• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Mandiri dan Disiplin

5. Indikator Disiplin

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan

bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu

manusia yang beriman dan bertawakkal kapada Tuhan Yang Maha Esa

dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,

kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri

serta asa bertanggung jawab dalam kemasyarakatan dan kebangsaan.40

Disiplin merupakan upaya untuk membuat orang berbeda pada

jalur sikap dan yang sudah dietapkan pada individu oleh orang tua.

Artinya, sikap disiplin sudah diajarkan sejak dini oleh kedua orang tua,

hal ini dimaksudkan agar memiliki dampak positif bagi kehidupan

dimasa mendatang.

40 Imam Ghazali, Fatihatul „Ulum (Epistimologi Pesantren), (Terj.) Muhammad Adib, (Jakarta: Media Nusantara & Pspp, 2006), Cet. I, Hlm. 178.

Pendidikan disiplin merupakan salah satu proses bimbingan

yang bertujuan untuk menanamkan pola prilaku tertentu,

kebiasaan-kebiasaan tertentu, atau membentuk manusia dengan ciri-ciri tertentu,

khususnya untuk meningkatkan kualitas mental dan moral bangsa.41

Indikator-indikator disiplin menurut Gilmore dalam Chabib

Thoha yang meliputi:42

1. Adanya rasa tanggung jawab

2. Memiliki pertimbangan dalam menilai problem yang dihadapi

secara mendalam.

3. Adanya perasaan aman bila memiliki pendapat yang berbeda

dengan orang lain.

4. Adanya sikap kreatif, sehingga melahirka ide-ide yang bermanfaat

serta berguna bagi orang lain.

Sedangkan Indikator-indikator disiplin menurut Lindzey &

Ritter dalam Hasan Basri bahwa setiap individu yang mandiri harus

memiliki indikator-indikator di bawah ini, di antaranya:43

1. Menunjukkan iisiatif dan berusaha mengejar prestasi.

2. Secara relatif, jarang meminta bantuan orang lain

3. Menunjukkan rasa percaya diri.

4. Mempunya rasa ingin menonjol dan lebih baik.

41 Ghazali, Fatihatul, Hlm. 178-179.

42 Ghazali, Fatihatul, Hlm. 178-179.

43

Sejalan dengan dua pendapat di atas, hal serupa dikemukakan

oleh Antonius, mengemukakan bahwa indikator-indikator mandiri itu

diantara adalah:44

1. Adanya rasa percaya diri.

2. Mampu bekerja sendiri.

3. Mempunyai keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan

kerjanya.

4. Mampu menghargai waktu dengan baik.

5. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.

Setelah mengamati tentang berbagai macam pendapat tentang

indikator-indikator mandiri di atas, maka peneliti dapat menarik

kesimpulan secara umum mengenai indikator-indikator mandiri adalah

sebagai berikut:

1. Individu yang mempunyai inisiatif dalam segala hal.

2. Mampu menyelesaikan tugas rutin secara mandiri, tanpa meminta

bantuan dari orang lain selama ia mampu menjalankan tugas

tersebut dengan baik.

3. Memperoleh kepuasan tersendiri dari pekerjaannya.

4. Mampu memecahkan berbagai macam rintangan dan problem demi

sebuah pencapaian kesuksesan.

5. Mampu berfikir secara kritis, kreatif dan inovatif terhadap tugas

dan kegiatan yang dihadapi.

44

6. Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda pendapat dengan

orang lain, dan merasa senang karena dia berani mengemukakan

pendapatnya walaupun berbeda dengan pendapat yang lainnya.

a. Disiplin dalam hubungannya dengan waktu belajar

Disiplin mengajarkan seseorang tentang pentingnya waktu,

juga diharuskan menghargai waktu. Artinya, waktu merupakan hal

yang utama dalam hubungannya dengan disiplin. Manusia dituntut

agar selalu melaksanakan aktivitasnya secara disiplin, sesuai

dengan jadwal. Ia harus mampu membagi waktunya sendiri tanpa

bantuan orang lain. Allah SWT., berfirman dalam QS. Al „Ashr

ayat 1-3:45



































Artinya: “Demi masa Sesungguhnya manusia itu benar-benar

dalam kerugian,Kecuali orang-orang yang

beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Perhatian kita terhadap penggunaan waktu memang sesuatu

yang harus kita lakukan secara serius dan konsisten.46 Hal ini mengingat, pertama, bahwa Al Qur‟an dan Hadits memberikan banyak penjelasan dan perhatian yang sangat besar dan mendalam

akan pentingnya waktu. Kedua, pada tataran ilmu sejarah

45 Al Qur‟an Al Karim, Qs. Al-„Ashr 1-3.

46

membuktikan bahwa generasi Islam pertama dan seterusnya begitu

memperhatikan waktu, sehingga sejumlah dampak positif dapat

kita rasakan dengan ilmu yang berkembang secara pesat, prestasi

amal shaleh yang mengagumkan, perjuangan yang sangat

cemerlang, ditambah dengan kemenangan yang begitu nyata dalam

mengahadapi berbagai macam kekuatan dunia dan peradaban yang

sangat kokoh. Ketiga, kondisi umat Islam yang saat ini berada

dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, mengingat sebagian

kaum muslimin saat ini sering mengabaikan penggunaan waktu

secara maksimal untuk hal-hal yang positif.

Dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar maupun

tidak, seringkali kita menyia-nyiakan waktu kita untuk hal-hal

yang tidak bermanfaat. Bahkan lebih parahnya, kita sering

menggunakan waktu kita terbuang sia-sia dan sangat merugikan

bagi kita sendiri.

b. Disiplin dalam hubungannya dengan tempat belajar

Hal yang tidak kalah penting dalam disiplin adalah disiplin

dalam hubungannya dengan tempat belajar. Dalam hal ini, disiplin

juga tergantung pada kondisi lingkungan yang baik. Itu berarti

lingkungan memiliki peran penting disiplin manusia. Selain itu,

manusia dituntut menjaga lingkungan meraka agar tercipta suasana

Kehidupan dalam asrama dimaksudkan untuk mengefektifkan

proses internalisasi nilai-nilai islam dalam sikap dan keperibadian

santri. Ini mengingatkan meteri ajar yang disampaikan di kelas

secara formal lebih menitikberatkan pada usur kognitif. Padahal,

untuk merubah sikap dan perilaku satri, juga diperlukan

unsur-unsur lainnya, yaitu afektif dan psikomotorik. Untuk itu,

diperlukan proses pembelajaan yang terus menerus dan itu hanya

dapat dilakukan hanya dengan pendidikan dengan sistem pesantren

(asrama) atau boarding school.47

Pesantren (asrama) merupakan kekhasan dan bagian integral

dari sistem pendidikan pesantren.48 Selain mempermudah dalam

proses pembinaan atau mental, sistem asrama juga mempermudah

pembinaan organisasi, kemasyarakatan dan wawasan keagamaan

seperti pematangan dan pengayaan pembelajaran dapat dilakukan

melalui program terstruktur dan program mandiri. Termasuk juga

program pengembangan kemampuan berbahasa baik inggris

maupun arab, yang dikemas dalam ucapan pergaulan sehari-hari.

c. Disiplin dalam hubungannya dengan norma dan peraturan dalam belajar

Sejatinya, setiap manusia harus mempunya norma atau

peraturan terhadap dirinya. Ia diwajibkan mematuhi segala aturan

tersebut agar tercipta suasana yang penuh saling menghormati

47 Muh. Mundzir, Watak Pendidikan Islam, (Jakarta: Friska Agung Isnani, 2007), Hlm. 111.

48

antara sesama. Jika manusia tidak memahami peraturan tersebut,

maka kerusakanlah yang akan muncul, sehingga ia bisa

meresahkan masyarakat sekitar, hingga merugikan bangsa.

Menurut Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, disiplin norma

dan peraturan dalam belajar mengarah pada aspek pelaksanaan tata

tertib tersebut dengan baik, baik guru/ustadh dan ustadzah,

siswa/santri. Karena tata tertib yang berlaku merupakan aturan dan

ketentuan yang harus ditaati oleh siapapun. Demi kelancaran

peraturan dan norma-norma tersebut, siswa/santri diharuskan

memahami serta menerapkan hal ini, diantaranya meliputi:49

1. Taat pada aturan lembaga, baik sekolah maupun pesantren.

2. Mengindahkan petunjuk-petunjuk yang berlaku.

3. Tidak melanggar aturan.

4. Sungguh-sungguh dalam belajar.

5. Tepat waktu dalam kegiatan sehari-hari.

Dokumen terkait