BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2.3 Kinerja Auditor
2.5.1 Indikator dalam Independensi
Menurut Mautz dan Sharaf dalam Tuanakotta (2011:64) ada tiga indikator atau dimensi dari independensi itu sendiri, yaitu.
27 1. Independensi dalam program audit ( Programming Independence)
Merupakan kebebasan ( bebas dari pengendalian atau pengaruh orang lain, misalnya dalam bentuk pembatasan) untuk memilih teknik dan prosedur audit, dan beberapa dalamnya teknik dan prosedur audit itu diterapkan. Ada beberapa poin penting dalam programming independence, yaitu.
a. Bebas dari tekanan atau intervensi manajerial atau friksi yang dimaksudkan untuk menghilangkan (eliminate), menentukan ( specify), atau mengubah (modify) apapun dalam audit.
b. Bebas dari intervensi apapun atau dari sikap tidak kooperatif yang berkenaan dengan penerapan prosedur audit yang dipilih.
c. Bebas dari upaya pihak luar yang memaksakan pekerjaan audit itu direviu di luar batas-batas kewajaran dalam proses audit.
2. Independensi dalam menginvestigasi ( Investigative Independence) Merupakan kebebasan untuk memilih area, kegiatan, hubungan pribadi, dan kebijakan manajerial yang akan diperiksa. Ini berarti, tidak boleh ada sumber informasi yang legitimate (sah) yang tertutup bagi auditor. Poin terpenting dalam investigative independence, yaitu.
a. Akses langsung dan bebas atas seluruh buku, catatan, pimpinan, pegawai perusahaan dan sumber informasi lainnya mengenai kegiatan perusahaan, kewajibannya dan sumber-sumbernya.
b. Kerja sama yang aktif dari pimpinan perusahaan selama berlangsungnya kegiatan audit.
c. Bebas dari upaya pimpinan perusahaan untuk menugaskan atau mengatur kegiatan yang harus diperiksa atau menentukan dapat diterimanya suatu evidential matter ( sesuatu yang mempunyai nilai pembuktian).
d. Bebas dari kepentingan atau hubungan pribadi yang akan menghilangkan atau membatasi pemeriksaan atas kegiatan, catatan atau orang yang seharusnya masuk dalam lingkup pemeriksaan. 3. Independensi dalam pelaporan (Reporting Independence)
Merupakan kebebasan untuk menyajikan fakta yang terungkap dari pemeriksaan atau pemberian rekomendasi atau opini sebagai hasil pemeriksaan. Poin terpenting dalam Reporting Independence yaitu.
a. Bebas dari perasaan loyal kepada seseorang atau merasa berkewajiban kepada seseorang untuk mengubah dampak dari fakta yang dilaporkan.
b. Menghindari praktik untuk mengeluarkan hal-hal penting dari laporan formal, dan memasukkannya ke dalam laporan informal dalam bentuk apa pun.
c. Menghindari penggunaan bahasa yang tidak jelas (kabur, samar-samar) baik yang disengaja maupun yang tidak dalam pernyataan fakta,opini, dan rekomendasi dan dalam interprestasi.
d. Bebas dari upaya untuk memveto judgment auditor mengenai apa yang seharusnya masuk dalam laporan audit, baik yang bersifat fakta maupun opini.
2.6 Tekanan Anggaran Waktu
Auditor seringkali bekerja dalam keterbatasan waktu, oleh karena itu setiap melakukan pengauditan suatu instansi perlu membuat anggaran waktu untuk dapat melaksanakan kegiatan pengauditannya lebih baik. Anggaran waktu dibutuhkan untuk menentukan kos audit dan mengukur kinerja auditor ( Waggoner dan Cashell, 1991). Tekanan anggaran waktu adalah suatu keadaan
29 yang menunjukkan bahwa auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah ditetapkan atau disusun berdasarkan pembatasan waktu yang bersifat ketat yang telah ditetapkan oleh pihak atasan. Time pressure merupakan keadaan dimana auditor dituntut untuk mempertimbangkan faktor ekonomi (waktu dan biaya) di dalam menentukan jumlah dan kompetensi bukti audit yang dikumpulkan. Pada hal ini, tekanan anggaran waktu merupakan gambaran normal yang merupakan sistem pengendaliannya auditor dalam melakukan pengauditan.
Dalam penyelesaian penugasan ini, auditor dituntut untuk dapat menyelesaikan pekerjaan mereka tepat waktu karena adanya pembatasan yang ketat mengenai waktu audit. Menurut Rustiarini (2013) tekanan waktu akan mengurangi kinerja auditor karena adanya alokasi waktu yang terbatas yang menyebabkan auditor tidak menguji beberapa transaksi yang seharusnya diuji dan mengumpulkan bukti transaksi yang lebih sedikit. Adanya pengurangan beberapa aktivitas justru mengurangi kualitas audit yang dihasilkan dan menurunkan kinerja auditor.
Menurut Sari, dkk (2016:8) pengertian time budget pressure ialah.
“Time budget pressure is a condition in which the auditor is required to perform efficiency on time budget that has been prepared and there are restrictions on time in a very tight budget. Audit time budget pressure is actually a normal situation existing in the auditor’s work environment”. Menurut Asrini, dkk (2014) semakin besar tekanan waktu yang dihadapi oleh auditor maka semakin besar pula kecenderungan auditor melakukan perilaku penghentian prosedur audit. Menurut Anggriawan (2014) dengan adanya tekanan waktu akan membuat auditor memiliki masa sibuk karena menyesuaikan tugas yang harus diselesaikan dengan waktu yang tersedia dan masalah akan timbul jika ternyata waktu yang direncanakan tidak sesuai dengan waktu yang
dibutuhkan sebenarnya. Menurut Widyarini dan Ratnadi (2016) time pressure mempunyai dua dimensi yaitu time deadline pressure yaitu keadaan auditor dituntut untuk selesai tepat waktu dalam pengerjaan tugas audit dan time budget pressure yaitu kon disi auditor dituntut efisien dengan menyelesaikan tugasnya sesuai anggaran waktu yang telah disusun. Pada saat time budget yang direncanakan auditor semakin singkat dan sangat sulit untuk mencapai, maka akan membawa pada tingkat tekanan yang besar bagi diri auditor, sehingga auditor akan melakukan segala perilaku yang menurutnya dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktunya. Time budget sangat penting untuk melihat pertimbangan, dengan mengingat kondisi normal yang diberikan, sehingga estimasi penyediaan jumlah waktu yang dialokasikan untuk tugas-tugas yang sangat spesifik dalam suatu audit harus tersedia, karena hal tersebut yang dijadikan dasar untuk estimasi biaya audit, untuk alokasi pekerjaan karyawan serta sebagai bahan evaluasi kinerja auditor. Anggaran waktu dapat digunakan secara tepat dan memiliki sejumlah manfaat, namun jika seorang auditor penyimpang dari program audit apabila terjadi perubahan kondisi, maka auditor akan terpaksa melakukan menyimpang dari anggaran waktu. Auditor kadang merasa mendapat tekanan yang memenuhi anggaran waktu yang berguna untuk menunjukkan efisiensinya sebagai auditor dan membantu mengevaluasi hasil kinerjanya.