• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Derajat Kesehatan

2.2.2 Indikator Derajat Kesehatan

Indikator derajat kesehatan adalah ukuran yang digunakan untuk melihat

apakah derajat kesehatan masyarakat sudah optimal, yang dilihat dari unsur

kualitas hidup (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2013) yaitu:

1. Mortalitas (Angka kematian )

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dilihat dari

kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu

kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian

keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan

lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan

melakukan berbagai survei dan penelitian.

Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari

berbagai penyebab kematian langsung maupun tidak langsung. Secara

umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan

permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat

dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri – sendiri atau bersama – sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat.

Salah satu alat untuk menilai keberhasilan program pembangunan

kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini adalah dengan melihat

perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun. Besarnya tingkat

kematian dan penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada

a. Angka kematian bayi

Infact Mortality Rate atau angka kematian bayi (AKB) merupakan

indikator yang lazim digunakan untuk menetukan derajat kesehatan

masyarakat, baik pada tatanan provinsi ataupun nasional. Selain itu,

program pembangunan kesehatan di indonesia banyak melibatkan

pada upaya penurunan angka kematian bayi. Angka kematian bayi

merujuk kepada jumlah bayi yang meninggal pada fase antara

kelahiran bayi belum mencapai umur 1 tahun per 1000 kelahiran

hidup.

Dilihat Angka Kematian Bayi hasil Sensus Penduduk 2010

berdasarkan kabupaten/kota diketahui bahwa angka kematian bayi

terendah adalah kota medan sebesar 14,7/1.000 kelahiran hidup dan

yang tertinggi adalah Kabupaten Mandailing Natal dengan angka

kematian bayi 45,7/1.000 kelahiran hidup.

b. Angka kematian balita (AKABA)

Angka kematian balita menggambarkan peluang untuk meninggal

pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.

Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun

2007 diperoleh angka kematian balita di Indonesia sebesar 44/1.000

c. Angka kematian ibu (AKI)

Angka kematian ibu mengacu pada jumlah wanita yang meninggal

dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau

penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil)

selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah

melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000

kelahiran hidup.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, angka kematian ibu di

sumatera utara sebesar 328/100.000 kelahiran hidup, angka ini masih

cukup tinggi bila dibandingkan dengan angka nasional hasil Sensus

Penduduk 2010 sebesar 259/100.000 kelahiran hidup.

2. Morbiditas (angka kesakitan)

Tingkat kesakitan suatu negara juga mencerminkan situasi derajat

kesehatan masyarakat yang ada didalamnya. Berikut ini morbiditas

penyakit-penyakit menular dan tidak menular yang dapat mengambarkan

keadaan derajat kesehatan masyarakat:

a. Diare

Penyakit diare merupakan suatu masalah yang mendunia. Penyakit

diare jauh lebih banyak terdapat dinegara berkembang daripada

negara maju, yaitu 12,5 kali lebih banyak di dalm kasus mortalitas

Penyebab utama penyakit diare adalah infeksi bakteri atau virus.

Jalur masuk utama infeksi tersebut melalui feses manusia atau

binatang, makanan, air, dan kontak dengan manusia. Kondisi

lingkungan yang menjadi habitat atau pejamu untuk patogen tersebut

atau peningkatan kemungkinan kontak dengan penyebab tersebut

menjadi resiko utama penyakit ini. Sanitasi dan kebersihan rumah

tangga yang buruk, kurangnya air minum yang aman, dan pajanan

pada sampah padat (misalnya, melalui pengambilan sampah atau

akumulasi sampah dilingkungan) yang kemudian mangakibatkan

penyakit diare. Epidemik penyakit diare juga dapat terjadi sebagai

akibat dari kejadian polusi atau bencana alam besar, seperti banjir.

b. Pneumonia

Pneumonia sebenarnya bukan penyakit baru. American Lung

Association misalnya, menyebutkan hingga tahun 1936 pneumonia

menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika. Penggunaan

antibiotik membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun

kemudian. Namun pada tahun 2000 kombinasi pneumonia dan

influenza kembali merajalela dan menyebabkan kematian ketujuh di

negara ini.

Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang.

Kantung-kantung kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang.

Gara-gara inilah, selain penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, penderita

pneumonia bisa meninggal.

Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka

kematiannya tinggi, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di

negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara

Eropa. Di indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian

nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial

ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian.

c. TB paru

Penyakit tuberkulosis (TB) dapat menyerang manusia mulai dari

usia anak sampai dewasa dengan perbandingan yang hampir sama

antara laki-laki dan permpuan. Penyakit ini biasanya banyak

ditemukan pada pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat

kepadatan tinggi sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam

rumah sangat minim.

Tuberkulosis paru-paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang

parenkim paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium

tuberculosis. Penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian tubuh lain

seperti meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe.

Diseluruh kasus tuberkulosis, sebesar 11% dialami oleh anak-anak di

3. Status gizi

Untuk status gizi telah disepakati indikatornya, yaitu:

a. Persentasi BBLR

WHO pada tahun 1961 menyatakan bahwa semua bayi baru lahir

yang berat badannya kurang atau sama dengan 2500 gram disebut

low birth weight infant (bayi berat badan lahir rendah, BBLR)

(dalam Surasmi, 2002)

Cakupan berat bayi lahir rendah yang ditangani adalah berat bayi

yang kurang dari 2500gram yang ditangani di sarana pelayanan

kesehatan sesuai tatalaksana berat bayi lahir rendah di suatu wilayah

kerja pada kurun waktu tertentu.

b. Persentase balita dengan Gizi Buruk

Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan yaitu jumlah balita

gizi buruk yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai

tatalaksana gizi buruk di suatu wilayah kerja pada kurun waktu

Dokumen terkait