINTA TANAH AIR
C. Indikator Cinta Tanah Air
Seseorang dapat dikatakan memiliki cinta tanah air memiliki beberapaciri-ciri, untuk dapat mengetahuinya maka diperlukan sebuah standar atau indicator sebagai tolak ukur bahwa seseorang dikatakan memiliki rasa cinta tanah air. Kemendiknas (2010) menggemukakan bahwa ada dua jenis indicator yang dikembangkannya, yaitu pertama indicator untuk sekolah dan kelas.
Kedua, indicator untuk mata pelajaran. Indicator sekolah dan kelasadalah penanda yang digunakan oleh kepala sekolah dan guru dalam merencanakan, melaksanakan , dan mengevaluasi sekolah sebagai lembaga pelaksana pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Indicator mata pelajaran menggambarkan perilaku efektif seorang peserta didik berkenaan dengan mata pelajaran tertentu.
152 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA YANG BERKAITAN DENGAN TUGAS KEBIDANAN
A. Pengertian bidan
Bidan adalah seorang yang telah berhasil atau sukses meyelesaikan pendidikan bidan yg terakreditasi dan diakui negara, telah memperoleh kualifikasi yang dibutuhkan untuk didaftarkan mendapat sertifikat dan secara resmi berlisensi untuk melakukan praktik kebidanan.
Menurut IBI Bidan Indonesia adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yg diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan. Dewasa ini telah terjadi perubahan-perubahan yang sangat pesat dan luas di seluruh Dunia sebagai akibat adanya kemajuan daya nalar/pikir manusia. Perubahan perubahan yang dinamis itu dapat dirasakan dalam Pembangunan Nasional, hal itu akan mempengaruhi aspirasi/pendapat, cara berpikir dan sikap atau perbuatan masyarakat Indonesia.
Perubahan Sosial dan Budaya akan menghasilkan perubahan tata nilai, tetapi karena tata nilai baru belum melembaga sementara tata nilai lama mulai ditinggalkan, maka dapat menimbulkan berbagai gejolak, ketidak pastian, rasa cemas dan kegelisahan. Bangsa Indonesia harus makin memantapkan kesetiaannya kepada Pancasila, dengan cara menghayati mengamalkannya dalam segala bidang kehidupan (Ekonomi, Sosial Budaya dsb). Kehidupan manusia tanpa mengenal Ketuhanan Yang Maha Esa dapat mengakibatkan mereka kehilangan nilai-nilai etik, moral dan spritual. Tanpa Kemanusiaan yang adil dan beradab, kemajuan bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi justru akan memerosokkan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam tempat yang rendah.
Tanpa nilai Persatuan dan Kesatuan, bangsa Indonesia akan mengalami perpecahan dari dalam, misalnya permusuhan antar suku bangsa, antar agama atau ras. Tanpa nilai-nilai Kedaulatan rakyat, dapat disaksikan tumbuhnya kekuatan-kekuatan pemerintahan yang sewenang-wenang yang
BAB X1
153 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
akhirnya terjadi pertentangan antara pemerintah dan rakyat. Tanpa nilai-nilai Keadilan sosial, dapat disaksikan kesenjangan sosial dalam masyarakat, akan terjadi kecemburuan sosial antara sikaya dan si miskin. Lebih lanjut hal ini dapat menimbulkan keresahan dan perpecahan yang selanjutnya dapat membahayakan kelestarian hidup bangsa dan negara. Oleh sebab itu, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila mutlak harus dihayati dan diamalkan oleh masyarakat Indonesia, agar kita dapat terhindar dari akibat-akibat buruk yang dibawa oleh zaman tersebut.
Nilai-nilai persatuan tapi universal yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi jati diri bangsa Indonesia. Ketika kita dihadapi oleh berbagai persoalan multidimensional dan mulai kehilangan arah, maka ada pihak yang mengusung budaya kearab-araban pada satu sisi dan kebarat-baratan pada sisi yang lain, maka Pancasila menjadi jawaban yang relevan. Sebagai nilai-nilai dasar, Pancasila telah mencakup semuanya. Kesadaraan akan nilai-nilai universal yang ada di Indonesia telah terangkum semuanya di dalam Pancasila. Pancasila harus dibuat bermakna bagi kehidupan kita agar tidak hanya menjadi sekedar konsep yang sewaktu-waktu bisa dibuang. Karena itu kesadaran akan Pancasila harus muncul dari bawah. Nilai-nilai Dasar sangat penting untuk selalu dimaknai kembali, karena generasi di masa mendatang belum tentu bisa menghayati Pancasila sebagai perekat dasar yang mempersatukan Indonesia.
Hal tersebut akan sulit sekali dicapai jika kita tidak berusaha memaknai kembali nilai-nilai luhur Pancasila. Bidan adalah sebuah profesi yang khusus, dinyatakan sebagai sebuah pengertian bahwa bidan adalah orang pertama yang melakukan penyelamatan kelahiran sehingga ibu dan bayinya lahir dengan selamat. Tugas yang diemban bidan berguna untuk kesejahteraan manusia.
Tugas bidan menjadi sangat penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak. Pengamalan Pancasila bagi bidan sangat penting. Seorang bidan yang melaksanakan Pancasila dengan baik dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi warganegara yang baik dan menjadi tenaga kesehatan yang profesional.
154 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
B.Pelaksanaan Pancasila dalam Pelaksanaan Tugas Seorang Bidan
Pelaksanaan Pancasila secara subyektif yaitu sesuai dengan butir-butir Pancasila.
Pelaksanaan Pancasila, sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dalam kehidupan sehari-hari seorang bidan adalah sebagai berikut:
a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Beragama.
3. Berdoa sebelum dan setelah menolong pasien.
4. Mengajarkan pasien untuk menyerahkan hasil pertolongan kepada Tuhan YME.
5. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
6. Menghormati kepercayaan dan agama pasien.
7. Tidak memaksakan kehendak mengenai kebiasaan berdoa dan beribadah kepada orang lain.
8. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
9. Menghormati kebiasaan berdoa dan beribadah pasiennya.
10. Menghormati agama orang lain.
11. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
12. Tetap menjaga kerukunan umat beragama meskipun berbedabeda kepercayaan dan agama.
13. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
14. Memegang teguh prinsip bahwa agama dan kepercayaan menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
155 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
15. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
16. Menghormati kebebasan pasien untuk berdoa dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya dan membimbing untuk selalu berdoa sesuai keyakinannya.
17. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
18. Tidak memaksakan agama dan kepercayaan kita kepada pasien.
b. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2. Menghargai hak prifasi pasien, memperlakukan pasien dengan penuh empati karena pasien memiliki hak untuk diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat.
3. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
4. Bidan selalu berusaha mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
5. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
6. Dasar pelayanan kebidanan yang baik yaitu dengan rasa kecintaan pada sesama manusia.
7. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
8. Bidan selalu bersikap tenggang rasa dan tepa selira dalam mengahadapi pasien.
9. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
10. Tidak berlaku semana-mena terhadap klien.
156 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
11. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
12. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
13. Memberi pelayanan kesehatan ibu dan anak dan berusaha melakukan kegiatan kemanusiaan.
14. Berani membela kebenaran dan keadilan.
15. Selalu berani untuk membela kebenraran dan keadilan dalam hukum.
16. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, sehingga bidan wajib menghargai kehidupan manusia untuk meneruskan kehidupan bangsa
17. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain 18. Bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya.
c. Sila Persatuan Indonesia
1. Mengutamakan keselamatan dan kepentingan klien di atas kepentingan pribadi.
2. Seorang bidan rela berkorban demi keselamatan klien.
3. Menumbuhkembangkan rasa cinta terhadap profesinya.
4. Selalu bersikap ramah terhadap klien dalam memberikan pelayanan.
5. Bersikap asertif kepada siapapun terutama kepada klien.
6. Tidak membeda-bedakan status, ras, suku, pangkat, dan golongan setiap individu manusia.
7. Bersosialisasi dengan masyarakat demi terwujudnya kerukunan, persatuan, dan kesatuan.
d. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan
1. Seorang bidan harus menghormati dan menghargai kedudukan, hak dan kewajiban setiap individu.
2. Seorang bidan memiliki hak dan kewajibannya yang diatur dalam undang-undang dan kode etik kebidanan.
157 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
3. Seorang bidan harus melaksanakan kewajibannya dengan sebaikbaiknya sebelum menuntut haknya.
4. Bidan tidak boleh memaksakan suatu kehendak kepada klien, begitu juga sebaliknya bidan dapat menolak pemaksaan kehendak klien yang bertentangan dengan hokum.
5. Mengutamakan musyawarah antara bidan dengan klien dalam mengambil tindakan misalnya rujukan.
6. Musyawarah dalam mengambil tindakan harus dengan persetujuan satu sama lain, tidak saling merugikan dan memihak di satu sisi saja.
7. Bertanggung jawab atas setiap keputusan yang telah diambil sebagai hasil musyawarah.
8. Dengan I’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan dan suatu tindakan.
9. Pengambilan keputusan dilakukan dan didasarkan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
10. Keputusan dan tindakan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa.
11. Memberikan rasa nyaman pada klien dengan cara melaksanakan setiap tindakan dengan baik agar klien dapat memberikan kepercayaannya kepada bidan.
e. Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
1. Mengembangkan perbuatan yang baik sesuai dengan etika yang mencerminkan sikap asertif 2. Bersikap adil kepada setiap klien dalam memberikan pelayananan yang terbaik.
3. Menghormati hak klien.
4. Memberi pertolongan dengan sebaik-baiknya kepada klien.
158 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
5. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap klien.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
7. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum khususnya klien.
C. Falsafah Asuhan Kebidanan
Falsafah kebidanan menegaskan tentang:
1. Keunikan bidan dlm melaksanakan pelayanan
2. Menghargai martabat manusia dan mempertahankan wanita sebagai manusia seutuhnya sesuai dengan hak azasi
3. Bekerjasama dengan wanita dan petugas kesehatan
4. Pusat pelayanan kebidanan adalah peningkatan kesehatan, pencegahan dan memandang kehamilan, persalinan, peristiwa kehidupan normal
Peran Dan Fungsi Bidan Peran Sebagai Pelaksana Tugas Mandiri
1. Menetapkan manejemen kebidanan pd setiap asuhan kebidanan yg diberikan.
2. Memberi pelayanan dasar pd anak remaja & wanita pranikah dgn melibatkan klien.
3. Memberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal.
4. Memberi asuhan kebidanan kepada klien dlm masa persalinan dgn melibatkan klien & keluarga.
5. Memberi asuhan kebidanan pd bayi baru lahir.
6. Memberi asuhan kebidanan pd klien dalam masa nifas dgn melibatkan keluarga/klien.
7. Memberi asuhan kebidanan pd wanita usia subur yg membutuhkan pelayanan KB.
8. Memberi asuhan kebidanan kpd wanita dgn gangguan sistem reproduksi & wanita dlm masa klimakterium & menoupose.
159 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
9. Memberi asuhan kebidanan pd bayi & balita dgn melibatkan keluarga.
Tugas Kolaborasi
1. Menetapkan manejemen kebidanan pd setiap asuhan kebidanan sesuai dgn fungsi kebidanan.
2. Memberikan asuhan kebidanan pd ibu hamil dgn resiko tinggi & pertolongan pertama pd kegawatdaruratan yg memerlukan tindakan kolaborasi.
3. Memberikan asuhan kebidanan pd ibu dlm masa persalinan yg beresiko tinggi dgn kegawatdaruratan yg memerlukan pertolongan pertama & tindakan kolaborasi.
4. Asuhan kebidanan dlm masa nifas dgn resiko & pertolongan pertama dlm kegawat daruratan.
5. Asuhan BBL dgn resiko tinggi yg mengalami komplikasi.
6. Asuhan balita dgn resiko tinggi yg mengalami komplikasi.
Tugas Ketergantungan / Rujukan
1. Menetapkan manejemen kebidanan pada setiap asuhan dengan mengkaji kebutuhan yang memerlukan tindakan diluar lingkup kewenangan dan memerlukan rujukan, menentukan diagnosis, mengirim klien dgn dokumentasi yang lengkap, membuat catatan dan laporan tentang seluruh kejadian intervensi.
2. Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan ibu hamil resiko tinggi dan kegawatdaruratan.
3. ASKEB melalui konsultasi dan rujukan pada masa persalinan.
4. ASKEB melalui konsultasi dan rujukan pada masa nifas.
5. ASKEB BBL dengan kelainan dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi dan rujukan.
6. ASKEB balita dengan kelainan dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi dan rujukan
160 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
Peran Sebagai Pengelola
1. Mengembangkan pelayanan dasar kesehatan terutama pelayanan kebidanan individu, keluarga, kelompok khusus ,masyarakat melibatkan klien dan keluarga.
2. Berpartisipasi dlm tim untuk melaksanakan program kesehatan.
3. Memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan dan individu, keluarga kelompok dan masyarakat tentang penanggulangan masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu, anak dan KB.
4. Melatih & membimbing klien, peserta didik kebidanan, keperawatan & dukun.
161 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
PILAR-PILAR KEBANGSAAN
A. Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Dalam berbagai wacana selalu terungkap bahwa telah menjadi kesepakatan bangsa adanya empat pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara bagi Negara-bangsa Indonesia. Bahkan beberapa partai politik dan organisasi kemasyarakatan telah bersepakat dan bertekad untuk berpegang teguh serta mempertahankan empat pilar kehidupan bangsa tersebut.
Empat pilar dimaksud dimanfaatkan sebagai landasan perjuangan dalam menyusun program kerja dan dalam melaksanakan kegiatannya. Hal ini diungkapkan lago oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pada kesempatan berbuka puasa dengan pejuang kemerdekaan pada tanggal 13 Agustus 2010 di istana Negara.
Empat pilar tersebut adalah (1) Pancasila, (2) Undang-Undang Dasar 1945, (3) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan (4) Bhineka Tunggal Ika. Meskipun hal ini telah menjadi kesepakatan bersama, atau tepatnya sebagian besar rakyat Indonesia, masih ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut adalah sekedar berupa slogan-slogan, sekedar suatu ungkapan indah, yang kurang atau tidak bermakna dalam menghadapi era globalisasi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut sekedar sebagai jargon politik. Yang diperlukan adalah landasan riil dan konkrit yang dapat dimanfaatkan dalam persaingan menghadapi globalisasi.
Untuk itulah perlu difahami secara memadai makna empat pilar tersebut, sehingga kita dapat memberikan penilaian secara tepat, arif dan bijaksana terhadap empat pilar dimaksud, dan dapat menempatkan secara akurat dan proposional dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berikut ini disampaikan secara singkat (a) arti pilar, (b) pilar pancasila, (c) pilar UUD 1945, (d) pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia, (e) pilar Bhineka Tunggal Ika, serta
BAB XII
162 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
(f) peran dan fungsi empat pilar dimaksud dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Namun sebelumnya, ada baiknya bila kita merenung sejenak bahwa di atas empat pilar tersebut terdapat pilar utama yakni Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Tanpa adanya pilar utama tersebut tidak akan timbul adanya empat pilar dimaksud. Antara proklamasi kemerdekaan, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dilukiskan secara indah dan nyata dalam lambung Negara Garuda Pancasila.
Sejak tahun 1951, bangsa Indonesia, dengan peraturan pemerintah No.66 tahun1951, menetapkan lambing Negara bagi Negara-bangsa yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Ketetapan tersebut dikukuhkan dengan perubahan UUD 1945 pasal 36A yang menyebutkan : Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.”
Lambang Negara Garuda Pancasila mengandung konsep yang sangat esensial dan merupakan pendukung serta mengikat pilar-pilar dimaksud. Burung garuda yang memiliki 17 bulu pada sayapnya, delapan bulu pada ekornya, 45 bulu pada leher dan 19 bulu pada badan di bawah perisai, menggambarkan tanggal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perisai yang digantungkan di dada Garuda menggambarkan sila-sila Pancasila sebagai dasar Negara, ideology bangsa dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Sementara itu Garuda mencengkram pita yang bertuliskan “Bhineka Tunggal Ika,” menggambarkan keanekaragaman komponen bangsa yang harus dihormati, didudukkan dengan pantas dan dikelola dengan baik. Dengan demikian terjadilah suatu kesatuan dalam pemahaman dan mendudukkan pilar-pilar tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia mengandung konsep dan prinsip yang sangat mendasar yakni keinginan merdeka bangsa Indonesia dari segala macam penjajahan.
Tidak hanya merdeka atau bebas dari penjajahan fisik tetapi kebebasan dalam makna yang sangat luas, bebas dalam mengemukakan pendapat, bebas dalam beragama, bebas dari rasa
163 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
takut, dan bebas dari segala macam bentuk penjajahan modern. Konsep kebebasan ini yang mendasari pilar yang empat tersebut.
B. Makna Pilar
Pilar adalah penyangga suatu bangunan. Pilar memiliki peran yang sangat sentral menentukan, karena bila pilar ini tidak tokoh atau rapuh akan berakibat robohnya bangunan yang disangganya. Dalam bahasa jawa tiang penyangga bangunan atau rumah ini disebut “soko”, bahkan bagi rumah jenis joglo, yakni rumah yang atapnya menjulang tinggi terdapat empat soko di tengah bangunan yang disebut soko guru. Soko guru ini sangat menentukan kokoh dan kuatnya banguanan, terdiri atas batang kayu yang besar dan jenis kayu yang dapat dipertanggung jawabkan. Dengan demikian orang yang bertempat di rumah tersebut akan merasa nyaman, aman dan selamat dari berbagai bencana dan gangguan.
Demikian pila halnya dengan bangunan Negara-bangsa, membutuhkan pilar atau soko guru yang merupakan tiang penyangga yang kokoh agar rakyat yang mendiami akan merasa nyaman, aman, tenteram dan sejahtera, terhindar dari segala macam gangguan dan bencana.
Pilar bagi suatu Negara-bangsa berupa sistm keyakinan atau belief system, atau philosophische grondslag, yang berisi konsep, prinsip dan nilai yang dianut oleh rakyat Negara-bangsa yang bersangkutan yang diyakini memiliki kekuatan untuk dipergunakan sebagai landasan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Seperti halnya soko guru atau pilar bagi suatu rumah harus memenuhi syarat agar dapat menjaga kokohnya bangunan sehingga mampu bertahan serta menangkal segala macam ancaman dan gangguan, demikian pula halnya dengan belief system yang dijadikan pilar bagi suatu Negara-bangsa. Pilar yang berupa belief system suatu Negara-bangsa harus menjamin
164 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
kokoh berdirinya Negara-bangsa, menjamin terwujudnya ketertiban, keamanan, dan kenyamanan, serta mampu mengantar terwujudnya kesejahteraan dan keadilan yang menjadi dambaan warga bangsa.
C. Pancasila Sebagai Ideologi dan Dasar Negara
Kedudukan dan Fungsi pancasila sebagai ideology dan dasar Negara Republik Indonesia, harus menjadi jiwa menginspirasi seluruh pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun hendaknya dipahami bahwa asal mula pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia adalah digali dari unsur-unsur yang berupa nilai yang terdapat pada bangsa Indonesia sendiri yang berupa pandangan hidup bangsa Indonesia.
1. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.
Pandangan hidup adalah filsafat hidup seseorang yaitu kristalisasi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, ketepatan dan manfaatnya. Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur tersebut adalah suatu wawasan yang menyeluruh terhadap kehidupan bangsa itu sendiri. Pandangan hidup berfungsi sebagai kerangka acuan baik untuk menata kehidupan diri pribadi berfungsi sebagai kerangka acuan baik untuk menata kehidupan diri pribadi maupun dalam intekrasi antar manusia dalam masyarakat serta alam sekitarnya.
2. Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
Pancasila dalam kedudukan ini sering, disebut sebagai dasar filsafat atau dasar. Falsafah Negara (philosofische Gronslog) dari Negara, ideology Negara atau (staatside). Dalam pengertian, ini Pancasila merupakan dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan Negara atau dengan lain perkataan pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur penyelenggaraan Negara.
3. Pancasila sebagai ideology Bangsa dan Negara Indonesia
165 | Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam
Istilah ideology berasal dari kata “idea” yang berarti “gagasan”, konsep, pengertian dasar, cita-cita dan “logos” yang berarti “ilmu” , kata ‘idea’ berasal dari kata bahasa yunani ‘eidos’ artinya ‘ bentuk’. Disamping itu ada kata ‘idein ‘ yang artinya ‘ melihat’. Maka secara harfiah ideology berarti ilmu pengetahuan tentang ide-ide atau ajaran tentang pengertian- pengertian dasar.
Dalam pengertian sehari-hari ‘idea’ disamakan artinya dengan cita cita . cita cita yang dimaksud adalah cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai, sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandangan atau faham.
4. Pancasila sebagai ideology yang Reformatif, Dinamis dan Terbuka
Pancasila sebagai ideology tidak bersifat kaku dan tetutup, namun bersifat reformatif, dinamis
Pancasila sebagai ideology tidak bersifat kaku dan tetutup, namun bersifat reformatif, dinamis